PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
47. Sarapan


__ADS_3

Reza hanya bergeming mendengar ucapan Maryam tanpa sedikitpun berkedip atau mengalihkan pandanganya dari Maryam.


Merasa aneh dengan sikap Reza , Maryam segera duduk dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal di kasur tersebut.


Menatap Maryam dari balik selimut yang di kenakan, Reza merasa sangat geli dengan ulah istrinya itu.


"Maryam" Ucap Reza


Maryam bergeming


"Maryam " Ucap Reza lagi dengan menggoyangkan tubuh Maryam lembut.


Maryam sangat gugup, seketika dia memejamkan mata berusaha untuk segera dapat tertidur"


Sangking Gugupnya Maryam sampai berharap lebih baik dirinya pingsan saat itu juga. Hingga tanpa di sadari Maryam Reza telah berbaring tepat berada di belakangnya


Memeluk tubuh ramping Maryam yang berbalut selimut hingga menutup seluruh tubuhnya.


Perlahan namun pasti Reza mencoba menyibak Selimut yang berada di bagian kepala Maryam, dengan gerakan lembut dan sangat hati-hati.


"Jika Seperti ini, Bagaimana kau akan Bernafas" Ucap Reza datar dengan melingkarkan tangannya di perut Maryam


Maryam tetap diam dengan pikirannya yang sudah mulai tidak fokus.


Reza yang menyadari Maryam belum tidur , Dengan Lembut membalik Tubuh Maryam, sehingga keduanya saling berhadapan.


Meraup Tubuh ramping Maryam dalam dekapannya, hingga Maryam dapat merasakan Aroma Maskulin dari tubuh Reza lagi.


Aroma yang selalu membuat dia Gagal fokus setiap kali menciumnya.


Tidak ada suara tidak ada kata dari keduanya, hanya diam dan pelukan mesra dari Reza yang mewarnai malam itu.


Maryam merasa sangat nyaman berada dalam dekapan Reza, dengan aroma maskulin yang menyeruak kedalam hidung mancungnya.


"Maryam " Ucap Reza dengan Usapan lembut pada rambut Anjang Maryam.


Maryam bergeming


"Maryam Aku..." Ucap Reza lagi.


Heeeerrrr.... Heeeerrr... Heererr....


Terdengar dengkuran halus dari mulut Maryam, Sangat sangat halus hingga Reza tidak benar benar mempercayai jika Maryam telah tertidur dengan begitu pulas dalam dekapannya.


"Hemmm... Baru aja mau diajak ngobrol serius ... Eh..." Ucap Reza dengan mendengus


Setelahnya Reza hanya menatap wajah Maryam, yang terlihat lebih cantik berpuluh-puluh kali lipat ketika dirinya tertidur.


Reza menyingkap Anak Rambut yang menutupi wajah Maryam dengan lembut, Sesekali mencium Puncak kepala Maryam


Tanpa terasa keduanya tertidur Bersama dalam posisi yang sangat intim, saling memeluk antara satu sama lain.


Sayup sayup terdengar oleh Maryam suara adzan subuh.


"Astaghfirullah.. Sudah subuh ? " Batin Maryam.


Tidak biasanya Maryam tertidur dengan begitu nyenyak hingga dirinya melewatkan waktu untuk Tahajud.

__ADS_1


Maryam menyadari dirinya berada dalam satu selimut dengan dekapan sang suami, mungkin hal itu yang membuatnya tidur sangat pulas.


"Mas ." Ucap Maryam


"Mas Reza" Ucap Maryam lagi dengan menggoyangkan bahu Reza yang melingkar di perutnya


"Eemmm" Jawab Reza singkat masih dengan memejamkan kedua matanya


"Mas, Sudah waktunya sholat subuh" Ucap Maryam lembut.


"Benarkah ?" Tanya Reza.


"Ayo mas Kita sholat dulu" Ajak Maryam


"Emm... Terima kasih telah membangunkan ku " Ucap Reza dengan semakin melingkarkan kedua tangannya di perut ramping Maryam.


Menyimpan kepalanya dalam belakang kepala Maryam. Menghirup aroma rambut Maryam yang menyegarkan membuat Reza merasa nyaman.


"Mas" Ucap Maryam lagi dengan sedikit lebih keras menggoyangkan bahu Reza.


"Oke oke Baiklah" ucap Reza.


Keduanya segera bangkit dari tempat tidur, bergegas untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah.


Seperti biasa Maryam akan membuka mushaf Al-Qur'an miliknya dan Membaca beberapa ayat setelah melaksanakan sholat Subuh.


Reza sengaja tidak beranjak dari sajadahnya, memilih duduk tepat di samping Maryam dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sangat merdu.


Beberapa saat kemudian Maryam telah menyelesaikan segala Rutinitasnya di subuh pagi.


Masih di atas sajadah, Reza meraih kedua tangan Maryam yang masih memegang mushaf Al-Qur'an, Mengecup dengan mesra kedua tangan lembut itu.


Maryam tertegun dengan sikap manis Reza.


"Ada apa mas ?" Ucap Maryam


Reza bergeming dan melemparkan seutas senyum manis.


"Apa aku boleh meminta sesuatu ? Tanya Reza


"Sesuatu ? , Apa ? " tanya Maryam


Reza tidak segera menjawab, melihat ekspresi istrinya yang sedikit bingung membuat Reza merasa geli.


"Apa ?" Tanya Maryam lagi.


"Aku ingin Belajar mengaji" Ucap Reza kemudian .


"Alhamdulillah" Ucap Maryam dengan mata yang seketika berembun


Maryam merasa sangat bahagia dengan keputusan Reza yang ingin belajar mengaji, mengingat jika sebelumnya Reza untuk sholat saja sangat sulit melakukanya.


"Alhamdulillah, Ya Allah" Ucap Maryam lagi dengan Air mata yang sudah tidak lagi dapat di tahan.


"Ada apa? Kenapa? Kenapa kau menangis ?" Ucap Reza panik melihat Maryam yang justru menangis setelah dirinya mengatakan ingin belajar mengaji.


"Tidak Mas, Tidak ada apa-apa " Ucap Maryam dengan suara serak

__ADS_1


"Lalu kenapa kau menangis ?" Tanya Reza


"Mas .. Tidak hanya saat sedih Air mata akan menjadi tanda, Namun Ada kalanya Sebuah air mata menjadi tanda dari rasa bahagia " Ucap Maryam dengan menyeka Airmata yang keluar dari sudut matanya.


"Maryam bahagia mas, Sangat bahagia mas Reza mau belajar agama" Ucap Maryam


Reza tersenyum mendengar penuturan dari Maryam


***


Seperti biasa pagi itu, Maryam bergegas menyiapkan segala keperluan Reza untuk ke kantor.


Mulai dari menyiapkan Setelan untuk di kenakan Reza, dasi , dan juga sepatu.


Maryam dengan teliti memilih perpaduan warna yang dirasa sesuai dengan selera Reza, dan hal itu di akui Reza selera Maryam sangat baik, dan sesuai dengan keinginannya.


Setelah menyiapkan semua kebutuhan Reza, Maryam segera berlalu dari kamar, Sejujurnya Maryam memang sengaja tidak ingin berlama-lama, Pasalnya bisa jadi pagi hari akan terjadi adegan seperti hati-hari sebelumya


***


Reza menatap Maryam dengan tatapan aneh, sorot mata yang mengisyaratkan ketidaksukaannya.


"Mas mau makan apa ?" Tanya Maryam membuyarkan lamunan Reza


Reza bergeming, hanya menatap Maryam dengan tatapan mautnya.


Maryam merasa sedikit aneh dengan tatapan Reza namun Berusaha acuh, karena mereka sedang berada di meja makan bersama kakek Amar dan nenek Halimah.


Namun berbeda hal nya dengan Maryam yang merasa aneh dengan tatapan Reza, kakek Amar yang tanpa sengaja melihat tingkah cucunya merasa bahagia.


Pasalnya tatapan Reza yang seperti itu sudah sejak lama tidak di lihat oleh sang kakek.


Tatapan penuh, yang mengisyaratkan cinta, kakek Amar sangat tahu jika saat ini cucunya sedang berusaha membuka hatinya kembali.


"Zaa" Ucap kakek Amar


"Iya kek" Jawab Reza masih dengan mengunyah makanannya.


"Apa kalian tidak ingin bulan madu ?" Tanya kakek Amar


"Uhukk...Uhukk..."Reza yang kaget dengan ucapan kakek Amar, mendadak terbatuk -batuk


Dengan lembut Maryam mengusap punggung Reza yang dan memberikan segelas air minum untuknya.


Melihat perhatian Maryam yang di berikan kepada cucunya kakek Amar merasa sangat bahagia, tidak salah jika dirinya menjodohkan Reza dengan Maryam. Seketika Sudut mata kakek Amar berembun.


"Mas Pelan-pelan makan nya" Ucap Maryam lembut, mengingatkan Reza.


Reza tetap diam dan berusaha menguasai kepanikan dirinya, dari saran yang diberikan oleh kakek Amar.


***


Bersambung


***


Jangan lupa Dukunganya ya untuk author, Supaya Author tetap semangat berkarya 🥰 Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2