
Mendengar nasihat yang di sampaikan oleh sahabatnya Mahira merasa sedikit lega.
Nissa memang dikenal sangat dewasa, bahkan dia mampu mengurai dan memberi nasihat pada Mahira tanpa harus Mahira merasa terpojokkan.
"Sudah sudah, kau ini Ra bikin aku melow aja, ini first meet kita lhoo, kok malah mewek" Ucap Nissa gemas
Mahira pun hanya tertawa melihat sahabatnya yang berbicara seperti anak kecil.
"Kita ngobrolin yang lain aja yuk" Ajak Nissa kemudian
Dengan menyeka air matanya yang sedari tadi mengalir, Mahira menganggukkan kepala, menyetujui permintaan sang sahabat.
Setelahnya mereka saling berbincang masalah Pekerjaan, orang tua, dan Tempat-tempat indah yang telah keduanya rencana kan untuk di kunjungi bersama.
"Nis, Jam-jam segini bukanya waktunya masak besar ya ?" Tanya Mahira
Nissa menganggukkan kepala "Iya di dapur umum, untuk makan malam santri nanti" Jawab Nissa
"Ohya Siang tadi Abi panen Ikan, kayaknya menu malam nanti pakai ikan Ra, Kita bantu-bantu masak yuk" Ajak Nissa pada sang sahabat
Mahira pun menganggukkan kepala, menyetujui ajakan Nissa dengan senang hati.
Setelahnya dua sahabat tersebut, berjalan menuju dapur umum untuk membantu juru masak dan beberapa santri, mengolah makanan untuk makan malam.
Selain justru masak dan para santriwati yang membantu, di dapur, ada juga Ummi Zahra yang ikut terjun dalam membuat makanan.
"Assalamualaikum Ummi, Ira bantuin ya" Ucap Mahira sopan pada sosok ibu sang sahabat.
"Waalaikumsalam, Wah Ummi senang sekali kalau ada yang bantuin" Jawab Ummi Zahra semangat.
"Banyak orang yang membantu, akan lebih cepat juga selesainya" Tukas Nissa dengan senyuman manis di wajahnya.
Karena panen ikan kali ini cukup melimpah, para santri pun kebagian jatah untuk ikut menikmatinya.
Selain untuk di jual ikan-ikan tersebut juga bisa di manfaatkan untuk tambahan lauk bagi para santri.
Menu malam ini adalah Oseng Kangkung, Tempe goreng, Sambal terasi, kerupuk, dan Ikan Patin yang di potong-potong setiap bagian. Sederhana memang, namun menu itu sangat nikmat kalau di santap bersama-sama.
Tidak banyak masakan yang di buat, namun masakan tersebut di olah dalam jumlah yang sangat banyak, mengingat banyaknya santri yang mondok di sana.
Bahkan meski hanya empat jenis makanan plus nasi yang di buat, membutuhkan juru masak lima orang, dan masih di tambah dengan para santri yang ikut membantu.
Setelahnya Ustadz Hamzah dibantu oleh dua orang santri putra menuju dapur umum untuk mengantarkan ikan patin yang telah di bersihkan dan di potong-potong, siap untuk di beri bumbu dan di goreng.
__ADS_1
"Lhoo, ada Ira " ucap Ustadz Hamzah
"Assalamualaikum Abi, iya bi Ira baru aja tadi datang" Ucap Mahira dengan sopan.
"Waalaikumsalam, Abi sehat Ra ?" tanya ustadz Hamzah lagi.
"Alhamdulillah bi, Abi sehat, tadi titip salam juga untuk Abi Hamzah" Jawab Mahira.
Setelah cukup beramah tamah dengan Mahira Ustadz Hamzah kembali ke kolam untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai bersama para santri.
Mengingat hari semakin sore, karena bagda Ashar ustadz Hamzah ada jadwal untuk mengajar para santri.
***
Meski dengan keadaan yang sangat kacau dengan tubuh yang penuh dengan lumpur, Denis tetap semangat membantu para santri untuk memanen sisa ikan yang masih ada.
Rasanya mereka tidak lelah sedikitpun meski harus memanen ikan dari beberapa kolam yang ada.
Untuk jenis ikan nila memang perlu di sortir, karena ukuran ikan yang tidak sama, jadi butuh waktu lebih lama untuk memanen ya.
Setelah semua ikan hasil panen hari ini di timbang dan setelahnya di masukan dalam bak ikan oleh tengkulak, selanjutnya ikan akan di bawa menuju pasar, Denis dan para santri pun bergegas meninggalkan kolam. Menyisakan Ustadz Hamzah dan sang tengkulak untuk menyelesaikan pembayaran ikan hasil panen.
Sementara itu Denis membersihkan dirinya di bawah guyuran Air dari selang yang langsung mengarah dari sumur air di belakang masjid.
"Mas Denis mah Cakep aja, Beda sama kita, Burik" ucap salah seorang santri yang juga ikut membersihkan diri.
Denis hanya tersenyum mendengar ucapan para santri, dengan sesekali menyemprotkan selang ke arah santri dengan kencang
"Yang burik mah elo Ali, gue mah ganteng!" Jawab santri lainya yang merasa tidak terima karena di lecehkan.
Seketika obrolan receh mereka pun mengundang gelak tawa dari para santri.
"Mas Denis nanti makan malam kita bareng-bareng aja lagi" Ajak salah satu santri
"Menu hari ini mewah mas, ada ikannya" Ucap Ali yang merupakan salah satu santri juga.
"Benarkah ?" Jawab Denis dengan senyum sumringah.
"Beneran !" jawab para santri kompak.
"oke oke, Nanti mas ikut antri lagi" Jawab Denis penuh semangat.
Ada sedikit rasa yang membuat Denis merasa tercubit, satu potong ikan saja sudah membuat mereka sangat bahagia dan bersyukur, sementara selama ini, dirinya selalu mendapat lebih, tak jarang Reza memberinya bonus dobel setiap bulanya. Itu pun Denis merasa masih sering mengeluh.
__ADS_1
Denis merasa sangat malu jika harus mengeluh lagi, sementara seperti ini saja orang lain sangat bahagia.
"Memangnya kalian nggak dapat lauk protein ya tiap hari nya ?" Tanya Denis
"Alhamdulillah dapet terus sih mas Denis, tapi seringnya telur, telur juga sudah Alhamdulillah banget mas.. kadang-kadang kita juga cuma sayur, tempe, dan tahu." Jawab para santri
Denis pun tertegun mendengar jawaban para santri tersebut.
"Jangan heran mas Denis, itu sudah hal biasa bagi kami" Jawab Ali. Denis pun mengerutkan dahi.
"Kebanyakan santri di sini itu adalah santri yang di titipkan oleh orang tuanya, bayar juga seikhlasnya aja mas, bisa makan aja sudah Alhamdulillah" Tukas Rohmat yang juga merupakan salah satu dari santri.
Denis pun menganggukkan kepala tanda mengerti dengan penuturan para santri.
"Denis memang baru tahu, karena selama menginap di kediaman ustadz Hamzah Denis selalu di jamu dengan makanan yang baik.
Denis pun menyadari ustadz Hamzah melakukan hal tersebut untuk memuliakan tamunya.
"Sini mas saya bantu, Itu yang belakang bajunya masih kotor" Ucap Rohmat
Denis pun dengan senang hati menerima bantuan dari Rohmat.
"Lalu kalau ada yang bayar seikhlasnya gitu ustadz Hamzah giman kelola keuangan dan dapur?" Ucap denis menelisik.
"Ya itu dari pribadi ustadz Hamzah mas, Ustadz Hamzah baik orangnya, nggak pernah perhitungan " Jawab Ali dengan semangat. Denis hanya mendengarkan dengan manggut manggut.
"Eh tapi kalau nggak salah, sekarang sudah ada donatur tetap untuk pesantren " Ucap Rohmat
"Ohya?, Siapa ?, Kalian tahu?" Tanya Denis kemudian.
"Namanya kalau tidak salah pak Reza, Reza Abizar El Shirazy, itu mas Denis namanya " Jawab Ali lagi.
"Tuan Reza ?" gumam Denis dalam hati
Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan diri Denis dan para santri kembali ke tempat masing-masing, dimana Denis kembali ke kamar dan para santri kembali ke asrama untuk mandi yang sesungguhnya, Menggunakan sabun dan melepas baju kotor yang sebelumnya di gunakan.
***
Setelah ini episode dimana Ustad Hamzah melamar Denis Untuk Nissa ya.
Gimana kira-kira cocok sama siapa kakak Reader 🥰🙏
🍁🍁🍁
__ADS_1
Ohya kalau ada yang mau Capture Kalimat dari Novel ini Author persilahkan ya kak 🥰, semoga bermanfaat