
Waktu menunjukan pukul 02.15 dini hari.
Ceklek.
Tama masuk kedalam ruang perawatan Ali, Pemandangan pertama yang Tama lihat saat itu adalah Nissa yang tengah duduk bersimpuh diatas sajadah, khusyuk dengan bacaan Al-Qur'an.
Suara merdu yang begitu menentramkan hati, mengobati duka lara yang sebelumnya Tama rasakan.
"Merdu sekali suaranya" gumam Tama dalam hati mengagumi keindahan bacaan Al-Qur'an Nissa.
Nissa begitu khusyuk, hingga dia tidak menyadari Tama masuk kedalam ruangan tersebut.
"Shodakallahuladzim" ucap Nissa dengan mengakhiri bacaannya
Setelahnya Nissa menutup dengan doa kafaratul majlis, dan meletakkan handphone miliknya, karena sebelumnya Nissa membaca Al-Qur'an menggunakan aplikasi Al-Qur'an digital di handphone miliknya.
"Astaghfirullah" Nissa yang terperanjat kaget melihat Tama yang tengah duduk di sofa dengan pandangan mengarah padanya.
"Kau !" pekik Nissa dengan memegang dada yang masih berdebat karena rasa terkejut.
"Hantu ?" Sergah Tama kemudian.
"Aku sudah di sini sejak tadi" jawabnya lagi.
"Maaf aku tidak tahu" jawab Nissa dengan melipat kembali mukena yang dia kenakan.
"Bagaiman kau melihatku, kau sangat Khusyuk dengan bacaanmu" ucap Tama kemudian.
Nissa hanya menundukkan kepala.
"Kau tidak tidur ?" tanya Tama yang duduk dengan menyandarkan bahunya di sofa, Masih Dengan setelah dinas malam Yaang dia kenakan.
"Aku baru saja bangun" Jawab Nissa singkat.
"Oh" Jawab Tama
Karena Tama di Sofa, Nissa memilih duduk di kursi tunggu , di sebelah Ali.
***
Pagi menjelang.
Tok tok tok
Suara ketukan, yang terdengar dari balik pintu.
Tidak lama disusul pintu terbuka, menampakkan Reza dan Maryam yang berdiri disana.
"Assalamualaikum" ucap Maryam dengan melangkah masuk kedalam kamar perawatan Ali.
"Waalaikumsalam" jawab Nissa dan Ali bersamaan.
Ali yang meski dalam kondisi sakit, tetap bangun pagi untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh. Sementara Tama masih terlelap dalam buaian sofa empuk ruangan tersebu.
"Ka Nissa ?" Sapa Maryam, Setelah mengetahui sosok orang yang dia kenal berada di tempat tersebut.
__ADS_1
Nissa tampak mengerutkan dahi, dan sejenak meneliti sosok wanita bercadar di hadapannya.
"Maryam !" Ucap Nissa kemudian. Dan Maryam menjawab dengan anggukan kepala.
"MashaAllah Maryam, Kakak tidak menyangka kita akan ketemu di sini" Ucap Nissa dengan wajah berbinar.
"Iya ka, Kakak kok disini ?" tanya Maryam kemudian
Maryam dan Nissa emang sudah saling kenal sebelumnya, Karena Nissa yang berteman akrab dengan sang Kaka Mahira.
"Iya Nis, Ali ini santrinya Abi " jawab Nissa singkat.
Maryam langsung paham jika , tujuan Nissa berada di tempat tersebut adalah karena sebuah rasa tanggung jawab sebagai guru kepada muridnya.
Terlebih Nissa yang telah menceritakan jika orang tua Ali berada di luar negeri.
Sementara Maryam tengah asyik mengobrol dengan Nissa , Reza sibuk membangunkan perjaka tua di hadapannya.
"Woi Bangun ! " Suara Reza yang meminta sahabatnya untuk bangun
"Astaga, Tama !" Ucap Reza lagi dengan menggoyangkan bahu Tama.
"Udah disini aja Lo Za " ucap Tama dengan menggeliatkan badanya.
"Parah Lo, bilangnya jagain, Malah Ngorok gini " Ketus Reza pada sang sahabat.
"Sorry Sorry , Gue semalem ada operasi, Mangkanya gue ketiduran" jawab Tama dengan muka malas. Reza hanya menggelengkan wajah.
Setelah kesadarannya pulih sempurna, Tama berpamitan pada Reza , Maryam dan juga Nissa untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.
Setelah kepergian Tama , Maryam memperkenalkan Reza pada Nissa yang merupakan suaminya. Ketiganya saling berbincang.
Tidak berselang lama pintu ruangan kembali terbuka, menampakkan Tama yang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang lebih segar dan baju bersih yang dia kenakan.
"Lo nggak ke kantor Za" tanya Tama yang telah duduk di sofa.
"Ke kantor habis ini, Ini Maryam bawain sarapan buat Lo sama Nissa" Ucap Reza kemudian.
"Thanks ya gue repotin Lo sama Maryam lagi" Ucap Tama dengan perasaan tidak enak. Reza menjawab dengan anggukan kepal.
"Gue sekalian mau ketemu dokter Anita" Ucap Reza kemudian
"Oh, Lo mau cek junior ?" Tanya Tama kemudian.
"Yooi " Jawab Reza singkat.
Keduanya saling berbincang, membicarakan masalah pekerjaan, juga sesekali masalah pribadi, terlebih Reza yang selalu menggoda Tama dengan kata Perjaka tua.
"Mas " Panggil Maryam
"Sepertinya sudah saatnya kita keruangan dokter Anita" ucap Maryam setelah melongok arloji yang ada di tangan kirinya.
Reza pun menganggukkan kepala, seraya tersenyum manis pada sang istri.
Setelahnya Reza dan Maryam berpamitan pada Tama dan Nissa, setelah memastikan kondisi Ali lebih baik, tidak lupa Maryam memberikan doa pada Ali dan memberi semangat kepada Pemuda 16 tahun tersebut.
__ADS_1
***
Dengan telaten Nissa menyuapi Ali hingga makanan yang di siapkan oleh ahli gisi rumah sakit tersebut habis tak bersisa.
Meski beberapa kali Ali menolak, dan mengatakan jika sudah tidak mau lagi, dengan alasan sudah kenyang, namun Nissa tetap semangat membujuk Ali agar pemuda 16 tahun tersebut mau makan.
"Pintar !, Kau akan segera pulih Ali jika makan mu banyak " ucap Nissa dengan mengulas sebuah senyum manis.
"Terima kasih Ust". Ucap Ali dengan wajah berbinar. Nissa menganggukkan kepala.
Tama yang melihat hal itu pun seketika tersenyum pada dua orang di hadapannya itu.
Nissa pun selalu mengajak Ali berbicara, selalu menghibur Ali, agar Ali tidak merasa sedih karena disaat kondisi seperti ini orang tuanya tidak menemani dirinya.
Sesekali Tama juga mengajaknya berbincang, menggoda Ali dengan kalimat-kalimat yang konyol, hingga beberapa kali Ali tertawa.
Setelah sarapan, dan minum obat, Ali kembali tertidur, karena memang efek obat yang dia konsumsi mengakibatkan Ali lebih banyak tidur setelahnya, hal itu berguna untuk kesembuhan Ali saat ini.
Selain untuk mengurangi aktifitas juga dapat mengurangi rasa sakit serta nyeri yang di rasakan Ali.
"Em e Nissa " panggil Tama
Nissa mendongakkan wajahnya "Ya " jawabnya singkat.
"Reza dan Maryam membawakan kita sarapan, sebaiknya kita sarapan dulu" Ucap Tama yang merasa canggung.
Nissa menjawab dengan anggukan kepala, setelahnya menyusul Tama duduk di sofa.
Nissa membuka Paper bag yang di bawa oleh Maryam sebelumnya, Benar saja disana ada dua bungkus bubur ayam, 2 cup orang e juIce dan beberapa lauk lainnya yang Maryam bawakan.
Keduanya sangat lahap menikmati makanan yang dibawakan oleh Maryam, terlebih Tama yang memang sejak kemarin belum mengisi perutnya, tidak butuh waktu lama makanan yang ada di tangan Tama telah habis tak bersisa.
Nissa pun hanya melongo melihat kotak Styrofoam di tangan Tama sudah tidak ada isinya.
Sementara Nissa masih menikmati makanan nya dengan khusyuk, Sesekali Terlihat Tama yang melirik pada gadis 27 tahun yang ada di hadapannya tersebut.
Melihat sikap baik Nissa dan wajah teduhnya membuat Tama merasa senang.
"Astaghfirullah Tama , Sadar tam !, " gumamnya dalam hati.
"Lo nggak tahu kan dia udah punya suami atau belum !" Gumamnya lagi dalam hati
Merutuki dirinya sendiri yang hampir saja mengagumi Nissa, seseorang yang tengah duduk di hadapannya.
Kegagalan berulang kali membuat Tama sedikit merasa trauma. dengan wanita yang baru dia kenal.
"Ada apa ?" Ketus Nissa kemudian,menyadari Tama yang selalu melihatnya dengan tatapan tak berkedip.
Nissa merasa risih dengan tingkah Tama, dan akhirnya memberanikan diri untuk menegur
"e--em maaf, aku hanya-- " Ucap Tama menggantung
Tiba-tiba pintu ruangan diketuk dari luar.
"Huh Selamat" Batin Tama merasa lega
__ADS_1
,