
"Apa mas Reza tidak percaya pada Maryam?" Ucap Maryam lagi dengan suara lembut.
"Bukan aku tidak percaya padamu Maryam, tapi aku tidak percaya pada Tama " Batin Reza dalam hati.
***
"Maryam hanya butuh izin dari mas Reza saja, Maryam janji tidak akan lama, dan setelahnya pun Maryam akan segera pulang" ucap Maryam kemudian
"Jika aku tidak mengizinkan?" Sergah Reza dengan cepat.
"Tidak masalah" Jawab Maryam seketika.
Bahkan Maryam terkesan ringan dalam memberikan jawaban pada Reza.
"Sungguh ?, Kau tidak keberatan jika aku tidak mengizinkan?" tanya Reza lagi tampak mengulangi pertanyaannya
"Tentu saja mas, Maryam tidak akan melakukanya jika suami Maryam tidak mengizinkan" Ucap Maryam dengan suara tenang.
Reza tampak mengukir senyum manis di wajahnya dengan perasaan bangga dan bahagia.
"Namun Mas Reza juga harus bertanggungjawab untuk itu" Ucap Maryam lagi.
"Tanggung jawab ?, Untuk apa ?" Tanya Reza dengan alis yang menyatu, terlihat kebingungan pada wajah tampan Reza.
"Untuk Maryam" Ucap Maryam kemudian.
"Maksutnya? " tanya Reza lagi.
"Mas reza harus membawa tugas Maryam, untuk di ajukan dan konsulkan pada dokter Tama " Ucap Maryam dengan entengnya pada sang suami.
"Apa !" Ucap Reza kemudian, tampak kaget dengan penuturan Maryam.
"Apa kau bercanda?" Tanya Reza lagi
"Tentu saja tidak" Jawab Maryam singkat.
Maryam justru sengaja memanfaatkan hal itu untuk sekedar menyatukan kembali dua sahabat yang telah lama bersitegang tersebut.
Reza hanya mendengus kesal dengan ucapan Maryam , sesekali menarik nafas dan menghembuskan kasar.
"Apa kau sengaja menjebak ku ?" Batin Reza kesal dengan tatapan tidak percaya.
"Baiklah , Aku mengizinkanmu, tapi janji kau tidak akan lama" Ucap Reza dengan sedikit terpaksa.
"InshaAllah mas" Ucap Maryam penuh semangat dengan senyum sumringah.
Sejurus kemudian Maryam meraih tangan kekar suaminya dan Mencium punggung tangan Reza dengan takzim. Setelahnya Reza berangkat ke kantor dengan diantar oleh sopir pribadinya.
***
Maryam telah di kampus, dan siap menunggu Dosen Tampan yang menjadi Pujaan hati banyak mahasiswa kedokteran di kampusnya.
Bagaimana tidak pesona dokter Tama yang luar biasa mampu membius beberapa mahasiswa untuk kagum, terlebih dokter Tama merupakan salah satu dokter terbaik di kota tersebut, juga merupakan dokter favorit di kampus tersebut.
Beberapa saat Maryam menunggu kedatangan dokter Tama. Namun tidak juga terlihat tanda-tanda kedatangan dokter tama disana.
Hingga Maryam berfikir mungkin saja dokter Tama telah melupakan janjinya mengenai konsultasi yang diajukan oleh Maryam tempo hari.
Maryam menarik arloji yang ada di tangannya, sedikit mengerutkan dahi, pasalnya dokter Tama tidak biasanya lama, namun kali ini terasa begitu lama Maryam menunggu.
__ADS_1
"Jika aku lebih lama lagi, Bisa-bisa aku di goreng sama mas Reza nanti" Gerutu Maryam dengan nafas berat
💌 Apa kau sudah pulang ?
Sebuah pesan masuk pada smartphone milik Maryam, terlihat nama "Suamiku" Disana telah mengirimkan sebuah pesan pada Maryam.
💌 Assalamualaikum mas !
Jawab Maryam kemudian
💌 Iya, Waalaikumsalam , Maaf !, Kenapa tidak di jawab pertanyaan ku ?
Ucap Reza lagi mengulangi pertanyaan sebelumnya.
💌 Mas , Bertemu dengan dokter Tama saja belum, bagaimana Maryam bisa pulang ?
Jawab Maryam kemudian
💌 Apa? , Berani-beraninya Tama membuat mu menunggu !! Aku akan memberinya pelajaran.
Balas Reza kemudian
💌 Mas Reza, Mungkin di luar sana Maryam memang istri dari Reza Abizar El Shirazy, namun di kampus Maryam hanya seorang mahasiswa !!
Jawab Maryam lagi
💌 Sudah mas, jangan melakukan hal aneh-aneh, Assalamualaikum
Sergah Maryam lagi , dan lalu seketika memutus pembicaraan diantara keduanya melalui smartphone milik ya.
Tidak berselang lama , terlihat dokter Tama tengah berjalan di lorong kampus , menuju ruangannya.
"Apa aku membuatmu menunggu ?" Tanya Tama seketika mendapati Maryam di hadapannya.
"Tidak masalah Dok" Jawab Maryam singkat dengan menundukkan pandanganya.
"Baiklah, silahkan masuk maryam" Ucap Reza
Maryam segera menyodorkan beberapa tugas praktikumnya dan Tama Pun dengan sigap memeriksa hasil pekerjaan Maryam dengan seksama.
Beberapa saat berlalu , Maryam mendapatkan beberapa arahan dari dokter Tama yang memberikan sedikit revisi dan memberikan arahan pada Maryam.
Maryam terlihat menganggukkan kepala, tanda paham terhadap ucapan sang dosen di hadapannya.
"Baiklah Dok Terima kasih atas masukannya, Maryam Permisi , Assalamualaikum" Ucap Maryam dengan menundukkan pandangan derajat beranjak dari duduknya.
"Tunggu Maryam!" ucap Tama kemudian menghentikan langkah Maryam yang sudah akan membuka Handel pintu
Maryam menoleh ke arah Tama yang telah berdiri dari duduknya "Iya dok?" Ucap Maryam kemudian.
"Maafkan saya membuatmu menunggu !, Karena sebelumnya saya ada kelas lain" Ucap Tama kemudian memberikan penjelasan.
"Tidak masalah Dok" Ucap Maryam sopan
"Apa kau sendiri ?" Tanya Tama
" Emm Saya----"
"Bagaimana jika aku Mengantarkan mu pulang ?" Sergah Tama, sebelum Maryam selesai dengan ucapannya.
__ADS_1
Maryam tampak berfikir dengan ucapan Tama, namun segera Maryam memberikan jawaban "Tidak perlu, terima kasih atas tawaran Dokter" Ucap Maryam singkat dengan berlalu dari hadapan Tama.
"Ceklek"
Terlihat sosok Reza tengah berdiri di ambang pintu ruangan kerja Tama, seketika yang mengagetkan Tama maupun Maryam disana yang saat itu juga akan membuka Handel pintu ruangan kerja Tama.
Tatapan tajam yang menghujam bagai belati yang siap menembus kulit Musuhnya. Itulah kesan pertama yang terlintas oleh Maryam pada sosok suaminya.
"Mas!" Ucap Maryam dengan suara lirih
Reza hanya bergeming, dengan tatapan tajamnya tertuju pada sosok Tama yang tengah berdiri di hadapannya, yang berjarak lumayan jauh.
Tatapan yang terlihat dingin namun sangat menusuk hingga ke relung jiwa.
Namun hal itu pun tidak membuat nyali Tama menciut dengan tatapan Reza padanya.
"Apa kau tidak yakin dengan istrimu sendiri !" Ucap Tama dengan suara dingin,yang seketika memecah keheningan diantara ketiganya.
Tama tersenyum sinis melihat mimik wajah Reza yang telah bersungut-sungut menahan emosi yang telah memuncak.
Tama paham betul dengan tabiat sahabatnya tersebut, dia tidak akan pernah tinggal diam jika miliknya direbut oleh orang lain.
"Sangat tidak yakin kah dirimu , hingga kau memastikannya ke tempat ini ?" Ucap Tama lagi.
Reza semakin tersulut emosi mendengar penuturan dari Tama , dengan tangan mengepal Reza memberikan sebuah Bogeman pada wajah tampan Tama.
"Astaghfirullah, Ya Allah , Mas !" Ucap Maryam Seketika mendapati suaminya telah melayangkan sebuah pukulan pada Tama.
Pukulan yang dilayangkan Reza terjadi begitu cepat, hingga Tama tidak sempat untuk menangkis serangan dari Reza.
Tama hanya terkekeh dengan tindakan yang dilakukan Reza, dengan tatapan sinis dan senyum seringai.
Tama tampak mengelap Sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit cairan merah disana.
"Maaf dok !" Ucap Maryam merasa tidak enak hati pada Tama.
Tama hanya mengulas senyum tipis di bibirnya yang sedikit mengalami cidera akibat ulah dari reza, tanpa memberikan jawaban.
"Aku sangat yakin dengan istriku !, Hanya aku tidak yakin padamu !" Ucap Reza seketika dengan tatapan tajam menusuk bagai elang yang siap membidik mangsanya.
"Kau tidak pernah berubah " Sergah Tama kemudian, dengan senyum mengejek.
"Haruskah aku berubah !, Lalu perubahan seperti apa yang kau harapkan ?" Tanya Reza dengan wajah yang telah padam
***
Ternyata tanpa di sadari Maryam maupun Tama , Reza sebelumnya telah berdiri tepat di muka pintu ruang kerja Tama.
Hingga setiap perkataan yang Tama Ucapkan pada istrinya jelas terdengar dan terekam sempurna pada memorinya.
Tidak ingin terjadi keributan yang lebih , Segera Maryam meraih tangan Reza dan berlalu dari hadapan Tama, dan meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan tidak enak hati.
Maryam berusaha mengurai kemarahan pada Suaminya, dengan mengeratkan genggaman Tangannya pada Reza , Bahkan Maryam pun sudah tidak memperdulikan pandangan orang terhadapnya yang kala itu sama-sama melintas di hadapannya.
***
Bersambung
***
__ADS_1