
Setelah mendapatkan kabar bahagia, Reza dan Maryam bergegas untuk pulang dan segera memberi tahu kabar bahagia tersebut pada keluarga Maryam dan juga pada kakek Amar dan nenek Halimah.
Reza terlihat sangat bahagia dengan kehamilan Maryam , Sepanjang perjalanan beberapa kali Reza mengusap lembut perut Maryam yang masih rata.
"Mas , Jangan sering di usap " ucap Maryam
"Memangnya kenapa ?" Tanya Reza.
"Geli mas" ucap Maryam dengan semu merah di wajahnya.
"Kau akan terbiasa, karena aku akan sering melakukanya " Ucap Reza kemudian
"Bagaimana sayang apa yang kau inginkan, apa kau ingin makan sesuatu, atau kau ingin membeli sesuatu, atau kau ingin pergi ke suatu tempat ?" Tanya Reza dengan antusias
"MashaAllah, Suamiku siaga sekali" Ucap Maryam dengan rasa bangga.
"Tentu saja" jawab Reza dengan senyum sumringah.
"Tapi Maryam tidak menginginkan apapun mas" Ucap Maryam dengan mengulas senyum manis
"Benarkah?, Biasanya ibu hamil akan banyak permintaan ?" ucap Reza kemudian.
Dan Maryam hanya terkekeh mendengar penuturan dari suaminya. Bagaimana Maryam menginginkan sesuatu saat ini, sedangkan kabar kehamilannya saja baru beberapa menit yang lalu mereka dengar.
***
Setibanya di rumah Maryam bergegas meraih smartphone miliknya dan segera menghubungi kedua orang tuanya untuk memberikan kabar.
Dan benar saja Abi Hanif dan Ummi Maya sangat senang mendengar kabar yang di sampaikan oleh Maryam.
Tidak lupa kedua orang tua tersebut memberi doa dan wejangan pada Maryam selama masa kehamilan agar dirinya dan sang jabang bayi selalu sehat.
Setelah menyelesaikan panggilannya dengan kedua orang tuanya lantas Maryam kembali menghubungi Seseorang, tentu saja Kakek Amar dan nenek Halimah lah yang ingin Maryam beri kabar.
"Assalamualaikum kek" Ucap Maryam dengan Videocall yang telah terhubung dengan sang kakek
"Tumben pagi begini kalian sudah menghubungi kami" Ucap kakek Amar dari ujung telepon
"Adakah sesuatu yang ingin kalian sampaikan ?" Tukas Kakek Amar kemudian.
"Kek , Cepat lah pulang kami ada kabar bahagia untuk kakek " ucap Reza dengan suara tinggi
Terdengar suara Reza yang sangat menekankan teling Maryam yang duduk tepat di sampingnya.
Maryam kemudian mengatakan kepada kakek dan nenek nya jika dirinya saat ini tengah mengandung, dan usia kandungannya sudah memasuki usia enam Minggu.
Terlihat kakek Amar dan nenek Halimah yang sangat bahagia mendengar kabar yang di sampaikan kedua cucunya tersebut.
__ADS_1
Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya akan ada suara tangisan bayi di kediaman mereka yang sangat sepi sejak lama.
***
Hari berganti
Setelah mendengarkan kabar mengenai kehamilan Maryam Abi hanif dan Ummi Maya pun tidak sabar untuk segera mengunjungi putri bungsunya tersebut.
Begitu bahagia dengan kehadiran calon cucu pertama mereka, hingga banyak makanan dan buah-buahan ummi Maya siapkan untuk di bawa ke kediaman Reza.
Takut jika Nanti Maryam menginginkan sesuatu jadi banyak makanan yang di bawa oleh Ummi Maya, tidak hanya oleh-oleh untuk Maryam saja, tidak lupa Ummi Maya pun menyiapkan oleh-oleh lain untuk para pelayan dan juga penjaga di rumah Reza.
Pagi hari Abi Hanif, ummi Maya, dan tidak lupa Mahira telah siap untuk berkunjung ke kediaman Reza dan menemui Maryam.
Perjalanan di tempuh kurang lebih selama dua jam, dilalui Abi Hanif , ummi Maya dan Mahira dengan penuh kebahagiaan.
Meski kehamilan Maryam baru seumur jagung , namun hal itu sungguh sangat membuat semua orang bahagia, pasalnya calon anak Maryam dan Reza akan menjadi cucu pertama bagi keluarga Maryam ataupun keluarga Reza.
Setelah beberapa saat perjalanan akhirnya mobil yang di kemudian oleh Abi Hanif tiba di kediaman Reza, beberapa pelayan yang telah mengetahui akan kedatangan Ummi Maya dan Abi Hanif, siap memberi sambutan kedatangan mereka, tidak lupa membantu membawa beberapa barang yang sebelumnya Ummi Maya siapkan.
Reza dan Maryam tampak sangat antusias menyambut kedatangan Abi Hanif dan keluarga. Bagaimana tidak ini merupakan kunjungan pertama mereka setelah keduanya menikah.
"Selamat sayang, Akhirnya Allah mempercayakan mu seorang janin yang akan melengkapi rumah tangga kalian " Ucap ummi Maya dengan mata berkaca-kaca, dan usapan lembut pada perut Maryam yang masih rata .
"Alhamdulillah Ummi" jawab Maryam dengan senyuman manis di balik cadar yang dia kenakan.
Kemudian di susul Abi Hanif yang memberikan Ucapan selamat dan doa pada Maryam.
"Terima kasih kak Ira, sudah datang ke sini" Ucap Maryam
"Tentu saja kakak akan datang, Kaka sangat bahagia mendengar kabar kehamilan mu Maryam " ucap mahira penuh semangat.
Terlihat pula Kakek Amar dan Nenek Halimah yang telah pulang sejak mendapatkan kabar mengenai kehamilan sang cucu menantu.
Menyambut hangat kedatangan besannya, Bahkan kakek Amar pun menyambut hangat kedatangan Mahira diantara mereka.
Meski sedikit canggung , namun Mahira berusaha bersikap biasa, terlebih seluruh keluarga Reza yang sudah memaafkan dan sudah tidak ada yang mempermasalahkan kejadian di masa lalu. Hal itu lah yang membuat Mahira lega dan merasa tenang.
Berada di kediaman Reza yang sudah seperti istana, Abi hanif dan keluarga di jamu dengan begitu baik.
Kakek Amar sendiri yang memerintah pada Pelayan yang bertugas di bagian dapur untuk membuat hidangan yang istimewa untuk sang besan.
Mereka tampak sangat bahagia dengan obrolan penuh canda tawa menghiasi meja makan saat ini, kedatangan Abi Hanif dan keluarga memberi warna baru.
Kakek Amar dan Abi Hanif yang terus bercerita tentang bisnis, nenek Halimah dan Ummi Maya yang membicarakan soal kehamilan Maryam, dan Mahira yang merasa bahagia berada di tengah-tengah orang baik tersebut.
"Assalamualaikum" Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan semuanya.
__ADS_1
Seketika mereka menghentikan makan, dan Mendongakkan kepala " Tama !" Ucap kakek Amar kemudian.
"Duduklah, kita makan siang bersama" Ajak Kakek Amar
Reza dan Maryam pun sedikit kaget dengan kedatangan Tama , pasalnya diantara mereka tidak ada yang memberi tahu mengenai kabar kehamilan Maryam.
Namun sudah pasti dokter Anita, atau kakek lah yang memberi tahu perihal kabar kehamilan Maryam padanya.
"duduklah Tam, Tidak perlu sungkan" Ucap Reza kemudian.
Setelah mendapat sambutan baik dari seluruh keluarga, Tama akhirnya duduk , tepat di sebelah Mahira.
Tama tampak sedang meneliti sosok yang tengah duduk di sampingnya "Mahira !, Apa kabar ?" Ucap Tama
"Alhamdulillah baik Kak, kakak sendiri apa kabar ?" Ucap Mahira di sela-sela makan siang mereka
"Alhamdulillah Aku juga baik" ucap Tama dengan mengulas sebuah senyuman manis.
Mahira tampak menganggukkan kepala pelan.
Setelah menyelesaikan makan siang, semua orang larut dengan obrolan masing masing.
Maryam yang tengah mengobrol dengan Mahira, Tama yang juga sedang serius dengan obrolannya bersama Reza, juga kakek Amar dan nenek Halimah yang sedang asyik berbincang dengan sang besan.
"Kak, Maryam dengar kemarin Abi sempat mencarikan jodoh untuk kak Ira ?" Ucap Maryam
"Apakah itu benar ?" Tukas Maryam kemudian
Seketika dijawab dengan anggukan kepala oleh Mahira.
"Siapa ?" tanya Maryam dengan mengerutkan dahi.
Maryam yang sangat menyayangi sang kakak hanya ingin memastikan jika kakaknya kelak juga akan bahagia bersama pasangannya seperti dirinya dan juga Reza.
"Kakak tidak tahu pasti Maryam, hanya saja ummi pernah bilang jika dia anak dari sahabat Abi" Ucap Mahira.
Maryam tampak menganggukkan kepala.
"Lalu kakak bagaimana ?" Tanya Maryam lagi.
Mahira tampak mengangkat kedua bahunya "Entahlah Maryam, kakak sendiri bingung, Sejujurnya kakak takut untuk membina rumah tangga" Ucap Mahira pelan
"Apakah suami kakak nantinya bisa menerima semua kekurangan kakak, segala kesalahan yang Kaka pernah lakukan di masa lalu" Ucap Mahira dengan menundukkan kepala.
Maryam menyadari ke resahan hati sang kakak, Bahkan Maryam juga ikut merasakan bagaimana ketakutan yang kini tengah di rasakan Mahira. Namun Maryam sadar dirinya tidak dapat berbuat lebih, hanya usapan lembut yang bisa Maryam berikan untuk menenangkan hati sang kakak.
***
__ADS_1
Bersambung
***