PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
156. Pulang


__ADS_3

Hening.


Suasana seketika menjadi hening, ketika Reza menanyakan hal itu.


"Apa ada, Kenapa mas Reza tiba-tiba tertarik membahasnya ?" Tanya Maryam penuh selidiki


"Bukan, bukan begitu maksudku"


"Kami tidak tahu !, dan itu adalah bagian dari masa lalu ka Ira, Maryam rasa sebaiknya kita tidak perlu membahasnya" Ucap Maryam dengan suara pelan namun penuh ketegasan.


Menyadari perubahan dari raut wajah sang istri Reza pun memilih bungkam, bukan cemburu, namun lebih pada tidak ingin mengorek luka lama keluarganya yang pernah begitu menyakitkan dan karena rasa sayangnya Maryam terhadap sang kakak.


***


Hari menjelang magrib saat Tama memarkirkan mobilnya di parkiran pesantren.


Bu Siska terlihat begitu takjub melihat pesantren yang berdiri kokoh disana, tidak menyangka jika orang tua Nissa mengelola pesantren sebesar ini.


"Ada apa ma ?" tanya Tama dengan meraih bahu sang mama yang masih terbengong menatap setiap sudut rumah Nissa.


"Nggak tam, Mama kagum aja " Jawabnya seraya berjalan mengekor Nissa dan pak fajar yang berjalan mendahului.


"Kamu kok Bisa tiba-tiba memilih Nissa sih tam, Ceritanya gimana ?" Tanya Bu Siska yang masih memendam rasa penasaran.


"Ceritanya panjang ma, lain kali Tama ceritakan" Ucap Tama dengan mengulas senyum manis.


"Oke " jawab Bu Siska pasrah


***


Duduk di ruang tamu, Merupakan kali pertama bagi Bu Siska dan pak fajar, dimana keduanya memiliki niatan baik untuk meminta secara langsung Nissa untuk menikah dengan putra semata wayangnya.


"Terima kasih pak Hamzah telah menerima kami dengan baik" Ucap pak Fajar dengan sopan.

__ADS_1


"Saya yang terima kasih , Bapak dan ibu telah mengantarkan putri kami sampai ke sini" Ucap ustad Hamzah dengan tidak kalah sopan.


Jadi begini pak Hamzah, Maksut dan tujuan kami datang ke sini adalah untuk melamar putri bapak Nissa Untuk anak kami Tama " Ucap pak Fajar tanpa basa-basi.


Tidak ada rasa kaget di wajah ustadz Hamzah, karena ada dasarnya hal ini akan datang, terlebih setelah lamaran Tama tempo hari.


Sebuah senyum ramah tergambar jelas di raut wajah Ustadz Hamzah dan sang istri.


"InshaAllah kami menerima nak Tama " Ucap ustad Hamzah dengan mantap.


Tidak pikir panjang karena merupakan tujuan baik mereka datang, maka tidak ada alasan bagi ustadz Hamzah untuk berfikir kembali.


"Alhamdulillah" Lirih Bu Siska dan Pak Fajar serta Tama bersamaan.


Setelah kedua belah pihak saling menyetujui, tiba pada pembahasan mengenai tanggal pernikahan.


Karena ini merupakan pernikahan yang akan di gelar untuk pertama kali bagi keluarga Tama dan mungkin hanya sekali saja, maka Bu Siska berencana membuat acara besar-besaran.


Hari, Tanggal, Bulan , dan tahun telah di sepakati oleh kedua keluarga. Kedua keluarga tampak lega dan sangat bahagia dengan rencana baik tersebut. Terlebih Tama dan Nissa yang terlihat begitu bahagia, senyum manis jelas terlihat di wajah keduanya.


***


Hari baru.


Maryam dan Reza tengah berada di ruangan dokter Anita untuk memeriksakan kondisi kehamilan nya.


"Alhamdulillah Bu Maryam berdasarkan hasil pemeriksaan semuanya baik, Untuk jenis kelamin memang belum begitu bisa di pastikan, Menginjak Trimester dua kita cek " Ucap Dokter Anita memberi saran.


"Dan untuk berkendara jarak jauh InshaAllah tidak masalah, selama tetap berhati-hati "


Maryam dan Reza tampak menganggukkan kepala "Alhamdulillah, Terima kasih dok" Ucap Maryam


Maryam menanyakan banyak hal, terlebih mengenai rencana nya yang akan pulang kampung, dalam rangka menyambut pernikahan sang kakak, yang hanya tinggal menghitung hari.

__ADS_1


"Sama-sama Bu Maryam, jika ada kesulitan atau apa pun, Bu Maryam jangan sungkan hubungi saya "


"Bai dok"


"Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamualaikum " Ucap Annisa dengan berlalu meninggalkan ruang dokter.


Setelah kepergian Maryam dan Reza dadi ruang dokter, keduanya bergegas untuk pulang.


Mempersiapkan segala sesuatu yang di butuhkan selama menginap di kediaman orang tua Maryam.


Terlebih Reza yang begitu over protektif terhadap Maryam, sejujurnya reza tidak ingin Maryam ikut Ke kota sang Abi, namun Maryam memaksa karena alasan ini merupakan pernikahan sang kakak satu-satunya.


Alhasil mau tidak mau Reza lah yang akhirnya mengalah.


***


Waktu menunjukan pukul 14.15


Reza dan Maryam tengah berada dalam satu mobil, keduanya sudah bersiap untuk menempuh perjalanan menuju kediaman Abi Hanif.


Perasaan bahagia bercampur haru menyelimuti hati Maryam, akhirnya hati yang di nantikan sang Kakak akan datang juga.


"Kenapa sayang ?" Tanya Reza yang melihat perubahan pada raut wajah sang istri.


"Apa kau sedih ?"


"Atau apa kau merasa kesakitan ?" Panik Reza yang seketika menepikan mobilnya.


Maryam menggelengkan kepala, "Nggak mas, Maryam hanya terlalu bahagia, akhirnya ka Ira mendapatkan kebahagiaanya juga"


Mendengar hal itu Reza pun tersenyum , Nyatanya sebab air mata Maryam adalah rasa bahagia yang tengah dia rasakan.


***

__ADS_1


__ADS_2