PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
59. Menanti Keputusan


__ADS_3

Reza segera meraih tangan Maryam, dan menggandengnya melewati lorong rumah sakit.


"Aku akan mengantarmu" Ucap Reza singkat. Maryam tersenyum


Keduanya berlalu melewati pandangan mata Mahira yang juga belum dapat memejamkan matanya sedari tadi.


***


Maryam hanya menundukkan kepalanya ketika melewati kakaknya Mahira.


Beberapa saat kemudian keduanya telah sampai di Mushola Rumah sakit tersebut, Cukup besar dan mewah terlihat dari luaran. Namun Susana dini hari tersebut tampak sepi.


Hanya beberapa dari keluarga pasien yang tampak melaksanakan sholat malam di sana.


Reza bergegas meraih tas Maryam, dan menyuruh Maryam untuk mengambil wudhu pada tempat wudhu khusus wanita.


Maryam telah selesai mengambil wudhu, tidak lupa mengenakan kembali cadarnya. Setelahnya berganti dengan Reza yang mengambil wudhu


Keduanya lantas melaksanakan sholat secara terpisah, Maryam yang melaksanakan sholat malam di bagian wanita dan Reza yang juga melaksanakan sholat malam di bagian laki-laki.


Beberapa saat berlalu Reza telah selesai dengan Sholatnya dan beberapa doa dia panjatkan terkhusus untuk ibu mertuanya tersebut.


Reza segera duduk di serambi masjid, dan menunggu Maryam menyelesaikan sholat dan seluruh hajat nya.


Beberapa saat berlalu tampak Maryam masih menyibukkan dirinya dengan mushaf Al-Qur'an miliknya, hingga saking khusyuknya , tanpa sadar Maryam tidak mengingat jika dirinya bersama dengan Reza.


"Astaghfirullah..! , Mas Reza" Maryam tersentak kaget mengingat, mungkin saja Reza telah menunggunya sedari tadi.


Segera Maryam bangkit dari duduknya, dan menuju luar masjid, mencari keberadaan suaminya di serambi masjid.


Maryam terlihat tersenyum simpul, mendapati Reza yang tengah Tertidur bersandar pada sisi tembok masjid dengan posisi duduk.


Maryam segera duduk di samping Reza dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Reza.


Meraih tangan Reza yang dia letakkan di atas pangkuannya.


Menyadari seseorang menyentuh tangannya, Reza seketika terjaga dari tidurnya.


"Apa aku mengagetkan mu ?" Ucap Maryam lembut dengan senyuman di wajahnya


"Maaf, Aku Hanya Sangat Mengantuk" Ucap Reza dengan mengusap kedua matanya.


"Apa kau sudah selesai ?" Tanya Reza kemudian


"Alhamdulillah mas, Maryam sudah selesai, Maaf mas...!!" Ucap Maryam dengan sedikit rasa tidak enak hati.


"Maaf untuk apa ?" Tanya Reza dengan menaikkan kedua alisnya.


"Maaf membuat mas Reza menunggu, Sungguh Maryam benar-benar lupa kalau tadi Maryam sama mas Reza" Ucap Maryam dengan polosnya . Reza hanya tersenyum


"Tidak masalah " Jawab Reza dengan senyuman manis.


Keduanya memutuskan untuk menunggu hingga waktunya sholat subuh tiba, Reza dan Maryam memilih untuk tetap duduk di serambi masjid.

__ADS_1


Suasana menjadi lebih ramai dari sebelumnya, terlihat beberapa bapak-bapak yang siap untuk mengumandangkan adzan Subuh.


Terdengar suara adzan subuh yang begitu indah dan Merdu, terdengar oleh pasang telinga Maryam, yang seketika membuat hati menjadi tenang.


Beberapa saat berlalu keduanya telah selesai dengan sholat subuh, Maryam memilih untuk langsung kembali dan tidak membaca Mushaf atau melakukan amalan pagi.


Maryam bergegas menuju ruangan ICU untuk menggantikan Abi Hanif menjaga Umminya, Karena Abi Hanif pun juga harus segera sholat subuh.


Keduanya berjalan beriringan menuju ruangan ICU.


"Abi .... Abi sholat saja dulu, Maryam dan mas Reza akan berjaga di sini" Ucap Maryam lembut pada Abi Hanif yang semalaman tidak juga memejamkan matanya. Abi Hanif tersenyum dan mengangguk


Terlihat sayu dan terdapat guratan kesedihan di dalam wajah Abi Hanif.


***


Setelah kepergian Abi Hanif, Maryam yang merasa dirinya sudah cukup tenang, beranjak untuk menghampiri Mahira yang tengah duduk termenung.


Maryam duduk tepat di samping Mahira, yang memandang lurus kearah depan. begitu juga Maryam yang juga memandang lurus ke depan.


"Assalamualaikum, Kakak Apa kabar ?" Ucap Maryam Pelan.


"Waalaikumsalam" Jawab Mahira


"Seperti yang kamu lihat" Ucap Mahira acuh


"Kemana saja Kakak pergi selama ini, Kami sangat mengkhawatirkan Kakak" Ucap Maryam mencoba mencairkan suasana


"Bukan Urusanmu!!" Jawab Mahira ketus.


Maryam menarik nafas pelan dan sangat dalam, kemudian menghembuskan perlahan.


"Memang bukan urusan Maryam kak, namun jika menyangkut Ummi atau Abi, itu akan menjadi Urusan Maryam" Ucap Maryam datar.


Ucapan yang seketika membuat Mahira kaget dan membulatkan kedua bola matanya.


"Apa kau menuduhku ?" Sergah Mahira dengan mendengus kesal.


"Maryam tidak menuduh kakak, hanya..." Ucapan Maryam terputus


"Cukup!! " Sergah Mahira seketika.


"Aku pulang untuk menemui Umi dan Abi, Aku tidak berharap semua ini terjadi" Ucap Mahira santai


Maryam hanya tersenyum getir dibalik cadar yang dia kenakan, mendengar pernyataan dari kakaknya yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali.


Sejenak suasana menjadi hening, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Apa kau bahagia dengan pernikahanmu?" Ucap Mahira membuyarkan lamunan Maryam


"Alhamdulillah Maryam sangat bahagia" Jawab Maryam lantang tanpa keraguan .


"Ohh... " Ucap Mahira

__ADS_1


Terlihat dari kejauhan Abi hanif telah selesai dengan sholat subuh nya.


Abi Hanif segera duduk di samping menantunya yang tengah fokus dengan smartphone miliknya.


Reza menghubungi Asisten Pribadinya untuk mengurus semua pekerjaannya di kantor, dalam beberapa hari kedepan.


Meminta untuk melaporkan setiap kegiatan dan rapat yang akan tetap di lakukan meski tanpa dirinya.


"Nak Reza ... Terima kasih" Ucap Abi Hanif dengan mata sayu


"Sama-sama Abi, sudah menjadi kewajiban saya sebagai suami Maryam" Jawab Reza singkat dengan senyuman.


Beberapa saat berlalu, Pak darman bersama Bi minah pun telah sampai di rumah sakit, Bi Minah membawa beberapa kotak makanan untuk Abi Hanif, Maryam, Reza, dan Mahira sarapan.


Bi Minah menyiapkan makanan yang di taruh di dalam kotak bekal masing-masing agar lebih mudah untuk makan. Mengingat kondisi Ummi Maya yang masih di ICU.


Maryam Bergegas untuk mengambilkan kotak makan untuk Reza dan kemudian Abi Hanif, setelah keduanya barulah Maryam mengambil untuk dirinya sendiri.


"Bi Minah, Pak darman sudah sarapan ?" Tanya Maryam


"Alhamdulillah Ning" jawab keduanya


"Ohya ka, Makanlah terlebih dahulu" Ucap Maryam mengingatkan Mahira. Namun Mahira tetap bergeming.


Waktu menunjukkan pukul 08.50 , Tidak berselang lama Dokter Tama datang bersama dengan 3 orang perawat jaga.


"Assalamualaikum Abi..Maryam" Ucap Tama kepada keduanya.


"Waalaikumsalam .." Jawab Abi Hanif, di ikuti Maryam yang menundukkan pandanganya


Reza tampak tidak senang melihat Tama yang merawat mertuanya, namun Reza memilih untuk tetap diam, menjaga Susana agar tetap kondusif.


Setelahnya Dokter Tama beserta perawat tersebut masuk kedalam ruangan Khusus, dan mengenakan Baju steril untuk memeriksa Kondisi Ummi Maya.


Tampak Maryam dan Abi Hanif yang terlihat cemas dengan hasil pemeriksaan Ummi Maya.


Beberapa saat kemudian , Dokter Tama telah selesai dengan tugasnya, dan kembali keluar untuk menemui Abi Hanif dan yang lain di luar ruangan .


"Bagaimana dok, kondisi Ummi" Tanya Maryam seketika, ketika mendapati Dokter Tama keluar dadi ruangan


Begitu pula Abi Hanif yang tampak menunggu jawaban dari dokter Tama.


"Alhamdulillah semua baik-baik saja, Kondisi Ummi sudah cukup membaik, Setelah ini ummi akan di pindah ke ruang perawatan" Jawab Dokter Tama dengan tersenyum ramah kepada Maryam.


Seketika mata Maryam berbinar mendengar ucapan dokter Tama


"Alhamdulillah" Ucap Beberapa orang di sana bersamaan


"Terima kasih dok" Ucap Abi Hanif dengan menjabat tangan Tama


***


Bersambung

__ADS_1


***


Jangan lupa Dukunganya ya untuk author 🥰


__ADS_2