PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
69. Saling menguatkan


__ADS_3

Maryam mohon mas " Ucap Maryam dengan nada pilu, berharap suaminya tidak berbuat kasar ada wanita.


Maryam meraih tangan Reza yang begitu kuat mengepal, beberapa kali Maryam mencium tangan Reza dengan lembut, berharap dapat mencairkan amarah Suaminya.


***


Sorot mata tajam Reza yang menusuk hingga ke relung hati Mahira. seketika membuat Mahira takut dan gemetar dibuatnya.


"Apa kau merasa kau lebih baik dari Maryam ha !" Ucap Reza dengan suara lantang.


"Apa kau pikir aku akan menikahi mu meski kau tidak pergi ?"


"Apa kau se yakin itu ha!?"


"Jangan pernah bermimpi , Mahira !" Ucap Reza tegas memperingati


"Kau pikir aku Reza Abizar El Shirazy, akan begitu saja menerima wanita, meski itu pilihan kakek Amar"


"Bahkan aku telah menyelidiki mu, jauh sebelum hari pernikahan itu di tetapkan"


"Dan apa kau tahu, aku telah mengetahui jika kau telah berkhianat dan tengah hamil dengan seorang laki-laki yang bukan berstatus sebagai suami mu !"


"Setidaknya Keinginanmu untuk membatalkan pernikahan kita, membuatku sangat bersyukur, tidak menikah dengan wanita yang salah".


" Ohya, dan lagi meskipun kau tidak pergi ! aku lah yang akan membatalkan pernikahan itu !


"Camkan itu !!" Ucap Reza dengan suara lantang.


"Hiduplah dalam dunia nyata, jangan terlalu banyak bermimpi" Cecar Reza pada Mahira yang berdiri mematung di hadapannya.


"Nak Reza !"


"Nak Reza , Abi mohon Maafkan Sikap Mahira" Ucap Abi Hanif memelas dengan nada kelu.


Terlihat Abi Hanif yang berjalan menghampiri ketiganya dengan langkah gontai, menghampiri Reza, Maryam, dan Mahira.


Sontak hal itu pun membuat Maryam dan Mahira kaget, dan membulatkan kedua bola matanya.


"Sungguh Abi sangat malu dengan Nak Reza dan Kakek Amar" Ucap Abi Hanif dengan suara parau menahan sesak di dada.


"Jangan Salahkan Mahira, Salahkan Abi yang tidak pandai mendidik anak"


"Rasa malu nak Reza dan Kakek Amar, karena Abi yang tidak bisa mendidiknya dengan Baik" Ucap Abi Hanif dengan suara parau dan semakin menundukkan kepala.


Maryam pun ikut merasakan betapa sedih dan terluka nya hati Abi Hanif saat ini, hingga buliran bening pun menetes dengan derasnya di balik cadar Maryam.


Begitu pula dengan Mahira yang tampak sangat terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Abi hanif yang begitu sedih, rela memohonkan sebuah kata maaf untuk dirinya.

__ADS_1


"Abi" Ucap Mahira dengan suara kelu, merasa sangat bersalah.


Meski Mahira anak yang bandel, tapi dia akan sangat sedih ketika mendapati kedua orang tuanya menitihkan air mata kesedihan. Dan itu karena dirinya.


Abi Hanif bergeming dengan panggilan Mahira.


"Nak Reza , Abi mohon.. Abi mohon.. Keikhlasan hati nak Reza untuk memaafkan Mahira" Ucap Abi Hanif dengan suara lemah dan buliran bening menetes di sudut mata tua nya.


Abi Hanif rela meminta maaf pada Reza bukan hanya karena alasan Mahira saja.


Bukan tanpa alasan Abi Hanif melakukan hal itu selain Mahira Abi juga memikirkan nasip Maryam, Abi Hanif hanya takut jika kemarahan Reza membuat Maryam yang harus menanggung akibatnya.


"Beribu kata maaf pun rasanya tidak akan sepadan dengan rasa sakit nak Reza dan kakek Amar, Tapi Abi mohon pada nak Reza untuk memaafkan Putri Abi Mahira" Ucap Abi Hanif yang sudah semakin melemah karena sesak dalam dada.


Mahira semakin di buat sedih dengan kata-kata Abi Hanif, seketika tubuhnya melemas tanpa tenaga hingga badanya terhempas ke atas lantai. Menahan derasnya air mata yang mengalir.


"Abi ... Maafkan Mahira Abi... Karena Mahira Abi harus menanggung rasa malu " Ucap Mahira lirih.


Reza pun menyadari kesalahannya, seharusnya dirinya mampu menahan amarah, untuk tidak berbicara atau berlaku kasar.


"Abi... Reza telah memaafkan Mahira" Ucap Reza dengan suara datar.


"Dan untuk kau " Tunjuk Reza pada sosok Mahira yang terkulai lemas di lantai dengan lutut sebagai tumpuan badanya.


"Aku harap ini Terakhir kalinya kau Berlaku kasar dan culas terhadap istriku" Ucap Reza datar namun penuh penekanan.


"Abi.. Reza Permisi " Ucap Reza kemudian.


Reza meraih tangan Maryam, menggenggam dan membawanya pergi dari hadapan Mahira dan Abi Hanif.


Abi Hanif hanya menganggukkan kepala dengan tatapan sendu, mengantarkan Kepergian menantu dan putri bungsunya.


Menyisakan Abi Hanif dan Mahira yang masih merenung dengan pikirannya masing -masing.


Maryam terus menundukkan wajah dengan tetap mengekor langkah kaki Reza.


Sejenak suasana menjadi hening, hanya terdengar langkah kaki dari keduanya.


Seketika reza menghentikan langkah kakinya, membalik tubuh kekarnya menghadap sang istri yang menitihkan air mata.


Reza segera meraih tubuh Ramping Maryam, dan menenggelamkannya dalam dekapan dada bidang miliknya.


"Maaf" Ucap Maryam lirih. Reza hanya mengerutkan dahinya mendapati kata maaf dadi Maryam.


"Kau tidak harus meminta maaf, ini bukan kesalahanmu!" Ucap Reza lembut, mencoba menenangkan hati Maryam.


"Apa mas Reza menyesal?" ucap Maryam kemudian.

__ADS_1


Masih dengan Maryam yang berada di dalam dekapan hangat dada Reza.


Reza bergeming dan hanya mengusap dan menciup lembut puncak kepala.maryam.


"Apa mas Reza betul-betul sangat marah ? " Ucap Maryam dengan mendongakkan wajahnya menghadap wajah tampan suaminya.


"Apa karna itu mas Reza tidak menerima Maryam di awal pernikahan kita ?"


"Apa karena itu mas Reza melampiaskan kemarahan dan kebencian mas pada Maryam di malam pengantin kita ?" Ucap Maryam menelisik dengan sorot mata sendu.


"Jadi mas Reza telah tahu sebelumnya, jika kak Ira tengah mengandung ?" Sergah Maryam kemudian.


"Cukup Maryam!" Ucap Reza yang tidak ingin lagi mendengar ucapan Maryam


"Apa karena hal itu mas Reza membalas semua kemarahan mas Reza pada Maryam" Ucap Maryam dengan suara yang semakin melemah menahan gejolak di dada.


"Apa mas Reza benar-benar menganggap Maryam sebagai sebuah pelampiasan?" Tukas Maryam


Reza semakin tidak ingin mendengar ucapan Maryam, yang semuanya merupakan kebenaran dari dalam diri Reza sebelumnya.


"Apa mas Reza menyesal menikah dengan Maryam selama ini ?" Tanya Maryam untuk yang terakhir kalinya dengan buliran bening menetes di sudut matanya. Buliran bening yang sudah tidak dapat ia tahan lagi.


Seketika Reza membingkai wajah Maryam dengan kedua tangannya dan mendaratkan satu ciuman tepat di bibir Maryam, Maryam hanya terdiam dengan gerakan cepat Reza.


Sesaat Reza mencium mesra bibir Maryam dengan pagutan lembut, yang semakin lama semakin dalam.


"Cukup !" Ucap Reza lembut setelah selesai dengan pagutan mesra di bibir ranum Maryam.


"Cukup, Jangan lagi kau mengatakan hal itu !" Ucap Reza lagi


" Aku tidak akan menutupinya lagi" Ucap Reza dengan nada pelan.


"Sungguh semuanya yang kau katakan adalah sebuah kebenaran, dan aku berniat menikahi mu hanya untuk membalas dendam atas rasa sakit hatiku terhadap kakakmu, itu pun juga sebuah kebenaran !" Ucap Reza dengan menatap lekat manik mata Maryam.


"Tapi aku tidak pernah menyesal menikah denganmu Maryam" Ucap Reza dari lubuk hati terdalam


"Aku telah menyadari kesalahanku , dan aku ingin membangun pondasi rumah tangga kita dengan kejujuran" Ucap Reza dengan nada lembut pada Maryam


"Dan terima kasih kau telah bersama dan memahami setiap perlakuan buruk ku" Ucap Reza kemudian.


Nada Suara lembut Reza yang seketika meluluhkan hati Maryam.


***


Bersambung


***

__ADS_1


__ADS_2