PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
117. Membuka Hati


__ADS_3

Begitu juga dengan Tama yang merasa semakin mengagumi sosok yang tengah duduk di sampingnya.


Bukan Mahira yang bar bar seperti yang dia kenal dulu, namun Mahira yang santun dan syarat makna dalam setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


"Aku ingin memulai lagi semuanya dengan lebih baik" ucap Tama dengan suara lirih


"Apa kita pernah mengakhiri hingga kak Tama ingin memulai lagi?" Sergah Mahira kemudian. Merasa sedikit aneh pada ucapan yang baru saja Tama lontarkan.


...Luka terdalam adalah luka yang tidak bisa di lihat oleh mata, dan kesedihan terdalam adalah kesedihan yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata...


Mendengar hal itu Tama merasa sedikit malu, dan hanya bisa tersenyum lebar yang menampakkan deretan gigi putihnya.


"Bukan begitu, Mari kita berteman baik!" Ucap Tama dengan suara lembut, dan di jawab dengan senyuman manis di wajahnya.


Tama yang sudah maju, dan melangkah sejauh ini, tidak ingin begitu saja mundur. Meski terlihat jelas keraguan dari wajah Mahira.


Mendengar ungkapan dari Tama membuat Mahira merasa sedikit geli, namun meskipun dia yang masih menyimpan sedikit rasa kecewa, tetap memilih menerima Tama dengan hati terbuka.


Jika Allah saja maha memaafkan, kenapa Mahira harus mempermasalahkan, mungkin itu yang ada dalam pikiran Mahira saat ini.


"Baiklah" Jawab Mahira singkat dengan menganggukkan kepala.


...Terkadang keinginan hati tidak harus selalu dituruti , ada saat dimana harus menggunakan logika, agar hati tidak semakin terluka....


Mendengar jawaban Mahira , meski hanya satu kata "Baiklah" Cukup membuat perasaan Tama berbunga, pasalnya kini dia tahu jika Mahira tidak lagi mendendam padanya.


"Apa ka Tama masih lama ?" Ucap Mahira kemudian


"Ha ?, Kau mengusirku ?" Jawab Tama


"Bukan . Bukan begitu maksut ku, hanya saja hari sudah semakin petang, apa ka Tama berniat menginap lagi ?" Tukas Mahira kemudian


Ucapan Mahira yang seketika mengundang gelak tawa dari Tama. "Oke , aku akan pulang " Jawab Tama kemudian.


"Ohya, bolehkah aku berkunjung lagi lain waktu ?" Tanya Tama


"Lebih baik pertanyaan itu Ka Reza tanyakan pada Abi, karena rumah ini milik Abi, bukan milik Mahira" Jawab Mahira dengan sopan.


Lagi-lagi ucapan tersebut mampu membuat Tama semakin gemas pada sosok Mahira.


"Oke aku akan minta izin pada Abi" ucap Tama kemudian , dan di balas dengan anggukan kepala oleh Mahira.


***


Hari berganti hari

__ADS_1


Dan hari dimana dinantikan oleh Denis pun telah tiba. sebuah liburan panjang yang akan merubah hidupnya dimasa yang akan datang.


Meski dengan perasaan bimbang, sejujurnya berat bagi Denis untuk melangkah. Namun baginya sebuah niat baik tidak lah menjadi baik jika hanya terus menjadi niat, serta tidak ada upaya untuk mewujudkannya. Karena terkadang hati mampu melihat apa yang tidak nampak oleh mata.


Cuti yang Denis minta untuk satu Minggu, nyatanya Reza memberikannya waktu selama 10 hari, Hal itu cukup bagi Denis untuk kembali merefresh otaknya yang penuh dengan tumpukan kertas beberapa hari yang lalu.


Pagi ini Denis telah siap dengan koper berukuran sedang, yang berisi beberapa pakaian untuk dia gunakan selama beberapa hari kedepan, mengemudikan mobil dengan laju sedang, menuju sebuah daerah yang sudah dia rencanakan beberapa hari yang lalu.


Sepanjang perjalanan di hiasi banyak pepohonan hijau serta beberapa pedagang kaki lima di sisi kanan dan kiri jalan. Pemandangan pegunungan dan persawahan membuat hati Denis merasa tenang dan tentram.


Dengan niat dan tekat yang sudah bulat, Denis memulai perjalanan untuk melangkah, menyusuri setiap jalan dengan mobil mewah yang menjadi kebanggaan nya, sebuah kendaraan yang dia beli dari hasil dari jerih payahnya selama menjadi Asisten Reza Abizar El Shirazy.


Perjalanan di tempuh kurang lebih dua jam menuju lokasi tujuan.


Setelah beberapa saat akhirnya mobil yang di kemudian. Denis terparkir rapi di halaman sebuah rumah yang tidak begitu mewah, namun terkesan indah dan tenang.


"MashaAllah Nak Denis, Bapak sudah menunggu" Sapa seorang laki-laki yang sebelumnya di hubungi oleh Denis.


"Iya pak" jawab Denis dengan mengulas sebuah senyuman dan anggukan kepala tanda hormat.


"Silahkan masuk nak, Mari bapak antar ke Kamar nak Denis " Ucap laki laki tersebut.


Seorang laki-laki yang tidak lagi muda, dengan wajah bersih berseri dan sorot mata teduh menenangkan. Menuntun langkah Denis memasuki kediamannya.


Denis pun memberi jawaban dengan menganggukkan kepala sopan.


Setelah menunjukan kamar, serta mempersilahkan Denis untuk beristirahat, ustadz Hamzah kembali ke kelas untuk mengajar para murid muridnya.


Ustad Hamzah merupakan pendiri sekaligus pengelolaan sebuah Pondok Pesantren modern yang cukup berkembang di kotanya, dimana Reza merupakan salah satu donatur tetap di pesantren tersebut. Hingga saat ini pesantren tersebut lebih maju dari sebelumnya.


Sejak kedekatan Reza dengan ustadz Hamzah yang sudah dia Anggap sebagai guru spiritualnya, Reza kerap berkunjung, meski hanya untuk sekedar memberikan bantuan untuk pengembangan pesantren tersebut.


Ustad Hamzah yang sudah berkomunikasi dengan Reza dan juga Denis Sebelumnya, membuat dia tidak lagi menanyakan tujuan dari kedatangan Denis meski hanya untuk sekedar berbasa-basi.


Menjadi santri kilat merupakan tujuan dari Denis saat ini, meski dirinya belum belum sepenuhnya yakin, namun setidaknya Denis akan berusaha demi sebuah angan dalam dada.


***


Sore hari


Duduk di atas kayu yang telah tumbang, di samping masjid dimana disana terdapat beberapa kolam ikan nila yang memiliki corak unik dan cantik. Denis merasa aneh, dirinya sudah di sini sejak siang, namun ustadz Hamzah belum juga menyuruhnya untuk melakukan sesuatu, atau mengajarkannya apapun padanya.


"Sudah makan nak Denis" Ucap ustadz Hamzah yang seketika menggetarkan Denis.


"Oh, Em ,sudah pak " Jawab Denis dengan anggukan kepala.

__ADS_1


"Maaf bapak mengagetkan mu" Ucap ustadz Hamzah dengan ramah, dan Denis hanya menanggapi dengan anggukan kepala tanda memberi jawaban.


Setelah itu ustadz Hamzah duduk di sebelah Denis, pada kayu berukuran besar dan panjang tersebut, dengan sesekali melemparkan pelet (pakan ikan) kedalam kolam ikan nila tersebut.


"Nak Denis !" Ucap ustadz Hamzah dengan suara lembut dan tepukan di bahu Denis


"Ya pak" Jawab Denis sopan.


Sejenak ustadz Hamzah menghela nafas panjang, dan menghembuskan perlahan, terlihat Guratan Senyum di wajah yang tidak lagi muda tersebut.


"Bila tujuan hidup kita hanya semata-mata karena dunia saja, sejujurnya agama tidaklah begitu berharga" Ucap Abi Hanif dengan fokus pandangan kedepan.


Mendengar hal itu Denis tampak mengerutkan dahi, mengarahkan pandanganya pada ustadz Hamzah yang duduk tepat di sampingnya.


"Namun apabila tujuan hidup kita adalah untuk dunia dan akhirat, makan agama sangatlah penting untuk mengimbanginya" tukas Ustadz Hamzah kemudian. Dan Denis masih tetap diam dengan seksama mendengarkan setiap pembicaraan ustad Hamzah.


"Manusia pada hakikatnya menginginkan kedamaian dalam hidupnya di dunia, setiap insan pasti memiliki fitrah untuk selalu hidup nyaman dan damai, kedamaian tersebut dapat dicapai melalui beberapa usaha, dimana Agama merupakan pondasi hidup bagi setiap manusia. " Ucap ustadz Hamzah kemudian


"Setiap agama pasti mengajarkan hal hal baik dalam rangka mengarahkan pengikutnya menuju kebahagiaan akhir. Islam merupakan agama rahmatan Lil Al-Amin" Tukas ustadz Hamzah.


Hal ini berdasarkan ayat Al-Qur'an surat Al Anbiya ayat 107, Allah SWT juga berfirman mengenai rahmatan lil alamin


وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ


Artinya : 'tidaklah kami menciptakan engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi Rahmat bagi seluruh alam'.


Mendengar penuturan dari Ustadz Hamzah membuat Denis sedikit banyak berfikir mengenai tujuannya sebelum datang ke tempat ini.


Merasa tercubit dengan setiap kalimat yang keluar dari sosok paruh baya yang tengah duduk tepat di sampingnya.


Sejujurnya Denis merasa malu, karena tujuannya saat ini adalah untuk membuat Mahira bisa menerimanya. Menjadi sosok yang dapat di terima dalam hati Mahira.


"Bapak tidak pelit ilmu nak Denis, hanya saja bapak ingatkan kembali apa tujuan nak Denis datang ke tempat ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda"


مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ


“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 7028).


"Jangan hanya karena dunia, disitu poin pentingnya nak" Ucap ustadz Hamzah dengan suara santun dan lembut.


Usapan lembut pada bahu Denis menjadi akhir dari pembicaraan keduanya, karena setelah itu Ustadz Hamzah pamit undur diri untuk melakukan sholat ashar


***


Bersambung

__ADS_1


***


__ADS_2