
Meski belum mendapatkan jawaban dari Teka teki tersebut, tapi Denis yakin jika memang dilakukan karena kesengajaan pasti pelakunya adalah orang terdekat.
"Entah lah , otak ku perlu istirahat dan di upgrade , sebelum benar-benar hang" Gerutu Denis yang masih saja memikirkan pekerjaan disaat waktu untuk beristirahat.
Beberapa saat Denis merebahkan tubuhnya diatas kasur terdengar suara pintu kamar yang di ketuk beberapa kali.
Menyadari hal itu Denis merasa sangat senang, dengan tatapan berbinar, dan segera dengan secepat kilat menyambar handel pintu untuk membuka pintu kamar tersebut.
"Ya Mahi---" Ucap Denis, dan segera mengatupkan kedua bibirnya, setelah mendapati sosok yang ada di balik pintu bukanlah Mahira, melainkan Bi Minah yang membawa satu nampan penuh berisi makanan, minuman, dan juga buah-buahan untuk Denis.
"Bi Minah " Ucap Denis kemudian , dan seketika tampak meneliti ke setiap sisi, mencari keberadaan Mahira, namun nyatanya Mahira tidaklah berada di sana.
"Silahkan masuk Bi, letakkan di meja saja" Ucap Denis kemudian, dengan suara datar , yang menyadari sosok pengantar makanan bukanlah Mahira.
"Silahkan Mas Denis " Ucap Bi Minah sopan, Seraya undur diri dan berlalu dari kamar yang di tempati Denis.
"Baik, Terima kasih Bi " Jawab Denis kemudian.
Tidak menunggu lama, karena memang Denis merasa sangat kelaparan, segera saja dirinya menyambar makanan yang telah di siapkan, dan segera memindahkan nya kedalam lambung, yang sedari tadi meronta minta untuk di isi.
Bagaimana tidak Denis merasa sangat lapar, Reza hanya sibuk dengan rasa khawatirnya, dan berharap Denis lebih cepat dalam memacu kuda besinya, agar segera sampai di kediaman Abi Hanif, Namun mengabaikan Asisten pribadi nya yang tengah dirundung rasa lapar.
***
Dikamar lain Reza yang masih merasa khawatir dengan kondisi sang istri pun, masih saja tidak dapat memejamkan mata dengan baik.
"Mas , Istirahatlah " Ucap Maryam lembut, dengan Mendongakkan wajah menghadap Reza yang selalu sigap memeluknya dengan usapan lembut pada puncak kepala Maryam.
"Bagaimana kuliahmu hari ini sayang ?" Tanya Reza kemudian untuk mengurai kepanikan dalam dirinya.
"Alhamdulillah lancar mas!" Ucap Maryam dengan senyum sumringah
"Adakah sesuatu yang aneh atau mencurigakan ?" Tanya Reza lagi tampak mengintimidasi.
"Maryam rasa tidak mas" Ucap Maryam dengan mengeratkan kedua alisnya tampak berfikir.
"Mas Reza tidak perlu suudzon , Mungkin saja kejadian yang baru saja terjadi memang karena ketidaksengajaan mas" Ucap Maryam dengan suara teduh dan usapan lembut pada dada suaminya yang telah dia peluk sedari tadi.
Maryam sangat menyadari saat ini suaminya sangat merasa was was dengan kondisinya dan juga mengenai kejadian yang baru saja dialami.
Namun berbeda halnya dengan Reza yang tampak panik, Maryam justru tenang berada dalam dekapan sang suami, dan menganggap kejadian yang baru saja terjadi memang murni karena dirinya yang tidak berhati-hati.
__ADS_1
"Semoga saja begitu " Ucap Reza singkat, dengan mengabaikan ucapan sang istri.
"Ya sudah kita tidur saja" ucap Reza kemudian.
"Mas nggak makan dulu" Tanya Maryam
"Tidak perlu !, aku maunya makan kamu, tapi kamu malah begini" Ucap Reza dengan mata terpejam, serta bibir yang mecucu , seraya membenamkan wajah Maryam dalam dekapannya.
Maryam hanya dapat menghela nafas dengan sikap suaminya.
Setelah beberapa saat mengusap puncak kepala dan punggung Maryam dengan lembut, akhirnya Maryam dapat tertidur dengan pulas. Namun tidak dengan Reza yang masih saja terus terpikirkan dengan kejadian yang baru saja menimpa sang istri.
Terlebih dengan ucapan pak Roni siang tadi, yang mengatakan mungkin saja memang hal itu sengaja dilakukan seseorang untuk mencelakai Maryam.
Sejenak Reza berfikir, kenapa harus Maryam yang menjadi sasaran jika memang itu adalah mengenai Perusahaan atau bisnisnya.
Atau memang Maryam memiliki musuh sebelumnya, yang ingin membalas dendam pada sang istri.
Beberapa spekulasi muncul begitu saja dalam otak Reza.
Waktu menunjukan pukul 23.45
Terdengar dering telepon milik Reza yang berbunyi, terlihat pada layar sebuah nama " Lian" Yang tengah menghubungkan panggilan.
"Halo !" ucap Reza dengan suara lirih namun jelas terdengar nada penekanan disana.
"Halo Tuan " Jawab Lian di ujung telepon
Lian yang tengah berada di seberang telepon, segera menyampaikan informasi yang telah dia dapat sebelumnya mengenai sosok penabrak yang sebelumnya Menyambar tubuh istri bos besarnya tersebut
Setelah diketahui ternyata plat nomor salah satu dari pengendara sepeda motor yang membuntuti pak Roni adalah plat nomor yang sama dengan kendaraan yang mencoba mencelakai Maryam sebelumnya.
Hal ini dapat di asumsikan keduanya merupakan sosok yang sama, yang memiliki motif untuk mencelakai Maryam, jadi dengan kata lain hal ini merupakan kesengajaan.
Karena tidak mungkin jika tidak dilakukan dengan sengaja, pengendara motor tersebut membuntuti mobil yang di kendarai pak Roni dalam jarak yang lumayan jauh, dan membutuhkan waktu kurang lebih dua jam perjalanan.
Hal ini sudah sangat disadari oleh keduanya merupakan sebuah kesengajaan.
Dan Karena Lian merupakan sosok yang juga jenius, saat ini pun dirinya telah mengantongi identitas dari kedua pengendara motor tersebut.
Tidak hanya identitas diri sang pengendara, identitas keluarganya pun juga sudah Lian kantongi.
__ADS_1
"Baik, Simpan hal ini Rapat, Kita akan bicarakan lagi setelah aku kembali" Ucap Reza dengan suara dingin
"Baik Tuan" Jawab Lian
Setelah menyampaikan segala maksut dan tujuannya Lian bergegas menutup kembali teleponnya.
Reza yang tengah dibuat meradang seketika mengepalkan tangan dan menghantam meja dihadapannya.
Sontak hal itu membuat pasang mata yang sedari tadi mengamati Reza merasa kaget dan sedikit takut.
"Kau !!" Ucap Reza dengan menunjuk satu jarinya mengarah pada sosok Mahira yang berdiri lumayan jauh dari Reza.
Reza langsung dapat mengetahui jika sosok dihadapannya merupakan Mahira, meski dirinya saat ini tengah menggunakan cadar , Sorot mata yang di pancarkan Mahira dan Maryam sangatlah berbeda, hingga dengan mudah Reza dapat mengenalinya, hanya melalui sorot mata yang tidak pernah dia lupakan karena perbuatan culas dan penghianatan yang sebelumnya dia lakukan.
"Maaf Tuan !" ucap Mahira merasa sungkan.
Reza hanya bergeming, dan tidak memperdulikan keberadaan Mahira.
"Ohay Satu hal lagi" Reza berbalik lagi menghadap sosok Mahira sebelumnya.
Mahira hanya tampak Menundukkan pandangan.
"Jangan pernah kau ganggu lagi istriku !, Cam kan itu !!" Ucap Reza dengan suara dingin dan tatapan tajam menekan.
Mahira tampak mengerutkan dahinya mencoba mencerna arah pembicaraan dari Reza.
"Aku sudah mengantongi identitas seseorang yang telah sengaja mencelakai Maryam" Ucap Reza lagi.
"Jika terbukti disana ada campur tangan mu, jangan harap kau bisa tidur nyenyak !" Ucap Reza tegas dengan tatapan mengintimidasi.
Mahira hanya tertunduk lesu, mendengar setiap penuturan yang keluar dari mulut suami adiknya itu.
Setelah itu Reza berbalik dan berlalu meninggalkan Mahira yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
Seketika sudut mata Mahira berembun dengan rasa takut, meski tidak begitu memahami maksut dari ucapan Reza, namun perkataan kasar dari Reza cukup membuat Mahira merasa terpojok kan.
***
Bersambung
***
__ADS_1
Nantikan cerita selanjutnya
Peluk jauh dari author untuk para Reader kesayangan 🥰🥰🤗🙏🙏