
Hari ini merupakan hari ke sembilan Denis berada di pesantren Ustadz Hamzah.
Mempelajari banyak hal, melakukan sesuatu yang baru, dan bertanya pada para ustadz dan kiai di pesantren tersebut membuat Denis cepat memahami bagaimana menjadi muslim yang baik.
Meski untuk hafalan Denis masih harus banyak belajar.
Pagi ini Denis telah rapi dengan stelan jas, bukan untuk ke kantor tujuan Denis kali ini. Namun Denis ingin pergi ke suatu tempat dalam rangka melaksanakan niat baiknya.
Setelah meminta izin pada ustadz Hamzah untuk pergi sebentar, Denis segera menuju halaman depan. Dimana disana terparkir Supercar miliknya yang telah terparkir beberapa hari di halaman rumah ustadz Hamzah
Denis menyusuri jalanan yang terasa lebih sepi dari pada jalanan kota yang biasa Denis lalui. Menikmati indahnya pemandangan persawahan dan pohon-pohon yang terasa rindang membuat hati Denis merasa tenang.
Tidak butuh waktu lama, hanya beberapa menit berkendara Denis telah tiba di tempat tujuan.
Turun dari mobil dengan rasa percaya diri dan hati yang sudah di tata sedemikian rupa
Tok tok tok
"Assalamualaikum" Ucap Denis, Dengan tenang berdiri di depan pintu.
" Waalaikumsalam, Tunggu sebentar" Ucap seseorang dDi balik pintu tersebut.
Ceklek.
Menampilkan sosok wanita bercadar yang berdiri tepat di depan Denis.
Deg.
Terasa jantung yang begitu cepat berdetak, melihat sosok dengan wajah cantik yang tertutup oleh cadar yang dia kenakan.
"Mas Denis ?" Ucap Mahira dengan suara lirih.
Mahira terdiam untuk beberapa saat, dan tatapan mata keduanya beradu, menyelami dalamnya rasa yang tergambar jelas pada sorot mata keduanya.
"Abi ada ?" Tanya Denis kemudian
Denis yang memulai obrolan, Setelah beberapa saat keduanya hanya saling diam tanpa mengutarakan kalimat apapun.
"Oh, Iya Silahkan masuk , Mahira panggilkan Abi" Ucap Mahira Dengan menundukkan pandangan.
Denis duduk di sofa ruang tamu dengan perasaan berkecamuk dan hati yang berdebar kencang.
Menunggu beberapa saat, akhirnya Abi Hanif menghampiri Denis yang tengah duduk "Assalamualaikum nak Denis , sudah dari tadi ?" sapa Abi Hanif dengan ramah
Denis segera berdiri dan mengulurkan tangan, untuk menjabat tangan Abi hanif "Saya baru saja Abi" Ucap Denis dengan wajah tenang
Seolah begitu mantap dengan tujuannya saat ini, hingga rasa gugupnya mengalahkan segala rasa yang berkecamuk dalam dada.
__ADS_1
"Ada perlu apa nak Denis, tumben kesini tidak memberi kabar ?" Tanya Abi Hanif pada sosok dihadapannya.
Mendengar pertanyaan yang seolah menodong dirinya untuk jujur, meski dengan ragu dan rasa malu Denis pun memberanikan diri menyampaikan maksut dan tujuannya datang menghadap Abi Hanif
"Maaf Abi mungkin ini terkesan dadakan, dan tanpa persiapan, tapi jujur dari hati saya yang paling dalam Saya berniat untuk melamar putri Abi , Mahira !"
Deg.
Perasaan berdebar yang seketika di rasakan oleh Mahira ketika berada di balik tembok ruang tamu tersebut, bahkan Mahira merasakan tangannya begitu Tremor ketika mendengar ucapan Denis, hingga nampan berisi kopi yang di bawanya hampir saja terjatuh.
"Sekali lagi saya ucapkan Permohonan maaf pada Abi dan keluarga atas kelancangan saya, terlebih kedatangan saya yang hanya seorang diri"
Begitu gentel.denis mengutarakan maksut kedatanganya, hingga tidak ada satupun keraguan dalam dirinya.
Abi Hanif sejenak terdiam, jujur memang terkejut, namun rasa kagumnya pada sosok Denis membuat Abi Hanif tidak mempermasalahkan perihal lamaran yang di lakukan Denis seorang diri.
"Begini nak Denis --" ucap Abi Hanif tampak membetulkan posisi duduknya.
Denis pun menatap lekat pada sosok paruh baya yang tengah serius berbicara padanya.
"Bapak tidak melarang, tidak juga menolak, hanya saja perbedaan diantara kita sangat kentara terutama perihal keyakinan !" Tegas Abi paa Denis yang duduk dengan tatapan fokus pada Abi Hanif
"Jika permasalahannya hanya karena itu, Alhamdulillah saya telah mualaf Abi" Ucap Denis mantap.
Abi Hanif terlihat mengembangkan senyum di pipinya.
"Lalu atas dasar apa nak Denis menginginkan putri saya ?" Tanya Abi memastikan.
Denis menggelengkan kepala dan kemudian menatap lekat wajah Abi dengan segala keyakinan yang dia miliki.
"Saya hanya ingin membagi kesedihan dan berbagi beban yang Mahira rasakan, ingin selalu melindungi Mahira, dan Menjadikannya Makmun saya untuk Sepanjang hidup saya"
Abi Hanif tertegun mendengar penuturan Denis yang begitu yakin dan mantap, namun seketika wajah tua tersebut terlihat sendu. Mengingat akankah Denis sungguh-sungguh dengan ucapannya ketika dia tahu bagaimana masa lalu sang putri.
"Ada apa Abi " tanya Denis ketika melihat perubahan pada raut wajah Abi Hanif
Belum juga Abi Hanif sempat memberikan jawaban, Mahira telah muncul dengan membawa nampan, berisi dua cangkir kopi.
Mahira berusaha untuk tetap menetralkan hati yang terasa begitu tidak karuan. Tidak sedikitpun Mahira berani mencuri pandang pada Denis apa lagi menatap wajah Denis saat itu.
Lain halnya Mahira yang merasa sungkan, Denis justru memperlihatkan ketertarikannya pada Mahira dengan memperlihatkan sorot mata dengan sejuta ketulusan yang dia bawa.
Setelah meletakkan minuman diatas meja Mahira segera undur diri
"Mahira !" ucap Abi
"Ya Abi ?" Jawab Mahira dengan menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Abi Hanif.
__ADS_1
"Panggil umi mu " ucap Abi Hanif lagi . Dan Mahira menjawab dengan anggukan kepala.
***
Duduk pada tempat yang sama bersama Denis dan kedua orang tuanya,entah harus merasa senang ataukah sedih untuk saat ini. Mahira hanya mampu menundukkan wajahnya.
Kembali Denis menyampaikan maksut dan tujuannya datang bertandang, dan Ummi Maya tampak menganggukkan kepala mengerti apa yang baru saja di sampaikan oleh Denis.
Kedua orang tua tersebut saling pandang, dan seketika Abi Hanif membuka suara.
"Bagaimana Mahira ?" tanya Abi memecah keheningan diantara mereka.
Mahira mendongakkan wajahnya, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan nanar. Sungguh Mahira merasa tidak memiliki jawaban atas semua ini.
"Katakan nak, apa kamu bersedia menerima pinangan nak Denis ?" Ucap ummi Maya kemudian.
Mahira menghela nafas panjang dan menghembuskan perlahan "Abi .. Ummi .." Lirih Mahira.
"Mahira pernah memilih sebelumnya, dan nyatanya pilihan Mahira tidak membawa kebaikan pada diri Mahira" Ucap Mahira dengan tertunduk lesu.
"InshaAllah untuk jawaban dari lamaran mas Denis, Mahira percayakan seluruhnya pada Abi dan Ummi" ucap Mahira lirih.
Kedua orang tua Mahira hanya saling pandang, sejujurnya mereka memberi kesempatan pada Mahira untuk memilih pasangan hidupnya sendiri, menentukan jalannya sendiri, namun mengingat kejadian di masa lalu yang cukup menyakitkan bagi Mahira, membuat Abi dan Ummi menyetujui permintaan Mahira.
Abi Hanif terlihat merenung dan sejenak berfikir "Mahira memiliki masa lalu yang kurang baik, apa nak Denis bisa menerima hal itu ?" Tukas Abi Hanif spontan.
Ungkapan yang baru saja dia dengar dari sang Abi membuat Mahira semakin menundukkan wajah, mengingat semua aibnya selama ini, yang sekuat tenaga dia coba kubur, akan terbuka kembali dan lagi-lagi meninggalkan luka yang menganga.
"Mahira yang sekarang memang jauh berbeda dengan Mahira yang dulu, namun Abi rasa nak Denis perlu mengetahui hal itu " ucap Abi lagi.
Denis hanya mendengarkan dan menatap lekat pada sosok Abi Hanif yang serius memberikan penjelasan.
"Mahira Pernah meninggalkan Rumah tanpa berpamitan?" Ucap Denis dengan suara tenang.
"Mahira pernah menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan ?" ucap Denis lagi
"Dan !"
"Mahira pernah hamil ?" ucap Denis Dengan nada suara sedikit lirih.
Abi Hanif dan ummi Maya sedikit tercengang mendengar ucapan Denis yang baru saja dia utarakan, kedua bola matanya membulat sempurna, ada rasa terkejut yang sangat luar biasa, bagaimana Denis bisa mengetahui semua itu.
Namun tidak dengan Mahira yang hanya menunjukan ekspresi tenang, sudah bukan menjadi sesuatu yang mengagetkan bagi Mahira, ketika Denis mengetahui tentang masa lalunya.
"Apa !" Ucap Abi Hanif kemudian.
Denis hanya tersenyum simpul menyadari ekspresi keterkejutan Abi Hanif, belum juga dia menceritakan masa lalu putrinya, namun Denis lebih dulu mengetahuinya.
__ADS_1
Lebih terasa malu bagi Abi Hanif saat ini, berhadapan dengan seseorang yang berniat melamar putrinya.
***