PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
116. Bukan Waktu yang salah dalam sebuah Kisah Cinta


__ADS_3

Menanam beberapa tanaman dan bunga membuat Mahira merasa bahagia, sedikit mengalihkan kesedihan dalam hatinya, dan hal itu mungkin yang saat ini kerap Mahira lakukan ditengah Kegiatannya membantu Abi Hanif mengelola pabrik dan perkebunan.


"Ehem " Suara deheman Tama yang seketika mengagetkan Mahira yang tengah sibuk merapikan tanaman.


Mendengar suara dari arah belakang, Mahira bergegas membalik badan dan melihat siapa yang menghampirinya, kedua bola mata Mahira membulat sempurna tatkala mendapati Tama berdiri tepat di belakangnya


Sejenak tatapan keduanya beradu pada satu titik yang sama.


"Assalamualaikum Mahira" Ucap Tama dengan suara lembut dan tatapan menghadap Mahira yang masih berjongkok.


"Wa waalaikumsalam kak Tama " Ucap Mahira terbata dengan beranjak dari duduknya semula.


"Maaf ada perlu apa kak Tama kemari " Ucap Mahira dengan meneliti ke sekitar.


"Tidak perlu khawatir, aku sudah izin Abi untuk menemui mu" Ucap Tama.


Mahira bernafas lega kemudian tampak berfikir, ada tujuan apa Tama menemuinya, pasalnya ini sesuatu yang sangat jarang dan hampir dapat di pastikan tidak pernah dalam sejarah Tama menemuinya. Mustahil bagi Tama untuk menemui dirinya.


Jangankan untuk menemui, melihat wajahnya saja mungkin Tama akan merasa jijik, masih jelas teringat dalam pikiran Mahira dimana Tama yang selalu mengacuhkan dirinya, dan tidak memberi kesempatan sedikitpun meski hanya menjadi seorang teman.


Justru jika untuk bertemu Maryam mungkin Mahira tidak akan begitu terkejut, namun kali ini Tama datang jauh hanya untuk menemui dirinya. Mahira hanya dapat berpikir dengan tatapan yang entah mengisyaratkan apa.


"Bisa kita bicara ?" Ucap Tama dengan senyuman ramah.


Dengan sekilas menatap wajah Tama, Mahira kemudian memberikan jawaban dengan menganggukkan kepala.


"Aku akan menunggu di luar, bersiaplah" Ucap Tama


"Sepertinya Cafe di dekat sini baru di buka, kita bisa sekalian coba menu baru di sana" Tukas Tama dengan suara lembut


Mahira tampak berfikir dengan ucapan Tama yang baru saja dia dengar "Tidak bisakah kita bicara di sini saja ?" Ucap Mahira.


"Apa kau keberatan ?"


"Oh, Bukan. Bukan begitu maksut ku kak, Hanya saja disini lebih baik untuk kita" Ucap Mahira dengan menundukkan wajah.


"Baiklah" Jawab Tama dengan mengulas senyum bahagia. Menampakkan rasa kagum pada sosok di hadapannya.


Mahira yang masih membawa skop dan tangan yang penuh dengan tanah, kemudian segera membersihkan nya, dan segera berjalan menuju gazebo taman, di ikuti oleh Tama yang berjalan dibelakang mengikutinya.


"Ada perlu apa kak Tama menemui ku " Ucap Mahira ketika keduanya telah duduk di gazebo dengan mengurai jarak yang lumayan jauh.


"Oh tidak, aku hanya ingin menemuinya saja" ucap Tama


"Benarkah ?" Tanya Mahira dengan memicingkan mata, tampak ada keraguan dalam dirinya.

__ADS_1


"Tentu saja, Apa kau tidak percaya ? " jawab Tama ramah


"Jika tidak ?" Sergah Mahira kemudian


Terlihat Tama yang terkekeh mendengar jawaban dari Mahira "Kau tidak berubah dari zaman kuliah" Ucap Tama


"Masih saja keras kepala" Ucap Tama lagi, dengan sorot mata menghadap Mahira, namun Mahira hanya menundukkan wajahnya.


"Benarkah tidak berubah ?" Ucap Mahira, dan dibalas dengan anggukan kepala oleh Tama


Mahira mengulas sebuah senyum Manisa dari balik cadar yang dia kenakan, senyuman yang bisa Tama lihat meski hanya melalui sorot mata yang di tunjukan oleh Mahira.


"Tapi sepertinya Ka Tama banyak berubah ya" Ucap Mahira kemudian.


"Benarkah ?" Ucap Tama antusias, dan Mahira menganggukkan kepala tanda memberi jawaban.


"Datang kemari untuk menemui ku, rasanya hal itu mustahil kak Tama lakukan, jika mengingat kak Tama yang dulu" Ucap Mahira dengan suara datar.


Tama hanya tersenyum dan merasa bahunya mulai meremang. Menyadari kesalahan yang pernah dia lakukan terhadap Mahira.


"Apakah tidak boleh silaturahmi ?, aku hanya ingin Reuni denganmu ! " Ucap Tama dengan suara santai


"Silaturahmi?, tentu saja boleh, Abi pun akan dengan senang hati menerima kakak " Ucap Mahira


Tama semakin dibuat telak dengan ucapan Mahira, pasalnya dia hanya ingin sedikit beramah tamah dan mendekatkan diri dengan Mahira, untuk saat meraih hati Mahira yang nyatanya tidak semudah yang dia bayangkan.


Namun Mahira yang memiliki sifat keras, tidak dengan mudah menerima kehadiran seseorang, meskipun orang tersebut pernah menghuni relung hati yang paling dalam.


"Jika ada tujuan lain katakan saja kak, aku rasa kakak bukan orang yang suka berbasa-basi " Ucap Mahira


"Bukankah kak Tama seorang dokter spesialis yang sangat sibuk ?" Tukas Mahira kemudian, dengan mengerutkan dahinya.


"Ohh em, hari ini aku sedang Turun piket" ucap Tama memberi penjelasan.


"Oh.. " Jawab Mahira singkat, dengan menganggukkan kepala.


Sejenak keduanya hanya saling terdiam dengan pikiran masing-masing.


"Mahira ?" Ucapan Tama yang seketika memecah keheningan diantara keduanya


Dengan menatap sekilas sosok di sampingnya , " Iya" Jawab Mahira kemudian


"Apa kau masih marah dengan kejadian waktu itu ?" Ucap Tama dengan penuh penyesalan.


"Kejadian ?, maksut kakak ?" Tanya Mahira

__ADS_1


"Kejadian di masa lalu !" Ucap Tama


Sejujurnya Mahira sangat paham kemana arah pembicaraan Tama saat ini, namun dirinya memilih untuk mengalihkan pembicaraan tersebut.


Alih-alih teralihkan justru Tama semakin mencecar Mahira dengan pertanyaan yang sama.


"Apa kau masih kecewa denganku Mahira?" Ucap Tama lagi


"Aku sudah memaafkan ka Tama" Ucap Mahira singkat


"Namun Jika pertanyaannya soal kecewa, tentu saja Mahira masih sangat kecewa kak, bahkan Mahira selalu mencoba untuk menutupi luka tersebut, sampai pada hari ini kak Tama datang dan membuka kembali luka tersebut" Ucap Mahira dengan menundukkan wajahnya.


Sakit ?


Tentu saja.


Bagaimana tidak Mahira merasa sangat kecewa, dirinya hanya seorang Mahasiswa baru yang menaruh rasa kagum pada sosok mahasiswa kedokteran seniornya tersebut.


Mengingat kembali betapa konyol dan bodohnya dirinya di masa lalu, Berharap pada seorang manusia yang nyatanya justru menyakitkan, namun dari hal itu justru Mahira belajar bahwa sejatinya tempat berharap paling baik adalah hanya Allah SWT.


Namun kenyataan pahit harus Mahira terima tatkala Tama dengan terang-terangan memakai dan menolak secara kasar ungkapan hati yang Mahira utarakan.


Bukan hanya kecewa saja, namun juga rasa malu yang luar biasa harus Mahira terima, hingga Mahira tidak sanggup menerima Bulian dan cemoohan dari teman-teman nya, dan berakhir pada Mahira yang drop out dari kampus, hingga dia harus terjerumus dalam pergaulan yang tidak semestinya.


Ibarat sebuah pepatah yang mengatakan


...Ada yang harus dilepaskan untuk mengetahui rasanya lega, dan ada yang harus menghilang untuk tahu rasanya sesal ....


"Maafkan aku " Ucap Tama singkat dengan menundukkan wajah


"Tenang saja ka, Mahira sudah memaafkan ka Tama " Ucap Mahira sopan dengan senyum di balik cadar yang dia kenakan.


...Bukan Waktu yang salah dalam sebuah kisah cinta , Tapi keegoisan yang bisa menghancurkan segalanya...


Semakin hari Mahira , semakin menunjukan pesona yang makin membuat orang lain kagum padanya, terutama kaum Adam.


***


Bersambung


***


Maaf ya semuanya, part ini Author sengaja fokuskan ada cerita Tama Mahira dan Denis yaa.


Kita Satukan kisah mereka dalam part ini ya.

__ADS_1


__ADS_2