PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
88. Seblak Bandung level lima


__ADS_3

Baik Reza maupun Maryam hanya saling diam, hingga membuat suasana didalam mobil terasa sangat canggung, karena keheningan yang tercipta.


Sesekali tampak Maryam melirik Reza melalui ekor matanya, memastikan jika emosi pada suaminya telah mereda.


Selain karena masih merasa takut pada sosok suaminya, Maryam juga masih sangat shock dengan tindakan yang dilakukan Reza pada Tama barusan.


Maryam membiarkan Reza sejenak menenangkan dirinya, dengan tidak mengajak Reza berbicara, yang mungkin saja hal itu akan semakin membuat suaminya naik darah.


Sepanjang perjalanan tampak keduanya hanya fokus pada pandangan masing-masing, tanpa melontarkan pertanyaan ataupun obrolan.


Menyadari hal itu, Reza segera menepikan mobilnya dan meraih tangan Maryam yang dia letakkan diatas pangkuannya.


"Maafkan aku, Apa aku membuat mu takut ?" Ucap Reza seketika dengan tatapan tulus pada sosok Maryam.


Maryam hanya bergeming, dan tidak memberikan jawaban.


"Aku hanya tidak ingin---"


"Maryam tau mas " Ucap Maryam, memutus ucapan Reza , ucapan lembut di iringi senyuman manis tertutup cadar yang tengah dia kenakan.


"Maryam tahu mas Reza hanya menjaga apa yang menjadi milik mas bukan ?" Ucap Maryam lagi dengan suara lembut.


Suara yang selalu mampu menggetarkan relung jiwa Reza, bahkan meningkatkan adrenalin dan mampu membangunkan adik kecilnya disana.


"Tapi Maryam mohon, lain kali mas harus lebih menjaga diri dan emosi, tidak semua masalah bisa selesai dengan kekerasan " Ucap Maryam sopan, dengan usapan lembut pada punggung tangan Reza.


Reza hanya tertunduk lesu dengan rasa bersalah.


Sejenak suasana menjadi hening, tatkala Reza hanya terdiam dengan ucapan Maryam.


"Ya sudah , kita pulang sekarang yuk" Ajakan Maryam, yang seketika membuyarkan lamunan Reza.


Tanpa aba-aba Reza meraih kepala Maryam dan segera dia sandarkan pada bahunya, hingga beberapa kali tangan Reza menyusup pada balik cadar yang Maryam kenakan, untuk mengusap lembut pipi Maryam.


Tindakan manis Reza mampu membuat Maryam tersipu Malu, hal itu sudah sangat menjelaskan pada Maryam jika dirinya tidak ingin Maryam dekat dengan laki-laki manapun kecuali dirinya.


Reza segera melajukan kembali mobil yang dia kemudiaan, menembus padatnya jalanan kota pada sore hari itu.


Melintas pada daerah yang padat, dimana banyak berjajar pedagang kaki lima disana yang menjajakan makanan, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat pun ada.


Terlihat sebuah gerobak berukuran sedang dengan Tulisan Seblak Bandung, melihatnya saja membuat air liur Maryam membuncah memenuhi rongga mulut,


Bahagia? Sudah pasti.


"Mas" Ucap Maryam tampak ragu untuk menyampaikan.


"Em" Jawab Reza singkat dengan mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Maryam.


"Maryam ingin makan Seblak Bandung" Ucap Maryam lirih pada Reza yang tetap fokus pada jalanan padat di depan sana.


"Ohh.. Baiklah, didepan ada sebuah restoran, kita singgah disana sebentar " Ucap Reza dengan suara datar


"Tapi Maryam mau yang itu mas " Tunjuk Maryam pada salah satu gerobak kaki lima yang berjajar rapi di seberang jalan.

__ADS_1


"Apa ?" Reza tampak memicingkan kedua matanya, memastikan arah telunjuk Maryam sebelumnya.


"Disana tidak sehat, kita beli di restoran saja!" Ucap Reza kemudian


Maryam hanya tertunduk lesu dengan dengan wajah memelas mendengar ucapan Reza. Entah mengapa Maryam merasa sangat ingin memakan Seblak Bandung level tersebut.


Namun Maryam tidak ingin memaksa suaminya jika Reza memang tidak ingin dan tidak mengizinkannya.


Melihat Maryam yang tertunduk, Reza sedikit merasa bersalah dengan penolakannya terhadap permintaan Maryam yang di nilai sangat sederhana sebetulnya.


Namun Reza enggan melakukanya karena merasa tidak terbiasa makan di pinggir jalan sebelumnya, tapi melihat ekspresi Maryam yang berubah, seketika Reza merasa kasihan.


"Baiklah, aku akan putar balik, dan kita akan Kesana untuk membeli beberapa bungkus sesuai permintaanmu !" Ucap Reza kemudian di sela kesedihan Maryam.


Ucapan Reza yang seketika membuat rona wajah Maryam berbinar mendengar dimana Reza yang bersedia menuruti permintaan Maryam.


"Tapi Maryam mau kita makan di sana mas" Ucap Maryam dengan suara manja dan bibir yang sudah mencucu bagai kue cucur itu.


Reza tampak bengong dengan permintaan Maryam, pasalnya saat itu Reza tengah mengenakan setelan jas formal, dan pasti hal itu akan mengundang banyak pasang mata melihatnya dengan tatapan aneh.


"Tidak bisakah kita membungkusnya saja!" Ucap Reza lagi.


Dan lagi-lagi hal itu membuat Maryam sedih dengan wajah tertunduk lesu, seketika justru sukses membuat Reza merasa iba dan kasihan, hingga tidak sanggup menolak ajakan Maryam.


"Baiklah, kita akan makan disana" Ucap Reza kemudian


Seketika raut wajah Maryam berubah cerah ceria, bagai matahari di pagi hari yang tengah menampakkan sinarnya.


Karena suasana sore cukup ramai dengan banyaknya muda mudi tengah hunting makanan, Reza pun memarkirkan mobilnya sedikit lebih jauh dari tempat dimana gerobak Seblak Bandung tersebut.


Dengan sigap Reza menggandeng tangan Maryam dan melindungi tubuh kecil tersebut dari lalu lalang pengunjung lain, yang terkadang berjalan sembarangan.


Tidak jarang lalu lalang orang yang menatap Reza dengan tatapan aneh, Namun Reza pun merasa dirinya memang salah kostum, hingga hal itu membuatnya merasa sangat malu.


Tidak ada perlakuan spesial, keduanya juga tampak mengantri pada barisan belakang di antrian Seblak Bandung tersebut.


Beberapa diantara pasang mata disana bahkan mengenali sosok yang tengah mengantri untuk mendapatkan seporsi Seblak Bandung.


Siapa lagi jika bukan pada sosok Reza Abizar El Shirazy, sosok miliader muda kaya raya, namun saat ini tengah mengantri Seblak Bandung di pinggir jalan.


Beberapa saat mengantri tiba giliran keduanya untuk memesan Seblak Bandung.


"Mang, Seblaknya level dua yaa" Ucap Maryam dengan suara lembut


"Baik neng, tunggu sebentar yaa" Ucap mamang penjual Seblak.


Maryam mengulas sebuah senyum di balik cadar yang dia kenakan.


Kemudian pandangan Maryam tertuju pada Reza yang tengah cilngukan dengan pandangan kesana kemari, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini, hanya Reza dan Allah yang tahu.


"Mas mau pesan level berapa ?" Tanya Maryam kemudian.


"hah ?" Reza tampak bengong dengan ucapan Maryam, Karena ini kali pertamanya Jaja di pinggir jalan seperti ini.

__ADS_1


"Level lima" Jawab Reza singkat.


Kini giliran Maryam yang tampak bengong, tidak percaya dengan ucapan suaminya yang baru saja terucap.


"Yakin level lima?" Tanya Maryam lagi.


"Tentu saja !, hanya level lima bukan ?" Ucap Reza dengan nada congkak , meremehkan peringatan Maryam.


Maryam hanya dapat menarik nafas dalam dan menggeleng "Baiklah " Ucap Maryam singkat.


"Mang, jadi pesanannya level dua nya satu, dan level lima nya satu, minum nya Es Susu coklat dua, makan di sini ya mang" Ucap Maryam memberi penjelasan mengenai pesanannya pada mamang penjual Seblak.


"Baik neng, tunggu sebentar ya" ucap mamang penjual Seblak dengan sopan.


Maryam mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk yang dirasa masih kosong untuk keduanya tempati dengan menanti kedatangan seporsi Seblak masing-masing.


Setelah mendapatkan Tempat duduk yang dirasa sesuai, Maryam segera menarik tangan Reza menuju tempat yang telah di incar sebelumnya.


Reza hanya mengekor di belakang tubuh mungil Maryam, dengan langkah kaki kecil yang menariknya menuju sebuah meja kosong di ujung sana.


"Kita duduk disini ?" Tanya Reza tampak terkejut.


"Tentu saja " jawab Maryam singkat.


"Atau mas Reza mau duduk lesehan di tikar saja ?" Ucap Maryam kemudian dengan menaikturunkan alisnya.


"Tidak tidak tidak, disini saja " sergah Reza seketika, dengan tersenyum getir.


Bahkan beberapa kali Reza merasa Maryam tengah mengerjainya.


"Apa mungkin dia sedang membalas perbuatan ku dulu" Batin Reza seketika dengan mendengus kesal.


"Mas Reza yakin level lima ?" Tanya Maryam lagi memastikan pesanan suaminya sesuai keinginan.


Pasalnya Maryam sangat tahu betul level lima merupakan level dengan tingkat kepedasan tertinggi, jadi beberapa kali Maryam mencoba memastikan kembali pada Reza.


"Ahh.. kecil , hanya level lima, bukan tujuh atau sepuluh kan ?" Ucap Reza lagi dengan nada sombong


Lagi-lagi jawaban Reza tampak sama, dengan suara penuh keyakinan, tanpa sedikitpun keraguan.


"Baiklah, Maryam sudah pesankan Susu coklat, takut nanti mas Reza kepedasan" Ucap Maryam lagi.


Reza hanya mengulas sebuah senyum di bibirnya dengan anggukan kepala. Maryam pun hanya menggelengkan kepala dengan senyum dari balik cadar yang dia kenakan.


***


Bersambung


***


Terima kasih reader ku semua yang selalu setia meninggalkan komentar dan hadiahnya buat author


Mohon maaf jika masih jauh dari kata baik dalam penulisan.

__ADS_1


Semoga tulisan Author menghibur para reader yaaa...


Peluk dari jauh untuk para Reader semua 🥰🥰🤗🙏


__ADS_2