PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
140. Biaya Perawatan


__ADS_3

Hari berganti hari, Minggu pun berganti, kondisi Ali menunjukan perubahan yang baik, begitu cepat karena memang semua perawatan yang di berikan Pada Ali merupakan yang terbaik.


Selain itu juga karena Nissa begitu telaten memberikan perhatian dan semangat pada Ali. Sudah seperti orang tua yang sangat mengkhawatirkan anak bujangnya.


Hingga Ali tidak sedikitpun merasa sedih dan kesepian, karena di saat dirinya sakit ada Nissa dan Tama yang selalu menghibur dan menemaninya.


"Ust, saya bisa makan sendiri" Ucap Ali kepada Nissa merasa sungkan jika ustadzah nya itu menyuapi dirinya terus menerus.


"Tidak papa Ali, Ust. tau kalau kamu makan sendiri pasti hanya sedikit yang akan kamu makan" Sergah Nissa kemudian.


"Tapi Ust," sanggah Ali keberatan


"Sudah, tidak ada tapi-tapian !" jawab Nissa kemudian.


Ali hanya menurut dan tidak lagi menjawab atau membalas ucapan Ustadzah nya.


Melihat perdebatan konyol antara Nissa dan Ali, membuat Tama yang duduk di sofa, yang tengah fokus pada laptop nya pun seketika teralihkan.


Mengulas sebuah senyuman manis di wajah tampan Tama. ketika menyadari begitu manisnya senyuman Nissa.


Sikap sabar, dan lembut yang di di perlihatkan oleh Nissa pada Ali, membuat Tama merasa kagum, tak terasa hal itu mampu menyita perhatian Tama.


Meski Tama menyadari luka di hatinya belum sembuh sempurna, namun tidak menampik pesona Nissa, yang mampu membuatnya terlena.


"Astagfirullah" Gumam Tama


"Sadar tam !, sadar !, Bisa jadi dia itu istri orang , Sadar !" gumam Tama dalam hati merutuki dirinya sendiri


Meski tinggal dalam satu kamar di waktu yang tidak sebentar, tidak berarti menjadi sebuah aji mumpung bagi keduanya.


Justru sebaliknya, Nissa yang sangat cuek, begitu juga Tama yang terkesan acuh.


Meski terlihat beberapa kali Tama yang memperhatikan Nissa dengan serius.


***


Ini yang penasaran sama wajah ustadzah Nissa, biar boboknya nyenyak, gak penasaran lagi. Tapi Kalau nggak sesuai mohon maaf ya 🤗🙏. Boleh kok mencari visual sesuai keinginan. masing-masing, bebas.



Ustadzah Nissa



Dokter Tama


Disini Nissa emang nggak pakai cadar ya gais, sudah di jelaskan dari awal kemunculan Nissa , kalau Nissa tidak memakai cadar, hanya Maryam dan Mahira setelahnya yang menggunakan cadar. 🥰


***


Seperti biasa kegiatan setiap hari yang di lakukan Nissa maupun Tama adalah sibuk dengan dirinya masing-masing.


Pagi hari Nissa habiskan untuk menyuapi Ali dengan makanan yang di sediakan oleh pihak rumah sakit.


Tama yang selalu sibuk dengan beberapa pekerjaannya, tidak jarang dengan beberapa operasi yang harus dia tangani, sementara Nissa yang menyibukkan diri dengan buku kesayangan ya.


tok tok tok


Ketukan pintu yang terdengar dari balik ruang perawatan Ali.


Ceklek

__ADS_1


"Permisi"


Menampakan seorang petugas laki-laki, yang belakangan di ketahui merupakan petugas pada bagian administrasi, datang dengan membawa beberapa lebar map di tangannya.


Nissa menganggukkan kepala dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.


"Silahkan pak" ucap Nissa mempersilahkan petugas tersebut masuk.


Setelahnya petugas tersebut menyampaikan maksut dan tujuannya mendatangi ruangan perawatan pasien atas nama Ali tersebut.


"Mohon maaf Bu, bisa minta waktunya sebentar, ini ada ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan, berkaitan dengan administrasi pasien" Ucap petugas tersebut dengan ramah.


"Iya pak Silahkan" Jawab Nissa sopan, dengan mengajak tamunya duduk di sofa, tempat dimana Tama pun juga duduk disana.


Setelahnya petugas tersebut memberi penjelasan berkaitan dengan rincian biaya yang harus dibayarkan selama Ali berada di tempat tersebut.


Menyodorkan sebuah map dengan logo rumah sakit, yang didalamnya terdapat rincian biaya perawatan yang di berikan pada Ali.


"Astaghfirullah" Kaget Nissa setelah melihat nominal uang yang tertera dalam kertas dalam map yang dia pegang.


Tama pun terlihat mengerutkan dahi, merasa ada perubahan dari raut wajah Nissa, yang duduk tepat di hadapannya.


"Sebanyak ini Pak?" tanya Nissa lagi memastikan. Dan petugas tersebut menjawab dengan menganggukkan kepala.


Tama hanya terdiam melihat ekspresi Nissa yang begitu lucu ketika terkejut.


Rp. 107.500.000 merupakan tagihan dari rumah sakit untuk biaya pengobatan Ali, mulai dari operasi , ruangan ICU, ruang perawatan VVIP , dan biaya-biaya obat-obatan, ditambah Ali di rawat dalam Ruang VVIP dalam waktu yang tidak sebentar.


Nissa begitu terkejut dengan nominal uang sebanyak itu, harusnya dia sudah dapat memperkirakan berapa biaya yang harus di keluarkan, nyatanya biaya yang harus di keluarkan tidak sedikit, terlebih memilih ruangan VVIP tersebut.


"Ada apa ?" tanya Tama, yang merasa kasihan pada Nissa yang bingung dengan dirinya sendiri.


"Nggak" Ucap Nissa dengan menggelengkan kepala.


Menyadari perubahan wajah Nissa ,dan kepanikan yang mungkin dia rasakan, seketika petugas tersebut memberi penjelasan.


"Maaf Bu, Anda tidak perlu khawatir, saya hanya menyampaikan rincianya saja, karena semua biaya itu telah di urus dan di selesaikan oleh dokter Tama " Ucap Petugas administrasi tersebut.


Nissa semakin dibuat terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.


Mendongakkan wajah nya, sekilas melihat pada wajah tampan sosok di hadapannya yang tersenyum ramah Nissa.


"Benarkah ?" ucap Nissa memastikan pada petugas tersebut.


"Betul Bu " Jawanya Kemudian dengan sopan.


"Ada yang perlu di tanyakan lagi buk, berkaitan dengan administrasi?" tanya petugas tersebut.


Nissa menggelengkan kepala dengan sekilas menatap Tama "Tidak ada pak, Terima kasih" Jawabnya kemudian.


Setelahnya petugas kesehatan tersebut meninggalkan ruangan tersebut, setelah berpamitan pada keduanya.


***


Nissa masih begitu terkejut dengan biaya sebanyak itu dan lagi Tama nyatanya telah melunasi semua tagihan pengobatan Ali.


"Maaf dokter Tama , Kami akan mengganti biaya yang telah dokter keluarkan untuk santri kami" Ucap Nissa lirih dengan perasaan Bingung


Tama hanya mengerutkan dahi, dan menatap wajah cemas Nissa.


"Kau tidak perlu khawatir Nissa, ini sudah menjadi tanggung jawabku" ucap Tama ramah.

__ADS_1


Nissa mendongakkan kepala "Tidak dok, karena dalam hal ini kita tidak tahu siapa yang salah, entah Ali yang kurang hati-hati menyeberang jalan, atau dokter yang kurang hati-hati" Ucap Nissa


"Jadi sebaiknya untuk biaya kita tanggung bersama" Tawar Nissa merasa sungkan.


Nissa merasa pihaknya juga perlu untuk ikut bertanggung jawab, agar kedepannya tidak ada yang di rugikan.


"Kau tidak perlu memikirkan itu, saya ikhlas, lagipula itu bukan nominal yang seberapa, nyawa Ali lebih berharga " Jawab Tama dengan mengulas senyuman ramah.


Nissa tampak menganggukkan kepala " Terima kasih dok" jawab Nissa kemudian.


"Tidak perlu memanggilku dok, karena kamu bukan pasienku" tolak Tama dengan lembut.


"Lalu saya harus memanggil apa, anda memang seorang dokter " Ucap Nissa


"Terserah" Jawab Tama singkat dengan mengangkat kedua bahunya. bersamaan.


Nissa menatap sekilas kemudian Menundukkan wajahnya lagi. "Baik " ucap Nissa kemudian.


Tok tok tok


Terdengar pintu kamar kembali di ketuk.


"Permisi" Ucap nya kemudian, menampakan sosok dokter Anton di ambang pintu masuk.


"Selamat pagi dokter Anton" Sapa Tama dengan ramah


"Pagi dokter Tama, Anda terlihat lebih segar dari biasanya" Goda dokter Anton dengan sekilas menatap Nissa


"Ah dokter Anton, Anda bisa saja" Jawab Tama dengan canggung.


Keduanya terkekeh bersama, kemudian menghampiri tempat tidur Ali, untuk memastikan kondisinya saat ini.


"Dari pemeriksaan kondisi Ali berangsur angsur membaik, dan ini luka luar sudah hampir 90% mengering, kita tinggal tunggu lukanya mengelupas sendiri, nanti saya akan resep kan salep, untuk menghilangkan bekas lukanya" Ucap dokter Anton panjang lebar.


"Untuk cedera kaki, memang harus dilakukan fisioterapi setelah ini, mengingat cedera pada kaki Ali lumayan parah, untuk mengembalikan fungsinya seperti semula perlu dilakukan fisioterapi secara berkala" Ucap Dokter Anton memberi penjelasan.


Tama hanya menganggukkan kepala memahami setiap penjelasan yang di sampaikan oleh Dokter Anton yang merupakan rekan kerjanya.


"Ada yang perlu di tanyakan?" Tanya dokter Anton lagi.


"Sepertinya tidak ada dok, Terima kasih" Jawab Tama


Dokter Anton menganggukkan kepala "Baiklah, Kali begitu saya permisi, jika.ada yang perlu di tanyakan jangan sungkan dok" Ucap dokter Anton sebelum berlalu meninggalkan ruangan tersebut.


Tama menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis.


***


Suasana pagi ini menjadi hening, seperti biasa Ali yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beristirahat, dan sesekali melakukan mobilisasi untuk menggerakkan otot tubuhnya.


Tama dan juga Nissa yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.


Karena setelah menyuapi Ali, dan setelahnya minum obat, Ali akan tidur. Dan saat saat seperti itu lah suasana menjadi sangat canggung.


Setelah kepergian dokter Anton dari ruangan tersebut, Tama pun juga menyusul untuk melaksanakan tugasnya sebagai dokter.


Mengenakan jas dokter , sekilas Tama terlihat begitu mempesona tampak dari Pandang mata Nissa.


"Astaghfirullah" gumam Nisa lirih.


"Aku akan segera kembali setelah semua tugasku selesai, Jika ada apa-apa katakan pada perawat, mereka akan segera mengajariku" Ucap Tama berpamitan pada Nissa

__ADS_1


Nissa menjawab dengan anggukan kepala "Baik dok" Jawabnya kemudian.


***


__ADS_2