PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
122. Khitan Masal


__ADS_3

Denis masih terlihat bengong dengan pikiran yang entah terisi apa. "Tidak perlu cemas " Ucap ustadz Hamzah dengan usapan lembut di bahu Denis


"Apa saya juga harus melakukanya pak ustadz?" Ucapan yang sebelumnya di tahan Denis, namun karena rasa penasaran dia nekat tanyakan.


"Baiknya begitu nak Denis, lagi pula ini untuk kesehatan nak Denis juga" Ucap Ustadz Hamzah dengan tersenyum


Lagi-lagi pikiran Denis traveling, membayangkan betapa ngilu nya, jika milik nya itu di kuliti.


"Sebaiknya nak Denis pikirkan dulu, kalau sudah siap nanti sampaikan pada bapak" Ucap ustadz Hamzah dengan beranjak untuk bangkit dari duduknya.


"Oya nak Denis kebetulan dua hari lagi akan ada sunatan masal di sini"


"Banyak anak-anak yang telah mendaftar, kalau berminat nak Denis bisa sekalian "


Mendengar penuturan dari Ustadz Hamzah membuat kelopak mata Denis melebar.


"What's?, anak-anak ?" Gumam Denis dalam hati.


Membayangkan dia akan ikut dalam sunatan masal saja membuat bergidik ngeri, sudah pasti harga dirinya akan jatuh. Belum lagi pandangan orang terhadap dirinya, sudah sematang ini tapi baru sunat.


Selain takut, malu juga Denis merasakan kepanikan yang luar biasa.


"Bagaimana jika nanti miliknya di potong cukup banyak, lalu bagaimana masa depanku?, Ah tidak tidak tidak , Ini tidak boleh terjadi" gumam Denis dalam hati.


Denis selalu berpikir tentang sesuatu yang konyol, yang bahkan mungkin cara berpikirnya terlalu jauh. Padahal ustadz Hamzah telah menjelaskan jika ini hanya membersihkan kulit bagian luar saja, dan tidak ada acara potong memotong, namun tetap saja pikiran Denis di penuhi segala macam keburukan.


Setelah bergelut cukup lama dengan pikirannya sendiri, namun tidak juga kunjung mendapatkan jawaban, Denis memilih untuk beranjak dan berniat berjalan-jalan di sekitar pesantren, untuk menghilangkan kepanikannya.


***


"Assalamualaikum" Ucap Nissa dengan suara lembut


Beberapa kali Nissa mengucapkan salam di depan kamar Denis dengan jarak yang sedikit jauh, kamar yang terlihat tertutup rapat, dan di kunci dari dalam oleh sang penghuni.

__ADS_1


Menyadari tidak ada jawaban dari Denis , Nissa memilih untuk kembali ke dalam rumah, dan mungkin Denis juga telah tidur.


"Waalaikumsalam" Ucap Denis dengan tergesa membuka pintu kamar


"Iya ada apa ?" tanya Denis


Nissa tampak meneliti sosok di hadapannya "Oh, Abi minta Nissa untuk tanya perihal pendaftaran khitan masal pada mas Denis " Ucap Nissa dengan Perasaan malu dan wajah menunduk.


Denis terlihat memicingkan mata mendengar penuturan dari Nissa "Maaf, Saya bertugas mengelola pendaftaran khitan masal Mas" Ucap Nissa ketika melihat Denis sedikit bingung


"Ohh, iya, begitu ya " jawab Denis terbata.


Sejujurnya Nissa merasa malu menanyakan hal ini pada Denis, namun mau tidak mau dia harus tanyakan, pasalnya berkaitan dengan kuota yang terbatas.


"Em Aku akan berfikir dulu" jawab denis dengan menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal. Dan Nissa


memberikan jawaban dengan anggukan kepala. Kemudian pergi meninggalkan Denis yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar.


***


Selain para peserta, banyak juga orang lain yang juga datang untuk menyaksikan kegiatan khitan masal, yang diadakan Ustadz Hamzah setahun sekali itu.


"Aku tidak bisa membayangkan Milikmu akan di kuliti" Goda Lian dengan wajah seringai


"Sialan !! ni anak, Disuruh nemenin malah bikin panik" umpat Denis dalam hati


"Gue cuma mau bilang, jangan tegang nanti di dalem, Gue gak bisa bayangin kalau Lo tegang bisa Segede apa tu otong" Goda Lian lagi dengan suara berbisik. Wajah usilnya tidak juga luput dari pandangan Denis saat itu.


"Harusnya gue gak minta lo dateng ke sini, nyusahin !! " Geram Denis yang sudah sangat kesal dengan tingkah Lian


Melihat kemarahan Denis namun dengan rasa takut membuat Lian semakin bahagia, hingga tanpa di sadari Lian tertawa terbahak-bahak.


Sebelumnya memang Denis telah menghubungi Lian , Denis memintanya untuk menemani dalam acara khitan ini, pasalnya Denis tidak memiliki keluarga atau saudara, hanya dengan Lian lah selama ini Denis dekat.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Lian telah datang di pesantren Ustadz Hamzah, untuk menemani Denis melaksanakan khitan.


Sejujurnya Lian pun juga belum pernah melaksanakan khitan, jadi dia juga tidak tahu apa yang harus di lakukannya, namun sepengetahuan Lian khitan merupakan kegiatan yang banyak di lakukan pada Laki-laki muslim.


Terdengar jelas oleh pasang telinga Denis , beberapa anak yang masuk kedalam ruangan khitan menangis dan menjerit sekuat tenaga. Hal itu membuat Denis semakin takut dan seketika keringat sebesar biji jagung menetes membasahi pelipis dan baju Koko yang dia kenakan.


Melihat Denis yang cemas, kembali muncul kalimat konyol dari mulut Lucnut Lian "Bro , Sumpah gue mohon Lo jangan nangis ya nanti, Gue malu banget kalau sampai Lo nangis" Goda Lian dengan suara lirih . Denis hanya dapat menggeram dengan mata melotot.


"Eh, tapi kalau Lo mau nangis gak papa juga sih, Pasti rasanya Sakit banget" Ucap Lian lagi dengan senyum seringai.


"Bisa diem gak Lo !!, Sumpah Mulut Lo Lemes banget kaya mulut emak-emak" Jawab Denis dengan wajah yang sudah merah padam. Bukan karena marah, hanya saja Denis merasa semakin takut mendekati nomor antrian ya yang tinggal beberapa angka lagi.


"Santai Napa bro " Jawab Lian dengan senyum cengingisan.


"Gue Ingat Lo kan juga belum di sunat, Gimana kita sunat Bareng aja" Tukas Denis dengan senyum smirk


Mendengar hal itu Seketika wajah Lian menjadi pusat pasi dan tangan yang langsung membekap otong miliknya.


"Oh No ! , Ini keperjakaan gue bro, Belum siap gue " Jawab Lian seketika.


Kedua sahabat itu hanya saling melemparkan kata-kata ejekan hingga mengundang banyak pasang mata untuk ikut mendengarkan ocehan mereka yang receh.


Sebenarnya Lian hanya ingin menggoda Denis saja, Nyatanya dia justru di buat telak oleh Denis dengan kalimatnya.


"Tenang aja, Setelah gue khitan, gue minta ustadz Hamzah juga buat khitan lor bro" Goda balik Denis pada Lian yang sudah semakin pucat.


Mendengar hal itu Lian menjadi semakin pucat, dan hanya bisa membalas ucapan Denis dengan senyuman yang terasa getir.


"Rasain Lo, kena Mental kan" Batin Denis dalam hati, merasa puas telah mengerjai sang sahabatnya.


Beberapa saat Denis sudah tidak bisa berkata-kata akibat rasa panik yang kian memenuhi dada. Bagaimana dia sanggup melanjutkan obrolan yang penuh candaan dengan Lian, sedangkan dirinya merasa sangat ketakutan. Bahkan Denis pun mengikuti gaya Lian dengan membekap otong miliknya.


"Nomer 34 atas Nama Denis Iskandar" suara panitia yang memanggil nama Denis untuk masuk kedalam ruangan khitan.

__ADS_1


***


__ADS_2