
Waktu menunjukan pukul 12.45
Setelah selesai dengan kuliahnya Maryam bergegas menuju Masjid di kampusnya, untuk melaksanakan Sholat Dzuhur yang telah terlewatkan.
Segera Maryam mengambil wudhu dan melaksanakan sholat dengan khusuk.
Beberapa saat Maryam telah selesai dengan Sholatnya, segera Maryam meraih ponsel miliknya yang dia letakkan dalam tas.
Maryam tampak sedang menghubungi pak Roni , dan memintanya untuk menjemput di kampus, karena sesuai dengan perintah sang suami, Maryam tidak di izinkan untuk pergi kemanapun sendiri, selain dengan supir pribadinya ataupun dengan Reza sendiri.
Beberapa saat menunggu akhirnya yang di tunggu datang juga, pak Roni segera bergegas membukakan pintu mobil untuk Maryam dan mempersilahkan nyonya nya untuk masuk kedalam.
"Silahkan, Nyonya " ucap pak Roni sopan
"Terima kasih pak " Ucap Maryam tidak kalah sopan
Setelahnya pak Roni melajukan mobilnya, berlalu meninggalkan kampus tercinta , dan seketika bergelut dengan kemacetan dan ramainya jalanan kota di siang ini.
Tidak butuh waktu lama, dua puluh menit perjalanan , akhirnya keduanya tiba di sebuah gerbang besar , segera penjaga membukakan gerbang tersebut dan mobil pun berlalu menuju halaman rumah yang sudah seperti istana tersebut.
Sepeti biasa beberapa pelayan akan menyambut kedatangan Maryam di ambang pintu dan mempersilahkan masuk.
"Selamat siang Nyonya" Ucap pelayan dengan membungkuk sopan.
"Assalamualaikum Bi " Ucap Maryam ramah dengan senyum simpul dibalik cadar yang dia kenakan.
Karena hari ini kakek Amar dan nenek Halimah ada acara penting di luar kota, jadi Maryam segera menuju kamarnya tidak mencari kakek dan nenek Halimah dahulu seperti biasanya.
"Nyonya mau bibi buatkan apa ? , untuk makan siang ?" Ucap Bi Siti yang datang dari arah dapur.
"Terima kasih Bi, apa saja boleh" Ucap Maryam dengan suara lembut.
Seketika Bi Siti membalas dengan anggukan kepala.
"Bi , Maryam ke kamarnya dulu ya" Ucap Maryam kemudian.
"Baik Nyonya" Jawab bi Siti sopan
Setibanya Maryam di kamar , segera Maryam menyiapkan sebuah koper berukuran sedang, yang akan dia isi dengan pakaian miliknya juga pakaian sang suami, yang akan di kemas dalam satu koper.
Tidak butuh waktu lama , Maryam telah selesai dengan semua perlengkapannya.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari balik pintu kamar Maryam
"Masuk, Pintunya tidak di kunci " Ucap Maryam kemudian
Ceklek.
Terlihat Bi Siti yang berjalan masuk membawa satu nampan penuh berisi makan siang , minuman, dan beberapa buah untuk Maryam.
"Wah, tidak perlu repot-repot Bi" Ucap Maryam merasa sungkan dengan wanita paruh baya yang selalu melayaninya tersebut
"Tidak masalah nyonya, Nyonya pasti lelah, Jadi bibi bawakan saja kesini" Ucap Bi Siti dengan suara sopan.
__ADS_1
"Loh nyonya mau kemana ?, Kenapa mengemas koper ?" Ucap Bi Siti setelah melihat terdapat sebuah koper berukuran sedang yang berada diatas kasur.
"Oh, InshaAllah sore ini Maryam dan mas Reza akan berkunjung kerumah Abi dan ummi " Ucap Maryam kemudian
Bi Siti tampak mengerti dan menganggukkan kepala.
Setelah meletakkan satu nampan penuh berisi makanan dan minuman, Bi Siti segera pamit dan berlalu meninggalkan kamar Maryam.
Terlihat Maryam menarik arloji yang dia kenakan "Sudah jam segini kenapa mas Reza belum pulang ya" Gumam Maryam lirih.
Beberapa kali Maryam melongo kearah jendela Demi memastikan mobil sang suami telah kembali, namu lagi-lagi Maryam harus bersabar.
Tring...
Terdengar dering telepon milik Maryam berbunyi, terlihat jelas sebuah nama disana"Suamiku" .
Segera Maryam mengangkat telepon tersebut.
"Assalamualaikum sayang" Ucap Reza dari ujung telepon
"Waalaikumsalam mas " Jawab Maryam kemudian
"Sepertinya aku akan sedikit terlambat" ucap Reza
"Aku sudah meminta pak Roni untuk mengantarkan mu kerumah Abi " Ucap Reza lagi
Maryam hanya mendengarkan dengan seksama ucapan dari sang suami.
"Setelah selesai dengan semua pekerjaan, aku akan segera menyusul mu ke rumah Abi" Ucap Reza kemudian
Setelah menyampaikan maksut dan tujuannya, Reza segera memutuskan sambungan telepon tersebut dengan sebelumnya mengucapkan salam pada Maryam.
Meski merasa berat namun Maryam menurut dengan arahan dari sang suami.
Tidak ingin membuang waktu, Maryam bergegas keluar kamar, dan mencari pak Roni untuk mengantarkannya ke rumah Abi Hanif.
Sebelumnya Maryam menemui Bi siti yang ada di dapur untuk berpamitan, dan berpesan untuk menjaga rumah selama di tinggal oleh kakek dan nenek serta dirinya juga Reza.
Tak disangka ternyata pak Roni telah siap menunggu Maryam di teras rumah untuk mengantar kan Maryam menuju kediaman Abi Hanif.
"Nyonya Maryam sudah siap?" Tanya pak Roni sopan dengan meraih koper yang di bawa Maryam dan memasukkannya dalam bagasi mobil.
"Sudah pak" Ucap Maryam.
"Kita berangkat sekarang ?" Ucap pak Roni, kemudian di balas anggukan kepala oleh Maryam.
Cukup jauh perjalanan yang akan di tempuh oleh keduanya, jadi Maryam memilih untuk tidur sejenak untuk menghemat tenaganya.
Sejenak pak Roni merasa ada yang tidak beres, dengan dua buah sepeda motor yang terus saja membuntutinya dari saat mobil yang di kendarai pak Roni keluar gerbang rumah megah tersebut.
Meski merasa sedikit aneh, namun pak Roni abai karena merasa mungkin hanya sebuah kebetulan keduanya memiliki arah tujuan yang sama.
Setelahnya pak Roni kembali fokus dengan kemudi dan jalanan yang mulai sepi.
Memasuki kota dimana Maryam dilahirkan memang tidaklah seramai dimana kota saat ini dia tinggal bersama sang suami juga kakek Amar dan Nenek Halimah.
__ADS_1
Perjalanan dirasa ramai lancar sore ini, hingga pak Roni dapat memacu mobil yang dia kemudikan dengan lebih cepat.
Kurang lebih dua jam berlalu keduanya telah sampai di depan sebuah rumah besar namun tidak semegah dan semewah rumah Reza.
"Pak disini saja" Ucap Maryam pada sang supir untuk memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Abi Hanif.
"Baik Nyonya" Ucap pak Roni sopan menurut perintah majikanya.
Maryam yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Abi Hanif dan Ummi Maya, setelah menahan rindu selama satu bulan lamanya, segera membuka pintu mobil.
Sejenak Maryam berdiri dan mengedarkan pandanganya melihat rumah yang sejak dulu dia tempati, Tidak banyak yang berubah, masih tetap sejuk dan terasa hangat.
Brum ! Brum !
Srakk !!
Brak !!!
"Maryam !!..."
"Nyonya !!..."
Sebuah teriakan lantang dan keras yang terdengar oleh pasang telinga Maryam.
Seketika Badan Maryam terhuyung oleh tarikan keras dari seorang wanita bercadar yang berusaha menyelamatkan dirinya.
Terlihat sebuah sepeda motor yang dengan sengaja berusaha menyambar tubuh Maryam yang tengah berdiri di samping pintu mobil.
"Ya Allah nyonya Maryam" Pak Roni pun tampak panik dengan kejadian yang tiba-tiba.
Segera pak Roni menuju sisi lain mobil, dan meninggalkan koper yang sebelumnya akan dikeluarkan dari bagasi.
"Nyonya , Ya Allah, Nyonya tidak Papa?" ucap pak Roni, tampak kepanikan terlihat di wajah tuanya
" Alhamdulillah, Maryam Tidak apa apa pak Roni , Maryam baik-baik saja" Ucap Maryam dengan suara gemetar dan meringis kesakitan
Meski mengatakan baik-baik saja , faktanya Maryam sedikit mengalami Cedera pada sikunya yang menghantam keras trotoar, akibat tarikan kuat dari sang penolong.
"Terima kasih "Ucap Maryam kemudian dengan suara bergetar masih dengan perasaan campur aduk pada sang penolong.
"Maryam ! , Ini kakak" ucap sang penolong yang belum juga Maryam ketahui identitasnya.
Sejenak Maryam meneliti Pada sosok sang penolong, sungguh dirinya sangat terkejut dengan suara yang terasa Familiar di telinganya
"Kak Ira !" ucap Maryam seketika.
***
Bersambung
***
Selalu Peluk jauh untuk para Reader ku yang baik hati dan setia menanti kelanjutan cerita dari Pesona Maryam Albatul Rahmah
🥰🥰🙏🤗
__ADS_1