
Setelah menyelesaikan Sarapan paginya Reza bergegas untuk berangkat ke kantor.
"Kek , nek , Reza berangkat dulu" Ucap Reza kemudian
"Hati-hati Za" Ucap nenek Halimah
Setelahnya Reza berlalu begitu saja tanpa melihat Maryam ataupun berpamitan padanya.
Seperti biasa Maryam akan menyusul Reza, dan mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu utama.
"Kek , Nek , Maryam permisi sebentar ya, Maryam mau antar mas Reza sampai ke depan" Ucap Maryam. dibalas dengan Senyum ramah dadi kakek Amar dan nenek Halimah.
"Mas?" Ucap Maryam dari belakang mengejar Reza yang lebih dulu berjalan.
"Mas Reza buru-buru ya, Hati-hati di jalan ya" Ucap Maryam lagi , mencoba mencairkan suasana
Maryam menyadari perubahan sikap dadi suaminya, namun dirinya enggan untuk bertanya.
Reza berbalik badan dengan tatapan tajam menusuk pada Maryam yang tengah berlari kearahnya.
Brug.
"Auch..." ucap Maryam. Ucap Maryam ketika jidatnya bertabrakan dengan dada bidang Reza
"Ceroboh" Ucap Reza singkat.
"Mas Reza marah ?" Ucap Maryam dengan santai
Reza bergeming tanpa menjawab pertanyaan Maryam
"Maryam perhatikan mas Reza dari tadi diam saja, ada apa mas ?" Tanya Maryam lagi.
"Kau benar-benar bertanya kenapa aku marah ?" Jawab Reza dengan nada yang mulai kesal .
Maryam tidak mengerti dari ucapan yang Reza katakan.
"Maksut mas Reza?, Mas Reza marah sama Maryam??" Ucap Maryam dengan polos
"Sudahlah.." ucap Reza kemudian sembari berlalu dari hadapan Maryam
"Mas ..." Ucap Maryam lagi dengan menarik satu tangan Reza untuk menghentikan langkahnya.
"Jangan Seperti ini, kalau memang ada masalah katakanlah" ucap Maryam
"Jika menurut mas Reza Maryam salah, katakan mas dimana letak kesalahannya ?" ucap Maryam lagi
"Ini rumah tangga mas bukan rumah duka, Tidak semua masalah bisa selesai dengan hanya diam" Tukas Maryam
Reza menyadari Maryam sangat jauh berbeda dari mantan istrinya, Maryam selalu berusaha untuk membuat orang terharu dengan sikap dan perilakunya.
Bahkan hal kecil saja Maryam sangat peka.
Berbeda dengan mantan istrinya yang selalu acuh, bahkan terkesan tidak perduli, sekalipun jika suaminya berada dalam amarah dan masalah besar.
__ADS_1
Mendengar ucapan Maryam seketika Reza melunak dan berusaha menguasai dirinya.
"Emm... Tidak , aku hanya sedikit banyak pekerjaan saja" elak Reza
"Oh.." Jawab Maryam singkat
"Oya , aku tidak suka kau pergi dadi kamar sebelum aku siap dengan segala kebutuhanku untuk ke kantor " Ucap Reza datar , berusaha mengungkapkan isi hati yang sebenarnya
Entah apa yang membuat Reza belakangan ini bucin terhadap Maryam, hanya Reza merasa tidak ingin jauh dari istrinya tersebut.
Reza merasa ingin selalu berada dekat dengan Maryam, bahkan rasanya jika bisa dirinya ingin tetap berada di kamar bersama Maryam.
"Ohh ... Itu, Tapi Maryam sudah siapkan segala kebutuhan mas Reza kan" Ucap Maryam dengan sopan
"Tapi bukan seperti itu " Ucap Reza
"Lalu" Tanya Maryam seketika
Reza mulai bingung bagaimana cara menjelaskan perasaanya pada Maryam, dirinya masih merasa sedikit gengsi jika mengatakan kalau dia membutuhkan Maryam dan ingin Maryam selalu berada dalam pandangan matanya.
"Tidak, Hanya saja seharusnya kau menungguku !!" Tukas Reza beralasan
"Em.. Jadi begitu ?, Baiklah Maryam minta maaf mas, InshaAllah besok tidak akan terjadi lagi" Ucap Maryam memberikan solusi
Maryam berusaha mencairkan suasana hati Reza, berharap mood suaminya berubah. Maryam hanya tidak ingin suaminya pergi bekerja dengan perasaan marah.
Mendengar pernyataan Maryam, meski simpel namun Reza merasa sangat bahagia dengan senyum merekah di bibirnya.
Menyadari suasana hati Reza yang sudah membaik, Maryam segera meraih tangan kanan Reza dan mencium punggung tangan Suaminya dengan Takzim.
Cup.
Satu kecupan mesra di bagian puncak kepala Maryam, yang mendarat secara tiba-tiba. Sontak membuat Maryam merasa kaget. pasalnya hal ini baru pertama kali Reza lakukan.
Tanya sadar Maryam menyentuh puncak kepalanya. dan tersenyum manis dibalik cadar yang dia kenakan.
Senyum manis yang sudah mulai biasa Reza lihat dan jelas Reza mengetahuinya meski senyuman itu ada di balik penutup wajah istrinya.
"Hati-hati mas" Ucap Maryam kemudian.
Reza bergeming menatap manik mata Maryam yang begitu indah.
"Mas" Ucap Maryam lagi membuyarkan lamunan Reza.
Seketika Reza kaget dengan panggilan Maryam yang langsung menyadarkannya.
"Maryam" Ucap Reza, sembari menggandeng tangan Maryam menuju pintu utama
"Iya... " jawab Maryam singkat, dengan rasa heran dan terkejut melihat Reza yang menarik tangannya menuju teras utama.
"Kenapa seorang istri harus mencium tangan suaminya sebelum bekerja ?" Tanya Reza seketika.
Maryam bergeming , namun tersenyum geli mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Menurutku itu tidak harus kau lakukan, lagipula kau selalu terakhir menyelesaikan sarapan, Dan kau selalu mengejar ku untuk melakukan rutinitas mu" Tanya Reza lagi.
Maryam tersenyum "Mas..." Ucap Maryam
"Em..." Jawab Reza singkat dengan perasaan bahagia.
Mendengar panggilan "Mas" yang mendayu lembut di telinga Reza saja sudah sangat membuat hari Reza meleleh.
Kembali Reza membandingkan sikap mantan istrinya dengan Maryam. Jangankan memanggil dengan sopan, kerap kali mantan istrinya itu memanggil dirinya dengan sebutan nama.
Hal itu menjadi sebuah kebiasaan bagi Tasya saat itu, karena memang antara Reza dan Tasya merupakan teman satu angkatan di kampus, dan memanggil Reza dengan sebutan nama merupakan hal yang biasa dia lakukan meski setelah menikah.
"Mas .. " Ucap Maryam lagi, dengan usapan lembut di punggung tangan suaminya yang sedari tadi menggandeng tangan Maryam
"Bukan masalah harus atau tidak harus Maryam lakukan mas " Ucap Maryam sopan
"Hal Ini Maryam lakukan salah satunya adalah untuk menggapai ridho dari mas Reza"
"Yang kedua Maryam berharap dari tangan yang Maryam mencium akan senantiasa memberikan nafkah nafkah yang halal nantinya"
"Yang ke Tiga , Meski Mas Reza mengatakan tidak harus, Maryam tau mas Reza menyukainya" Ucap Maryam kemudian dengan sedikit menyindir.
Mendengar penuturan terahir dari Maryam seketika membuat jantung Reza berdesir kencang
"Sudah-sudah , Segeralah berangkat mas" Ucap Maryam kemudian
"Kenapa mengusir " Jawab Reza dengan tatapan tidak suka
"Bukan, Bukan seperti itu maksut Maryam mas..." Ucap Maryam
"Maryam hanya tidak ingin mas Reza terlambat ke kantor, itu saja!" Ucap Maryam lembut dengan tatapan mengarah pada suaminya
"Kenapa harus takut terlambat, Aku kan Bos Mereka" Jawab Reza dengan nada congkak
Maryam tersenyum dengan tingkah suaminya
"Baiklah baiklah, Maryam tahu mas" Ucap Maryam mengalah dari suaminya, tidak ingin lagi berdebat dengan Reza.
"Mas Reza benar adalah seorang Bos, Tapi mas Reza juga perlu ingat satu hal, Seorang pemimpin Belum bisa di katakan Baik kalau Belum bisa memberikan Contoh yang baik pada Bawahannya" Ucap Maryam kemudian
"Oke , aku tidak akan terlambat, Besok Jam Masuk akan aku mundurkan " Ucap Reza kemudian dengan santainya dia mengambil keputusan
Mendengar kekonyolan suaminya Maryam merasa geli.
"Untuk apa mas Reza memundurkan jam masuk kantor, Mas Reza tidak perlu melakukanya" Ucap Maryam kemudian
"Aku hanya ingin lebih lama dengan Istriku" Ucap Reza berbisik pada telinga Maryam
Seketika Maryam bergidik mendengar bisikan Reza.
***
Bersambung
__ADS_1
***
Jangan lupa Dukunganya untuk Author ya Supaya Author tetap semangat berkarya 🥰 Terima kasih