
"Untuk saat ini semua informasi sudah kami dapatkan Tuan !" Ucap Lian dengan suara mantap
"Bagus , Lanjutkan penyelidikan, dan usut sampai tuntas, aku tidak akan pernah mengijinkan seekor kecoa pun bermain-main dengan keluargaku" Ucap Reza dengan suara lantang dan sorot mata tajam menusuk.
***
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya Mobil yang dikemudikan oleh dokter Tama tiba di kediaman Abi Hanif.
Sejenak Tama mengingat Mahira yang tidak bersedia untuk di bantu oleh nya, dan dokter Tama pun tidak berniat untuk membantunya, hal itu mungkin saja akan membuat Mahira semakin merasa tidak nyaman.
Terlihat sosok pak RT dan beberapa warga lain yang ditemani oleh BI Minah , tengah menyambut kedatangan Mahira dan keluarga dari rumah sakit.
Layaknya keramah tamahan warga lokal pada sebuah kota yang tidak begitu besar, Para tetangga berkumpul ketika salah seorang anggota masyarakat lainya tengah dalam kesulitan.
Seperti halnya warga dan tetangga di sekitar kediaman Abi Hanif, yang segera mengabarkan, dan mencari informasi bagaimana keadaan Mahira, setelah mendapat kabar jika dirinya kecelakaan hingga harus di larikan kerumah sakit.
"MashaAllah, Terima kasih bapak-bapak semua" Ucap Abi Hanif pada Pak RT dan beberapa tetangga yang ada di sana.
"Bagaimana Abi keadaan Ning Mahira?" Ucap salah satu orang disana.
"Alhamdulillah pak, Mahira tidak mengalami Cedera serius, dan Alhamdulillah diperbolehkan untuk rawat jalan oleh dokter " Ucap Abi Hanif kemudian.
"Alhamdulillah" Ucap beberapa orang di sana secara bersamaan .
Setelah beramah tamah , Abi Hanif dan Ummi Maya mempersilahkan pada Pak RT dan Beberapa orang disana untuk duduk dan menyiapkan beberapa cemilan juga teh hangat.
Terlihat Tama yang juga masih berada di sana , dengan mengamati perbincangan beberapa bapak-bapak di dekatnya.
Setelah beberapa saat, beberapa orang diantara tamu Abi Hanif undur diri, setelah mengucapkan doa untuk kesembuhan Mahira.
Menyisakan Pak RT dan dokter Tama saja yang menjadi tamu terakhir Abi Hanif dan keluarga.
"Alhamdulillah kondisi Ning Mahira baik-baik saja, Saya ikut senang, Kalau begitu saya juga permisi dulu Abi" Ucap pak RT.
"Maaf pak, Bisa kita bicara sebentar " sergah dokter Tama pada pak RT.
Seketika membuat Abi Hanif dan Pak RT mendongakkan wajah menghadap dokter Tama.
"Perkenalkan, saya Tama Pak " Ucap dokter Tama ramah pada sosok pak RT di hadapannya.
"Sebelumnya mohon maaf mengganggu waktu pak RT"
"Tapi ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pak, ini berkaitan dengan kecelakaan yang menimpa Maryam dan Mahira"
Terlihat Abi Hanif dan Pak RT yang mendengarkan setiap ucapan yang di sampaikan oleh dokter Tama.
Dokter Tama dengan teliti memaparkan hasil analisanya, serta kecurigaannya terhadap kejadian yang baru saja dialami oleh keluarga Abi Hanif.
__ADS_1
Pak RT tampak menganggukkan kepala dengan dahi berkerut dan alis yang bertaut.
"Baiklah, nak Tama Tunggu sebentar bapak ada sesuatu yang mungkin bisa nak Tama gunakan untuk melacak ini"
Setelahnya pak RT undur diri dan bergegas mengambil sesuatu yang mungkin bisa di manfaatkan oleh Tama dalam mengungkap kejadian kecelakaan dari Maryam dan Mahira.
Mungkin jika akan mengusut tuntas melalui jalur hukum, hal ini bisa dijadikan bukti dalam laporan kepolisian, begitu pikir pak RT.
Beberapa saat menunggu, akhirnya pak RT muncul dengan membawa sebuah laptop ditangannya.
Laptop yang biasa di gunakan untuk memantau aktifitas CCTV yang ada di wilayah komplek kediaman Abi Hanif.
Dengan berbekalkan itu, ketiganya berharap dapat menemukan sosok pelaku, Yang di sinyalir sengaja melakukan tindakan kriminal.
Karena hari yang semakin gelap pak RT pun undur diri, menyisakan Abi Hanif dan Dokter Tama di ruang tamu.
"Sebaiknya Dokter Tama menginap saja disini" Ucap Abi Hanif sopan pada sosok Tama yang tengah sibuk , dan fokus mengutak Atik laptop pak RT, bak seorang detektif Konan yang
"Sudah hampir tengah malam, Tidak baik berkendara pada jam ini, terlebih pasti Dokter Tama juga lelah" Tukas Abi Hanif kemudian.
Dokter Tama tampak berfikir, menimang ucapan yang di sampaikan oleh Abi Hanif sebelumnya, ada benarnya juga apa yang di katakan Abi Hanif.
Akhirnya dokter Tama menyetujui ajakan Abi Hanif untuk menginap.
Namun alih-alih Tama tidur di kamar tamu yang telah di siapkan oleh BI Minah dan tidur di tempat tersebut dengan nyenyak, Tama justru sibuk dengan laptop untuk melacak CCTV yang ada di komplek tersebut.
***
Baik Reza maupun Maryam keduanya saling menghangatkan diri di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh keduanya.
Terdengar lenguhan yang saling bersahutan mesra dari keduanya dalam penyatuan panjang, Menikmati indahnya malam, dan madu asmara cinta.
Menyatukan segala rasa , hingga pada puncak nirwana keduanya merasa sangat bahagia.
Dengan kecupan lembut di puncak kepala " terima kasih sayang" ucap Reza dengan mengakhiri kegiatan panas keduanya yang sangat menguras tenaga.
Maryam hanya pasrah dengan menganggukkan kepala pelan.
"Apa aku boleh menambah durasi ?" Ucap Reza dengan nafas yang masih terengah.
"Mas , Luka pada siku Maryam saja belum kering ! " Ucap Maryam dengan menggerutu
Terdengar gelak tawa dari mulut Reza yang nyaring terdengar pada pasang telinga Maryam. Dan Maryam hanya dapat menggelengkan kepala dengan bibir yang mencucu.
Bagaimana Maryam tidak merasa sangat kesal, bahkan setelah beberapa kali penyatuan, Reza masih saja ingin menambah durasi. Maryam merasa Tanaga dari sang suami sungguh tidak pernah ada habisnya.
"Tidurlah , Aku tidak akan mengganggumu lagi" Ucap Reza kemudian dengan senyuman manisnya.
__ADS_1
Maryam tampak membenamkan wajahnya di lengan kekar Reza dan bahu yang seluas samudra tersebut, tak butuh waktu lama terlihat Maryam telah terlelap.
Meski merasa sangat lelah, namun Reza juga masih saja tidak dapat memejamkan matanya
tring tring..
Terdengar dering telepon dari smartphone milik Maryam. Seketika hal itu membuat Maryam terperanjat kaget dan membuka lebar- lebar kedua bola matanya.
Reza yang baru saja akan memejamkan mata ikut dibuat kaget dengan dering telepon yang terasa memekakkan telinga.
Segera Maryam meraih ponsel yang dia letakkan diatas nakas, menelisik sebuah nama yang tertera di layar kaca benda yang berbentuk persegi panjang tersebut.
"Ummi" Gumam Maryam lirih
Segera Maryam menggeser tanda hijau yang ada di layar ponsel miliknya.
"Assalamualaikum Ummi, Tumben telepon malam -malam begini, Ada Apa Ummi?" Sebuah pertanyaan beruntun begitu saja muncul dari bibir manis Maryam yang merasa khawatir
"Waalaikumsalam nak" Ucap Ummi Maya yang berada di ujung telepon
"Maryam , Kakak mu sore tadi mengalami kecelakaan, sempat di larikan kerumah sakit, namun kondisi saat ini Alhamdulillah sudah lebih baik dan sudah di izinkan untuk rawat jalan" ucap ummi Maya memberi penjelasan.
"Ya Allah Ummi !, Bagaimana bisa ?" tanya Maryam seketika.
"Kakakmu mengalami kecelakaan akibat di serempet pengendara sepeda motor ?"
Mendengar hal itu seketika badan Maryam menjadi dingin. Begitu juga Reza yang mendengar ucapan ummi Maya, karena Maryam men Lousspeaker panggilan tersebut. Sehingga mudah bagi reza untuk mendengarkan percakapan apa saja yang di sampaikan oleh Ummi Maya dan Maryam.
"Ummi sangat takut terjadi sesuatu pada kalian" ucap Ummi Maya lirih dengan sesenggukan.
Maryam tampak sejenak terdiam dan merasa sedikit khawatir dengan kondisi sang kakak, dan juga terhadap ucapan Ummi Maya terahir.
"Baiklah, istirahatlah , Ummi hanya ingin mengabarkan hal itu" Ucap Ummi Maya
Setelah mengucapkan salam dan telah menyampaikan maksut dan tujuan dari panggilannya, ummi Maya segera menutup kembali panggilan telepon tersebut.
***
Bersambung
***
Assalamualaikum Para Reader setiaku, Peluk jauh untuk semuanya 🤗🙏, Telah Setia menantikan Kisa Pesona Maryam Albatul Rahmah.
Nah lohh Gimana nih baiknya Mahira sama Denis atau Dokter Tama nih Para Readerku yang baik hati ????
Enaknya kita jodohin sama siapa nih Mahira , Komen yukkk...
__ADS_1