
Setelah kepergian ustadz Hamzah, menyisakan Denis yang masih duduk setia di tempatnya semula.
Kembali meneliti pada hatinya yang paling dalam mengenai tujuan hidupnya selama ini, terutama meneliti kembali apa tujuannya datang ketempat ini.
Ditengah lamunan yang tak berujung, terdengar suara adzan Ashar yang begitu merdu dan menenangkan hatinya , begitu lah kira-kira yang Denis rasakan saat ini.
Melihat dari jarak yang tidak begitu dekat, namun tidak begitu jauh, dari tempat dimana dia duduk, Denis mengamati para santri-santri yang berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan sholat Ashar.
Ada yang langsung masuk kedalam masjid, namun ada juga yang masih mampir ke tempat padasan (tempat wudhu) untuk mengambil air wudhu sebelum sholat.
Kegiatan yang masih asing bagi Denis , dan terasa baru dalam pandangan matanya, membuat Denis mengukir sebuah senyuman manis di sana.
Kegiatan tarik menarik baju dan adegan saling dorong yang dilakukan para santri putra, tatkala melihat santri putri yang juga berbondong-bondong datang dengan wajah menunduk untuk masuk ke dalam masjid dan melaksanakan sholat berjamaah.
Denis pun mengukir sebuah senyuman dari jarak yang lumayan jauh dengan aktifitas para Santri dan pengajaran pondok pesantren tersebut.
Tak jarang senyuman yang jauh itu mampu membius akhwat yang tengah melintas menuju masjid, pasalnya Denis terlihat berbeda dari kebanyakan santri Ikhwan di pesantren tersebut.
Meski berumur jauh lebih dewasa dari kebanyakan santri di sana, namun pesona Denis mampu membius para kaum hawa yang memandangnya.
Sebetulnya antara pondok putri dan pondok putra, berada dalam lingkungan dan lokasi yang terpisah begitu juga kelas tempat belajar mengajar, dan asramanya pun terpisah, namun pada saat sholat wajib kegiatan dilakukan bersama-sama berjamaah di masjid.
Beberapa saat mengamati, akhirnya gerombolan santri Ikhwan dan akhwat pun keluar dari masjid. Menandakan kegiatan sholat berjamaah telah selesai.
Melihat hal itu Denis beranjak dari duduknya, meski hanya sekedar untuk berjalan-jalan di area pesantren, selain itu juga karena Denis yang telah merasa bosan melihat pemandangan ikan nila di hadapannya.
Denis sedikit merasa tertarik dengan kegiatan sore itu, berjalan menyusuri sebuah lorong-lorong kelas yang terdapat Santri putra tengah belajar disana.
Seorang ustad muda, namun terkesan Mahira dan mumpuni, berdiri dihadapan para santri untuk memberikan pelajaran dan pengajaran.
Salman al Farisi rh (Wafat di Madain th 36 H) berkata, “Ilmu itu banyak sedangkan umur itu pendek (terbatas), maka ambillah ilmu yang engkau butuhkan dalam urusan agamamu.” (Shifatush Shafwah, 1/546)
عَنْ جُنْدُبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَنَحْنُ فِتْيَانٌ حَزَاوِرَةٌ فَتَعَلَّمْنَا الإِيمَانَ قَبْلَ أَنْ نَتَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ تَعَلَّمْنَا الْقُرْآنَ فَازْدَدْنَا بِهِ إِيمَانًا
__ADS_1
Dari Jundub bin ‘Abdillah, ia berkata, kami dahulu bersama Nabi ﷺ, kami masih anak-anak yang mendekati baligh. Kami mempelajari iman sebelum mempelajari Al-Qur’an. Lalu setelah itu kami mempelajari Al-Qur’an hingga bertambahlah iman kami pada Al-Qur’an. (HR. Ibnu Majah, no. 61. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).
Sebuah kutipan kalimat yang sangat menyentuh hati Denis saat itu, mengintip dari balik jendela kaca, dan mendengarkan setiap pelajaran yang di sampaikan oleh sang ustadz.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa jalan yang ditempuh untuk menuntut ilmu itu ada dua macam, yaitu jalan yang konkret (hissiyyah) dan jalan yang abstrak (ma’nawiyyah).
Yang dimaksud dengan jalan yang konkret adalah jalan yang ditempuh seseorang menuju majelis ilmu, baik ke masjid atau tempat-tempat lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan jalan yang abstrak adalah seseorang berjalan dengan fikirannya untuk memikirkan atau merenungkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik dengan mengkaji Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah secara langsung dengan mempelajari ilmu tafsir dan mempelajari syarah (penjelasan) hadits, atau mengkaji Al Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah secara terpisah dengan mempelajari kitab-kitab fiqih, aqidah, tauhid, dan sebagainya. Atau seseorang menelaah dan mengkaji kitab-kitab para ulama, karena para ulama telah mencurahkan usaha yang besar untuk menyebarkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman yang benar.
Pahala yang agung bagi seorang yang berilmu juga dapat dilihat dari pahala yang mereka dapatkan ketika mereka dapat memberikan petunjuk bagi orang lain dengan ilmu yang mereka miliki. Dan seseorang tidaklah mungkin dapat memberikan petunjuk kebenaran kepada orang lain kecuali dengan ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,
فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ
“Artinya: Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu dibandingkan dengan unta merah (yaitu unta yang paling bagus dan paling mahal,).” (HR. Bukhari no. 3009, 3701, 4210 dan Muslim no. 6376).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ يُرِدْ اللَّه بِهِ خَيْرًا يُفَقِّههُ فِي الدِّين
“Artinya: Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 2436).
"Nak Denis !"
Dibalas dengan senyuman ramah oleh ustadz Hamzah.
"Maaf pak, bukan maksutnya menguping, saya hanya---" Ucap Denis menggantung
"Tidak masalah, bapak senang, kalau mau masuk saja supaya lebih jelas" Ucap ustadz Hamzah sopan
"Ah tidak pak, saya malu " Jawab Denis dengan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
Dan Ustadz Hamzah hanya tersenyum ramah pada Denis.
"Mari ikut bapak " Ajak ustadz Hamzah kemudian
__ADS_1
"Baik pak !" Ucap Denis sopan dengan anggukan kepala
Kemudian keduanya berlalu dari depan kelas tersebut, berjalan entah kemana.
"Nak Denis !" ucap Ustadz Hamzah
"Iya pak " Jawab Denis lirih
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,"
وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Keutamaan orang berilmu di atas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dirham dan dinar, akan tetapi mereka mewarisi ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar”. (HR. Abu Dawud. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud no. 3641).
Denis tampak mengangguk anggukan kepala mendengar penuturan dari ustadz Hamzah.
"Maaf pak " ucap Denis lirih dengan menundukkan wajah
"Untuk ?" jawab ustadz Hamzah
"Sejujurnya tujuan awal saya datang kesini adalah untuk mendapatkan hati seorang wanita muslimah yang sangat saya cintai pak" Ucap Denis lirih.
Tidak ada rasa kaget, atau terkejut , atau bahkan menyalahkan Denis, Ustadz Hamzah justru tersenyum bahagia mendengar penuturan dari Denis.
Sikap terbuka nya lah yang membuat ustadz Hamzah merasa senang.
"Namun saat ini saya mantap pak untuk belajar tentang Islam, bukan karena tujuan lain, namun karena dari hati Saya yang paling dalam" Tukas Denis kemudian.
"MashaAllah, Alhamdulillah" ucap ustadz Hamzah dengan senyuman mereka di wajahnya
Setelahnya ustadz Hamzah menarik tubuh kekar Denis untuk dia peluk erat, begitu juga Denis mendapatkan perlakuan dan sambutan baik dari ustadz Hamzah membuatnya merasa bahagia, dan setelahnya membalas pelukan ustadz Hamzah dengan erat.
***
__ADS_1
Bersambung
***