
...Dalam sebuah penderitaan kamu akan menemukan dirimu sendiri, Jangan Menghindarinya, Namun Belajarlah Darinya...
...🍁...
"Maafkan Abi nak Denis " Ucap Abi lirih dengan wajah menunduk.
Bukan lagi perkara bagaimana Denis mengetahuinya, tapi pada kenyataanya, apa yang Denis katakan adalah sebuah kenyataan yang sebenarnya. Dan hal itu cukup menyakitkan untuk kembali di ingat oleh keluarga Abi Hanif.
"Untuk apa Abi meminta maaf" jawab Denis
Sejujurnya Abi Hanif merasa sangat malu, meski hanya untuk mengangkat wajahnya, Mahira memnag telah berubah, namun kenyataan pahit hanya akan menyisakan bekas yang mungkin tidak akan pernah bisa hilang begitu saja.
"Masa lalu Mahira sungguh ----" Ucap Abi Hanif menggantung
"Itu hanya bagian dari masa lalu Mahira, dan saya tidak akan hidup di masa itu, saya akan membawa Mahira hidup dimasa Depan, Bersama saya dan untuk selamanya" Ucap Denis tegas dan penuh keyakinan , Seperti sebuah pepatah
..."Aku tidak mencari yang sempurna, Aku hanya membutuhkan seseorang yang bisa membuatku merasa bahwa aku adalah satu-satunya , dan bukan salah satunya"...
Ucap Denis pada Abi hanif, namun pandangan mata menatap lekat pada sosok Mahira yang selalu menunjukan wajahnya.
Semua terasa begitu emosional saat itu, hingga Mahira tidak mampu lagi menahan buliran bening yang menetes dari sudut matanya.
Berat
Sudah pasti, Namun hidup nyatanya akan selalu memperlihatkan sisi baik dan buruk ya.
"Entah harus malu atau harus terharu, Saat Allah masih mengabulkan setiap doa ku, Seperti tidak perduli dengan dosa-dosaku" Lirih Mahira dalam hati dengan derasnya air mata yang mengalir
"Tidak ada masa depan yang lewat begitu saja tanpa masa lalu, dan saya sangat meyakini hal itu. Salah Satu jalan adalah mengikhlaskan, dan berdampingan untuk memulai masa depan dengan baik" Tukas Denis lagi.
Mendera kejujuran dari Denis, namun tidak ada kata yang terasa memojokkan keluarganya, membuat Abi Hanif merasa bahagia, setidaknya Denis sungguh dalam niat baiknya.
Setelahnya Abi Hanif terlihat menarik nafas dalam, dan beberapa kali membetulkan posisi duduknya, dan dimana sepengetahuan Abi Hanif, Denis merupakan laki-laki yang baik.
Penghalang yang menjadi tembok pemisah diantara keduanya pun juga telah runtuh dengan Denis yang telah menjadi mualaf.
Jika memang keduanya berjodoh nantinya, akan mudah untuk sama-sama dalam belajar dan memperbaiki diri.
Melihat dari segi mana pun Denis adalah laki-laki yang cocok, dan mungkin saja tepat bagi Mahira , karena pada kenyataanya belum tentu laki-laki lain yang coba Abi Hanif kenalkan pada Mahira akan dapat menerima masa lalu Mahira seperti Denis menerimanya dengan lapang dada.
Suasana menjadi hening, hanya Denis yang tampak tenang dengan segala rasa yang dia bawa, bahkan Denis pun telah mempersiapkan mental sekuat baja, dengan segala kemungkinan yang akan dia terima, Tidak ada keraguan atau ketakutan sedikitpun di wajahnya.
__ADS_1
Denis merubah posisi duduknya menghadap Mahira yang duduk sejajar dengannya namun pada sofa yang berbeda, sejenak menatap lekat wajah yang selalu terlihat murung dalam pandang matanya, Terlihat begitu banyak beban dan kesedihan yang di pendam.
"Yakinlah, bahwa rencana Allah itu lebih indah dari apa yang kita impikan, Lebih sempurna dari apa yang kita butuhkan, Biarkan kehendaknya yang bekerja" Ucap Denis tegas dengan tatapan lekat pada Mahira.
Meski terkesan memaksa, namun Denis akan berusaha sekuat tenaga untuk meluluhkan hati keluarga dari pujaan hatinya.
Mendengar penuturan Denis , Seketika Mahira mendongakkan wajahnya, menatap sosok di hadapannya, mencari kebenaran dari sorot matanya.
"Dan kamu Mahira !, Lebih baik tersakiti dengan kejujuran, dari pada harus di bahagia kan dengan kebohongan" Tutur Denis dengan tatapan ketulusan.
Abi hanif dan ummi Maya yang mendengar setiap kata dari Denis hanya saling pandang tanpa bisa memberi jawaban.
"Tidak masalah Abi, jika tidak bisa memberi jawaban untuk saat ini" Ucap Denis
"Saya akan menunggu, hingga kalian siap dengan jawaban itu"
"Saya tidak memaksa, hanya saja saya berharap terbaik untuk keputusan nantinya" Ujar Denis mengakhiri kalimatnya.
"InshaAllah, Abi akan secepatnya memberikan jawaban pada nak Denis" Ucap Abi Hanif , dan Denis menjawab dengan anggukan kepala.
"Mohon bersabarlah nak Denis, InshaAllah sesuatu yang baik akan Allah mudahkan jalannya" Ucap Ummi Maya menimpali.
Mahira hanya tetap diam dengan segala rasa yang memenuhi dada.
Bersama Mahira dan kedua orang tuanya, Denis diantar sampai pada teras rumah, tidak ada rasa kecewa atau sedih, namun Denis justru menampakkan sikap hangat pada Mahira dan kedua orang tuanya.
Setelah berpamitan dan menjabat tangan Abi Hanif, Denis segera melesat meninggalkan kediaman Abi Hanif. Menyisakan Mahira yang masih berdiri mematung di sana.
Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Supercar Denis kembali terparkir rapi di tempatnya semula.
Melihat kedatangan Denis, Abi Hanif yang akan ke masjid pun menghampiri "Lho kok sudah pulang ?" Tanya ustadz Hamzah sopan.
"Ohh iya pak ustadz, kebetulan tadi semua urusan cepat selesainya" Ucap Denis dengan senyum ala kadarnya.
Ustadz Hamzah hanya menganggukkan kepala "Baiklah , bersiap siaplah, sebentar lagi sholat Dzuhur" Ucap ustadz Hamzah dengan tepukan lembut di bahu Denis.
Dan Denis hanya tersenyum ramah, menerima perlakuan hangat dari ustadz Hamzah.
***
"Apa yang sedang kamu pikirkan nak?" ucap ummi Maya menghampiri Mahira yang sedang duduk di teras rumah.
__ADS_1
Mendekap buku kesayangan miliknya. Mahira mengulas senyum manis di wajahnya, dan menatap lekat bidadari surganya tersebut.
"Ummi"
"Boleh ummi duduk di sini? tanya ummi Maya dengan senyuman ramah.
"Tentu saja ummi" Jawab Mahira dengan menggeser posisi duduknya untuk memberi rongga, agar ummi Maya dapat duduk di sebelahnya.
"Nak"
"Ya Ummi?" Jawab Mahira.
"Jangan membuat orang menunggu terlalu lama" Ucap umi
Mahira sadar kemana arah pembicaraan ummi , Mahira sendiri sejujurnya tidak ingin menggantungkan perasaan orang lain terhadap dirinya, tapi jika mengingat mengenai masa lalunya, Mahira tidak memiliki keberanian meski hanya untuk mengutarakan isi hati.
"InshaAllah Ummi" ucap Mahira lirih
"Saran Ummi, libatkan Allah dalam setiap urusanmu " tukas Ummi Maya dengan senyuman di wajahnya.
Mahira menjawab dengan anggukan kepala, dan senyuman yang dia perlihatkan untuk mengalihkan sejuta rasa yang memekakkan dada.
"Ummi"
"Ya nak ?"
"Apa menurut Ummi Mas Denis itu jodoh Mahira ?" Tanya Mahira spontan.
"Jodoh atau tidaknya ummi tidak tahu nak, hanya yang Ummi tahu Nak Denis laki-laki yang baik" Ucap Ummi Maya dengan suara lembut.
Mahira terlihat mengulas sebuah senyum manis di wajahnya.
***
Terima kasih untuk para Reader yang baik hati.
Terima kasih juga atas dukungan dan support yang selalu diberikan.
Dan mohon maaf jika dalam penulisan masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan.
Semoga Selalu sehat dan bahagia selalu untuk para Reader kesayangan Author
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏🙏🙏🙏🤗🤗🤗🤗🤗