PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
137. Berpamitan


__ADS_3

Tama merasa sangat lega, setidaknya ketukan pintu yang tiba-tiba tersebut dapat menyelamatkan dirinya dari rasa malu.


"Permisi "


Sapa seorang dokter yang masuk kedalam ruangan untuk memeriksa kondisi Ali.


"Pagi dokter Anton " Sapa Tama. Segera bangkit dari duduknya dan menghampiri seorang dokter yang merupakan rekan kerjanya tersebut.


"Pagi dok " Sapa dokter Anton balik


Setelahnya dokter Anton melakukan pemeriksaan pada Ali , Dan memastikan segala kebutuhan Ali terpenuhi dengan baik.


"Bagaimana dok kondisi Ali ?" tanya Tama


"Alhamdulillah dokter Tama , Alli sudah menunjukan perubahan banyak, untuk luka luar semua sudah mulai mengering, Mungkin nanti lima hari lagi Ali sudah bisa pulang" Ucap dokter Anton.


"Tapi untuk itu, Ali harus tetap menggunakan bantuan untuk berjalan, karena memang cedera patah tulang yang di alami tidak bisa langsung sembuh begitu saja, butuh waktu dua sampai tiga bulan penyembuhan" Ucapnya lagi.


Tama mengangguk tanda memahami ucapan dokter Anton.


"Ada yang perlu di tanyakan dok ?" Tanya dokter Anton


"Oh, Sepertinya tidak, Terima kasih dokter Anton " Ucap Tama dengan senyuman ramah.


"Baiklah jika sudah tidak ada yang perlu di tanyakan, saya permisi " Ucap dokter Anton dengan sopan.


***


Pagi ini merupakan hari terakhir bagi Denis untuk meninggalkan pesantren Ustadz Hamzah.


Bergegas Denis merapikan segala perlengkapan, dan baju-baju yang dia bawa sebelumnya. Mengemas dalam satu koper agar lebih mudah membawanya.


Setelah semua siap, Denis bergegas menuju rumah utama untuk menemui ustadz Hamzah dan juga kiai sepuh untuk berpamitan.


Menyampaikan rasa terima kasih karena telah banyak ilmu yang di berikan, sebagai bekal Denis memulai masa depan.


"Assalamualaikum " Ucap Denis yang berdiri di ambang pintu rumah ustadz Hamzah.


"Waalaikumsalam, Nak Denis , silahkan masuk " Sapa ustadz Hamzah sendiri dengan ramah.


"Bagaimana nak Denis ada yang perlu di sampaikan ?" Tanya Ustadz Hamzah dengan senyuman ramah.


"Tidak pak ustadz, Saya kesini mau berpamitan pada ustadz Hamzah dan keluarga"


"InshaAllah saya akan kembali ke kota"


"Terima kasih atas semua ilmu, pengalaman, Dan juga jamuan yang ustadz Hamzah juga keluarga berikan kepada saya.


Ustadz Hamzah menjawab dengan anggukan kepala dan senyum manis di wajah nya.


"Saya juga mau mengucapkan mohon maaf, Apabila selama saya berada di sini, banyak salah dan khilaf yang saya lakukan, entah itu sengaja maupun tidak sengaja" Ucap Denis


"InshaAllah na Denis, Bapak dan Keluarga sangat senang, Semoga apa.yang nak Denis dapatkan dari tempat ini, dapat memberi manfaat di kemudian hari" Ucap Ustadz Hamzah


"Pesan bapak, Tetap Istiqomah, dan jangan pernah berhenti untuk belajar, karena Islam itu luas, Cari ilmu sebanyak mungkin" Ucapnya lagi.


Denis menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Setelah saling berbincang menyampaikan maksut dan tujuannya.


Denis meraih sebuah amplop tipis berukuran sedang dari balik jas yang dia kenakan.


"Maaf pak ini mohon di terima , Semoga bisa bermanfaat untuk pesantren" ucap Denis dengan menyodorkan Amplop tersebut.


Ustadz Hamzah tampak mengulas senyum ramah, dan menerima amplop yang di berikan Denis.


"MashaAllah, Banyak sekali nak Denis " Ucap ustadz Hamzah yang sedikit kaget dengan isi cek yang di berikan Denis tersebut.


Rp. 250.000.000-, nominal cek yang di sumbangkan Denis untuk pesantren ustadz Hamzah.


"Tidak masalah pak ustadz, nominal itu pun belum sebanding dengan apa yang pak ustadz dan keluarga serta pada pengajar disini yang di berikan pada saya" Ucap Denis dengan sopan


"Alhamdulillah, Semoga amal nak Denis ini bisa menjadi ladang pahala, dan menjadi manfaat bagi pesantren, Terima kasih nak Denis"


"Sama -sama pak" Ucap Denis.


Setelah berpamitan pada ustadz Hamzah dan seluruh keluarga, tidak lupa Denis berpamitan pada Lima orang Santi putra yang sebelumnya dekat dengan dirinya selama. di pesantren.


"Rohmat" Sapa Denis yang berlari menghampiri anak tersebut.


"Eh mas Denis !, kok rapi mau kemana mas ?" tanya Rohmad.


"Lho kok cepet mas !, kenapa nggak besok-besok saja mas Denis" Pinta Rohmad kemudian.


"Nggak bisa mad, saya harus kembali bekerja" Ucap Denis dengan senyum ramah.


"Ohya mana Ali sama yang lain ?" Tanya Denis


"Kalau yang lain mungkin masih pada nyuci baju mas" Ucapnya lagi.


"Innalilahi wa inalilahi rojiun, Kecelakaan ?" tanya Denis kaget.


Rohmat pun menganggukkan kepala dengan lemah.


Setelah ya Rohmat menceritakan kronologi bagaimana Ali bisa mengalami kecelakaan dan bagaimana kondisinya saat ini.


"Ya sudah kalian yang sabar ya " Ucap Denis dengan menepuk bahu Rohmat. Roh at pun menjawab dengan anggukan kepala.


Denis sangat paham bagaiman perasaan Rohmat saat ini, Meraka bersama setiap saat dan melewati suka duka terpisah dari orang tua untuk menuntut ilmu, bukan lah hal yang mudah.


Dan kini salah satu sahabatnya harus menerima ujian, dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit.


Denis pun merogoh saku celananya, meraih dompet miliknya.


Denis pun mengeluarkan semua uang yang ada dalam dompetnya, karena Denis hanya memiliki uang Cas tiga juta, Denis pun memberikan semuanya pada Rohmat, dan berpesan pada Rohmat untuk membagi pada teman-teman yang lain, serta menyisakan untuk Ali setelah Ali pulang dari rumah sakit.


"Banyak sekali mas Denis" Ucap pemuda 16 tahun tersebut.


Bagaimana Rohmat tidak kaget, bahkan seumur-umur memegang uang merah dalam jumlah banyak mungkin itu pertama kalinya.


"InshaAllah mas Denis, akan saya laksanakan amanah mas Denis" Ucap Rohmat dengan penuh semangat.


Denis tersenyum bangga, dan kemudian menganggukkan kepala.


"Baiklah kalau begitu, Assalamualaikum" Ucap Denis dengan berlalu meninggalkan Rohmat

__ADS_1


"Waalaikumsalam mas Denis, sering-sering berkunjung mas, kami akan sangat senang" Ucap Rohmat dengan sedikit berteriak.


Denis pun tersenyum dan melambaikan tangannya pada Rohmat.


***


Sepanjang perjalanan menuju kota di lalui Denis dengan hati tenang.


Namun ada satu hal yang mengganjal dalam pikirannya, mengingat soal lamarannya terhadap Mahira.


Berfikir sejenak, akhirnya Denis menambah laju kendaraanya, karena saat ini ada sebuah tempat yang ingin segera dia tuju.


Jalanan lumayan lengang , tidak begitu banyak pengendara, karena memang jam-jam 10 memang bukan waktu crowded para pengguna jalan.


Alhasil Denis setengah jam lebih cepat dari biasanya, menempuh perjalanan beberapa saat, akhirnya Denis tiba di sebuah tempat yang menjadi tujuan nya.


Kediaman Reza Abizar El Shirazy. Ya tempat itulah yang menjadi tujuan Denis saat ini.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu yang terdengar dari balik ruang kerja Reza.


"Masuk " Ucap nya


"Maaf Tuan Reza, diluar ada den Denis, mau ketemu sama tuan" ucap Bi Siti dengan suara sopan.


"Suruh dia masuk" Ucap Reza


Kedatangan Denis yang tiba-tiba sedikit mengejutkan Reza. asalnya tidak ada tugas yang Reza berikan, juga jadwal Denis masuk masih esok hari.


tok tok tok


Pintu ruang kerja Reza kembali di ketuk.


"Masuk !" Ucap Reza.


Ceklek.


Menampakkan Denis yang berdiri tepat di ambang pintu ruang kerja Reza.


"Permisi pak "


"Em" Jawab Reza singkat, dengan wajah tertuju pada Denis.


Kerutan tipis di dahi Reza, seolah menanyakan ada tujuan apa Denis menemuinya.


"Adakah sesuatu yang perlu kau bicarakan ?" tanya Reza dingin.


"Maaf tuan, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan sebetulnya" ucap Denis dengan sopan.


"Katakan !" ucap Reza


***


Part selanjutnya Denis minta tolong Reza buat ngelamar Mahira ya ..


tunggu ceritanya ya reader kesayangan othor 🤗🥰

__ADS_1


__ADS_2