
Keduanya tiba di kediaman Abi Hanif saat hari mulai petang, setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kurang lebih dua jam untuk menuju kediaman Abi hanif.
Dua jam yang begitu cepat terasa bagi keduanya untuk bernostalgia mengenang persahabatan mereka.
Sebenarnya Reza telah menawarkan Tama untuk langsung mengantar pulang ke kediaman Tama, dan soal mobil Tama, asisten Reza yang akan mengurusnya.
Namun Tama yang merasa sungkan , dan menolak tawaran dari Reza, memilih untuk mengambil sendiri mobilnya di kediaman Abi Hanif.
"Assalamualaikum" Sapa Reza pada Maryam yang terlihat telah menunggunya di depan pintu rumah.
"Waalaikumsalam, mas dari mana saja, kenapa sejak pagi tidak memberikan kabar!" Tanya Maryam, tampak mencemaskan kondisi sang suami
"Tenanglah sayang, aku akan menceritakan semuanya padamu, setelah kita makan malam " ucap Reza dengan mengusap perutnya yang sudah merasa sangat kelaparan.
"Maryam ajak suamimu masuk" ucap Abi Hanif yang melihat ketiganya masih asyik mengobrol di teras rumah.
Menyadari kedatangan Reza yang bersama dokter Tama, Maryam segera mempersilahkan Tama untuk masuk kedalam rumah dan beristirahat.
Maryam segera berlalu bersama Reza meninggalkan Abi Hanif dan Tama di tempat semula.
Setelah di kamar, Maryam bergegas untuk menyiapkan segala keperluan Reza dengan teliti mulai dari air hangat yang akan di gunakan untuk membersihkan dirinya, serta baju yang akan di kenakan oleh suaminya.
"Mas, Tadi Maryam sudah sholat, mas Reza langsung sholat saja, Maryam akan ke dapur menyiapkan makan malam untuk kita semua" Ucap Maryam memberi penjelasan. dan Reza menganggukkan kepalanya.
Abi Hanif yang menyadari Tama masih berdiri, segera mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah.
"Silahkan masuk dok" Ucap Abi Hanif pada Tama
"Terima kasih Abi " Tama tampak mengangguk sopan.
Abi Hanif mempersilahkan Tama untuk segera membersihkan dirinya, dan melaksanakan sholat magrib, dan setelahnya mengajak Tama untuk bersama-sama makan malam.
Sebelumnya Abi Hanif telah meminta Bi Inah untuk menyiapkan keperluan seperti pakaian dan air hangat untuk Tama.
***
Semua orang telah selesai dengan acara makan malam mereka.
Tiba saatnya bagi Tama untuk berpamitan pada Abi Hanif dan seluruh keluarga, Abi hanif pun sempat melarang Tama untuk melakukan perjalanan pada malam hari, dan menyuruhnya untuk menginap satu malam lagi.
Namun Tama menolak karena esok hari dirinya ada beberapa jadwal operasi yang akan di lakukan pagi hari, sehingga dirinya menolak tawaran Abi Hanif untuk menginap.
__ADS_1
Setelah kepergian Tama dari kediaman Abi Hanif terlihat Abi Hanif , ummi Maya, Maryam,dan Reza tengah di ruang Keluarga.
Suasana malam di lewati keluarga Abi Hanif dengan obrolan hangat antara Reza ,Maryam, Ummi Maya, dan Abi hanif.
"Kapan kamu akan memberi ummi Momongan Maryam" Ucap ummi Maya di sela-sela obrolan mereka.
Maryam tampak malu malu mendengar pertanyaan dari Ummi Maya.
"Sedang di Upayakan Ummi" Sergah Reza , sebelum Maryam sempat menjawab pertanyaan Ummi Maya.
"Tidak hanya satu, kami akan memberi Ummi dan Abi Cucu yang banyak" Ucap Reza dengan tawa renyah.
Maryam yang mendengar ucapan sang suami hanya menggelengkan kepala dan mengulas sebuah senyum simpul di wajah cantiknya.
"MashaAllah, Semoga Allah mudahkan semua harapan dan keinginan kalian" Tukas Abi Hanif dengan perasaan bahagia.
Malam semakin larut, Reza dan Maryam memutuskan untuk kembali ke kamar untuk beristirahat. Karena esok hari pagi-pagi sekali Reza telah berencana akan kembali ke kota. Ada beberapa pertemuan penting yang sudah di jadwalkan oleh Sang asisten, jadi mau tidak mau Reza akan melakukan perjalanan pagi hari.
***
Hari baru.
Tidak banyak obrolan antara Reza dan Maryam di dalam mobil.
Satu harapan Reza, hanyalah agar sang mantan istri merasakan akibat dari perbuatannya, mendekam di balik jeruji dalam waktu yang cukup lama.
Tidak seperti biasa Maryam terlihat murung dan tidak bersemangat, beberapa kali Reza memperhatikan gelagat sang istri dari sudut matanya.
"Kau pucat sekali sayang" Ucap Reza yang sesekali memerhatikan sang istri.
"Apa kau sakit ?" Tanya Reza lagi.
Maryam menjawab dengan sebuah gelengan kepala. Dan Reza kembali fokus dengan kemudi nya.
Perjalanan kali ini banyak Maryam habiskan untuk merebahkan tubuh pada sandaran mobil dan tidur, tidak seperti biasanya Maryam yang akan selalu menemani sang suami, meski hanya untuk mengobrol sembari Reza fokus mengemudi.
Namun Reza pun tidak merasa keberatan dengan hal itu.
Meski sejujurnya Maryam merasa sangat tidak enak badan, namun urung untuk mengatakan pada sang suami karena tidak ingin membuat Reza khawatir.
Beberapa saat menempuh perjalanan, akhirnya keduanya tiba di kediaman Reza, rumah megah bak istana tersebut.
__ADS_1
Seperti biasa beberapa pelayan akan sigap menyambut keduanya, bukan hanya menyambut, namun siap membawakan barang bawaan Maryam maupun Reza.
Karena seperti biasa jika Maryam pulang dari rumah Abi Hanif, maka ummi Maya akan membawakan banyak oleh-oleh seperti teh yang di produksi oleh pabrik Abi Hanif, dan beberapa oleh-oleh lainya, yang tidak hanya untuk Kakek Amar dan Nenek Halimah saja, namun oleh-oleh tersebut akan rata juga untuk seluruh pelayan dan penjaga rumah Reza.
Reza yang menyadari perubahan sikap sang istri segera meraih bahu Maryam dan memapahnya.
"Sungguh kau baik-baik saja ?" Ucap Reza dengan perasaan cemas
"Tentu saja mas, Maryam baik-baik saja" Ucap Maryam dengan mengulas sebuah senyum dibalik cadar yang dia kenakan.
"Benarkah ?, atau kita ke dokter?" Ucap Reza lagi.
"Tidak perlu mas, lebih baik mas Reza segera bersiap untuk ke kantor" Tukas Maryam.
"Atau aku akan panggilkan Tama, biar dia memeriksa mu" Pinta Reza lagi tampak semakin mencemaskan kondisi sang istri.
Mendengarkan penuturan dari sang suami seketika membuat Maryam mendelik
"Mas, Dokter Tama itu spesialis jantung, Bukan dokter umum, Dan Maryam baik-baik saja " Ucap Maryam lembut.
Maryam yang menyadari jika sang suami sangat sibuk, dan memiliki banyak janji dengan beberapa kolega, tidak ingin membuat Reza membatalkan janji yang telah di buat hanya untuk mengantarkan dirinya ke dokter.
"Tenanglah mas, jika ada sesuatu, banyak pelayan yang akan membantu Maryam mas" Ucap Maryam dengan suara lembut dan usapan di bahu kekar sang suami..
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar" Ucap Reza
"Kau harus beristirahat, dan jangan lupa memberi kabar jika terjadi sesuatu" Ucap Reza lagi.
Maryam menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis di wajahnya.
Setelah memastikan Maryam istirahat di dalam kamar, meski dengan perasaan cemas, akhirnya Reza meninggalkan Maryam, dan berangkat ke kantor.
Kali ini Maryam tidak mengantar Reza ke depan seperti yang biasa Maryam lakukan.
Maryam merasa tubuhnya berangsur melemah, tidak ada gairah untuk makan, dan hanya ingin segera tidur kembali.
Hal ini sedikit mengundang tanya dari para pelayan, tidak biasa sang nyonya muda tersebut akan tidur pada pagi hari seperti ini, meski di rumah Maryam selalu produktif dengan membuat minuman atau sirup herbal sebagai persediaan untuk kakek Amar dan nenek Halimah, ketika dirinya pergi.
Namun pagi ini Maryam memilih mengurung diri di kamar.
Reza telah memberi pesan kepada kepala pelayan yaitu Bi Siti untuk menjaga sang istri dan memastikan kondisi Maryam baik-baik saja.
__ADS_1