PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
130. Nissa dan Denis


__ADS_3

Duduk dengan posisi saling berhadapan membuat Mahira merasa sedikit tidak nyaman, terlebih orang yang sedang di hadapannya adalah Tama. Sosok yang sangat Familiar dan begitu dia kenal,


"Kenapa ka Tama tidak mengatakan sebelumnya ?" Tanya Mahira dengan rasa penasaran.


Mendengar pertanyaan tersebut, Tama hanya mengulas sebuah senyum di wajah tampannya.


"Ra, aku sudah tahu jika kau sudah mengajukan proposal kepada beberapa perusahaan bukan ?" Ucap Tama dengan wajah ramahnya.


"Ka Tama tahu ?" Jawab Mahira dengan wajah penuh selidik. Dan Tama pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Apa karena kasihan padaku, ka Tama menerima permintaan kerjasama ini ?" Tanya Mahira spontan dengan memicingkan mata.


Tama hanya terkekeh kecil mendengar pertanyaan Mahira yang terkesan menodong sebuah jawaban kejujuran.


"Bukan. Bukan begitu maksut ku, hanya saja untuk mencari seorang investor dengan pengalaman yang masih sangat minim itu memang sulit" Jawab Tama memberi penjelasan.


"Bukan karena kasihan, Aku tahu kemampuanmu, dan aku ingin menawarkan kerjasama, itu saja" Ucap Tama dengan.


Mahira berfikir sejenak mengenai perkataan Tama yang baru saja dia dengar. Ada benarnya juga apa yang dia katakan, Karena memang sangat sulit mencari investor terlebih ini merupakan proyek pertamanya. Bukan perkara mudah, terlebih bagi Mahira yang masih pemula.


"Maafkan Ira ka, Sudah lancang berprasangka buruk terhadap ka Tama" Ucap Mahira lirih. Tama pun menjawab dengan senyuman yang tak lekang di wajahnya.


"Baiklah, Deal !" ucap Tama kemudian


"Apa ?" tanya Mahira yang masih gamang.


"Deal kerjasama kita ?" Tukas Tama


"Tapi Ira belum Menyampaikan proposal secara rinci " Jawab Mahira dengan polos


"Aku percaya padamu !" jawab Tama singkat, dengan suara mantap.


Mahira pun merasa sangat bahagia, dia tidak menyangka langkahnya akan semudah ini, setelah sebelumnya dia beberapa kali di tolak oleh perusahaan, meski masih ada rasa tidak percaya jika sosok investor nya merupakan Tama.


Namun Mahira memilih untuk abai, karena niat baiknya yang selama ini dia usahakan akhirnya menemukan sosok investor nya.


Setelahnya Mahira dan Tama saling membicarakan tentang langkah kedepannya, dan rencana kerja yang akan di lakukan.


Banyak pembicaraan yang mengalir begitu saja, hingga sarapan yang sebelumnya di pesan oleh Tama, untuk dirinya dan Mahira habis tak bersisa.


***


Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda Denis yang merasa perlu memberi penjelasan kepada Mahira l, kemudian mencoba mencari Mahira. Tidak ingin membuat masalah semakin berlarut dan akan menyakitkan bagi keduanya.


Karena Denis meyakini apa yang di dengar Mahira semalam mungkin saja hanya sebagiannya saja, tanpa mengetahui akhir dari pembicaraanya dengan ustadz Hamzah.


tok tok tok .


Terdengar suara ketukan, dari balik pintu kamar Denis.


"Assalamualaikum" Ucapan salam yang juga terdengar begitu merdu di telinga Denis.


"Waalaikumsalam" Jawab Denis dengan membuka pintu kamarnya.


Keluar dengan wajah segar, Kemeja hitam, dan celana panjang , Membuat tampilan Denis pagi ini tampak sempurna Dimata Nissa.

__ADS_1


Untuk sesaat Nissa terpaku, dan merasa kagum dengan sosok dihadapannya, namun sesegera mungkin hal itu dia tepis, dan segera menundukkan pandanganya. Menyadari ketidak sopan nya menatap sosok lawan jenis di hadapannya.


"Mas Denis, Abi meminta mas untuk sarapan Bersama" ucap Nissa dengan menundukkan wajah.


Ada rasa canggung dalam diri Denis yang seketika muncul, ketika dirinya berhadapan dengan sosok Nissa saat ini, terlebih setelah penolakan yang telah dia lakukan.


Sungguh Nissa sejujurnya merupakan sosok yang sangat sempurna, Baik, Cantik, Berpendidikan, beragama, dan Sangat baik, dan lah itu juga tidak begitu saja bisa di abaikan oleh Denis . Namun kembali lagi pada prinsip jika Denis telah membuat sebuah Pernyataan Pinangan pada Mahira. Dan Denis akan tetap menantikan jawaban dari Mahira.


"Oh, Baiklah, Terima kasih" Jawab Denis singkat, dengan pandangan lekat pada sosok di hadapannya.


Setelah mendapatkan jawaban dari Denis, Nissa pun berbalik, dan segera undur diri


"Nissa !" tanya Denis kemudian sebelum Nisa beranjak pergi.


Nissa hanya membalik badan tanpa mengucapkan apa pun.


"Boleh Aku bertanya ?" Ucap Denis


"Iya" Jawab Nissa dengan menundukkan wajah.


"Apa Mahira masih ada di sini ?" Tanya Denis kemudian


Deg.


Sedikit ada rasa terkejut ketika Denis menyebut nama Mahira, dan terlebih menanyakan keberadaan sosok sang sahabat kepada dirinya.


Perasaan hari yang seketika berkecamuk, dan pertanyaan dalam otak yang seolah mencari jawaban atas kekhawatiran yang dia rasakan sejak semalaman.


Bukan menjawab pertanyaan Denis, Nissa justru melemparkan sebuah pertanyaan.


Sejenak Nissa memandang lekat wajah dari sosok di hadapannya, mencari jawaban atas kecurigaan, dan pertanyaan yang seketika memenuhi otaknya.


"Apa Ira juga Orang yang telah mas Denis Lamar ?" Tanya Nissa lagi.


Dengan wajah Menghangat, serta sudut mata yang mulai berembun, Nissa menguatkan hati untuk bertanya hal yang Sejujurnya.


Deg.


Denis yang mendapatkan pertanyaan tersebut merasa sangat terkejut, pasalnya dia tahu pasti jika ustadz Hamzah dan Kiai sepuh pasti sudah mengatakan pada Sosok gadis yang saat ini berdiri tepat di hadapannya mengenai penolakannya semalam.


"Maafkan aku Nis " ucap Denis setelah menjeda Ucapannya untuk beberapa saat.


Nissa yang sudah mengetahui arti kata maaf dari Denis pun, tak kuasa menahan gejolak hati yang dia rasakan. Nissa hanya dapat menganggukkan wajah dengan tetap menundukKan wajahnya, menyeka bulir bening yang seketika lolos begitu saja.


..."Banyak hal yang terjadi dalam kehidupan kita, Berkhusnudzhonlah Karena Allah akan selalu memberi Apa yang kita butuhkan, bukan Apa yang kita inginkan" ...


...🍁...


"Mahira sudah kembali pagi tadi, pagi-pagi sekali Mas " Jawab Nissa Lirih, mengakhiri pembicaraanya dengan Denis, karena setelah itu Nissa berlari dan meninggalkan Denis dengan menyeka air mata yang terus saja membanjiri pipi mulusnya.


Ada rasa sedih dan kecewa yang kemudian muncul dalam hati Nissa, namun entah apa itu yang dia rasakan, Nissa sadar jika nyatanya Mahira yang dia yakini sejak semalam tidak baik-baik saja adalah karena hal ini. Sesuatu yang baru Nissa ketahui Faktanya.


Dimana dia mendapatkan jawaban itu dari sosok Denis, yang juga telah dia ketahui dia pun menolak lamaran sang Abi.


Sakit ?

__ADS_1


Sudah pasti, namun kembali lagi segala sesuatu itu terjadi atas kuasa dan Izin Allah.


Tangis dan sesak yang Nissa rasakan pun kian menjadi, ketika kembali dia menyadari jika Sikap diamnya Mahira semalam adalah untuk menjaga hatinya.


Denis yang mengetahui hal itu hanya dapat terdiam, tidak dapat melakukan apa pun, meski sejujurnya Denis tahu jika saat ini Nissa tengah sangat terluka.


"Maafkan aku Nis" Gumam Denis lagi , menatap kepergian Nissa dari hadapannya.


***


Suasana terasa canggung bagi Denis pagi ini, di meja makan yang selalu dia gunakan bersama ustadz Hamzah dan keluarga untuk makan. Meski Ustadz Hamzah sendiri pun sudah terkesan melupakan kejadian semalam, namun bagi Denis dia merasa sangat tidak enak hati. terlebih kejadian pagi tadi dirinya bersama Nissa.


"Nak Denis Sudah rapi sekali " tanya ustadz Hamzah ketika sudah selesai dengan sarapan ya.


"Oh, iya pak ustadz, saya ada urusan sebentar, sekalian saya mau izin untuk keluar" Jawab Denis jujur


Ustadz Hamzah pun hanya mengangguk-anggukan kepala, dengan mengulas senyum ramah di wajahnya.


Setelah selesai dengan sarapan nya, Denis segera pamit pada ustadz Hamzah dan keluarga untuk undur diri.


Berjalan dengan langkah mantap, Denis menuju parkiran dimana Supercar miliknya terparkir disana. Sudah pasti tujuannya untuk menemui Mahira dan menjelaskan permasalahan yang terjadi antara dirinya dan Nissa sebelumnya.


Menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya Denis telah sampai di kediaman Abi hanif, dengan segala tekat dan keberanian yang dia miliki.


Tok tok tok


"Assalamualaikum"


Dengan mantap Denis mengetuk pintu rumah tersebut.


"Ya, waalaikumsalam, Tunggu sebentar !" Jawab sosok di balik pintu tersebut.


Ceklek.


"Lho mas Denis, pagi-pagi sekali mas, Mari masuk !" Ajak Bi Minah Ketika mendapati sosok di hadapannya adalah Denis.


"Terima kasih Bi, Abi ada ?" TanyaDenis kemudian.


Denis memilih menemui Abi Hanif, karena dirinya meyakini jika Mahira telah mengatakan kejadian semalam pada sang Abi.


"Oh, Abi sama Ummi Sejak kemarin tidak di rumah Mas, Ada acara Kajian Dakwah yang Abi dan Ummi hadiri, Mungkin sore nanti baru kembali" Jawab Bi Minah Sopan.


Denis pun menjawab dengan anggukan kepala "Ohya kalau Mahira ada bi ?" Tanya Denis lagi.


"Ning Mahira?, Setahu bibi juga Ning Mahira kerumah temanya dan belum pulang sampai sekarang " Jawab bi Minah sopan.


Denis tampak mengerutkan dahi dan sejenak berfikir. Jika Mahira telah pergi dari kediaman Ustadz Hamzah pagi-pagi sekali lalu kemana dia saat ini, jika sekarang belum sampai di rumah?.


Sejenak pikiran Denis pun melayang entah kemana. Terbersit sebuah pikiran buruk, namun segera dia tepis.


"Baik Bi kalau begitu saya Permisi" Ucap Denis yang tidak jadi masuk kedalam rumah.


"Lhoo nggak nunggu Ning Ira, mas Denis ?" Tanya Bi Minah kemudian.


"Tidak , terima kasih, saya langsung saja Bi. " Jawab Denis dengan berlalu dari hadapan Bi Minah , menuju tempat dimana dirinya memarkirkan mobilnya.

__ADS_1


***


__ADS_2