
Sepanjang perjalanan baik Mahira maupun Denis hanya saling terdiam. Sejenak suasana didalam mob menjadi hening.
"Mau mendengarkan Musik" Ucap Denis
"Terserah kak Denis" Jawab Mahira singkat.
Segera Denis memutar musik, Lagu yang pertama kali di putar dan terdengar yaitu Sebuah lagi rohani. Terdengar begitu merdu di telinga Denis, namun terasa sangat tidak cocok sepertinya untuk situasi saat ini.
"Ma-- Maaf Maaf" Ucap Denis kemudian, Mahira hanya tersenyum.
"Tidak perlu meminta maaf kak" Ucap Mahira sopan.
Dalam suasana yang begitu canggung, Mahira tampak memiliki satu penilaian dari Denis, dimana Denis merupakan seorang Kristiani yang taat.
"Boleh aku bertanya sesuatu ?" ucap Denis memecah keheningan diantara keduanya.
"Tentu saja" Jawab Mahira singkat, dengan pandangan fokus kedepan.
"Ada hubungan apa kau dengan dokter Tama ?" Ucap Denis kemudian, sungguh dirinya tidak dapat menahan rasa penasaran.
Sejenak Mahira terdiam dengan pertanyaan Denis " emm... Kami hanya pernah saling mengenal dulu saat di kampus " Ucap Mahira
"Hufttt... Oh , aku pikir kau Pernah menjalin hubungan dengannya !" Ucap Denis dengan bernafas lega.
"Atau jangan-jangan kau baru akan menjalin hubungan dengannya" Ucap Denis lagi dengan rasa penasaran.
Mendengar penuturan dari Denis , Mahira tidak dapat menahan tawanya. Terlihat jelas jika Denis sedang mencari informasi tentang dirinya.
"Sebenarnya apa maksut dari semua ini" Gumam Mahira dalam hati
"Apa kak Denis begitu sangat ingin tahu ?" Tanya Mahira
"Bukan, Bukan begitu maksudku, hanya saja kalian terlihat akrab" Tukas Denis.
"Ohh... Kami hanya saling menyapa" Jawab Mahira singkat
Sejenak suasana di dalam mobil menjadi hening
"Tidurlah, Sepertinya kita akan terlambat " ucap Denis. Mahira hanya menjawab dengan anggukan
Waktu menunjukan pukul 17.15
__ADS_1
Belum juga separuh perjalanan mereka lalui, Hujan lebat yang mengguyur kota, ditambah ada beberapa pohon tumbang, mengakibatkan perjalanan keduanya sedikit terhambat.
"Maaf kak Denis, Boleh saya minta tolong" ucap Mahira sopan.
"Tentu saja, Katakan " Jawab Denis dengan pandangan fokus kedepan.
Sedikit ada rasa ragu , namun Mahira tetap mengatakan "Di depan sana ada sebuah masjid, bisa kita berhenti sebentar, Mahira mau sholat magrib dulu" ucap Mahira
"Baiklah, Let's go " Ucap Denis penuh semangat
Padatnya kendaraan yang tumpah ke jalan, membuat Denis tidak dapat menambah laju kecepatan, terlebih hari ini merupakan Sabtu malam, sudah pasti akan banyak orang-orang yang memanfaatkanya untuk malam mingguan.
Tidak butuh waktu lama mobil yang di kendarai Denis masuk kedalam sebuah halaman masjid besar, di susul oleh mobil Abi hanif di belakangnya.
"Kami sholat dulu nak Denis" ucap Abi Hanif seraya meninggalkan Denis. Denis menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman manis di wajahnya
"Cantik sekali" Gumam Denis Lirih
Memandangi dari kejauhan punggung Mahira , hingga Mahira menghilang di balik tembok masjid.
Beberap saat menanti, akhirnya Abi Hanif, Ummi Maya, dan juga Mahira telah selesai dengan sholat magribnya. Perjalanan kembali di lakukan, mengingat waktu yang semakin petang.
"Nak Denis , Sudah malam sebaiknya menginap saja" Ucap Abi hanif
"Besok kan juga nak Denis harus menyerahkan semua barang-barang ini ke panti, Daripada harus bolak balik" Tukas Abi hanif
Denis merasa sedikit ragu, dan mulai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal " Apa tidak merepotkan Pak Hanif dan keluarga" Ucap Denis tampak sungkan
"Tentu saja Tidak, Lagi pula berkendara di malam hari sangat berbahaya" Ucap Abi Hanif lagi
"Baiklah jika memang begitu, terima kasih sebelumnya pak" Ucap Denis
Mereka segera masuk kedala rumah, gemuruh petir yang semakin menggelegar di udara. Hujan yang turun dengan derasnya.
Bi Minah yang telah di perintah oleh Abi Hanif untuk menyiapkan kamar tamu dan beberapa pakaian yang akan di kenakan Denis, segera berlalu untuk menyiapkan semuanya.
Sementara itu Denis menunggu di ruang tamu ditemani dengan secangkir kopi hitam yang di buat oleh Ummi Maya.
"Nak Denis , mari makan malam dulu, semuanya sudah siap" ucap Ummi Maya sebelumnya, ditengah lamunan Denis
Denis merasa sedikit terkejut dengan kedatangan Ummi Maya yang tiba-tiba "Emm Baik Bu Maya" Ucap Denis sopan.
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan, dengan Denis mengekor langkah kaki Ummi Maya di belakang, terlihat disana Mahira yang tengah sibuk menata piring dan juga Minuman Untuk seluruh keluarga. Dalam hal menyambut tamu keluarga Abi Hanif termasuk salah satu orang yang akan memuliakan tamunya ketika berkunjung ke rumahnya.
Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)
Setelah menyelesaikan makan malam Abi Hanif dan Ummi Maya beranjak untuk beristirahat di kamar, setelah perjalanan panjang hari ini yang cukup menguras tenaga.
Menyisakan Mahira, Denis dan juga Bi Minah yang tengah membereskan dapur dan sisa makanan.
Mahira yang juga merasa lelah seharian, segera berpamitan pada Denis untuk beristirahat di dalam kamar.
"Mahira " panggil Denis sebelum Mahira beranjak dari duduknya.
"Iya " jawab Mahira singkat.
"Boleh aku bertanya ?" Ucap Denis
Mahira tampak mengerutkan dahi " Silahkan" Jawab Mahira dengan menundukkan pandangan
"Kalau boleh tahu, Bagaimana kriteria laki-laki yang kau inginkan" tanya Denis dengan suara lirih
Mahira merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan yang baru saja dia dengar. Sejenak Mahira terdiam dan tampak berfikir
"Maafkan aku, jika kau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan ku, tidak perlu kau jawab" sergah Denis kemudian. Melihat perubahan dari mimik wajah Mahira yang tampak berubah.
Mahira hanya menundukkan kepala "Bagaimana saya bisa menentukan kriteria, jika saya sendiri pun banyak kekurangan" Ucap Mahira dengan suara lirih
Denis tampak Terpaku mendengar jawaban dari Mahira
"Kak Denis, tentu sudah tahu bukan ?, Bagaimana saya di masa lalu, Bagaimana diri saya saat itu ?" Ucap Mahira masih dengan menundukkan wajahnya.
"Aku pernah menjadi awan, sebelum aku terpaksa menjadi kabut, yang lebur pada penglihatan ku sendiri"
"Aku pun pernah menjadi teduh, sebelum aku terpaksa menjadi hujan, Yang jatuh pada pipiku sendiri"
"Jangan kan untuk menentukan kriteria seorang imam, Memilih saja pun Mahira mungkin tidak memiliki hak kak" Tukas Mahira lagi dengan suara lirih, dengan sudut mata yang berwmbun
Bagaiman Mahira tidak merasa minder dengan pertanyaan yang di sampaikan oleh Denis, pertanyaan yang seolah memukul mental Mahira saat ini dengan semua kesalahan yang pernah dia lakukan dimasa lalu.
__ADS_1