
Pagi hari menyapa, Terasa sejuk dan dingin suasana pagi hari di tanah kelahiran Maryam tersebut.
Terlebih bagi Reza yang semalaman tidak juga memejamkan mata. Minggu pagi, dirasa waktu yang tepat untuk kembali meng Shutdown kan otaknya yang bekerja keras akhir-akhir ini.
Setelah solat subuh berjamaah Reza memilih kembali untuk merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, bergulat dengan hangatnya selimut tebal dan guling yang memiliki aroma tubuh sang istri.
Berbeda dengan Reza yang memilih tidur kembali, Maryam memilih untuk segera menuju dapur untuk membantu pekerjaan di dapur menyiapkan beberapa menu masakan untuk sarapan pagi.
"Maryam, sebaiknya kau istirahat saja nak " Ucap Ummi Maya lembut tatkala mendapati sang putri berjalan menuju dapur.
"Maryam sudah lebih baik Ummi" Ucap Maryam kemudian dengan mengulas sebuah senyum manis dari balik cadar yang dia kenakan.
Pemandangan pagi yang mungkin baru pertama kali Maryam saksikan, dimana tidak hanya ada Ummi Maya dan Bi Minah saja namun juga ada Mahira disana yang juga tengah membantu menyiapkan beberapa bahan makanan.
"Kak Ira" Sapa Maryam lembut.
Mahira tersenyum simpul pada sosok sang adik dari balik cadar yang dia kenakan juga.
"Bagaimana keadaanmu Maryam ?" Ucap Mahira kemudian.
"Alhamdulillah kak sudah lebih baik" ucap Maryam seketika.
Keduanya tampak tengah mengiris kangkung untuk dijadikan Cha kangkung tauco, yang merupakan salah satu masakan kegemaran Maryam.
Sejenak tatapan keduanya beradu , Maryam pun menyadari dari sorot mata Mahira yang penuh penyesalan dan ada rona kesedihan di sana pun dapat Maryam rasakan.
Hari masih cukup pagi namun semua sarapan telah siap tersaji, berkat banyaknya tangan yang saling bekerjasama pagi ini.
Tidak berselang lama Abi Hanif muncul dari balik pintu kamarnya dengan wajah cerah setelah terguyur Air dingin pagi ini.
Begitu juga Reza yang terlihat lebih Segar, dengan wajah tampan yang selalu terlihat, berjalan menyusul Abi hanif yang lebih dulu keluar dari kamar menuju Meja makan.
Setelah keduanya duduk , Barulah terlihat sosok Denis yang Muncul dari balik pintu menuju meja makan dengan wajah tampak segar dan senyum slengekan khas Denis.
"Maaf terlambat" Ucap Denis merasa sungkan dengan senyum mengembang yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Seketika Denis menggaruk kepala yang tidak terasa gatal , terlebih dengan tatapan Bos Besarnya yang seolah akan menerkam dirinya.
"Tidak masalah nak Denis, kami juga belum sarapan" Ucap Ummi Maya dengan suara lembut dan tatapan penuh kasih
"Sudah numpang, bangun siang lagi" Batin Reza dalam hati
__ADS_1
Denis hanya mengangguk dengan senyum di wajah manisnya.
Beberapa kali terlihat Denis yang mencuri pandang pada sosok yang tengah duduk tepat di hadapannya, siapa lagi kalau bukan Mahira.
Namun Mahira hanya bergeming dengan tingkah yang di lakukan oleh Denis, tanpa sedikitpun menghiraukannya, Mahira tetap terlihat diam dengan pandangan menunduk.
Tidak seperti biasanya, Sejenak suasana menjadi hening, tatkala seluruh anggota keluarga tengah melaksanakan sarapan pagi, hingga acara sarapan selesai seluruhnya, masih tetap diam tanpa ada kata.
Setelah seluruh anggota keluarga selesai dengan sarapan nya, satu per satu dari anggota keluarga beranjak dari meja makan dan melanjutkan kegiatan masing-masing.
Reza dan Maryam memilih kembali ke kamarnya, untuk sejenak beristirahat kembali, mengingat rencana Reza yang akan kembali ke kota Siang nanti.
"Sayang " Ucap Reza lirih
"Iya mas " Jawab Maryam seketika.
"Sejak kapan kakakmu berubah " Tanya Reza seketika, dengan tatapan penuh tanya.
"Entahlah, karena Maryam tidak menanyakan hal itu, hanya saja Maryam senang dengan perubahan kak Ira" Ucap Maryam dengan suara lembut disertai tatapan penuh cinta pada sang suami.
Reza tampak menautkan kedua alisnya, dan sejenak berfikir tentang kebenaran jika Mahira telah benar-benar berubah atau itu hanyalah akal-akalan saja.
"Apa mas Reza sedang mencurigai kak Ira ?" Ucap Maryam seketika
"Sayang, bagaimana kalau kita ke pergi ke Perkebunan " ucap Reza memberi saran.
Maryam tampak menautkan kedua alisnya "Oke , yuk" Ucap Maryam cepat.
Sejujurnya Maryam merasa memang butuh untuk sejenak merefresh dan menyegarkan kembali pandanganya.
"Kita berangkat sekarang ?" Ucap Reza lagi. Seketika Maryam menganggukkan kepala dengan meraih lengan suaminya dan menggandeng tangan kekar tersebut.
Setelah berpamitan kepada Ummi Maya dan Abi Hanif , Maryam dan Reza bergegas menuju perkebunan.
"Tuan , Apa perlu saya antar ?" Ucap Denis yang tiba- tiba muncul dihadapannya.
"Tidak perlu " Ucap Reza singkat , seraya berlalu dari hadapan Denis.
"Emm.. Kalau pacaran aja nggak ajak-ajak, giliran ada masalah aja ribet, Untung Bos" Batin Denis dalam hati
Tidak butuh waktu lama bagi Reza untuk berkendara menuju Perkebunan teh Milik Abi hanif, karena ini bukan kali pertama dirinya kesana.
__ADS_1
Maryam dan Reza memilih untuk bernostalgia dengan duduk di saung yang dulu pernah keduanya gunakan untuk saling mengakrabkan diri.
Tampak Maryam yang tengah mengingatkan Reza dengan momen beberapa bulan yang lalu, dimana Reza yang saat itu masih sangat membencinya.
"Sayang, sudah lah !, mungkin ini yang dinamakan karma, aku harus menelan ludahku kembali" Ucap Reza dengan senyum berkembang di bibirnya.
Maryam hanya terkekeh mendengar penuturan dari sang suami.
"Mari Ning Maryam.." Sapa salah seorang pekerja lapangan yang tengah melintas di hadapan keduanya.
"Oh, iya mang silahkan " Ucap Maryam ramah pada pekerja tersebut.
Satu tindakan sederhana yang membuat Reza sangat takjub pada sosok Maryam adalah karena Maryam tidak hanya cantik namun juga sangat baik dan penyayang.
Reza tidak henti bersyukur dan merasa menjadi orang paling beruntung telah memiliki Maryam sebagai sosok pelengkap dalam hidupnya.
***
Berbeda dengan Reza yang tengah berpacaran di tengah hijaunya kebun teh.
Denis yang berada di kediaman Abi Hanif pun hanya dapat menatap sosok yang tengah menyiram tanaman di halaman depan tersebut dari jarak yang lumayan jauh.
Ya, tentu saja Mahira lah yang sedang Denis perhatian sedari tadi.
"Tuhan Memang Satu, Tapi kita yang tak sama !" Gumam Denis Lirih dengan tatapan mengarah pada Mahira
"Benar kata Bos, Meski SE Amin tapi Tidak SE Iman " Gumam Denis lagi dengan tatapan sayu.
"Hah Ternyata sulit jika sudah berurusan dengan kepercayaan" Ucap Denis lagi dengan mendengus kesal.
Beberapa kali mengurai penat dalam Dadanya dengan sesekali menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.
Beruntung sebelumnya BI Minah telah menyiapkan secangkir kopi untuk dirinya, jadi Denis merasa masih ada yang menemani duduk meski hanya secangkir kopi hitam.
Dan meski Denis selalu menatap Mahira, Mahira hanya bergeming tanpa memberikan sedikitpun respon pada Denis.
Sejujurnya Mahira tahu jika Denis tengah memperhatikan dirinya, namun Mahira memilih untuk tetap abai.
***
Bersambung
__ADS_1
***