PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
93. Rasa Penasaran Maryam


__ADS_3

"Maryam ! , Ini kakak" ucap sang penolong yang belum juga Maryam ketahui identitasnya.


Sejenak Maryam meneliti Pada sosok sang penolong, sungguh dirinya sangat terkejut dengan suara yang terasa Familiar di telinganya


"Kak Ira !" ucap Maryam seketika.


Melihat kembali pada sosok penolong yang diakuinya merupakan sang kakak yaitu Mahira, Maryam kembali meneliti sosok yang telah menolongnya, ada sedikit keraguan jika sang penolong merupakan Mahira sang kakak, hal itu karena penampilan yang sangat jauh berbeda dengan Mahira yang selama ini dia kenal.


Maryam pun tampak menajamkan penglihatannya dengan beberapa kali mengerjab memastikan jika memang betul, seseorang yang tengah berada di hadapannya merupakan sang kakak.


"Maryam, Ini kak Ira !" Ucap Mahira lembut dengan perasaan panik pada kondisi Maryam yang terkapar lemah diatas trotoar.


"Kakak ?" ucap Maryam kemudian.


Mahira mengangguk beberapa kali pada Maryam yang terlihat masih merasa ragu dengan kebenaran sosok dihadapannya.


"MashaAllah, Kak Ira !, ini sungguh kak Ira ?" Ucap Maryam setelah benar benar mempercayai, seseorang di hadapannya merupakan Mahira.


Mahira kembali menganggukkan kepala pada Maryam dengan tatapan berbinar.


"Kau tidak papa Maryam?" Ucap Mahira tampak panik dengan kondisi adiknya.


"Maryam baik-baik saja kak" Ucap Maryam lembut pada sang kakak.


Setelah merasa Maryam cukup tenang, dan tidak lagi gemetar, segera Mahira membimbing Maryam dengan memapahnya untuk masuk kedalam rumah.


Disusul pak Roni yang berjalan di belakang keduanya, dengan membawa koper berukuran sedang milik Maryam.


"Assalamualaikum" Ucap Mahira dengan beberapa kali memberikan ketukan pada pintu rumah tersebut.


"Waalaikumsalam, Ya sebentar" Terdengar suara lembut Ummi Maya dari balik pintu yang di ketuk oleh Mahira.


Tidak berselang lama , terlihat Ummi Maya yang berdiri diambang pintu utama kediaman Abi hanif, dengan rasa terkejut mendapati putri bungsunya Maryam tengah berdiri di hadapannya.


Namun yang sangat membuat ummi Maya heran adalah kedatangan Maryam yang di papah oleh Mahira, terlihat dari sorot mata Maryam yang meringis menahan rasa sakit.


"Ya Allah nak, ada apa ini" Ucap Ummi Maya dengan suara memekik, dengan rasa panik.


"Ummi , kita bicara di dalam saja ya" Ucap Mahira yang merasa Maryam perlu segera untuk istirahat.


Ummi Maya hanya mengangguk dengan memberikan jalan pada kedua putrinya untuk masuk kedalam rumah.


"Silahkan masuk pak Roni" Ucap Ummi Maya ketika mendapati sosok paru baya yang telah mengantarkan putrinya .

__ADS_1


"Terima kasih ummi, tapi sepertinya saya langsung saja" Ucap Pak Roni dengan sopan, dan membungkukkan badan.


"Oh , baiklah jika memang begitu, terima kasih telah mengantar putri saya " Ucap ummi Maya kemudian.


"Sama-sama Ummi, Assalamualaikum" Ucap pak roni kemudian dengan berlalu meninggalkan kediaman ummi Maya dan Abi Hanif.


"Waalaikumsalam " Ucap Ummi Maya, sembari menutup kembali pintu rumahnya.


Segera Ummi Maya menyusul kedua putrinya yang berjalan menuju kamar Maryam.


Mahira dengan sigap membaringkan adik semata wayangnya di atas tempat tidur, membantu membuka hijab yang di kenakan Maryam beserta cadar yang melekat pada wajah sang adik.


Melihat perlakuan kakaknya yang begitu manis, Maryam masih tampak terkejut dengan sedikit rasa tidak percaya dengan sosok di hadapannya adalah betul-betul sang kakak.


Tak berselang lama, Ummi Maya masuk kedalam kamar Maryam, dengan raut wajah panik dan khawatir terhadap kondisi putri bungsunya.


"Maryam !, ada apa ini, Kenapa tidak memberi kabar pada Ummi atau Abi kalau kau akan berkunjung, Lalu bagaimana bisa kau bersama kakakmu dengan kondisi seperti ini ?.


Sederet pertanyaan memberondong yang di lontarkan Ummi Maya pada Maryam , membuat Maryam menyadari bahwa Umminya tengah dalam rasa khawatir yang berlebihan.


"Ummi tenang dulu, Maryam baik-baik saja" ucap Maryam lembut, dengan senyum simpul pada Ummi Maya.


"Jadi , Tadi itu Maryam Hampir di serempet motor waktu di depan pagar" Ucap Maryam lagi.


"Mungkin karena Maryam kurang hati-hati Ummi, tapi Alhamdulillah Kak Ira datang tepat waktu dan menolong Maryam" Papar Maryam lagi memberi penjelasan pada Ummi Maya yang masih tampak kepanikan di wajah tua nya.


"Untuk luka ini, mungkin karena bersentuhan dengan Trotoar " Ucap Maryam dengan menunjukan luka di bagian sikunya.


"Ya Allah, Sepertinya cukup lebar lukanya " Ucap Mahira dengan raut wajah panik.


Sesaat kemudian ummi Maya memberikan instruksi pada Mahira untuk mengobati luka pada siku Maryam, dan Ummi Maya sendiri bergegas menyiapkan makanan dan minuman untuk Maryam.


Karena kebetulan Bi minah sedang di Pabrik, yang sebelumnya di minta Abi hanif membantu beberapa pekerjaan pak darman, dan baru akan pulang setelah Isya.


Ummi Maya bergegas berlalu meninggalkan kedua putrinya di kamar Maryam, dan segera menuju dapur untuk membuat beberapa menu untuk Maryam.


Sepeninggalan Ummi Maya dari kamar Maryam, Mahira begitu sigap mencari kotak obat untuk mengobati Luka pada siku Maryam.


Dengan lembut dan telaten Mahira membersihkan luka Maryam dari debu dan tanah yang menempel di sekitar luka.


Maryam pun tampak meringis menahan rasa perih dari cairan RL yang mengguyur lukanya.


"Tahan sebentar ya, kakak akan melakukanya dengan hati-hati" ucap Mahira ketika melihat rona wajah Maryam yang memerah menahan sakit dan perih.

__ADS_1


Maryam mengangguk pasrah dengan tindakan yang dilakukan oleh kakaknya.


Setelah beberapa saat Mahira telah selesai membersihkan luka dan mengoleskan Bioplacenton di luka Maryam.


Masih dengan tatapan penuh tanya Maryam mengamati sang kakak, dengan perubahan yang begitu signifikan.


Maryam masih merasa sangat heran, mungkin bisa di katakan masih tidak percaya. Bagaimana tidak Maryam begitu terkejut, Mahira yang selama ini dia kenal merupakan sosok yang terkesan sangat urakan, jangankan mengenakan cadar, berhijab saja mungkin dapat di hitung menggunakan jari, berapa kali dalam setahun, Mahira akan mengenakan hijab hanya saat lebaran datang.


"Alhamdulillah Selesai" Ucap Mahira yang telah membalut luka Maryam menggunakan kasa steril, dan kembali membereskan seluruh peralatan P3K yang dia gunakan sebelumnya.


"Kak" Ucap Maryam lirih.


"Iya" jawab Mahira dengan mengulas senyum di wajahnya.


"MashaAllah, kakak cantik sekali mengenakan hijab dan cadar " Puji Maryam seketika dengan mengukir sebuah senyum di sudut bibir Maryam.


Sejujurnya Maryam ingin bertanya mengenai perubahan sang kakak, namun tidak ingin menyinggung hati Mahira, jadi pujian merupakan kata yang dirasa Maryam paling tepat untuk membuka pembicaraan.


"Terima kasih" Ucap Mahira masih dengan senyum di wajahnya.


"Apa kau ingin bertanya sesuatu ?" Ucap Mahira , tatkala mendapati sorot mata penuh tanya, seolah begitu banyak pertanyaan yang ingin Maryam tanyakan.


Maryam tersenyum mendengar ucapan sang kakak, yang terkesan tahu isi hati Maryam saat ini.


"Bolehkah ?" Tanya Maryam kemudian.


"Tentu saja" Ucap Mahira


"Apa pun ?" Ucap Maryam lagi.


"Apa pun " Ucap Mahira dengan senyum di wajahnya.


"Jadi sejak kapan kakak berubah , dan mengenakan cadar seperti sekarang ini ?" Ucap Maryam to the points merasa sudah sangat penasaran mendengar jawaban dari sang kakak.


***


Bersambung


***


Peluk sekebon untuk para Reader setia Pesona Maryam Albatul Rahmah


Sehat dan bahagia selalu ya, semoga selalu terhibur dengan tulisan Author 🥰🙏

__ADS_1


__ADS_2