PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
123. Denis dan Rasa Sakitnya.


__ADS_3

Setelah selesai di khitan Denis masih bisa tersenyum lega, pasalnya Denis merasa ini tidak sesakit yang dia bayangkan sebelumnya, justru hampir Denis tidak merasakan apapun selama proses khitan.


Denis yang di bantu oleh Lian, segera kembali ke kamarnya. Berjalan menggunakan sarung dan langkah yang tertatih membuat Denis selalu jadi bahan Bullyan oleh Lian


"Gimana bro mantap ?" tanya Lian dengan suara menggoda.


Mendengar hal itu Denis hanya mendengus kesal. "Lo pikir aja sendiri" Jawab Denis dengan ketus


"Harusnya habis gue tadi Lo juga kudu di sunat" Ucap Denis


"Makasih bro saran nya" Jawab Lian dengan senyuman getir di wajahnya.


Setibanya di kamar Denis segera merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Beberapa saat berlalu Denis merasakan sensasi tidak menyenangkan dari si Otong nya, rasa nyeri yang semakin lama.semakin terasa sakit.


"Eh Lia ini napa jadi perih ya" Ucap Denis dengan gelisah.


"Lia ? , Lian Dajjal !, nama gue Lian !" umpat Lian dengan wajah kesal.


Pasalnya tidak jarang sahabatnya tersebut memanggilnya seperti Bos besar mereka memanggil dirinya. Ya, benar saja Reza lah yang selalu memanggil Lian dengan Nama Lia.


"Eh sumpah ini sakit banget woy !, wah parah Lo , gara-gara Lo ngajakin gue ngomong terus, ni si Otong jadi sakit" umpat Denis lagi dengan wajah semakin gusar


Lian hanya mendengarkan celana dan umpatan dari sang sahabat dengan santai, tanpa berniat berniat menjawab.


"Wadohhh..."


Suara teriakan Denis yang terdengar sangat memekakkan telinga. Hal itu membuat Lian tidak berhenti untuk tertawa.


Ada rasa kasihan , namun Lian yang berada di samping Denis pun merasa bingung harus berbuat apa, pasalnya sang sahabat hanya mengeluh kesakitan, sementara dirinya tidak tahu harus bagaimana.


"Bro gue gak sanggup bro... Sumpah gue gak sanggup kalo kaya gini " Ucap Denis dengan suara tinggi .


"Etdah Lo Bilang gak sanggup !, nah Tu si Otong udah di sunat Dajjal" Kesal Lian pada Denis yang dari tadi selalu memarahi dirinya dan terus saja mengumpat.


"Mau Lo itu !, otong di balikin lagi ?, di jahit lagi gitu ?" Ketus Lian pada Denis.


"Lia ! Sumpah ini gue Musti ngapain !" Teriak Denis


"Lia ?, Lian Dajjal" Tukas Lian lagi ikut kesal dibuatnya.


"Lo nikmatin aja nape !, Mungkin aja habis ini Lo bakal jadi Iron Tong ! , Itu yang kaya di Pelem Luar negri !" Goda Lian dengan wajah mengejek.


"Astaga ! Mulut Lo minta di jahit juga kayaknya " Kesal Denis

__ADS_1


Lian yang melihat sang sahabat hanya berbaring dengan suara erangan yang semakin memenuhi telinga, sejujurnya merasa jengkel. Namun hal itu juga menjadi sebuah pemandangan yang lucu baginya hingga tidak henti Lian untuk menertawakannya.


"Assalamualaikum "


Suara sopan dan merdu yang seketika menghentikan teriakan Denis dan menghentikan Tawa Lian saat itu.


Denis dan Lian hanya saling pandang, kemudian setelahnya Lian membukakan pintu kamar.


"Eh Neng cantik" Ucap Lian dengan wajah sumringah


"Ini obat untuk mas Denis , pereda nyeri, agar mengurangi rasa sakitnya" Ucap Nissa dengan suara sopan dan pandangan yang menunduk.


Lian menerima obat tersebut dengan pandangan yang tidak lepas dari wajah Nissa.


Denis yang melihat sang sahabat tengah tebar pesona, dan bahkan sudah tidak lagi memikirkan nasibnya, kemudian melempar bantal kearah Lian yang masih berdiri di depan pintu memandangi kepergian Nissa.


"Eh Dajjal, ada apa ?" Tanya Lian tanpa rasa bersalah.


"ada apa , ada apa !, Lo yang ada apa Lemes ?" Umpat Denis kesal pada sang sahabat


Mendengar hal itu Lian hanya tertawa geli pada sang sahabat. Menyadari sahabatnya yang sudah mulai kumat lagi, tidak ingin semakin di salahkan, Lian segera menutup kembali pintu kamar tersebut.


"Karena gue baik nih, gue siapin minum sama obat Lo" ucap Lian dengan menyodorkan segelas Air putih dan obat yang sebelumnya di berikan oleh Nissa.


Denis hanya memandangi obat yang di bawa oleh Lian, "Terus yang mana, yang harus gue minum duluan " tanya Denis pada sang sahabat.


Denis yang melihat hal itu hanya dapat menggeram dan menahan rasa jengkel, kemudian menepuk jidatnya yang mulai merasa panas akibat tingkah sahabatnya.


"Astaga ! Lo mau bikin gue over dosis , minum obat sebanyak itu !" umat Denis.


"Mangkanya tu punya mata di jaga !, Lo kayaknya emang mau ngeracunin gue !" Ucap Denis dengan kesal


Dan Lian pun hanya tersenyum receh menyadari kesalahannya, kemudian menunduk dengan rasa bersalah. Meski dalam hati dirinya merasa lucu.


***


Setelah cukup lama melawan drama dari Denis , hingga umpatan dan celana dari mulut Lian maupun Denis keluar begitu saja


Akhirnya Denis bisa tertidur pulas setelah minum obat. Dengan Setia Lian menunggu Denis sang sahabat.


Karena hanya duduk dengan memainkan Smartphone milik nya, Lian pun juga merasakan kantuk yang luar biasa, hingga dirinya juga tertidur diatas sofa kamar.


Beberapa saat terdengar suara Adzan ashar yang seketika membangunkan Denis dari tidurnya.


Melihat sang sahabat yang tidur dengan begitu nyenyak membuat Denis tidak tega untuk membangunkan, meski dia sangat membutuhkan bantuan nya.

__ADS_1


Beberapa saat Lian tidak juga bangun, Denis mulai gelisah karena dia berfikir bisa bahaya jika sampai dia telat minum obat, bisa jadi kejadian yang sebelumnya dia rasakan akan terulang kembali, namun Lian belum juga bangun, sementara obat yang sebelumnya di minum oleh Denis, berada di sofa tempat Lian tidur.


Denis hanya dapat menggeram kesal melihat sahabatnya yang begitu nyaman tanpa memikirkan dirinya, karena merasa sudah lelah menunggu, Lagi-lagi Denis melempari Lian dengan bantal , yang seketika hal itu mengagetkan Lian.


"Selamat sore my sunshine!" ucap Denis dengan nada sinis.


"Gimana ?, tidurnya nyenyak !" Tukas Denis lagi dengan suara kesal.


Menyadari kesalahan nya, Lian hanya terkekeh dengan ekspresi yang di tujukan sang sahabat.


Karena Lian tahu dirinya salah, segera Lian menyiapkan minuman dan obat untuk Denis "Ini Dajjal obat Lo!" Tukas Lian dengan menyodorkan obat dan minuman.


***


Di waktu yang sama namun pada tempat yang berbeda Mahira tengah dalam suasana hati gelisah, pasalnya sang Abi selalu saja mencarikan dia jodoh. Bukan tidak mau atau menolak, hanya saja Mahira merasa belum siap, dan entah mengapa Mahira tidak begitu suka dengan hal itu.


Ditambah dengan kedatangan Tama sebelumya membuat hati Mahira kian berkecamuk.


Dalam suasana hati yang entah sudah seperti apa, Mahira mengambil smartphone miliknya dan mencari sebuah nama yang ingin sekali dia hubungi saat ini.


"Assalamualaikum?" Ucap Mahira dengan suara lembut


"Waalaikumsalam kak Ira ?" ucap Maryam dari ujung telepon.


Setelahnya Mahira menceritakan semua yang sedang berkecamuk dalam hatinya, mulai Denis yang selalu berusaha mendekatinya, begitu juga Tama yang bahkan baru saja datang menemuinya, ditambah beberapa calon yang Abi tawarkan pada Mahira.


Hal itu cukup membuat kepala Mahira terasa pening, dan ingin rasanya menghilang begitu saja.


Sejujurnya Mahira bingung dengan semua itu, pasalnya mereka mungkin saja hanya tahu Mahira yang saat ini, tidak dengan masa lalu Mahira yang terasa begitu suram.


Pikiran tentang bagaimana sang calon suami bisa menerima dirinya dengan ikhlas, atas segala kekurangan yang dia miliki, serta dosa-dosanya di masa lalu.


Mahira terlihat semakin terisak dengan buliran bening menetes di wajah cantiknya.


Maryam yang berada di ujung telepon pun merasa kasihan terhadap sang kakak, namun dengan suara lembut Maryam berusaha menenangkan sang kakak dan memberikan beberapa saran untuk nya.


Setelah Memberikan beberapa nasihat dan arahan pada Mahira , Maryam sedikit merasa lega pasalnya sang kakak terlihat telah lebih tenang dari sebelumnya.


"Maryam Terima kasih untuk semuanya" ucap Mahira dengan suara lirih dan nafas sesenggukan.


"Tidak masalah kak, jika kakak perlu apa pun jangan sungkan untuk mengatakan pada Maryam" Jawab Maryam kemudian


Setelah cukup tenang dan merasa lebih lega, karena telah mengutarakan semua isi hatinya pada sang adik, Mahira kemudian menutup teleponnya tersebut.


Lantas Mahira mengambil air untuk wudhu dan segera membasuh wajahnya, kemudian segera melaksanakan sholat untuk melaksanakan kewajiban dan berharap sebuah ketenangan setelah dirinya sholat.

__ADS_1


***


__ADS_2