
Setelah mengantarkan kepergian Abi dan juga kakeknya, Nissa memilih kembali keruang perawatan Ali. Karena Bisa merasa bertanggung jawab pada Ali. Nissa sedikit berlari untuk segera sampai di ruang perawatan tersebut.
Ceklek.
Nissa melangkah masuk kedalam kamar, didalam Tama telah duduk di sebelah Ali, dengan menatap lekat wajah santri dari Abi nya tersebut.
Entah apa yang sedang ada dalam pikiran Tama saat ini, Nissa memilih abai dan berlalu dari pintu masuk.
Karena Tama duduk di kursi tunggu, maka Nissa memilih untuk duduk di sofa, dengan menyandarkan punggungnya di bahu sofa.
Mengeluarkan buku dari dalam Sling bag miliknya, Nissa berencana membaca buku Favorit nya untuk menunggu waktu sholat Isya.
Suasana begitu hening, dan terasa canggung, tidak ada pembicaraan antara Nissa maupun Tama.
Sekilas Nissa tampak melihat kemeja Tama yang masih terdapat noda darah, Nissa pun menyadari satu hal, Tama tidak meninggalkan Ali sama sekali, meski hanya untuk mengganti baju.
Nissa ingin memberitahu Tama, namun ragu untuk mengatakan, berfikir bagaimana dia akan memulai pembicaraan dengan Tama. Namun hal itu sangat sulit ia lakukan.
Setelah bergelut dengan pikirannya, akhirnya Nissa memilih untuk diam. Nissa memilih kembali fokus dengan buku yang ada di tangannya.
Tidak berselang lama, suara adzan berkumandang dengan begitu merdu.
"Ehem." suara deheman Tama yang seketika membuyarkan Fokus Nissa.
Nissa mendongakkan wajahnya, menatap sekilas pada Tama yang kini telah bangkit dari duduknya, dan terlihat tengah melonggarkan otot Otot kekarnya.
"Maaf saya bisa titip Ali ?, Saya akan Ke masjid sebentar, kita bisa bergantian setelah itu" Ucap Tama dengan suara dingin.
"Oh, Iya baiklah" Ucap Nissa dengan menganggukkan kepala.
Setelahnya Tama beranjak meninggalkan kamar, untuk menuju masjid.
"Tunggu !" Panggilan Nissa yang seketika menghentikan langkah Tama. Tama pun menoleh dan mengeryitkan dahi.
"Sebaiknya anda mengganti pakaian anda sebelum sholat" Ucap Nisa dengan menundukkan wajah.
Mendengar penuturan Nissa , Tama pun meneliti baju yang dia kenakan, benar saja disana ada noda darah milik Ali saat kecelakaan tadi. Karena Tama ikut membopong tubuh Ali saat itu.
Tama sekilas tersenyum "Terima kasih " Ucap Tama dengan berlalu meninggalkan Nissa.
Annisa menjawab dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Tama, tidak berselang lama Ali mulai mengerjap kan mata, Menyadari hal itu Nissa mendekatkan kepalanya, karena Ali seperti sedang berbicara namun dengan suara yang sangat lirih.
"Ali mau minum ?" Tanya Nissa. Ali pun menganggukkan kepala.
Setelahnya Nissa mengambilkan air mineral yang tersedia di meja, Membantu Ali untuk minum menggunakan sendok yang juga tersedia disana.
"Terimakasih Ust." Ucap Alli pada Nissa dengan suara yang sangat lirih, dan nyaris tidak terdengar.
Nissa tampak menganggukkan kepala dengan mengulas sebuah senyuman.
__ADS_1
"Ali. Ali masih sangat Lemah, Sebaiknya Ali kembali beristirahat ya, Ust. akan jaga Ali di sini" Ucap Nissa kemudian. Dan Ali menjawab dengan anggukan kepal.
"Apa Ali sudah sadar?" Tanya Tama yang tiba-tiba muncul
"Alhamdulillah Sudah " Ucap Nissa dengan menundukkan wajah.
"Syukurlah" jawab Tama
"Aku memintanya untuk beristirahat, Karena kondisinya masih sangat lemah" ucap Nissa dengan suara lembut. Tama menjawab dengan anggukan kepala.
"Sholat lah , aku akan menjaga Ali disini" Ucap Tama kemudian.
Nissa menganggukkan kepala "Saya akan sholat di sini" Jawab Nissa kemudian.
Karena Nissa selalu membawa mukena kemana pun dia pergi, jadi saat itu Nissa memilih untuk sholat didalam ruangan.
Nisa bergegas mengambil air wudhu, dan segera melaksanakan sholat isya di pojokan ruangan tersebut.
Tama hanya mengamati sekilas Nissa yang tengah Khusyuk dengan Sholatnya.
Beberapa saat akhirnya Nissa telah selesai dengan sholatnya, Terdengar dering telepon yang saat itu berbunyi.
Ternyata handphone miliknya Tama lah yang berbunyi, menandakan sebuah panggilan telah masuk. Tama bergegas menggeser ikon tanda hijau disana.
Tidak lama Tama tersambung dengan seseorang di ujung telepon. Tampak Tama mendengarkan ucapan dari seseorang di ujung telepon dengan sangat serius.
Setelah menutup teleponnya, wajah Tama seolah berubah, terlihat Tama yang tengah berpikir tentang sesuatu
Nissa menatap sekilas Tama yang berdiri menghadap dirinya, kemudian Nissa Kembali Menundukkan wajah nya.
"Iya ?" tanya Nissa kemudian.
"Boleh aku minta kau jaga Ali, aku ada beberapa pekerjaan malam ini, lebih tepatnya ada tindakan operasi darurat, dan tidak bisa ku tinggalkan " Ucap Tama memberi penjelasan.
Nissa mengerutkan dahinya "Apa anda dokter ?" Tanya Nissa kemudian. Dan Tama menjawab dengan anggukan kepala.
"Baiklah lakukan tugas anda, Anda tidak perlu mengkhawatirkan Ali, InshaAllah dia aman bersamaku" Ucap Nissa dengan menundukkan wajahnya.
Mendengar hal itu Tama sedikit merasa lega, beruntung sebelumnya Nissa memaksa pada ustadz Hamzah untuk menunggu Ali, entah bagaimana saat ini jika tidak ada Nissa di sini, mungkin saja Tama akan sangat kebingungan untuk mencari orang yang bersedia menunggu Ali.
"E--em Terima kasih " ucap Tama kemudian, dan Nissa menjawab dengan anggukan kepala.
"Ohya Saya Tama " ucap Tama dengan mengulurkan tangannya.
"Saya tahu " ucap Nissa singkat. Karena memang Nissa telah mengetahui jika sebelumnya sosok dihadapannya bernama Tama, dari perkenalan sebelumnya dengan Abi nya atau ustad Hamzah.
"Saya Nissa" Ucap Nisa dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.
Mengabaikan tangan Tama yang menggantung di udara, melihat itu Tama segera menarik kembali tangannya dan menyimpannya dalam saku celananya.
"Ohh, Iya Nissa ya, Baik terima kasih sekali lagi" Ucap Tama.
__ADS_1
Setelah cukup berbincang secara singkat, Tama pun berpamitan untuk meninggalkan Nissa dan Ali yang masih beristirahat.
"Aku akan kembali setelah selesai" Ucap Tama sebelum membuka pintu kamar
Nissa menjawab dengan anggukan kepala. Menatap punggung Tama yang menghilang dibalik pintu.
***
09.00
Reza telah sampai di kediamannya, dan bergegas menuju kamar.
Namun terlihat Maryam yang berjalan menghampirinya "Kau belum tidur sayang ?" Tanya Reza kemudian.
"Aku belum bisa tidur mas, Ohya bagaimana keadaan Anak itu ?" tanya Maryam kemudian.
Reza tersenyum dengan mengusap puncak kepala Maryam "Alhamdulillah, Barusan Tama memberikan kabar jika anak itu telah siuman" jawab Reza dengan melangkah menuju kamar keduanya.
"Syukurlah " Ucap Maryam merasa lega.
"Apa mas Reza sudah makan ?" Tanya Maryam kemudian. Dan Reza menjawab dengan anggukan kepala.
"Tapi saat ini aku ingin makan yang lain " Ucap Reza dengan senyum seringai
Maryam pun mengerutkan dahi, tampak berfikir dengan ucapan sang suami.
Melihat arah pandang suaminya yang mengarah pada dua gunung lebar miliknya Maryam menyadari apa yang sedang di inginkan sang suami.
"Mandi mas !" Ketus Maryam kemudian.
Maryam pun mendorong sang suami menuju kamar mandi, karena sebelumnya Maryam telah menyiapkan air hangat untuk sang suami sebelum Reza pulang.
Reza pun terkekeh melihat wajah sang istri, Maryam masih saja malu dengan hal-hal semacam itu, dan Reza juga tipe orang yang sangat suka menggoda sang istri.
Tidak berselang lama Reza telah selesai dengan ritual mandi nya, keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. menampakan dada bidang dan bahu seluas samudra itu.
"Bajunya Maryam letakkan di atas tempat tidur mas" ucap Maryam dengan merapikan meja rias nya.
"Aku kan tidak perlu mengenakan baju sayang" Ucap Reza dengan melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Astaghfirullah mas Reza!" Pekik Maryam yang merasa kaget, pasalnya sang suami tiba-tiba saja berada di belakangnya.
"Boleh aku menyapa junior ?" Tanya Reza dengan berbisik tepat di telinga Maryam
Seketika wajah Maryam bersemu merah.
Mendapati tidak ada penolakan dari sang istri, Reza segera mengangkat tubuh Maryam.
Dan terjadilah malam panjang, yang menyatukan dua insan yang tengah dimabuk asmara.
Lenguhan demi lenguhan memenuhi ruangan yang kedap suara tersebut, Pergulatan panas yang di lakukan Tidak hanya untuk menuntaskan nafsu semata, namun juga menjalankan ibadah dua insan yang telah berstatus sebagai suami dan istri.
__ADS_1
***