
Reza tetap berangkat ke kantor, meski di liputi dengan perasaan cemas, dengan kondisi Maryam di rumah yang tampak begitu pucat.
Beberapa kali Reza merogoh saku, dan mengambil smartphone miliknya, untuk memastikan adakah pesan dari sang istri.
Namun lagi-lagi Maryam tidak mengirimkan pesan apapun pada Reza.
Hari ini Ada beberapa pertemuan dengan kolega penting, untuk meninjau lokasi pembangunan sebuah Jalan tol, mungkin Reza akan sangat sibuk, namun dia tidak pernah melupakan Maryam sedetikpun.
Meski Maryam tidak memberinya kabar, karena Maryam selalu mengatakan jika dirinya baik-baik saja, namun Reza tampak beberapa kali menghubungi Bi Siti, untuk memastikan kondisi Maryam.
Seperti sebelumnya BI Siti akan mengatakan jika Maryam masih berada di dalam kamar, dan belum keluar sejak kedatangannya dari kediaman Abi Hanif sebelumnya.
Tok tok tok
Terdengar ketukan dari balik pintu kamar Maryam
"Masuk Pintunya tidak di kunci" Ucap Maryam dengan suara lembut
"Maaf nyonya, sudah waktunya makan siang, sebaiknya nyonya makan terlebih dahulu" Ucap bi siti dengan sopan.
Benar saja , Bi Siti yang melihat wajah Maryam begitu pucat, juga merasa sangat khawatir dengan kondisi majikannya tersebut.
"Oh, iya bi sebentar lagi Maryam akan turun " Ucap Maryam dengan suara pelan.
"Apa perlu saya bawa kemari saja nyonya ?" Tanya Bi siti lagi.
"Tidak perlu Bi, Maryam bisa sendiri" Ucap Maryam dengan menyibak selimut tebal yang dia kenakan.
Tidak ingin merepotkan Bi Siti , Maryam bergegas untuk bangkit dari tidurnya, namun baru saja akan mengangkat bobot tubuhnya. Maryam telah lebih dulu tumbang dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur lagi.
Sakit kepala yang terasa berat dan menetap , membuat Maryam kehilangan keseimbangan.
"Ya Allah Nyonya !" Suara bi siti memekik.
"Nyonya tidak papa" Ucap Bi Siti dengan suara bergetar
Maryam memberi jawaban dengan isyarat anggukan kepala.
Segera dengan sigap Bi Siti membantu Maryam kembali berbaring diatas tempat tidur, dan membetulkan kembali selimutnya.
"Bi , Maryam pusing sekali, mungkin Maryam akan istirahat sebentar lagi, setelah lebih baik, Maryam akan turun" ucap Maryam dengan suara pelan.
"Ohya , Maryam mohon jangan katakan pada mas Reza, Karena Maryam hanya butuh istirahat saja" ucap Maryam dengan suara pelan.
__ADS_1
Tidak ingin membuat Reza merasa khawatir dengan kondisinya saat ini.
Kemudian bi siti menjawab dengan anggukan kepala, dan menunduk sopan.
Bi Siti merasa sangat khawatir dengan kondisi dari majikannya, namun sadar sebelumnya Maryam meminta Bi Siti untuk tidak mengatakan kondisinya pada Reza.
Terlebih mengingat jika Maryam merupakan calon dokter, sudah pasti bi siti menganggap Maryam lebih tahu dari pada dirinya tentang apa yang lebih baik untuk di lakukan.
"Apa nyonya mau saya ambilkan minuman herbal atau saya buatkan jus ?" Ucap Bi Siti
"Sepertinya jus saja Bi " ucap Maryam dengan mengulas sebuah senyum manis di wajah pucatnya.
Bi Siti menganggukkan kepala.
***
Benar saja proyek yang di kerjakan Reza dan para tim nya kali ini sangat menguras tenaga. Hingga Reza harus mengawasi secara langsung proyek tersebut, untuk memastikan semua berjalan lancar sesuai dengan instruksinya
Waktu menunjukan pukul 21.57
Hampir tengah Malam, akhirnya Reza kembali ke kediamannya, dengan langkah tergesa segera Reza masuk kedalam rumah.
"Tuan !" Sapa bi siti yang muncul dari arah dapur
"Ya " Jawab Reza singkat, dengan memperlambat langkah kakinya
"Benarkah ?" ucap Reza dengan menautkan kedua alisnya.
"Sepertinya nyonya tidak berselera untuk makan" Ucap Bi Siti Lagi.
Setelah mendapat laporan dari sang kepala pelayan, Reza bergegas menuju kamar untuk melihat kondisi istrinya.
Ceklek
Setibanya di kamar Reza tampak meneliti seluruh ruangan , mencari keberadaan Maryam, Namun tidak juga menemukan sang istri.
"Sayang ?" Panggil Reza
Beberapa kali panggilan yang Reza layangkan , sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Maryam, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Segera Reza membuka pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat, Betapa terkejutnya Reza tatkala mendapati sang istri tengah menyandarkan kepala pada tembok kamar mandi dengan kondisi yang sangat lemah.
"Sayang , kau kenapa ?" Tanya Reza dengan wajah panik.
__ADS_1
Namun belum sempat Maryam untuk menjawab pertanyaan Reza.
Maryam sudah merasakan kembali perutnya yang bagaikan di aduk-aduk , hingga dia harus kembali mengeluarkan isi perutnya yang memang terasa telah kosong.
"Hoek Hoek Hoek" Tidak ada apa pun yang keluar , hanya cairan bening dan sedikit berwarna kuning keluar dari mulut Maryam
Melihat hal itu Reza segera membantu memijat tengkuk dan mengusap lembut punggung sang istri, untuk meredakan rasa tidak nyaman yang tengah dirasakan oleh Maryam.
Setelah melihat Maryam yang sudah lebih baik, Reza segera mengangkat tubuh Maryam yang telah lemah akibat beberapa kali harus menguras isi perutnya.
"Sayang kau baik-baik saja" Ucap Reza dengan membaringkan tubuh Maryam pelan diatas tempat tidur.
Maryam hanya mengangguk lemah
"Setelah mengeluarkan semua makanan, Maryam merasa jauh lebih baik mas" Ucap Maryam kemudian
"Mungkin sebelumnya Maryam salah makan" Ucap Maryam dengan wajah pucatnya.
"Benarkah ?, Lalu apa yang kau makan ?" Tanya Reza lagi
Mengingat sebelumnya jika bi siti mengatakan Maryam hanya sedikit makan, dan bahkan malam ini Maryam belum juga makan.
Belum juga Maryam dapat merebahkan tubuhnya dengan baik, Maryam sudah harus kembali lagi merasakan mual dan ingin muntah.
Segera dia bangkit dan berlari menuju kamar mandi dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki.
Lagi-lagi Maryam merasakan gejolak perut yang tidak dapat dia tahan, hingga membuat Reza harus mengikutinya ke kamar mandi dan memijat kembali bagian tengkuk dan memberikan usapan lembut di punggung sang istri.
Reza yang melihat hal itu merasa sangat bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa, pasalnya ini pertama kalinya Maryam mengalami hal seperti ini selama menikah dengannya.
Setelah melihat kondisi Maryam telah lebih baik, segera Reza membawa Maryam ke tempat tidur dan membaringkan lagi di atas tempat tidur.
Reza segera meraih ponsel miliknya dan bermaksud akan menghubungi seorang dokter, namun belum juga Reza sempat terhubung dengan sang dokter Maryam segera menolak.
"Mas ! Maryam baik-baik saja, lagi pula ini hanya muntah" Kilah Maryam
"Setelah istirahat pasti lebih baik, Maryam hanya butuh istirahat" Ucap Maryam meyakinkan sang suami.
"Benarkah ?" Ucap Reza, dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Maryam.
"Oke, Tapi jika sekali lagi kau seperti ini, aku akan membawamu ke rumah sakit" Tukas Reza kemudian , dan Maryam hanya mengangguk.
***
__ADS_1
Bersambung
***