
Hari baru.
Nissa mulai menikmati kegiatan nya mengajar. Mengajar di beberapa kelas yang di amanah kan oleh sang Abi.
Seperti hari ini Nissa mengisi tiga kelas, pada kelas santri putri.
Setelah selesai dengan semua tugasnya, Nissa kembali ke rumah utama, seperti biasa Nissa akan membantu kegiatan di dapur, seperti menyiapkan bahan makanan untuk makan malam para santri.
"Nissa" Panggil sang Ummi
"Ya Ummi" Jawab Nissa yang masih sibuk memotong beberapa sayur di dapur umum.
"Ada Nak Tama datang" Ucap Ummi
Nissa tampak mengerutkan dahi, menatap pada Umminya.
"Nyari Nissa ?" Tanya Nissa yang memang tidak paham, karena tidak pernah menerima tamu siapapun di rumah, dan saat ini tiba-tiba Tama datang berkunjung.
"Iya , Mungkin mau menanyakan soal Ali " Jawab Ummi Memberi penjelasan.
Mengingat itu Nissa pun paham tujuan dari Tama datang berkunjung.
Segera Nissa mencuci tangannya , dan menyerahkan pekerjaan yang belum selesai sebelumnya pada beberapa santri putri yang bertugas hari ini.
Nissa berjalan sedikit cepat menuju rumah utama.
"Assalamualaikum" Ucap Nissa dengan suara lembut ketika masuk kedalam ruang tamu yang berada di bagian teras rumah.
Benar saja, di sana sudah ada Tama dan juga Abi nya yang sedang mengobrol entah apa itu.
"Waalaikumsalam" Jawab Ustadz Hamzah dan Tama bersamaan
Nissa memilih duduk di samping sang Abi, tepat di hadapan Tama yang didik di kursi depan nya.
"Nissa, Ini nak Tama datang, mau menanyakan soal Ali" ucap ustadz Hamzah ramah.
Tama pun menganggukkan kepala, membenarkan ucapan ustadz Hamzah sebelumnya.
"Oh Begitu " Jawab Nissa dengan suara lembut.
"Alhamdulillah Ali semakin baik , selama dua Minggu ini Ali banyak belajar dan melatih kakinya untuk berjalan tanpa tongkat" ucap Nissa memberi penjelasan
Tama tampak menganggukkan kepala, mendengar penuturan yang di sampaikan oleh Nissa.
"Syukurlah jika begitu, Semoga Ali segera pulih seutuhnya" Ucap Tama
"Abi ?" Ucap sang ummi yang tiba-tiba datang, dan memanggil ustadz Hamzah.
"Ya mi " Jawab Ustadz Hamzah
"Abi , Itu ada Ustadz Furqon berkunjung" Ucap ummi
Ustadz Hamzah mendongakkan wajahnya menghadap istrinya yang berdiri di ambang pintu rumah "Iya mi, sebentar lagi Abi Menyusul" ucap ustadz Hamzah kemudian.
Setelah kepergian Ummi, Ustadz Hamzah menyampaikan pada Nissa dan Tama untuk menemui teman nya sebentar.
"Nak Tama Abi tinggal dulu ya" Ucap Ustadz Hamzah
Tama menganggukkan kepala, dengan mengulas senyum di bibirnya "Iya Abi" Ucapnya kemudian.
Suasana menjadi canggung setelah kepergian Ustadz Hamzah.
"Em.. Kamu apa kabar ?" Tanya Tama dengan suara lirih.
Nissa menganggukkan kepala "Alhamdulillah" jawabnya dengan mengulas senyum
"Dokter apa kabar ?" Tanya Nissa kemudian.
__ADS_1
"Saya baik" Ucap Tama
Suasana kembali canggung, dua Minggu tidak bertemu membuat keduanya merasa aneh untuk memulai pembicaraan, karena memang sebelumnya pun mereka juga bisa di bilang tidak begitu banyak terlibat dalam pembicaraan.
"Silahkan di minum" Ucap Tama karena sangat tegang berhadapan dengan Nissa
Nissa yang mendengar hal itu pun seketika menutup mulutnya dengan satu tangan, untuk menahan rasa geli, karena ingin tertawa.
"Oh iya , Silahkan di minum " ucap Nissa mengikuti gaya Tama sebelumnya.
"Oh Maaf" Ucap Tama dengan senyum getir
Nissa membulatkan matanya.
"ini rumahmu, kenapa aku yang mempersilahkan minum" Ucap Tama kaku dengan menggaruk pelipisnya.
Nissa hanya tersenyum renyah mendengar penuturan dari Tama.
Tama merasa sedikit aneh terhadap dirinya sendiri, terlebih setelah mengetahui jika Nissa yang dia kira telah memiliki suami, nyatanya masih melajang.
"Maaf, Apa dokter mau bertemu dengan Ali, saya akan memanggilnya " Tawar Nissa dengan suara lembut.
Tama menganggukkan kepala "Jika tidak merepotkan " ucap Tama dengan menyesap minuman yang sebelumnya di siapkan oleh Ummi dari Nissa.
"Baiklah saya permisi, dokter tunggu sebentar" Ucap Nissa sambil berlalu dari hadapan Tama.
Tama menjawab dengan anggukan kepala.
Setelah kepergian Nissa Tama terlihat berjalan berkeliling teras, melihat-lihat keadaan sekitar rumah dan pekarangan rumah ustadz Hamzah.
Menghirup udara segar yang terasa sejuk, terlebih di barengi dengan suasana hati yang juga baik, membuat Tama merasa sangat bahagia.
*Flashback On*
Menatap dinding kaca yang menghadap bagian luar ruang kerja Reza, Tama yang merasa galau yang hanya berdiri termenung sejak pertama datang.
"Enak aja bujang lapuk, Mentang-mentang udah Makan donat dua kali Lo" Timpal Tama merasa tidak terima.
Reza yang mendengar ucapan sahabatnya hanya terkekeh , terlebih melihat ekspresi Tama yang begitu kesal.
"Gue serius , Lo kenapa ?" tanya Reza lagi yang melihat sahabatnya semakin gusar.
Tama hanya bergeming, dan enggan menjawab pertanyaan Reza karena masih kesal dengannya.
"Kalo Lo kesini cuma mau liat kendaraan di luar sana mending Lo keluar aja, Noh duduk di halte biar puas liat kendaraan lewat" goda Reza lagi
"Lo ngisor gue ?" Tanya Tama dengan kesal.
"Lagian Lo ngapain kesini, ganggu orang kerja aja" Ketus Reza yang merasa kesal.
Bagaimana Reza tidak kesal, sejak kedatangan Tama yang tiba-tiba, dan hanya diam di ruangannya membuat Reza sedikit kesal, dia yang ingin fokus bekerja harus terganggu dengan sahabatnya tersebut.
"Gue galau " Ucap Tama singkat.
Reza mengerutkan dahi, meletakkan kertas yang sebelumnya akan dia tanda tangani, kemudian menatap lekat pada Tama sang sahabat.
"Mahira ?" Tanya Tama
Bukan tanpa Alasan Reza menanyakan hal itu pada Tama, pasalnya di hari sebelumnya Reza menceritakan pada Tama jika dia akan melamar Mahira untuk Denis, karena Denis meminta bantuanya. Reza berfikir karena itu Tama merasa galau.
Tama menggelengkan kepala.
Melihat hal itu Reza menjadi lebih bingung lagi "Lalu?" tanya Reza kemudian.
"Sepertinya aku menyukai seseorang" Ucap Tama serius
"Tapi aku tidak tahu dia sudah punya suami atau belum" Ucap Tama dengan wajah terlihat lesu.
__ADS_1
Reza hanya menggelengkan kepala, kenapa nasib sahabatnya selalu saja seperti itu, tidak dengan Tasya, Maryam, Mahira, dan sekarang siapa lagi, Reza hanya bisa menggelengkan kepala mendengar cerita sahabatnya.
"Jangan aneh-aneh, Sebelum Lo jatuh cinta harusnya Lo pastikan dulu , Nggak belajar dari pengalaman sih Lo" gerutu Reza yang merasa kesal.
Tama hanya mendengus kesal mendengar ucapan sahabatnya, pasalnya apa yang di katakan Reza adalah benar adanya.
"Emang siapa yang Lo suka?" tanya Reza penasaran
Tama Tampak berfikir, ragu akan mengatakan sosok yang tengah dia kagumi.
"Kalo Lo diem mending Lo balik aja , ganggu tau nggak " Kesal Reza karena Tama hanya diam saja.
Tama tampak menghela nafas panjang dan terasa begitu dalam, kemudian menghembuskan perlahan.
"Anak ustad yang waktu itu santrinya gue tabrak" Jawab Tama dengan suara datar
"Ustadz Hamzah?" tanya Reza . dan Tama menjawab dengan menganggukkan kepala.
"Lo suka sama anak ustad Hamzah yang mana ?" tanya Reza lagi penasaran
Tama hanya bergeming.
"Lo suka sama yang baru pulang dari Kairo ?, Atau yang masih SMP?" Goda Reza
Tama hanya mendengus kesal, lagi-lagi Reza selalu meledek dirinya.
Melihat ekspresi Tama yang kesal, Reza pun kembali ke mode serius.
"Tenang , kalau yang Lo maksut Nissa, Dia belum punya pasangan kok" Ucap Reza serius.
Tama membulatkan kedua bola matanya menatap pada Reza "Lo yakin ?" Tanya Tama serius
Reza menganggukkan kepala.
"Saran gue Lo bergerak cepat , Kalo Lo serius suka sih " Saran Reza
Tama terlihat menautkan kedua alisnya. "Kenapa harus buru-buru, Kita belum pendekatan " Ucap Tama asal.
Setelahnya Reza menceritakan pada Tama dimana Denis pernah mengatakan jika ustadz Hamzah pernah melamar dirinya untuk Nissa, namun Denis menolak karena dia telah melamar Mahira.
Reza pun juga mengatakan, tidak menutup kemungkinan jika ustadz Hamzah akan mencarikan Nissa jodoh lain, mengingat Usia Nissa juga seumuran dengan Mahira, yang tentunya usia 27 tahun merupakan usia yang sangat matang bagi wanita untuk segera membina rumah tangga dan memiliki keturunan.
***
Ditempat lain Denis ditemani kakek Amar dan juga Reza tengah mendatangi kediaman Abi hanif.
Dengan perasaan berdebar, namun membawa keyakinan yang begitu tinggi Denis yakin untuk melamar Mahira.
"Jadi begini pak Hanif" ucap kakek Amar
"Kedatangan kami kemarin adalah untuk meminang Mahira untuk menjadi pendamping Denis" ucap Kakek Amar dengan wajah tenang.
Abi Hanif menyambut baik kedatangan Kakek Amar, Reza , dan juga Denis.
"Denis ini sudah saya anggap seperti cucu saya sendiri" ucap kakek Amar lagi.
Abi Hanif dan Ummi Maya mendengarkan seksama setiap ucapan yang di sampaikan oleh kakek Amar.
"Terimakasih Kakek, Kami sangat senang dengan kedatangan Nak Denis, kakek dan juga nak Reza, untuk niat baik melamar anak saya" Ucap Abi hanif
"Dan InshaAllah kami menerima niat baik nak Denis untuk menghalalkan Mahira " Ucap Abi Hanif tanpa basa-basi.
Bukan tanpa alasan Abi Hani mengatakan demikian, karena sejak rencana kedatangan Kakek Amar yang telah dia ketahui, Abi Hanif langsung menanyakan pada Mahira tentang jawaban yang akan di berikan pada Lamaran Denis.
"Alhamdulillah" Jawab Denis, Kakak Amar, dan Reza bersamaan
***
__ADS_1