PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
150. Menerima Mu


__ADS_3

Senyum tipis tak terasa terukir di wajah cantik Nissa, kala mendengar ucapan Tama. Bahagia bercampur rasa malu yang mungkin kini Nissa rasakan.


Melamar namun versi Tama ini begitu terasa berbeda dari kebanyakan lamaran. Mungkin begitu saat ini yang di pikirkan Nissa.


Senyuman yang sangat tipis, namun sangat jelas terlihat oleh Tama, Tama pun dapat melihat raut wajah Nissa yang terlihat merona.


Disini tidak hanya Nissa saja yang terkejut, dengan ucapan Tama, nyatanya ustadz Hamzah dan istri juga merasakan demikian.


"Nak Tama Serius dengan hal ini ?" tanya Ustadz Hamzah lagi memastikan.


Tama menganggukkan kepala dengan mengulas senyum di wajah tampannya.


"Nak Tama melamar putri kami ?" Ucap ustadz Hamzah memastikan. Tama menjawab dengan anggukan kepala.


Setelahnya Ustadz Hamzah menatap sang putri yang sedari tadi terus menundukkan wajahnya.


Ada sebuah keyakinan dalam diri Ustadz Hamzah bahwa Tama adalah sosok yang baik dan InshaAllah tepat untuk Nissa putrinya.


Melihat sorot mata bahagia dari Nissa , ustadz Hamzah pun mengetahui jika saat ini Nissa pun tidak menolak lamaran Tama.


"Nissa ?" Panggil ustadz Hamzah lirih pada sang putri.


Nissa mendongakkan kepalanya menatap lekat ustadz Hamzah


"Abi ingin bertanya padamu" Ucap ustadz Hamzah lirih, dengan tatapan lekat pada sang putri.


Nissa menjawab dengan anggukan kepala


"Apa kau bersedia menerima lamaran Dokter Tama?" tanya ustadz Hamzah memastikan, meski ustadz Hamzah tahu jawaban apa yang akan di berikan putrinya, namun ustad Hamzah pun tidak ingin lancang dengan mengambil keputusan secara sepihak.


Mendengar pertanyaan dari Abi nya, membuat Nissa merasa begitu gugup, namun ada rasa bahagia yang juga menyeruak dalam dada.


Begitu gugup hingga Nissa hanya dapat meremas jari jemari lentiknya untuk mengurai rasa sesak yang memenuhi dada.


"InshaAllah Abi, Nissa Menerima, Nissa menerima Dokter Tama untuk menjadi calon suami Nissa " ucap Nissa lirih, masih dengan menundukkan wajahnya.


"Alhamdulillah" Ucap ustadz Hamzah, istri, dan juga Tama bersamaan.


Senyum Bahagia seketika terkembang di wajah Tama yang begitu tampan, dan hal itu menambah berkali lipat ketampanan dari Tama.

__ADS_1


Tama lekat menatap sosok yang selalu menjadi candu ya, ingin rasanya segera memeluk Nissa namun sadar jika pasti Nissa akan menolak keras hal itu.


Entah apa yang harus di katakan yang jelas Tama merasa sangat bahagia.


Ditengah kebahagiaan Tama, ada sesuatu yang masih mengulik hati ustadz Hamzah.


"Nak Tama, Nominal mahar tersebut bukan jumlah yang kecil, itu sangat besar jika di jadikan mahar" Ucap ustadz Hamzah lagi, mencoba meyakinkan jika mungkinkah Tama salah.


Meski merasa tidak enak hati namun ustadz Hamzah tetap harus menanyakan perihal tersebut.


Lagi-lagi Tama tersenyum mendengar ucapan ustadz Hamzah yang masih saja tidak percaya.


"InshaAllah pak, Saya sangat yakin ! saya pun sudah melimpahkan sertifikat tanah ini nantinya pada calon istri saya" Ucap Tama penuh ketegasan, dengan mata melirik Nissa, yang juga saat itu tiba-tiba menatapnya.


Sejenak tatapan keduanya beradu, dan menyadari hal itu segera Nissa memutus tatapan Tama terhadapnya, dan begitu juga sebaliknya.


Mendengar hal itu sejujurnya ustadz Hamzah teramat bahagia , hanya rasa tidak percaya yang masih saja menyelimuti hatinya.


"Nak Tama Sebaik-baik mahar adalah yang tidak akan memberatkan Pria" Ucap ustad Hamzah.


"Saya tahu itu Abi. Dan Sebaik-baik mahar juga yang tidak merendahkan wanita" Ucap Tama menimpali ucapan ustad Hamzah


"Ya Allah Ampuni hamba, telah mengagumi sosok dokter Tama, sementara dia bukan seseorang yang saat ini halal dan boleh untuk hamba kagumi" gumam Nissa lagi dalam hati, yang merasa kesucian hati ya ternodai karena mengagumi Tama.


Nissa merasa dirinya begitu istimewa saat ini, begitu besar dan banyak nikmat yang dia terima, bagaimana seorang yang baru dia kenal beberapa Minggu yang lalu, dan saat ini tengah meyakinkan kedua orang tuanya untuk melamar dirinya.


Menjadikan Nissa istri bagi Tama, sungguh sejujurnya Nissa pun masih gamang, namun entah mengapa, harinya selalu merasa teguh dengan keyakinannya pada Tama.


Seolah Allah telah menunjukan kuasanya, mengirimkan Tama disaat yang betul-betul tepat.


..."Antara adzan yang berkumandang, dan arah kiblat yang menuntunku untuk pulang. Antara Manisnya Syafaat dan dahsyatnya syahadat. Antara untaian Tasbih yang selalu lirih ku panjatkan. Aku percaya sujudku dan sujud mu akan bertemu pada amin yang sama" ...


...🍁...


Tama pun merasakan hal yang sama, kebahagiaan yang begitu besar, hingga rasanya ingin secepatnya menghalalkan Nissa untuk dirinya. Sampai Tama melupakan Orang tuanya yang masih berada di luar negri.


Bahkan Tama tidak sadar jika keputusan yang di ambil ya ini tanpa sepengetahuan orang tuanya.


Namun tidak berniat menutupi, Tama tetap akan mengungkapkan semuanya pada papa dan mama nya , setelah permasalahan yang ada di sini selesai sepenuhnya.

__ADS_1


Terlebih urusan surat menyurat tanah dan lahan pesantren yang mungkin butuh sedikit waktu untuk mengurusnya.


Selama itu Tama akan berfikir mengenai caranya untuk mempertemukan Nissa dengan kedua orang tuanya.


Dan sekali lagi Tama harus memastikan dan meyakinkan kedua orang tuanya menerima Nissa. Karena itulah harapan Tama saat ini.


"Nak Tama ?" Panggil ustadz Hamzah yang seketika membuyarkan lamunan Tama.


"Abi rasa sebaiknya niat baik ini di ketahui semua pihak" Ucap Ustadz Hamzah ramah dengan menatap lekat calon menantunya.


Tama sadar kemana arah pembicaraan ustad Hamzah. Dan kemudian menganggukkan kepala.


"Abi ingin semuanya diawali dengan baik nak" ucap ustadz Hamzah lagi.


Nissa dan Tama tampak mendengarkan ucapan serius dari ustadz Hamzah


"Abi ingin , orang tua nak Tama juga meridhoi rencana baik nak Tama ini" pinta Ustadz Hamzah jujur pada Tama


Tama pun menganggukkan kepala "InshaAllah Abi" Ucap nya kemudian


"Orang tua saya sedang di luar negri, InshaAllah secepatnya saya akan menyampaikan semua pada mereka" Ucap Tama penuh keyakinan


ustadz Hamzah mengangguk lembut, dengan mengulas senyum ramah di wajah nya. Berharap jika niat baik ini juga akan di beri jalan yang terbaik.


Setelah menyampaikan maksut dan tujuan terselubungnya, Tama pun bergegas untuk berpamitan pada ketiganya.


Mengingat banyaknya jadwal Tama hari ini, selain di rumah sakit, dan mengajar, Tama pun juga masih di sibukkan dengan beberapa usaha milik orang tuanya yang berjalan di negara ini.


***


Assalamualaikum


Terima kasih Reader Setia Author 🥰


Mohon maaf jika masih ada kesalahan dalam penulisan, InshaAllah Author selalu belajar untuk memperbaiki.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya pada Author ya 🥰


Terima kasih untuk semuanya, Semoga bahagia dan sehat selalu untuk Reader kesayangan Author ya 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2