
Menyusuri jalanan sepi malam itu, senyum manis tak pernah lekang dari wajah tampan Tama.
"Nissa . Nissa" ucap Tama dengan senyum- senyum tanpa Arti.
Tama benar-benar dimabuk asmara, mengingat momen momen singkatnya bersama Nissa yang saat ini menjadi kesayangan di hatinya, menempati relung hati yang paling dalam, dan ingin selalu dia simpan di sana.
"Tidak sabar rasanya aku memilikinya " Gimana Tama dengan malu-malu mengucapkan isi hatinya.
Meski berada di dalam mobil, dan sendirian saat itu, namun Tama merasa sangat malu. Entah perasaan apa yang tengah menghinggapi hatinya.
Malam ini ada dua jadwal operasi yang harus Tama tangani, sehingga Tama memilih untuk langsung ke rumah sakit dan tidak pulang ke rumahnya.
Seperti biasa Tama memang lebih sering menghabiskan waktunya di rumah sakit. Namun rasanya kebiasaan itu tidak akan berlangsung lama, karena setelah menikah dengan Nissa Harapan Tama dia akan lebih sering di rumah.
Membayangkan hidup bersama Nissa saja membuat hati Tama begitu berbunga-bunga. Apa lagi benar-benar menjalaninya berdua dengan Nissa.
***
Sementara di tempat lain Maher tengah begitu kebakaran jenggot, mengingat bagaimana tadi Tama merasa bahagia diatas kemenangannya.
Dia merasa begitu kecil, tidak berdaya berada di ketiak sang Abi.
Maher pun berfikir, mungkin saja saat ini Tama tengah menertawakan dirinya, menertawakan kekalahannya. Sejujurnya Maher begitu sangat tidak terima hal itu.
Kenapa harus Tama tiba-tiba muncul dan mengacaukan semua rencana awal yang telah tersusun. Dan lebih bodohnya kenapa Abi nya, yang tidak lain ustadz Furqan menerima tawaran uang yang di tawarkan Tama pada Abi nya.
Maher merasa pupus sudah harapan nya bersanding dengan Nissa.
Sosok yang sedari dulu selalu dia impikan untuk menjadi istrinya, menanti bertahun-tahun untuk menyampaikan niat baiknya.
Namun setelah kepulangan Nissa dari Cairo , dan Maher berusaha untuk mendapatkan pujaan hatinya.
Nyatanya dia harus menerima kenyataan pahit, jika semua tidak berjalan sesuai harapan nya.
"Maher !, Ngapain kamu mikirin gadis itu " kesal Ustadz Furqon yang dari tadi melihat putranya hanya uring-uringan.
Mendengar ucapan sang Abi, Maher semakin naik pitam, kemarahannya kini tengah benar-benar di ubun-ubun.
"Abi !. Abi sadar tidak sudah merusak masa depan Maher !" Ketus Maher yang merasa kesal.
Mendengar ucapan sang putra Ustadz Furqon pun juga merasa sangat kesal.
"Kamu ya- !" ucap ustadz Furqon dengan bersungut kesal, dengan telunjuk yang menunjuk nunjuk Maher
Maher hanya menatap tajam pada sang Abi yang saat ini tengah memandangnya dengan tatapan tidak kalah tajam
"Sudah sudah, kenapa malah pada ribut sih " Ucap Ummi dari Maher .
Bukan menenangkan, Maher merasa sang ummi juga ikut menyalahkan.
"Kenapa Abi selalu uang, uang, dan uang. Apa Abi tidak pernah memikirkan perasaan Maher ?" Ketus Maher dengan dada yang naik dan turun.
__ADS_1
Ustadz Furqan hanya membuang muka dengan menatap ke luar jendela.
"Apa Abi puas sudah mendapat dua milyar dari laki-laki Tadi " Tanya Maher kesal.
Mendengar pertanyaan sang putra yang begitu berani, seketika ustadz Furqon begitu terpancing.
"Berani kamu menentang Abi, Abi itu sudah banyak makan asam garam, jadi kamu tidak perlu mengajari Abi" Bantah Ustadz Furqon keras pada sang putra.
Mendengar hal itu Maher hanya mendengus kesal, menatap nyalang pada sang Abi yang sepertinya memang sudah tidak bisa di tolong. Urusan dunia nyatanya telah membutakan matanya.
Maher hanya menggelengkan kepala, dengan hati yang penuh luka.
***
Tring.
💌 "Assalamualaikum calon istriku"
Sebuah pesan singkat yang masuk kedalam Handphone milik Nissa.
"istriku ?" gumam Nissa lirih.
Nissa hanya menatap layar handphone miliknya, tanpa berniat untuk membalas pesan tersebut.
Kemudian meletakkan kembali handphone miliknya, karena hal itu biasa Nissa dapatkan dari orang-orang yang sengaja iseng menggodanya.
💌 "Apa kau tidak menyimpan nomor ku ?, Bukan kah aku pernah menghubungi ! "
"Dokter Tama " gumam Nissa setelah benar benar yakin jika nomer tersebut merupakan nomor handphone milik Tama
💌 "Waalaikumsalam dokter "
Sebuah pesan singkat balasan yang Nissa kirim pada sosok yang dia yakini merupakan Tama.
💌 "Aku pikir secepat itu kau melupakan calon suamimu ini 🖤"
Pesan balasan yang dikirim oleh Tama pada Nissa.
Membaca pesan singkat yang di kirim oleh Tama , tersemat pula emoticon love di akhir pesan, sejenak membuat Nissa terkekeh kecil menyadari sikap konyol Tama,
"Astaghfirullah" Gumam Nissa namun dengan hati berbunga dan senyum simpul yang terkembang di bibirnya.
💌 "Maaf dok , Ada keperluan apa ya menghubungi "
Jawab Nissa dalam pesan singkatnya.
💌 "Haruskah ada keperluan, untuk boleh menghubungi calon istri ku"
Balas Tama .
Sejenak Nissa Tertegun dengan bahasa Calon istri yang di sematkan dalam akhir kalimat, semakin berbunga dengan setiap kata yang Tama kirimkan padanya.
__ADS_1
Tanpa terasa wajahnya bersemu merah menahan rasa gugup yang tiba-tiba menyeruak.
"Astaghfirullah, Hanya pesan singkat Nissa, Kenapa seperti ini" Gumam Nissa lirih.
01.30 sejujurnya bukan waktu yang tepat untuk saling berkirim pesan. Namun bagi Tama waktu kapanpun bisa dia lakukan karena memang dirinya tengah mengalami madu cinta.
Sementara Tama yang berada di rumah sakit, selalu menunggu pesan balasan yang di kirim oleh Nissa.
Bucin
Mungkin saja, namun Tama tidak memperdulikan hal itu entah mengapa dirinya selalu ingin mendengar kabar sosok yang begitu ingin segera dia halalkan tersebut.
💌 Calon istriku ?"
💌 Aku sangat lelah, baru saja menyelesaikan satu operasi , Dua jam lagi aku masih ada jadwal lagi"
Sebuah pesan kembali terkirim untuk Nissa, menyadari Nissa tidak membalas pesan yang dia kirimkan.
💌 "Apa kau tidur ?"
💌 " Hallow "
💌 "calon Istriku ?"
💌 "Calon ibu dari Anak-anak ku ?"
Pesan beruntun yang di kirimkan oleh Tama setelahnya beberapa pesan yang dia kirim sebelumnya tidak mendapat balasan dari Nissa.
Tama merasa kesal dengan hal itu, baru saja dirinya bahagia, hilang semua rasa lelahnya hilang begitu saja, hal itu karena Bisa sedekat ini dengan Nissa meski hanya melalui pesan singkat.
Namun bidadari nya tersebut saat ini mungkin telah tidur. Hingga sudah tidak ada lagi pesan yang terbaca oleh Nissa.
"Masih Abu-Abu" Gumam Tama setelah melihat smartphone miliknya, lebih tepatnya setelah membaca pesan singkat yang dia kirim pada Nissa masih menandakan centang dua yang masih berwarna Abu-Abu, menandakan si penerima pesan belum membaca pesan tersebut.
Merasa frustasi karena telah beberapa kali melongok Smartphone milik ya, namun nihil, tidak ada satupun pesan balasan yang di kirim eh Nissa padanya.
Tama hanya menatap dengan perasaan kesal, Setelahnya Tama memilih untuk merebahkan tubuhnya di kursi kebesaran nya, sembari menunggu waktu untuk dirinya kembali masuk kedalam ruang operasi.
Menarik nafas dalam, kemudian menghembuskan perlahan, dia lakukan untuk mengurai penat yang dia rasakan saat itu.
Memejamkan mata.
Tring.
💌 " Ya. Calon Suamiku "
💌 " Maaf dokter, Nissa baru selesai Qiamul Lail"
💌 "Selamat Bertugas Dokter"
Pesan singkat yang di kirim Nissa pada Tama.
__ADS_1
***