PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
54. Berbincang bersama


__ADS_3

"Kakek .. Nenek ...Hari sudah semakin sore , kita masuk yuk" ucap Maryam lembut pada keduanya.


Kakek dan nenek Halimah tersenyum dengan anggukan kepala


Maryam mengambil alih dorongan Kursi roda nenek Halimah dan membawanya masuk.Ketiganya lantas berjalan beriringan.


"Kakek dan nenek mau ke kamar ? " Tanya Maryam masih dengan langkah menuju rumah.


Belum sempat keduanya menjawab pertanyaan Maryam, Reza telah berdiri tepat di ambang pintu masuk


"Baru Reza mau susul, Kakek dan nenek sudah masuk" Ucap Reza dengan senyum ramah.


"Ahh !! kamu za, Sejak kapan kamu mau temani kakek dan nenek duduk bersantai" Ucap kakek Amar ketus


"Bukanya kamu selalu mengatakan jika sedang sibuk" Tukas Kakek Amar lagi dengan nada ketus


Reza hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Maryam ... Bawa nenekmu ke ruang keluarga" Ucap kakek Amar memerintah..


"Baik kek" Jawab Maryam singkat


Setelahnya kakek Amar merangkul bahu Reza dan mengajak serta menuju ruang keluarga.


Keempatnya duduk bersama di sana. Sangat jarang bagi Reza memang untuk duduk bersantai menikmati hari bersama kakek dan neneknya.


Beberapa pelayan pun merasa banyak perubahan pada diri Reza setelah menikah dengan Maryam.


Reza menjadi seseorang yang lebih tenang, meskipun wajahnya masih dingin, namun saat ini Reza tidak lagi dengan mudahnya memecat pelayanan hanya karena kesalahan kecil.


Reza lebih bijak dalam mengontrol emosinya.


Beberapa dari para pelayan menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka..


"Tumben sekali Za hari ini kamu pulang cepat" Tanya nenek Halimah


Mendengar pertanyaan dari neneknya seketika raut wajah Reza berubah


"Emm..emm itu nek, tadi tidak banyak pekerjaan" jawab Reza gelagapan dengan tersenyum kecut.


Reza tidak mungkin jujur pada keduanya jika tadi dirinya membuntuti Maryam sampai di ruang kelasnya, Bisa jatuh harga diri Reza saat itu juga.


"Kek, Nek, Mas Reza tadi..." ucap Maryam terputus dengan pandangan mata kearah Reza.


"Mati lah aku" Batin Reza


"Mas Reza tadi Menemani Maryam berbelanja beberapa kebutuhan dapur " Ucap Maryam lembut.


"Setelah itu Mas Reza memilih untuk langsung pulang bersama Maryam, dan tidak kembali ke kantor lagi" Jawab Maryam memberikan penjelasan pada kakek dan neneknya.


Mendengar jawaban Maryam seketika Reza tersenyum dan bernafas lega. Dibalas anggukan kepala oleh kakek Amar.

__ADS_1


Suasana seketika tenang kembali


"Kalian sudah menikah selama dua bulan, apa tidak ada keinginan untuk bulan madu ?" tanya nenek Haliman pada keduanya


Reza dan Maryam saling melemparkan pandangan dengan senyum kecut yang tidak dapat di artikan


"Kakek dan nenek tidak masalah jika kalian akan berbulan madu, justru kami senang" Timpal kakek Amar kemudian


"Emm Reza masih banyak pekerjaan kek" Jawab Reza datar dengan tersenyum getir


"Pekerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya za, lalu kapan kalian akan memberi kami cicit?" Tukas Kakek Amar kemudian


"Betul, kali sudah cukup tua, mungkin saja kami tidak akan lama lagi menghadap yang kuasa" Ucap nenek Halimah


"Nek..." Ucap Maryam lembut, dengan usapan di tangan nenek Halimah.


"Nenek dan kakek sudah punya segalanya, kami hanya minta satu hal itu saja dari kalian" Tukas nenek Halimah kemudian


"InshaAllah nek, Doakan Maryam dan mas Reza segera diberikan momongan " Ucap Maryam sopan dengan nada lembut yang menenangkan Untuk kakek dan nenek Halimah begitu juga dengan Reza


Mendengar penuturan dari Maryam Reza merasa bahagia, Maryam sudah membuka celah bagi dirinya untuk sepenuhnya masuk kedalam hatinya. Reza tersenyum bahagia di sela-sela obrolan mereka.


Kakek dan nenek Halimah merasa sangat bahagia dengan perubahan sikap Reza saat ini. Keduanya merasa Reza telah mendapatkan sosok yang dia butuhkan selama ini yaitu Maryam.


"Semoga Kalian segera di berikan momongan " Ucap nenek Halimah


"Kakek dan nenek akan menanti hari bahagia itu " Tukas kakek Amar dengan lembut pada Reza dan Maryam


Beberapa.saat perbincangan diantara ke empatnya, terdengar adzan magrib berkumandang.


Maryam telah selesai dengan tugasnya mengantar kakek dan nenek Halimah menuju kamar. Setelahnya Maryam bergegas menuju kamar untuk juga melaksanakan sholat.


***


Di dalam kamar terlihat Reza telah siap dengan Baju Koko Kurta dan sajadah yang telah dia gelar untuk keduanya melaksanakan sholat berjamaah


"MashaAllah" ucap Maryam bahagia dengan senyum merekah di pipi mulusnya


Melihat Reza yang telah berubah, seketika sudut mata Maryam berembun tanpa diketahui Reza. Tidak sampai buliran itu jatuh Maryam segera menyekanya dengan kedua telapak tangannya.


"Maryam Ambil wudhu dulu mas " Ucap Maryam sembari berlalu menuju kamar mandi


Reza tersenyum.


Keduanya segera melaksanakan sholat dengan khusyuk dengan Reza sebagai imam sholat.


Beberapa saat keduanya telah selesai sholat dan Maryam meraih punggung tangan Reza dan menciumnya dengan takzim.


Reza lantas mencium puncak kepala Maryam, dan mengusap lembut ubun-ubun Maryam yang tertutup oleh mukena.


Seketika tatapan keduanya beradu mesra penuh damba.

__ADS_1


Reza berbalik, menyandarkan punggungnya di tempat tidur, kemudian segera menarik Pinggang Maryam dan menyandarkan pada dada bidang Reza.


Maryam duduk di depan Reza dengan posisi membelakangi Reza. menyandarkan punggung dan kepalanya pada dada bidang dan bahu seluas samudra itu.


Reza melingkarkan kedua tangannya hingga menutup sempurna bagian perut Maryam.


Masih diatas sajadah dan masih dengan perlengkapan sholat sebelumnya, keduanya saling berbicara dalam isyarat.


Suasana menjadi sangat hening tanpa suara, Hanya terdengar deru jantung dari keduanya yang saling bertautan.


"Maryam" Panggil Reza dengan nada lembut


"Ya" Jawab Maryam singkat.


"Terima kasih" Ucap Reza kemudian


"Untuk apa mas ?" Jawab Maryam lagi.


"Untuk kesabaranmu menghadapi diriku, dan Untuk mu yang selalu menjaga kakek dan nenek" Ucap Reza lembut


Maryam tersenyum


"Dan terima kasih telah hadir dalam hidupku " Ucap Reza dengan suara serak.


"Maryam senang mas, Maryam bahagia, Semua yang kita rasakan saat ini merupakan takdir yang sudah Allah SWT tuliskan di Lauhil Mahfudz" ucap Maryam lembut


Reza tersenyum dengan penuturan Maryam.


Suasana kembali tenang dan hening seperti semula.


" Lalu, apa kau benar-benar sudah siap untuk berpetualang" Goda Reza kemudian, memecah keheningan diantara keduanya


Maryam seketika refleks menutup wajah dengan kedua tangannya.


Reza menundukkan wajahnya melihat rona Maryam yang berubah menjadi merah.


"Kenapa harus membahas itu lagi mas " Tanya Maryam dengan malu


"Kenapa ? , Apa tidak boleh ? " ucap Reza kemudian


"Bukan begitu, Maryam malu mas " Jawab Maryam dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa harus malu, Meski aku sudah menikah sebelumnya, tapi pembahasan mengenai ranjang, hanya bersama mu aku merasa bahagia, meski kita belum melakukanya " Ucap Reza lembut dengan senyuman manis.


Maryam semakin tertunduk malu.


***


Bersambung


***

__ADS_1


Jangan lupa Dukunganya ya untuk author 🥰


__ADS_2