
Seperti biasa, kegiatan pagi hari Maryam akan menyiapkan segala kebutuhan Reza untuk ke kantor, memastikan tidak ada yang kurang pada diri Reza, hingga ketampanan dari seorang Reza Abizar El Shirazy bertambah berkali lipat.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi Reza bergegas berpamitan kepada kakek dan neneknya untuk ke kantor.
Tidak lupa Maryam juga selalu mengantarkan Reza hingga ke teras rumah mewah tersebut. Namun pagi ini tidak hanya mengantar sampai ke teras , tetapi juga Maryam ke kampus dengan diantarkan oleh Reza, karena kebetulan pagi ini Maryam ada kelas.
Sepanjang perjalanan keduanya saling mengobrol, tak jarang mengundang gelak tawa antara Maryam maupun Reza.
"Apa kau tidak ingin berkunjung ke Rumah Abi dan Ummi sayang ?" Tanya Reza dengan meraih Tangan Maryam dan mencium mesra punggung tangan halus itu.
"Sepertinya sudah hampir satu bulan tidak mengunjungi mereka" Ucap Reza lagi.
"Apa kau tidak merindukan mereka, Atau karena sudah ada aku?" Ucap Reza kemudian dengan nada congkak dan alis yang senantiasa naik turun.
Maryam tersenyum lebar mendengar kalimat yang keluar dari mulut manis Reza. "Sebetulnya Maryam sangat ingin mas, hanya saja Maryam sungkan" Jawab Maryam kemudian
"Sungkan kenapa ?" Tanya Reza penuh selidik
"Apa kau sedang berpikir jika aku tidak akan mengizinkanmu ?" Tebak Reza dengan menyatukan kedua alisnya, dan tatapan mengintimidasi.
Maryam hanya mengangguk pelan dengan senyum simpul di wajahnya, tatkala mendengar ucapan Reza, sejujurnya memang hal itu lah yang di takutkan Maryam, hingga dirinya ragu untuk meminta izin pada sang suami.
"Bersiaplah sore ini aku akan membawamu kesana" Ucap Reza kemudian
Seketika bola mata Maryam berbinar dengan ajakan suaminya.
"Sungguh ?" Ucap Maryam memastikan ucapan Reza
"Tentu saja " Ucap Reza singkat.
Maryam tampak sangat bahagia , dengan wajah berseri dan manik mata yang berbinar , tanpa di sadari Maryam telah melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Reza, dan menyandarkan kepalanya pada bahu luas , seluas samudra tersebut.
Reza pun hanya tersenyum simpul, melihat begitu sederhana dan mudah membuat sang isteri bahagia, meskipun itu hanya karena hal kecil.
"Kau memang berbeda" Gumam Reza dalam hati dengan mengulas senyum di wajah tampannya
Setelah beberapa saat mobil melaju, memecah padatnya jalanan kota, akhirnya mobil mewah Reza masuk pada sebuah parkiran di Fakultas Kedokteran dimana Maryam belajar disana.
Terlihat wajah murung Reza tatkala Maryam bersiap mengenakan cadar , untuk turun dari mobilnya.
"Sayang" Ucap Reza lirih
"Iya " Jawab Maryam lembut dengan tatapan teduh pada sang suami.
__ADS_1
Reza tampak menghela nafas panjang, sejujurnya enggan untuk mengatakan, namun hal ini sangat mengganggu Reza beberapa hari terakhir
"Mas ?, Ada apa ?" Tanya Maryam lagi dengan suara lembut, tatkala mendapati Reza hanya bengong dengan pandangan entah kemana
"Apa kau akan bertemu Tama ?" Ucap Reza kemudian dengan suara malas.
"Tentu saja Mas, Selain kelas Prof. Bambang hari ini juga ada kelas dokter Tama" Ucap Maryam lembut dengan mengulas senyum manis di bibirnya memberi penjelasan pada sang suami.
Reza tampak mendramatisir keadaan dengan menampakkan raut waja memelas, berharap Maryam tidak mengikuti kelas Dokter Tama.
Bahkan hanya dengan membayangkan Tama yang selalu memandang Maryam saja membuat hati Reza meradang dan ingin rasanya melayangkan bogem pada wajah dokter Tama.
"Haruskah Tama ?, Tidak bisakah kau mengikuti kelas dokter lain ?" Ucap Reza dengan wajah memelas, tidak rela jika Maryam yang dia cintai menjadi pemandangan indah bagi Laki-laki lain.
"Mas, Bukan begitu konsepnya !" Ucap Maryam dengan senyum simpul di wajahnya.
"Lagi pula kenapa mas Reza sangat membenci dokter Tama?" Ucap Maryam penuh selidik.
"Hah ! Tentu saja karena aku tidak ingin jika dia merebut mu dariku !" Ucap Reza lantang tanpa berpikir panjang.
Seketika Reza mengatupkan kedua bibirnya, setelah memberi pengakuan pada Maryam mengenai tidak sukanya pada sosok Tama.
Maryam terkekeh kecil mendengar penuturan dari Reza yang dianggapnya sangat menggelikan.
Dengan hembusan nafas panjang Maryam meraih tangan Reza, memberikan usapan lembut disana. Dan tersenyum manis dengan tatapan penuh cinta.
"Maksut mu? " Tanya Reza kemudian dengan alis yang bertaut , tampak sedang mencerna perkataan Maryam sebelumnya.
Terlihat Maryam kembali menyandarkan Punggungnya di sandaran mobil mewah Reza, menarik nafas dalam dan seketika menghembuskan perlahan."Sejujurnya Maryam tidak tahu pasti sejak kapan dokter Tama menaruh hati pada Maryam" Ucap Maryam seketika.
"Lalu ?" Sergah Reza, tampak penasaran.
"Lalu , Maryam menikah dengan mas Reza" Ucap Maryam menggoda dengan tersenyum geli.
Reza tampak sedikit kesal tidak terima dengan jawaban Maryam yang terkesan bercanda, padahal Reza sudah sangat serius mendengarkan.
Menyadari hal itu , Maryam kembali fokus dengan ucapannya, dan membenarkan posisi duduknya semula.
"Memang, Dokter Tama pernah membuat pengakuan. Namun niat Maryam itu untuk menikah, bukan untuk menjalin hubungan tanpa arah"
Ucap Maryam dengan suara lirih dan pandangan fokus pada manik hitam Reza.
"Jadi kau menolaknya ?" Ucap Reza tampak berbinar dengan sorot mata membulat.
__ADS_1
Maryam hanya mengangkat kedua bahunya, dan mengulas sebuah senyum simpul disana.
Penuturan yang di sampaikan Maryam seketika membuat hati Reza merasa lega dan tenang.
"Apa mas Reza sudah puas ?" Ucap Maryam kemudian ,ketika melihat mimik waja sang suami yang begitu bahagia dengan senyum yang entah isyarat apa .
"Tentu saja" Ucap Reza lantang dengan penuh semangat
Karena rasa bahagia yang membuncah dalam dad, seketika Reza membingkai wajah Maryam dengan kedua tangannya, dan membenamkan beberapa ciuman dari puncak kepala, pipi dan terahir pada bibir ranum Maryam yang tampak menggoda.
Sejenak Maryam larut dalam penyatuan singkat keduanya, tersadar setelah Maryam merasa kehabisan nafas, dan sesak dalam dada , menyadari hal itu barulah Reza melepaskan Maryam.
Sejenak pandangan keduanya menyatu, dengan perasaan masing-masing, dan mengukir senyum manis di sana.
"Malu mas " Ucap Maryam kemudian dengan menundukkan wajahnya.
"Kenapa harus malu, bukankah kita sudah SAH" ucap Reza dengan nada santai.
"Bukan begitu, hanya saja ini di tempat umum mas !" Ucap Maryam kemudian dengan nada sedikit menekan.
"Tenang saja sayang, tidak akan ada orang yang melihat" Ucap Reza
"Mobil ini sudah di rancang khusus, jadi tidak akan ada orang yang tahu kita sedang berbuat apa, Kalaupun lebih dari tadi, aku rasa juga orang lain tidak akan tahu " Ucap Reza dengan senyum smirk
"Mas ! " Sergah Maryam kemudian
Reza hanya terkekeh melihat rona wajah Maryam yang mengubah menjadi merah merona.
"Kenakan Cadarmu, aku tidak ingin orang lain melihat kecantikan Bidadariku ini" Ucap Reza dengan suara lirih, dan nafas yang masih memburu
Maryam mengangguk pasti dan meraih cadarnya yang telah Reza letakkan di sembarang tempat, sebelum Reza menciumnya.
Segera Maryam meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan Reza dengan takzim.
Reza tampak tetap mengamati Maryam yang berjalan lurus meninggalkan parkiran.
Hingga Maryam tak lagi dapat terlihat oleh pasang mata Reza, barulah dia pergi meninggalkan kampus tersebut.
***
Bersambung
***
__ADS_1
Peluk jauh buat para reader kesayangan aku. 🤗🤗🥰
Terima kasih sudah selalu membaca tulisanku yang masih jauh dari kata baik ini . 🙏🙏😂