
"Ohya , Maryam lupa, Sebetulnya tadi mas Reza ngapain sih ke kelas Maryam?" Tanya Maryam tampak penasaran.
Reza tersenyum getir, tampak malu dan ragu untuk menjawab pertanyaan Maryam
Reza enggan untuk menjawab pertanyaan Maryam, tidak mungkin baginya mengatakan jika dia tidak suka dan tidak rela melihat Maryam dekat dengan Tama.
Namun untuk satu hal ini Reza juga tidak mungkin melarang Maryam untuk kuliah. meskipun dirinya tidak suka dengan Tama.
Maryam menyadari jika suaminya tidak ingin menjawab pertanyaannya.
"Baiklah , kalau mas Reza belum ingin menjawab, tidak masalah" Ucap Maryam lembut pada Reza dengan senyuman manis dari balik cadarnya.
Reza berlalu memecah keramaian jalanan kota, dengan sesekali melirik Maryam yang tepat duduk di sebelahnya.
Maryam pun membalas senyuman suaminya dengan usapan lembut di punggung tangan Reza.
Beberapa saat mobil berlalu keduanya sampai di pintu gerbang rumah mewah Reza.
Keduanya telah di sambut oleh para pelayan yang menunggu kedatangan keduanya.
"Selamat sore Tuan , Selamat Sore Nyonya" Ucap para pelayan bersamaan dengan membungkukkan badan
" Assalamualaikum, Sore " jawab Maryam ramah dengan senyuman. Reza hanya menganggukkan kepala dan segera berlalu dari hadapan para pelayan untuk segera menuju ke kamar.
"Bi Siti ini biar Maryam bawa sendiri" Tunjuk Maryam pada sebuah paper bag yang berisi belanjaan pribadinya.
"Kalau yang lain Bibi bawa ke dapur ya, Seperti biasa langsung di tata" Ucap Maryam sopan pada Bi Siti yang merupakan kepala pelayan di rumah tersebut.
"Baik Nyonya" ucap Bi Siti sopan.
"Ohya kakek dan nenek dimana bi? " tanya Maryam kemudian
"Tuan dan nyonya besar sedang bersantai di halaman belakang nyonya" Jawab bi Siti sopan.
"Oh baiklah, Kalau begitu Maryam Permisi ya Bi" Ucap Maryam sopan dengan nada lembut.
Bi Siti dan pelayan lain menganggukkan kepala.
Beberapa saat kemudian Maryam telah sampai di kamar besar milik Reza sebelumnya, namun kini juga menjadi miliknya.
Maryam segera bergegas untuk membersihkan dirinya dan melaksanakan sholat ashar. Reza terlihat berada di ruang kerjanya dengan fokus menghadap leptop.
Tidak ingin membuang banyak waktu segera Maryam menuju kamar mandi.
Setelah beberapa saat Maryam telah selesai dengan ritual mandinya, mengikat rambutnya mengenakan handuk , serta mengenakan handuk yang dia lilitkan pada bagian dada. .
Ceklek
Kedua bola mata Maryam terbelalak sempurna ketika mendapati Reza berdiri tepat di depan pintu kamar mandi
"Mas" Suara Maryam dengan nada memekik.
Mendadak Maryam merasa gugup, pasalnya sebelum dirinya ke kamar mandi Reza begitu fokus dengan pekerjaannya
__ADS_1
Reza tidak hentinya menatap Maryam dengan tatapan mendamba dan penuh harap.
"Mas ngapain " Tanya Maryam dengan terbata
Reza tetap bergeming dengan pertanyaan Maryam. Fokus Reza menatap mata Maryam yang begitu indah.
Reza melangkah maju ke arah Maryam, mengikis jarak diantara keduanya. Begitu juga Maryam yang ikut mundur sesuai pergerakan Reza yang semakin maju
Tatapan keduanya beradu, dengan Maryam yang merasa gugup dan panik, sementara Reza yang menatap mata Maryam dengan intens.
Setelah keduanya semakin dekat tanpa adanya jarak, Reza segera mengunci tubuh Maryam dengan meletakan satu tangan berada di tembok dan satu tangan lainya telah siap meraih pinggang Maryam. Reflek Maryam memejamkan matanya.
Reza semakin menundukkan wajahnya, mendekatkan ke wajah Maryam. Terasa semakin dekat, sangat dekat hingga Maryam dapat merasakan hembusan nafas Reza di pipi mulusnya
Begitu dekat hingga aroma maskulin dari tubuh Reza dapat dengan bebasnya keluar dan masuk rongga hidung Maryam.
Cup.
Satu kecupan manis mendarat di puncak kepala Maryam.
"Apa kau sudang sangat siap sayang ?" Bisik Reza tepat di telinga Maryam
Seketika Maryam membelalakkan matanya. Maryam merasa sungguh sangat malu. Beberapa kali mengedipkan mata dan Menelan Saliva nya kasar.
"Tenang saja aku tidak akan melakukanya sekarang, apa lagi di sini " Goda Reza dengan nada lembut.
"Karena aku baru belajar sedikit tentang Cara berpetualang yang baik, dan tempat ini bukan tempat yang baik untuk berpetualang" goda Reza lagi.
Hal itu membuat Maryam semakin tertunduk malu dengan raut wajah yang sudah merah merona.
"Pakailah bajumu" Ucap Reza dengan senyum manis.
"Aku bisa saja berubah pikiran, karena aku hanya laki-laki biasa, Tidak akan kuat jika kau selalu menggodaku seperti ini " Bisik Reza lagi di telinga Maryam, yang seketika membuat bulu kuduk Maryam berdiri
"Siapa yang menggoda" Sergah Maryam . Reza hanya tersenyum
"Sebelumnya mas Reza sibuk di ruang kerja, kenapa tiba-tiba datang ?" Tanya Maryam dengan memanyunkan bibir merahnya
Reza hanya terkekeh dengan sikap Maryam yang merasa kesal dengan dirinya.
"Sudah, kau akan sakit jika tidak segera mengenakan pakaian" Ucap Reza lembut.
"Aku akan ambil wudhu, kita sholat berjamaah setelah ini. Ucap Reza sembari berlalu dari hadapan Maryam
Keduanya Melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk dengan Reza sebagai imamnya. Sedikit banyak hafalan Reza telah bertambah.
Hal ini juga tidak lepas dari bantuan Maryam yang dengan sabar membantu Reza.
***
Beberapa saat kemudian Maryam telah siap di dapur dengan beberapa bahan yang sudah dia siapkan untuk membuat minuman herbal khusus untuk kakek Amar dan nenek Halimah.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Maryam segera mengantarkan minuman tersebut kepada keduanya yang sedang bersantai di taman belakang.
__ADS_1
"Kakek... Nenek" panggil Maryam lembut penuh semangat
"Maryam ..." Jawab nenek Halimah .
"Duduklah disini sayang" Tukas nenek Halimah kemudian
"Ini untuk kakek.." Ucap Maryam sembari menyerahkan secangkir minuman hangat
"Dan ini untuk nenek " Ucap Maryam lembut dengan senyuman
"Terima kasih Maryam " Ucap kakek Amar dengan senyum ramah.
"Bagaimana kuliahmu hari ini ?" Tanya kakek Amar kemudian.
"Alhamdulillah kek Lancar, Hanya..." Maryam segera memotong ucapannya
"Hanya apa ?.." tanya kakek Amar penasaran
"Tidak kek ..Hanya Maryam ada beberapa tugas tambahan" ucap Maryam kemudian
"Ohh" Jawab kakek Amar.
Maryam hampir saja menceritakan kejadian dimana Reza masuk kedalam kelasnya ketika di kampus tadi. Namun dia urung untuk menceritakannya.
Ketiganya asyik berbincang-bincang bercanda dan bersenda gurau. Kakek Amar dan nenek Halimah merasa sangat cocok dengan pribadi Maryam yang ramah, lembut, ceria dan penyayang
Tidak di sadari oleh ketiganya , ternyata Reza telah mengamati kemesraan antara kakek Amar nenek Halimah, dan Maryam.
Melihat hal itu Reza merasa sangat bahagia, dan terlihat senyum manis di bibirnya.
"Kau memang Luar biasa Maryam, Tidak salah kakek memilihmu" Gumam Reza pelan yang masih berdiri di depan balkon ruang kerjanya
"Pantas kakek selalu berusaha menjodohkan kita, Pesona mu yang membuat Kakek Kagum begitu juga diriku " Gumam Reza
"Aku sangat beruntung memilikimu Maryam " Ucap Reza kemudian
"Bahkan aku tidak tahu, kebaikan apa yang sudah ku perbuat sehingga bidadari sepertimu hadir dalam hidupku" Gumam Reza lagi.
Terlihat Maryam masih asyik dengan kakek Amar dan nenek Halimah disana.
"Maryam bagaiman Akbar ummi dan Abi mu ?" Tanya kakek Amar kemudian
"Alhamdulillah baik kek " Jawab Maryam sopan
"Ummi juga mulai aktif membantu Abi di perkebunan dan di pabrik, kemudian sore harinya juga Ummi sudah aktif di Majlis kek" Ucap Maryam sopan pada kakek Amar dan nenek Halimah
"Syukurlah, semoga Ummi mu selalu sehat" Ucap nenek Halimah kemudian
"Amin" Jawab Maryam seketika.
***
Bersambung
__ADS_1
***
Jangan lupa Dukunganya ya ka 🤗