
"Pergi !" Ucap Reza kemudian
Tasya tetap bergeming dan enggan untuk meninggalkan ruangan Reza.
Tasya merasa dirinya masih perlu berbicara pada Reza, untuk meyakinkan Reza jika dirinya betul-betul mencintai Reza.
"Pergi !" Ucap Reza lagi dengan nada suara tinggi.
Tasya tersentak dengan suara Reza yang begitu keras hingga membuat tubuhnya bergetar.
Tasya merasa sedikit takut dengan tatapan tajam Reza padanya,namun dirinya tetap teguh untuk merebut hati Reza lagi, agar jatuh kedalam pelukannya.
"Ingat aku tidak akan membiarkan mu Mencintai orang lain selain aku !" Ucap Tasya dengan suara lantang dengan tatapan pada Reza
Dengan emosi yang telah memuncak dan raut wajah memerah, Tasya keluar dari ruangan Reza
Brak ..!
Terlihat pintu ruangan Reza yang di banting dengan begitu keras oleh Tasya.
"Tap tap tap" Suara langkah kaki Tasya yang menggema di lorong kantor tersebut.
Reza tetap acuh dan bersikap biasa saja dengan kedatangan mantan istrinya yang menemuinya kembali setelah sekian lama.
Setelah kepergian Tasya , Reza tetap melakukan aktifitasnya lagi, seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya.
Berbeda dengan Reza, para asisten pribadi, petinggi kantor, dan karyawan lainya tampak terkejut dengan kedatangan mantan istri bosnya yang tiba-tiba.
Hal itu mengundang banyak tanya diantara mereka. Pasalnya mereka sangat mengetahui jika bos besarnya telah menikah lagi.
Meski mereka belum mengetahui bagaimana sosok dari istri bos besarnya tersebut.
Banyak yang berpikiran negatif, namun ada juga diantara mereka yang tetap berfikir positif dengan kedatangan Tasya ke kantor tersebut.
***
"Diminum dulu kek .. nek "Ucap Maryam lembut pada keduanya yang tengah duduk bersantai di pinggir kolam renang.
Seketika Maryam menyodorkan cangkir berisi minuman herbal pada kakek Amar dan nenek Halimah.
__ADS_1
"Terima kasih sayang " Ucap nenek Halimah dengan senyuman manis.
"Nenek dan kakek mau Maryam masak apa untuk nanti malam?" Tanya Maryam sopan.
"Tidak usah repot - repot Maryam, Ada banyak pelayan yang akan mengurusnya" Ucap kakek Amar dengan Beberapa kali terlihat menyesap minuman herbal yang di buat oleh Maryam
"Lagi pula kau itu nyonya di rumah ini, kau tidak perlu melakukan apapun , kau cukup melayani cucu kami dengan baik, itu sudah cukup Maryam" Tukas nenek Halimah kemudian.
Maryam tersenyum mendengar ucapan kakek Amar dan nenek Halimah.
"Maryam senang kek, nek dengan semua fasilitas yang nenek dan kakek berikan, tapi Maryam juga ingin melayani keluarga terutama suami Maryam, sebagai seorang muslimah, dan istri yang baik, sudah menjadi kewajiban Maryam untuk melayani suami dan keluarga Maryam. " Ucap Maryam kemudian dengan suara lembut dan senyuman lebar di balik cadar yang dia kenakan
Nenek halimah dan kakek Amar tampak tersenyum lebar dengan ucapan cucu menantunya tersebut.
"Kau memang berbeda Maryam, kakek senang " Gumam Kakek Amar dalam hati.
Terlihat oleh pasang mata para pelayan yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing, dimana kakek Amar, nenek Halimah, dan Maryam yang sedang bercengkerama dengan sesekali terdengar gelak tawa diantara ketiganya.
Hingga tanpa di sadari oleh ketiganya sepasang mata telah memperhatikan keakraban diantara Maryam juga kakek Amar dan nenek Halimah.
Ya. Reza telah berdiri tepat di ambang pintu rumah megah tersebut dengan memperhatikan ketiganya saling bercanda.
"Mas" Ucap Maryam tampak kaget dengan kedatang Reza yang tiba-tiba.
"Istri solihah yang menyenangkan hati suami, tapi telepon dan pesan dariku saja kau mengabaikannya" Ucap Reza dengan nada sindiran, dan senyum jahil.
"Astaghfirullah, Maaf mas, Maryam meninggalkan handphone Maryam di kamar" Ucap Maryam merasa tidak enak hati.
Mendengar penuturan Maryam, Reza hanya terkekeh dengan tingkah istrinya.
Begitu juga dengan kakek Amar dan nenek Halimah yang tersenyum senyum melihat tingkah cucu nya Reza.
"Sudah, Sudah, Kau ini Za.. " ucap nenek Halimah
Reza hanya tersenyum.
"Omong-omong tumben kamu pulang jam segini Za, tidak biasanya" Ucap kakek Amar kemudian.
Hal itu sama dengan pemikiran Maryam dan nenek Halimah yang merasa heran dengan Reza yang akhrir-akhir ini lebih sering pulang awal.
__ADS_1
Terlebih kakek Amar yang tahu betul karakter sang cucu, yang sangat cinta dengan pekerjaan, bahkan tidak jarang Reza menginap di kantor untuk memastikan proyek dan pekerjaan di kantor berjalan sesuai dengan arahannya.
"Oh. iya kek, hari ini Reza meeting Lebih cepat dan tidak begitu banyak pekerjaan" Ucap Reza dengan santai
"Benarkah?" Ucap kakek Amar mencoba menelisik, dengan dahi mengerut.
"Kakek tidak percaya ?" Tanya Reza kemudian, setelah melihat raut wajah kakek Amar yang tampak tidak mempercayai Ucapannya.
"Bukan begitu, hanya saja sikapmu akhir-akhir ini sedikit aneh, Seperti orang yang sedang jatuh cinta" Ucap kakek Amar lagi dengan gelak tawa.
Mendengar hal itu Reza hanya menggaruk tengkuk nya yang tidak terasa gatal.
"Ah kakek kaya nggak pernah muda aja" ucap Reza santai dengan melingkarkan tangannya di belakang bahu Maryam yang tengah duduk bersandar di sandaran kursi.
"Reza kan Pengantin baru kek, Wajar !" Ucap Reza kemudian dengan nada congkak dan senyum lebar.
Kakek Amar hanya menganggukkan kepala.
"Pengantin baru gimana , Kalian sudah menikah tiga bulan" sergah kakek Amar lagi.
"Iya kek nikahnya udah tiga bulan, Tapi angetnya baru kek" Ucap Reza kemudian
Seketika Maryam mencubit pinggang Reza, karena merasa Malu dengan ucapan sang suami yang tidak tahu tempat
"Mas!" Ucap Maryam dengan tatapan melotot kearah Reza.
Reza hanya cengar cengir melihat wajah istrinya yang menahan malu dibalik cadar yang dia kenakan.
"Sudah.. Sudah.. Kalian ini, lihat Maryam, wajahnya sudah seperti kepiting rebus" Ucap nenek Halimah kemudian
Maryam hanya tersenyum malu mendengar obrolan Reza dengan sang kakek.
Setelahnya mereka saling mengobrol dan bercanda satu sama lain hingga tanpa disadari waktu semakin bergulir dan hari semakin petang.
***
Bersambung
***
__ADS_1