PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
58. Kedatangan Mahira


__ADS_3

Maryam segera meraih kunci mobil yang sebelumnya dia minta untuk di siapkan oleh para pelayan.


Dengan sigap Reza membuka pintu mobil untuk Maryam dan seperti biasa Reza akan melindungi kepala Maryam dengan satu tangannya.


"Terima kasih" Ucap Maryam pelan . Reza tersenyum


Keduanya bergegas, berlalu meninggalkan kediaman Kakek Amar untuk langsung menuju rumah sakit, sesuai arahan bi Minah sebelumnya.


Kurang lebih butuh waktu 2 jam perjalanan untuk sampai di kota Maryam.


Sepanjang perjalanan Maryam hanya Membuang pandanganya ke samping jendela mobil, dengan satu tangan ya menggenggam tasbih digital dan senantiasa berdzikir dalam hati.


Beberapa kali Reza tampak melirik kearah Maryam yang terlihat sangat sedih dan terpukul dengan berita yang baru saja dia dapatkan.


Segera Reza meraih tangan Maryam dan Menggenggamnya erat, beberapa Kali Reza mencium tangan Maryam dengan mesra, berusaha menguatkan hati istrinya tersebut.


Tidak jarang Reza mengusap lembut punggung tangan Maryam yang masih ada dalam genggamannya menggunakan ibu jari. Punggung tangan yang terasa lebih dingin dari sebelumnya.


Setelah beberapa saat mobil berlalu, akhirnya keduanya telah sampai di kota tujuan .


Reza menambah kecepatan mobilnya, karena memang suasana malam tidak begitu ramai, hal itu dilakukan dengan tujuan agar keduanya segera sampai di rumah sakit dimana Ummi Maya di rawat.


Tidak lama Mobil masuk kedalam Gerbang utama rumah sakit dimana Ummi Maya di rawat, segera Reza mencari tempat parkir yang di rasa nyaman dan tidak terlalu jauh.


Reza segera membukakan pintu mobil untuk Maryam, dan melindungi kepala Maryam dengan satu tangannya.


Reza segera meraih tangan Maryam, menggenggam dan menggandeng di sepanjang perjalanan menuju kamar perawatan Ummi Maya.


Tujuan mereka kali ini adalah di ruang ICU, dimana Ummi maya di rawat Secara intensif disana dengan beberapa alat terpasang di tubuh ringkih tersebut.


Terlihat Maryam yang berlari di lorong menuju ruangan ICU, di sana telah ada Abi Hanif, Pak darman, dan BI Minah menemani Ummi Maya yang berada di dalam ruangan dingin tersebut.


"Abi" Ucap Maryam berlari dan sedikit berteriak


Maryam segera menghambur dan memeluk Abi hanif dengan erat.


"Bagaimana Ummi Abi ?" Tanya Maryam dengan Air mata terus mengalir dari sudut matanya.


Abi Hanif bergeming.


"Abi!!, jawab pertanyaan Maryam" Ucap Maryam sedikit meninggikan suaranya, dengan sedikit mengguncangkan tubuh Abi Hanif yang terlihat pilu.

__ADS_1


"Maryam" Ucap Reza lembut


Segera Reza meraih tubuh Maryam yang terlihat sudah tidak dapat mengontrol emosinya.


Reza menarik Maryam kedalam pelukannya dan kembali mengusap lembut punggung istrinya tersebut.


Setelah dirasa Maryam cukup tenang, Reza segera membawa Maryam untuk duduk di kursi tunggu ruang ICU , dengan Reza duduk di samping Maryam dan selalu menguatkannya dengan usapan lembut.


Beberapa kali Maryam menatap nanar wajah Reza, Reza pun menyadari betapa sedihnya hati Maryam saat ini.


Terlebih mengingat terahir kali keduanya meninggalkan Ummi Maya dan Abi Hanif, keduanya tampak ceria dan baik-baik saja


Tidak terlihat tanda-tanda jika ummi akan kembali drop. Sampai pada komunikasi terahir Maryam melalui sambungan telepon.Bahkam Ummi Maya terdengar begitu sehat dan ceria dari suaranya, melalui sambungan telepon bersama Maryam sebelumnya.


"Ya Allah Ummi" Gumam Maryam dengan terus berdzikir .


Abi Hanif yang menyadari kegundahan hati Maryam, segera mendekat dan duduk di sebelah samping Maryam.


Meraih tangan putri Bungsunya untuk menguatkan, meski dirinya sendiri pun butuh untuk di kuatkan .


"Maryam" Ucap Abi Hanif pelan, dengan pandangan tertunduk lesu.


Maryam hanya menoleh pada Abi Hanif, dan balas menggenggam erat tangan Abi Hanif dengan usapan lembut.


Maryam bergeming, berusaha menguatkan hati dan menerima segala pernyataan dari Abi Hanif dengan lapang dada dan ikhlas


"Maryam, Itu kakakmu disana, Sore tadi dia baru pulang" Tunjuk Abi Hanif pada sosok wanita yang sangat Maryam kenal .


Sosok wanita yang tengah berdiri dengan tegap di sudut lorong, rambut yang tergerai panjang, dengan wajah sayu meski masih jelas terlihat riasan tebal di wajahnya. Terlihat pula guratan kesedihan disana.


Ya. Mahira Altafu Nisa, dia merupakan seseorang anak yang telah meninggalkan Keluarganya dan kedua orang tuanya demi seorang laki-kali yang bahkan tidak berstatus sebagai suaminya, dia yang telah meninggalkan rencana Pernikahannya demi seorang laki-laki dengan Dali cinta sejati, dan dia adalah seorang kakak yang membuat adiknya harus berkorban demi menyelamatkan keluarga dan harga diri orang tuanya.


Sejenak tatapan mata Maryam dan Mahira beradu. Meski menyimpan sejuta tanya di mata Maryam, namun Maryam memilih untuk bungkam, dan enggan untuk bertanya.


Maryam menatap nanar kearah kakaknya yang sudah lebih dari dua bulan tidak dia jumpai batang hidungnya.


Berbeda dengan Maryam yang tampak sedih menatap wajah Mahira, Reza hanya memandang acuh dan tampak tidak perduli pada sosok Yang telah mengkhianati dirinya beberapa bulan yang lalu.


Bahkan hanya dengan melihat kakaknya Maryam sudah cukup tahu alasan dibalik kondisi Umminya saat ini tanpa harus mencari penjelasan dari Abi Hanif.


Maryam masih enggan untuk menyapa, dan Maryam pun memilih untuk kembali menundukkan wajahnya dan berdzikir kepada Allah SWT.

__ADS_1


Memohon pertolongan dan perlindungan kepada sang pencipta Untuk kesembuhan Umminya.


Pak darman dan BI Minah masih dengan setia menemani Abi Hanif, Maryam, Reza, dan Mahira disana tanpa mengeluh dan tanpa rasa lelah.


Beberapa kali terlihat Abi Hanif mengusap kasar wajahnya menggunakan tangan, sesekali melihat Ummi Maya yang terbaring di atas tempat tidur dengan beberapa alat terpasang.


Pemandangan yang sangat membuat hati merasa nyeri bagai teriris belati..


Suasana tampak sepi dan sangat hening. Terdengar sesekali lalu lalang dari para perawat yang memeriksa ruangan pasien dan memberikan obat.


"Darman" Panggil Abi Hanif pada Mandornya.


"Iya Abi Hanif" Jawab Pak darman sopan.


"Pulanglah, Hari sudah larut, ajak Bi minah sekalian , besok saja kalian kembali ke sini lagi, dan bawakan beberapa baju saya" Ucap Abi Hanif pelan.


"Baik kalau begitu Abi, Assalamualaikum" Ucap pak darman sembari berlalu.


"Waalaikumsalam "


Maryam menyandarkan kepalanya di dada bidang Reza. begitu pula Reza yang dengan sigap memeluk tubuh ramping Maryam agar tidak jatuh ataupun kedinginan.


Maklum Ruangan tersebut terasa sangat dingin dengan lorong-lornag yang terbuka langsung mengarah pada bagian lain. Hingga udara pada dini hari terasa begitu dingin menusuk.


Sepeninggalan Pak darman dan BI Minah, Waktu menunjukan Pukul 02.15 , Maryam bergegas bangkit dari duduknya.


"Mau kemana " Tanya Reza kaget mendapati Maryam Yang bangkit dari duduknya.


Hal ini dikarenakan baru saja beberapa saat lalu Reza terpejam.


"Mas, Maryam Mau ke mushola sebentar, Maryam mau Qiyamul lail dulu " ucap Maryam lembut dengan suara lirih.


Reza segera meraih tangan Maryam, dan menggandengnya melewati lorong rumah sakit.


"Aku akan mengantarmu" Ucap Reza singkat. Maryam tersenyum


Keduanya berlalu melewati pandangan mata Mahira yang juga belum dapat memejamkan matanya sedari tadi.


***


Bersambung

__ADS_1


***


Jangan lupa Dukunganya ya ka 🤗


__ADS_2