
Setelah kepergian Tama, suasana diantara Denis dan Mahira menjadi semakin canggung.
Mahira hanya tetap menundukKan wajah, dan enggan untuk memulai pembicaraan dengan Denis.
Denis pun juga merasa bingung dengan perasaan yang dia tengah rasakan, tatkala harus berhadapan dengan Mahira dengan jarak yang terbilang cukup dekat. Dimana hanya menyisakan jarak sebuah meja di hadapannya.
"Mahira ?" Tanya Denis kemudian dengan suara lirih.
Mahira hanya bergeming.
"Aku Tahu kau kecewa, Tapi sungguh apa yang kau dengar tadi malam hanya sebagian dari apa yang kami bicarakan" Ucapan Denis dengan mantap.
Mahira mendongakkan wajah dengan tatapan nanar pada sosok Denis yang duduk di hadapannya.
"Aku telah telah menolak lamaran ustadz Hamzah padaku"
"Lalu Nissa ?" Ucap Mahira dengan suara bergetar.
Bukan memikirkan dirinya, justru Mahira memikirkan sang sahabat saat ini, bagaimana perasaanya, bagaimana hatinya, dan bagaimana dia menerima kenyataan ini.
Belum lagi Mahira harus kembali di hadapkan pada kenyataan jika dirinya lah alasan Denis menolak Nissa.
Meski Mahira sangat yakin jika Nissa tidak akan membiarkan hatinya diselimuti rasa gundah gulana. Karena Mahira sangat kenal dengan sahabatnya tersebut, Nissa merupakan seorang muslimah yang baik dan taat agama.
Dua sahabat yang saling menyayangi kini harus di uji dengan sebuah rasa, rasa cinta yang begitu rumit dan terasa begitu menyesakkan dada.
Sedih dan bimbang sudah pasti Mahira rasakan. Namun dirinya juga tidak dapat melakukan apa pun, karena segala sesuatu berjalan atas kehendaknya.
Mendapatkan pertanyaan mengenai Nissa, sejujurnya Denis pun juga tidak memiliki jawaban atas hal itu, selain dirinya telah menolaknya.
Kembali keduanya tertunduk dengan pikiran masing-masing, entah apa yang saat ini ada dalam benak Mahira maupun Denis saat ini.
"Mahira, aku tetap menantikan jawaban darimu " Ucap Denis tegas.
Mahira hanya bergeming, sejujurnya saat ini bukan hanya jawaban atas pernyataan Denis tempo hari yang membuatnya bingungan, namun memikirkan bagaimana nasib pertemanan dirinya dengan Sang sahabat setelah mengetahui kenyataan dibalik penolakan Denis atas permintaan orang tua sahabatnya tersebut.
"Aku harap kau tidak akan membuatku menunggu lebih lama lagi" Ucap Denis lagi
Karena mendapati Mahira hanya tetap diam, tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan yang dia utarakan sebelumnya.
..."Antara Suara Adzan yang berkumandang, dan Arah kiblat yang menuntunku pulang. Antara Manisnya Syafa'at dan Dahsyatnya Syahadat. Antara untaian Tasbih dan doa yang selalu lirih Ku panjatkan. Dan Aku percaya, Antara Sujud mu dan Sujud ku akan bertemu dalam Amin yang sama."...
...🍁...
Ucap Denis menutup pembicaraan diantara keduanya. Denis tahu jika Mahira masih sangat bingung dengan situasi ini, jadi dia memilih untuk membiarkan Mahira sendiri dan merenung untuk sejenak berfikir.
Setelah mengucapkan kalimat terakhir Denis pun beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Assalamualaikum " Ucap Denis dengan berdiri, kemudian berjalan berlalu meninggalkan Mahira yang masih duduk mematung disana.
"Waalaikumsalam " Jawab Mahira lirih, dimana masih dengan posisi menundukkan wajah.
"Tunggu !"
Suara Mahira memanggil Denis yang baru beberapa saat melangkah menuju pintu restoran.
Denis pun berbalik menghadap Mahira yang kala itu telah bangkit dari duduknya.
"Kau memintamu dengan cara yang baik, Maka aku juga akan menjawabnya dengan cara baik, menghadap kedua orang tua Ku" ucap Mahira
"Datanglah ke rumah dan temui orang tuaku, InshaAllah kau akan mendapatkan jawaban dari apa yang kau inginkan" Ucap Mahira dengan suara lembut, dan mengulas senyum manis di wajah cantik yang tertutup oleh cadar.
Mendengar hal itu Denis merasa sangat bahagia. Hingga senyum manis di wajahnya pun terkembang sempurna, menampakkan deretan gigi-gigi putihnya.
"Terima kasih " Ucap Denis penuh semangat. Dan Mahira hanya menjawab dengan anggukan kepala
***
Mendengar dan mengetahui sebuah kenyataan yang begitu menyayat hati membuat Tama hilang kendali.
Lagi dan lagi, dan untuk kesekian kali, Tama harus kembali merasakan sakit hati, entah mengapa Tuhan selalu mengujinya dengan sebuah jodoh dan cinta yang tak kunjung mendapatkan jawaban.
Berteriak , meraung, merutuki keburukan nasibnya, beberapa kali memukul stir mobil yang dia kemudikan, menambah kecepatan laju kendaraan di jalan yang sepi tersebut.
Berkendara dalam suasana hati yang kacau dan emosi yang tidak stabil, membuat Tama tidak sadar jika kecepatan mobilnya sudah mencapai batas maksimal berkendara.
Brak ! .
Brak !
"Astaghfirullah" ucap Tama ketika menyadari dirinya menabrak sesuatu.
Kesadarannya kembali sempurna ketika merasa ada sebuah guncangan hebat dengan mobilnya.
Belum juga Tama keluar dari mobilnya, kerumunan orang sudah menghambur dan berkumpul di sekitar mobil miliknya.
Mengetuk, memukul, dan mengumpat padanya, membuat Tama sedikit merasa cemas, namun nalurinya mengatakan jika dia telah berbuat salah.
Tama pun akhirnya dengan berani turun dari mobil nya, untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Dan benar saja, nyatanya tidak hanya sial dalam cinta, Tama pun harus sial dalam kehidupan nyata. Melihat Banyaknya darah yang bersimbah dari tubuh bocah laki-laki yang berumur kurang lebih 16 tahun.
Beberapa masa yang merasa marah Hampir saja memukuli Tama yang saat itu juga merasa takut.
Namun hal itu segera di cegah oleh orang lain, karena yang harusnya saat ini menjadi perhatian utama adalah anak tersebut, bukan sibuk dengan mengurus Tama.
__ADS_1
Namun masa yang sudah kalap bahkan telah membawa balok kayu sebelumnya sudah hampir melempari dan memukul i mobil Tama dengan balok tersebut.
"Pak !, Saya mohon tenang pak !" Ucap Tama
"Saya akan bertanggung jawab !, Saya akan bawa anak ini ke rumah sakit" Ucap Tama meyakinkan orang di sekitarnya.
"Jika bapak seperti ini, menahan saya dan berusaha merusak mobil saya, bagaimana saya bisa menyelamatkan anak ini" Ucap Tama lagi
"wuww"
"wuww"
"Wuww.. Musti di usut samai tuntas nih" ucap orang-orang disana.
"Tenang pak , saya akan bertanggung jawab sampai akhir, saya akan temui orang tuanya" Ucap Tama meyakinkan kembali masa yang memanas.
Lebih dari dua puluh orang yang mengerubungi tempat kejadian perkara pun akhirnya mengerti dengan situasi dan kondisi tersebut.
Mereka akhirnya memilih membantu Tama untuk mengangkat dan memasukkan anak tersebut kedalam mobil Tama, dan kemudian membiarkan Tama bertanggung jawab, dan menjalankan kewajibannya.
Ditemani oleh seorang bapak-bapak yang juga ikut mengantarkan ke rumah sakit.
"Mas kita harus cepat ini !" Pinta bapak tersebut.
Dan Tama menjawab dengan anggukan kepala.
Melihat Banyaknya darah yang keluar, memang itu bukanlah hal yang biasa, dan harus segera mendapatkan pertolongan.
Beberapa saat memacu kendaraanya, dengan kecepatan tinggi, Tama akhirnya tiba di rumah sakit.
"Dokter Tama !" Ucap salah seorang perawat yang memang mengenal Tama, melihat Tama dalam kondisi kacau, dengan kemeja penuh darah.
Namun Tama hanya bergeming "Siapkan brankar!" Ucap Tama keras dengan membuka pintu belakang mobilnya.
Dengan langkah cepat beberapa perawat telah sigap membawa brankar, membawa tubuh anak laki-laki tersebut, untuk segera mendapatkan pertolongan pertama.
Seorang dokter muncul untuk melihat kondisi pasien
"Berikan penanganan terbaik!" Pinta Tama pada dokter tersebut.
"Baik dokter Tama !" Ucap dokter tersebut.
Dengan perasaan kacau Tama Menunggu anak tersebut di luar pintu operasi, Perasaan cemas dan takut yang seketika menyeruak.
Membayangkan bagaimana orang tuan anak tersebut jika mengetahui anaknya telah dia tabrak. Pertanyaan demi pertanyaan yang tiba-tiba memberondong otaknya.
Bahkan pikiran buruk jika orang tuanya tidak terima dan akan mengusut hal ini ke jalur hukum.
__ADS_1
Tama semakin dibuat kalut dan di selimuti rasa bersalah, beberapa kali dia menjambak rambutnya sendiri, merutuki kebodohan dan keteledoran yang dia lakukan.
***