PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
128. Melamar Denis


__ADS_3

Setelah selesai dengan ritual mandinya, Denis merasa lebih segar, cukup lama memang waktu yang di butuhkan Denis untuk mandi. Pasalnya dia merasa lumpur yang menempel di tubuhnya tidak ada habisnya meski sebelumnya telah dia bersihkan di kolam.


Tidak berselang lama Adzan ashar pun berkumandang, Denis bersiap mengenakan Baju Koko Kurta, peci dan sarung. Menenteng sebuah sajadah berwarna putih, dan setelahnya berjalan menuju masjid, untuk ikut melaksanakan sholat berjamaah.


Tidak ada orang yang akan mengira jika Denis seorang mualaf jika hanya sekilas melihat tampilannya saat itu.


"Nak Denis" Sapa Ustadz Hamzah yang tiba-tiba muncul dari rumah utama. Denis pun menganggukkan kepala sopan.


"Pak ustadz" Sapa Denis.


"Oya pak ustadz, Nanti malam saya tidak usah di kirimi makanan, saya ingin makan malam bersama dengan para santri pak " Ucap Denis sembari berjalan menuju masjid.


"Saya ingin menghabiskan banyak waktu dengan para santri disini pak ustadz"


"Lusa InshaAllah rencana, saya akan kembali ke kota, Banyak pekerjaan yang sudah menumpuk" Tukas Denis kemudian.


Ustadz Hamzah pun mangguk-mangguk mendengar ucapan Denis.


"Baiklah, tapi bagda isya ada beberapa hal yang mau bapak sampaikan, Nak Denis bisa kerumah ?" Tanya ustadz Hamzah kemudian.


"InshaAllah pak ustadz, saya akan kerumah bagda isya " Jawab Denis


Setelahnya Ustadz Hamzah dan Denis masuk kedalam masjid untuk bersama-sama melaksanakan sholat berjamaah.


Kali ini imam sholat adalah kiai sepuh karena ustadz Hamzah akan menjadi imam sholat magrib dan Isya.


***


"Nis , Aku pinjam baju kamu ya" Tanya Mahira. Karena Mahira tidak membawa baju ganti sebelumnya. Pasalnya memang tidak ada rencana untuk menginap.


"Iya Ra, kaya sama siapa aja, Ambil di lemari, pilih yang kamu suka Ra " Jawab Nissa dengan suara lembut.


Setelah membersihkan diri keduanya pun sepakat untuk ikut sholat berjamaah di masjid dengan para santri putri. Karena Nissa ingin lebih mengenal Santi Santi yang akan nantinya dia ajar.


"Assalamualaikum Ust" Ucap beberapa Santi yang melihat kedatangan Nissa dan Mahira


"Waalaikumsalam" Jawab Nissa dengan Ramah


"MashaAllah, Ustadzah Nissa cantik banget ya" Puji salah seorang santri dengan berbisik pada santri lainya.


Tidak sedikit yang mengagumi kecantikan dan ke ramah an Nissa.


"Yang di sebelah ustadzah Nissa siapa ya, Meski pakai cadar dia kelihatan cantik juga lhoo, liat aja tuh matanya bercahaya gitu" Puji santri lainya pada teman nya.


"Iya cantik dan anggun ya mereka" jawab santri lainya.


Wajar saja mereka mengagumi Nissa dan Mahira, sudah hal yang biasa gadis-gadis berusia 16 atau 17 tahun yang sedang senang senangnya mencari sosok idola.


Bahkan di dunia luar sana banyak juga yang mengidolakan artis-artis luar negeri, artis K-Pop, dan masih banyak lainya.


***


Tiba saatnya makan malam, seperti janji Denis sebelumnya, yang berjanji pada Ali, Rohmat, dan beberapa santri lain untuk makan bersama.


Denis pun ikut mengantri makanan di meja yang telah tersaji nasi dan lauk pauknya. Untuk jumlah dan banyaknya makanan yang di ambil telah di sesuaikan, karena ada juru saji yang akan mengambilkan makanan, dan mereka hanya tinggal menyodorkan piring kotak dengan empat sisi tersebut.


"Alhamdulillah, Makan enak nih " Ucap Rohmat dengan semangat.

__ADS_1


"Iya, Madang Geden Lur (Iya, Makan Besar Lur) " Ucap Ali yang memang santri yang berasal dari Jawa timur.


Denis pun hanya terkekeh mendengar celotehan para santri.


Setelah masing-masing mendapat jatah makan, kemudian mereka mencari tempat yang dirasa nyaman untuk makan malam.


Berada di pojokan aula, tempat yang di pilih untuk makan dan sekedar mengobrol dengan obrolan-obrolan anak muda yang sangat menggelikan.


" Walah Segane Kurang Lur (walah, Nasinya kurang Lur)" Ucap Ali yang baru sebentar makan sudah menghabiskan seluruh nasinya, sementara lauknya masih banyak.


Denis yang merasa kasihan pun akhirnya mengalah, dan memberikan sebagian jatah nasinya pada Ali. Karena tidak mungkin bagi mereka untuk meminta jatah lebih pada juru saji.


Celotehan demi celotehan yang tidak sengaja Denis dengar membuat dirinya merasa bahagia, tak jarang Denis pun kelepasan hingga tertawa terbahak-bahak.


Selesai dengan acara makan malam, para santri menunggu untuk sholat Isya sekalian. Karena setelah sholat Isya masih akan ada kajian untuk para santri. Jadi mereka memilih untuk menunggu daripada kembali ke asrama.


***


"Assalamualaikum" Ucap Denis Dengan berdiri di depan pintu rumah utama yang tidak tertutup.


Tok tok tok


"Assalamualaikum" ucap Denis lagi.


Meski pintu rumah tidak tertutup, Denis tidak serta Merta nyelonong masuk begitu saja, namun Denis memilih untuk tetap menunggu


"Waalaikumsalam Nak Denis, duduk dulu nak, Ummi panggilkan Abi dulu"


Ucap Ummi Zahra yang memang sudah mengetahui tujuan kedatangan Denis untuk menemui sang suami. Denis pun menganggukkan kepala sopan.


"Baik Bu nyai" jawab Denis


"Silahkan duduk nak Denis" Ucap ustadz Hamzah tatkala menghampiri Denis yang masih saja berdiri di rumah tamu.


Setelahnya ustadz Hamzah dan juga Denis pun duduk berhadapan di kursi jati ruang tamu tersebut.


"Oh jadi begini nak Denis, ada beberapa hal yang mau saya sampaikan kepada nak Denis" Ucap Ustadz Hamzah.


Denis pun hanya mendengarkan seksama, apa yang ingin di sampaikan Ustadz Hamzah.


Belum sempat ustadz Hamzah menjelaskan panjang lebar, keduanya telah lebih dulu di Hampiri oleh kiai sepuh, yang juga ikut bergabung dalam obrolan ustadz Hamzah dan Denis.


Duduk bertiga dalam satu ruangan membuat Denis merasa sedang di intimidasi, namun dirinya sendiri tidak tahu apa tujuannya.


Ada rasa penasaran, samai pada akhirnya Denis memberanikan diri untuk bertanya.


"Mohon Maaf Pak ustadz, menyambung pembicaraan yang tadi. Sebenarnya ada Perlu apa bapak mengundang saya kemari ? " Tanya Denis dengan sopan.


Ustadz Hamzah dan Kiai Sepuh pun saling melemparkan pandangan, dengan senyum ramah yang keduanya tunjukan pada Denis.


Mendapatkan senyuman yang terasa begitu hangat, justru membuat Denis semakin merasa penasaran, sebab dirinya di minta menghadap ustadz Hamzah.


"Begini nak, Langsung saja tujuan bapak mengundang nak Denis kemari adalah untuk melamar nak Denis " Ucap Ustadz Hamzah dengan sopan


"Melamar saya ?" gumam Denis lirih dengan mengerutkan dahi.


"Mohon maaf pak ustadz tunggu sebentar, ini maksudnya melamar saya yang bagaimana ya pak ?"

__ADS_1


Tanya Denis lagi Karena merasa memang dirinya belum memahami ucapan dari ustadz Hamzah sebelum nya.


"Melamar nak Denis untuk ---" Ucapan ustadz Hamzah menggantung.


Belum sampai Ustadz Hamzah memberikan penjelasan pada Denis, Nissa bersama Mahira telah datang membawa tiga cangkir teh hangat dan beberapa camilan.


Keduanya di minta Ummi Zahra untuk mengantarkan makanan dan minuman, untuk ustadz Hamzah, kiai sepuh dan, seorang tamu, yang belakangan di ketahui Mahira tamu tersebut adalah Denis.


"Mas Denis !"


"Mahira !"


Gumam Denis dan Mahira bersamaan, sejenak tatapan keduanya beradu, tatapan yang menyimpan sejuta tanya, tatapan yang saat ini justru terasa sangat menyesakan dada.


Meski mengenakan cadar, namun tidak ada keraguan sedikitpun pada Denis jika sosok di hadapannya itu adalah benar-benar Mahira.


Mahira, seorang wanita yang di hari sebelumnya telah dia lamar, yang di inginkan nya untuk menjadi seorang pendamping jidup.


Deg.


Begitu berdebar hati Mahira, jelas dia tidak salah mendengar, jika ustadz Hamzah saat ini tengah melamar Denis. Tapi untuk siapa ?


"Untuk siapa ? Gumam Mahira dalam hati.


"Tidak mungkin untuk kak Khadijah, karena dia sudah menikah"


"Tidak mungkin juga untuk Aida, Karena Aida baru saja masuk SMP"


"Lalu ?. Nissa ?, Ya sudah pasti untuk Nissa lah ustadz Hamzah melamar Mas Denis" Lirih Mahira dalam hati. Dan seketika sudut matanya pun meremang.


Banyak pertanyaan yang seketika memenuhi kepala Mahira, hingga tangannya pun terasa begitu bergetar, seiring gemuruh dalam dada yang di rasa begitu menyesakan dada, bahkan sampai Mahira beberapa kali hampir saja menjatuhkan cangkir yang dia bawa.


"Mahira" Ucap Nissa lirih


"Kamu kenapa ?" Tanya Nissa lagi.


Mahira hanya menjawab dengan gelengan kepala.


Meski memiliki banyak pertanyaan yang ingin sekali dia tanyakan pada Denis, namun Mahira memilih untuk tetap diam dan menyimpan semuanya.


Berbeda dengan Mahira yang memendam banyak tanya, Denis justru berfikir, dan merasa heran sekaligus kaget bagaimana dirinya dan Mahira, bisa bertemu di tempat ini.


Setelah meletakkan Cangkir berisi minuman dan beberapa camilan, Mahira dan Nissa pun Undur diri dengan membungkukkan badan dan menundukkan kepala.


Tidak ingin menunda pembicaraan lagi, dengan tegas ustadz Hamzah menyampaikan maksut dan tujuannya.


"Jadi begini nak, Bapak ingin melamar nak Denis untuk anak saya Nissa"


Deg.


Mahira yang masih di ambang pintu ruang tamu pun merasa sangat terkejut, lagi-lagi seketika sudut matanya menghangat, Air matanya yang bahkan tidak sempat dia bendung, hingga begitu saja merembes melalui sudut mata indahnya.


Mau heran, Tapi ya ini lah kenyataan.


Merasa aneh dengan perubahan sikap dari sang sahabat "Kamu sakit?" Tanya Nissa kemudian.


Mahira pun hanya menggelengkan kepala dengan wajah yang tertunduk.

__ADS_1


***


__ADS_2