PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
142. Titipan Kertas


__ADS_3

Pagi hari.


Hari ini Ali terlihat lebih ceria, terlebih setelah bertemu dengan dokter Anton, yang mengatakan jika dirinya sudah di perbolehkan untuk pulang.


Meski tidak banyak yang Ali dapat lakukan, karena masih terbatas dalam gerakan, namun bagi Ali sudah di izinkan untuk pulang saja dirinya sudah sangat bahagia.


Seperti yang telah di sampaikan oleh dokter jika hari ini Ali sudah di perbolehkan untuk pulang.


Nissa tidak kalah sibuk hari ini, mengemas seluruh barang milik Ali dan dan juga beberapa barang miliknya. Tidak banyak memnag karena Ustadz Hamzah juga Ummi yang selalu datang untuk membawa pakaian kotor milik Nissa.


Ada beberapa bingkisan dari beberapa teman Tama yang sengaja datang berkunjung, tidak jarang Reza ataupun Maryam yang berkunjung dengan membawa banyak bingkisan untuk mereka.


Dan banyak bingkisan yang memang belum terbuka , ataupun belum sempat di buka, Nissa kemas dalam satu tempat untuk di bawa pulang, karena mungkin saja nanti setibanya di pesantren Ali berniat berbagi dengan teman-temanya.


Semua pekerjaan Nissa lakukan sendiri, Ali sempat ingin membantu, namun Nissa menolak, karena memang Ali masih harus banyak beristirahat,


Sedari malam hari Tama tidak juga kembali ke kamar , karena Tama yang masih sibuk dengan beberapa pekerjaan dan tugasnya sebagai dokter.


Bahkan hingga pagi ini pun Tama juga belum menunjukan batang hidungnya.


Tring. Tring


Terdengar dering telepon Nissa.


"Abi " Gumam Nissa


Segera Nissa menggeser ikon tanda hijau di layar handphone miliknya.


"assalamualaikum Abi" Sapa Nissa setelah keduanya terhubung dalam satu panggilan.


"Waalaikumsalam Nissa" Ucap ustadz Hamzah kemudian.


Setelahnya ustadz Hamzah menanyakan kondisi Ali pagi ini, dan bagaimana biaya Administrasi yang harus di urus, dan biaya pengobatan Ali.


Nissa pun menjelaskan dengan rinci semua yang di sampaikan oleh dokter berkaitan dengan kondisi Ali, biaya administrasi yang telah di bayar seluruhnya oleh Tama, jadwal kontrol dan waktu kepulangannya hari ini.

__ADS_1


Setelah menyampaikan semua pada Ustadz Hamzah Nissa pun kembali menutup sambungan telepon tersebut


Setelahnya kembali sibuk dengan beberapa barang yang masih belum sempat di kemas. Berhubung Tama tidak sedang ada di sana, Nissa melakukan semua pekerjaan sendiri.


Menyadari jika Nissa pun juga tidak memiliki akses pada Tama, jujur sedikit membuat Nissa bimbang dan sedikit bingung.


Tidak mungkin baginya untuk. Pergi begitu saja tanpa berpamitan, sementara semua biaya di tanggung oleh Tama, tidak hanya biaya saja namun juga semua kebutuhan Ali dan dirinya pun juga di tanggung oleh Tama, Annisa merasa tidak nyaman dan tentunya itu tidak sopan, jika harus pergi begitu saja.


Setelah cukup bergelut dengan pikirannya, Nissa dan Ali memilih untuk menunggu Tama, dan berpamitan secara langsung.


Namun beberapa saat menunggu Tama juga tidak kunjung kembali, hampir dua jam lamanya Annisa dan Ali menunggu, sampai beberapa perawat menanyakan kesiapan keduanya. Karena bagi pasien yang akan pulang, beberapa perawat akan mengantarkan sampai ke pintu depan.


Setelah cukup lama menunggu dan Tama tidak juga kembali, mengingat Ali yang masih harus banyak istirahat, akhirnya Annisa mengambil keputusan untuk pulang tanpa berpamitan.


Namun sebelum keduanya pulang, Annisa sempat menitipkan pesan pada seorang perawat jaga yang ada disana, jika dirinya dan Ali akan pulang.


Ditemani oleh supir pesantren, Keduanya Menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh menit, akhirnya keduanya telah sampai di pesantren, disana Ali di sambut oleh teman-teman santri putra yang memang telah mengetahui jika hari ini Ali akan pulang.


Meski masih menggunakan Tongkat Ali begitu semangat dengan sambutan teman-temanya, sering terlibat dalam kegiatan bersama dan selalu bersama-sama saat di pesantren, sedikit banyak membuat Ali merindukan teman-temanya.


Sebenarnya Ustadz Hamzah meminta Ali untuk tidur di rumah utama, selama masa penyembuhan, namun Ali menolak dan memilih tidur di asrama bersama dengan teman-temanya. Dan ustadz Hamzah pun menuruti permintaan Ali


"Alhamdulillah"Gumam Nissa dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur, hingga sesaat Nissa memejamkan mata.


***


Kegiatan hari ini cukup banyak, karena banyak pasien emergency yang harus Tama tangani, belum lagi operasi yang memakan waktu ber jam-jam lamanya.


Masih mengenakan setelah ruang OK Tama berencana menemui Ali untuk menanyakan kabarnya.


"Dok" Sapa salah seorang perawat yang menghampirinya


"Ya " Jawab Tama singkat.


"Maaf dok, tadi Bu Nissa menitipkan pesan jika dia telah pula v" ucap perawat tersebut dengan sopan.

__ADS_1


Tama tampak mengerutkan dahi, menampakkan guratan halus di wajah tampannya.


"Pulang ?" Ulang Tama pada sang perawat.


Perawat tersebut menganggukkan kepala "Bu Nissa juga sempat menyampaikan permohonan maaf ada dokter" Ucap sang perawat lagi


Tama menjawab dengan anggukan kepala, dan bergegas memutar haluan menuju ruang kerjanya, mengingat Ali yang juga telah pulang.


"Ohya dok " panggil perawat itu lagi.


Tama berbalik dan mengangkat dagunya, isyarat menanyakan ada apa dirinya kembali memanggilnya.


"Ini ada titipan dari Bu Nissa" ucap Sang perawat, dengan menyodorkan selembar kertas yang telah di titipkan Nissa padanya.


Tama pun menerima kertas yang di berikan padanya "Terima kasih" Ucapnya kemudian.


Dan perawat tersebut menjawab dengan anggukan kepala.


***


Berjalan dengan langkah gontai, karena semalaman Tama tidak juga terpejam, hingga pagi tadi dirinya masih harus visit pada beberapa pasien di bangsal. hal itu cukup menguras energi dan tenaganya.


"Huh" Desah nafas Tama yang merasa lega, setelah membaringkan tubuhnya di atas kursi kebesaran di ruang kerjanya.


Tama meraih kertas yang sebelumnya dia terima dari Annisa yang di titipkan pada perawat, kemudian Membuka lembaran kertas tersebut.


"Assalamualaikum, Maaf dok jika saya lancang, Saya dan Ali pamit pulang , Terima kasih atas semua bantuan yang dokter berikan pada kami, Dan Sekali lagi maaf tidak mengatakan secara langsung .. Untuk informasi berkaitan dengan perkembangan kesehatan Ali , Dokter bisa menghubungi saya nanti di nomer ini. 081 *** *** *** *** "


Begitu kira-kira pesan singkat yang di tulis oleh Nissa pada Tama.


Melihat tulisan indah yang tengah dia baca, tanpa sadar Tama mengulas sebuah senyum manis di wajah tampannya.


Segera meraih handphone miliknya yang berada di dalam saku, dan menyalin nomor Nissa kedalam handphone miliknya.


Mendapatkan nomor handphone Annisa, Tama merasa saat ini dirinya sedang menang undian berhadiah.

__ADS_1


Entah kenapa selama bersama Nissa , Tama tidak pernah memiliki keberanian meski hanya sekedar menanyakan berapa nomor handphone Annisa. Bagaikan pucuk di cinta Ulam Pun Tiba, ya begitulah hidup.


***


__ADS_2