PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
95. Mahira dan Denis Part 1


__ADS_3

"Oya , Mahira , hubungi Abi mu dan juga Bi Minah, minta keduanya untuk segera pulang" Ucap Ummi Maya memerintah pada putri sulungnya Mahira


"Baik Ummi" Jawab Mahira singkat dengan anggukan kepala.


Tidak menunggu lama Mahira segera keluar dari kamar Maryam untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Abi Hanif juga Bi Minah.


Setelah menyelesaikan panggilannya, Mahira bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas Air minum untuk dirinya.


***


Maryam terlihat begitu menikmati setiap suapan yang di berikan oleh ummi Maya padanya.


"Rasanya kau sudah lama sekali tidak berkunjung" Ucap ummi Maya dengan senyum manis.


Ummi Maya memilih untuk tidak lagi membahas kejadian yang baru saja menimpa sang putri bungsu. Dan memilih menanyakan perihal lain padanya.


"Maaf Ummi kebetulan di kampus Juga sedang padat saat ini, Jadi Maryam baru sempat berkunjung" Ucap Maryam kemudian dengan rasa tidak enak hati.


"Tidak masalah nak, Ummi tahu" Jawab Ummi Maya kemudian dengan suara lembut.


Maryam tampak lega mendengar jawaban dari Ummi Maya.


Disaat bersamaan mobil mewah Reza telah masuk dalam halaman rumah Abi Hanif yang terlihat luas namun tidak semua Rumah megah milik Reza.


Kurang dari dua jam perjalanan Reza dan Denis hingga akhirnya keduanya tiba di kediaman Abi Hanif.


Tanpa menunggu di bukakan pintu, dengan sedikit berlari Reza masuk kedalam rumah tanpa mengetuk ataupun mengucapkan salam sebelumnya.


Dengan langkah jenjang, disusul sang asisten yang berjalan di belakang tubuh tegap Reza


Melihat sosok yang diyakini itu adalah istrinya yang tengah berdiri sendirian di dapur, segera Reza mendekat dan hampir saja memeluk tubuh yang memiliki perawakan seperti Maryam istrinya.


Menyadari hal itu dengan sigap Mahira yang tengah mengambil air minum pun segera membalik badan dan mendorong keras tubuh kekar Reza.


Seketika Reza merasa terkejut , dengan badan yang terhuyung kebelakang, akibat dorongan yang begitu keras dari Mahira, namun belum sampai terjatuh ke lantai Denis telah sigap menangkap tubuh kekar Bos besarnya tersebut.


"Maaf, Maryam dikamar " Ucap Mahira singkat dengan menundukkan wajah.


Reza tampak sedang meneliti sosok yang tengah berdiri di hadapannya, Bahkan Reza juga sangat mengenali suara dari sosok dihadapannya yang dia yakini adalah Mahira, yang tidak lain merupakan kakak dari sang istri Maryam


"Kau !!" Tunjuk Reza seketika dengan tatapan tajam


"Dimana istriku !" Ucap Reza dengan suara lantang


"Di kamar " Ucap Mahira lirih dengan pandangan yang masih menunduk.


Tidak ingin berurusan lebih panjang dengan sosok di hadapannya, bergegas Reza menuju kamar Maryam untuk segera mengetahui kabar sang istri.

__ADS_1


Karena rasa panik dan khawatir, Reza sampai tidak ingat jika dirinya datang bersama Denis, dan berlalu begitu saja meninggalkan sang asisten disana.


Denis yang menyadari hal itu hanya mematung dengan tatapan kesal " Suruh duduk kek, malah di tinggalin, Untung Bos " Gerutu Denis dalam hati.


"Brak !"


Terdengar pintu yang terbanting keras menabrak sisi tembok.


Hingga membuat Ummi Maya dan Maryam yang tengah bercengkrama merasa kaget dan seketika Mendongakkan kepala menghadap kearah pintu.


Reza segera masuk dalam kamar Maryam yang tidak terkunci, terlihat sosok yang sangat di cintainya tengah duduk bersandar dengan di temani oleh Ummi Maya.


Mata Reza seketika berembun melihat sang istri terlihat sayu dalam pandanganya.


"Kau Tidak papa!" Ucap Reza kemudian


"Alhamdulillah mas, Maryam baik-baik saja" Ucap Maryam dengan senyum simpul pada suami tampan nya itu.


"Syukurlah" Ucap Reza seketika.


Melihat ke khawatir dari raut wajah menantunya, Ummi Maya memilih bergegas memberi kesempatan untuk keduanya saling berbicara.


"Ummi keluar sebentar ya" Ucap Ummi Maya kemudian


Maryam menganggukkan dengan senyuman manis di wajahnya.


Maryam mengulas senyum manis di sudut bibirnya , dan berkata "Maryam kurang hati-hati saja mas, nggak tahu kalau ada sepeda motor melintas" ucap Maryam dengan suara lembut.


Setelah mendengar penuturan dari Maryam , Seketika Reza membingkai wajah Maryam dan menenggelamkannya dalam dada bidang Reza , yang seluas samudra tersebut.


Maryam tersenyum simpul menyadari suaminya sangat mengkhawatirkan dirinya, terlebih detak jantung Reza yang terasa begitu jelas terdengar oleh pasang telinga Maryam.


"Mas tidak perlu khawatir lagi, Maryam baik-baik saja" Ucap nya kemudian dengan posisi berada dalam dekapan Reza


"Kau terluka?" ucap Reza kemudian


Maryam mengangguk pelan.


"Alhamdulillah, tapi hanya sedikit mas" Ucap Maryam kemudian dengan menunjukan luka yang telah tertutup dengan kasa pada siku tangannya.


"Seharusnya aku tidak membiarkanmu sendiri kesini " Ucap Reza penuh sesal.


"Mas, Maryam baik-baik saja" Ucap Maryam lirih dengan usapan lembut pada dada bidang sang suami, yang masih jelas terdengar gemuruh di dalam nya.


Reza tampak menarik nafas dalam dan menghembuskan pelan, sedikit merasa lega, namun tidak di pungkiri dirinya masih merasa hal ini merupakan kesengajaan yang di lakukan oleh seseorang.


Namun Reza memilih untuk tetap diam, tidak berniat menanyakan lebih jauh pada Maryam, dan akan mencari tahu sendiri sebab kejadian yang baru saja terjadi apakah murni kecelakaan atau kesengajaan yang tentunya ada sosok yang menurutnya menjadi dalang dibalik kejadian ini.

__ADS_1


"Astaga" Ucap Reza dengan tangan yang masih mendekap erat tubuh Maryam.


"Ada apa mas ?" Ucap Maryam tampak panik.


"Tidak , hanya saja aku meninggalkan Denis sendirian di luar" Ucap Reza


"Ya Allah mas kasihan sekali Dia" Ucap Maryam


"Biarkan saja , dia bukan anak kecil" Ucap Reza datar dengan semakin mengeratkan pelukannya.


"Mas !" Ucap Maryam kemudian,terlihat raut wajah yang kesal dengan sikap suaminya.


"Baiklah" Ucap Reza singkat dengan mengurai Pelukannya dan segera mencari keberadaan sang asisten pribadi yang sebelumnya dia tinggalkan.


***


"Silahkan di minum " Ucap Mahira lembut dengan pandangan menunduk


"Terima kasih banyak" Jawab Denis dengan mengulas senyum manis di wajahnya, dan tatapan tidak henti meneliti setiap jengkal wanita di hadapannya.


Setelah meletakan secangkir kopi panas untuk Denis, Mahira segera berlalu meninggalkan Denis yang tengah duduk di ruang tamu.


"Tunggu !" Ucap Denis kemudian.


Mahira kembali berbalik dan menghadap dengan pandangan menunduk pada sosok Denis yang tengah berdiri di hadapannya.


"Aku Denis" ucap Denis seketika dengan mengulurkan tangan kanan pada Mahira dan berusaha mengajak perempuan dihadapannya berkenalan.


Menyadari hal itu Mahira sedikit merasa kaget, seketika mengatupkan kedua tangannya di dada dan mengatakan " saya Mahira" Jawabnya singkat dengan kembali berbalik dan segera berlalu dari hadapan Denis.


"Ehem !!" Terdengar suara deheman dari arah samping, yang seketika membuat Denis melonjak kaget.


Terlihat sosok Sang bos besar tengah berjalan lurus kearah Denis berada.


"Eh , Bos " Ucap Denis kemudian dengan wajah slengekan.


"Aku hanya ingin mengingatkan, Kau mungkin Se Amin Tapi tidak Se Iman" Ucap Reza bernada ketus


"Dan lagi jangan tertipu dengan wajah polosnya, mungkin saja dia tidak seperti yang kau bayangkan" Ucap Reza dengan tatapan dingin.


Mendengar ucapan Bos besar nya tersebut Denis hanya menggaruk tengkuknya yang terasa meremang.


***


Bersambung


***

__ADS_1


__ADS_2