PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
134. Pertemuan pertama


__ADS_3

Tama lebih tenang dari sebelumnya, tidak lagi ada perasaan yang begitu dia khawatirkan. Meski belum bertemu dengan keluarga anak tersebut.


Terlebih setelah mengetahui jika anak yang dia tabrak telah sadar dan tengah dipersiapkan untuk pindah ke ruang perawatan.


"Za kau pulang saja !, Hari sudah gelap, Maryam pasti menunggumu" Ucap Tama


"Tidak, aku akan menemanimu, lagi pula aku sudah memberi kabar pada Maryam " ucap Reza


Mendengar jawaban dari sahabatnya Tama merasa lega, sejujurnya dia juga ingin Reza menemaninya, namun rasa tidak enak hati lah yang membuat Tama meminta Reza untuk pulang.


"Ustadz Hamzah " Gumam Reza lirih


"Ada apa Za ?" tanya Tama yang merasa Reza mengatakan sesuatu


"Tidak, hanya saja aku seperti mengenal orang itu" Ucap Reza dengan pandangan mengarah pada tiga orang yang berjalan di lorong yang sama dimana Reza dan Tama tengah berdiri.


Tama pun tampak menajamkan penglihatannya, merasa jika ketiga orang tersebut tengah berjalan menuju arahnya. Namun tidak satupun dari mereka yang Tama kenal.


"Tidak salah lagi, Benar itu Ustadz Hamzah" Gumam Reza lagi


"Kau mengenal mereka ?" Tanya Tama dengan wajah menatap sahabatnya


Reza pun menganggukkan kepala, tanda mengiyakan pertanyaan Tama "Sepertinya mereka orang yang sedang kita tunggu tam !" ucap Reza kemudian.


Jantung Tama serasa berdebar dengan kencang, namun Tama sudah sangat siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.


"Assalamualaikum" Ucap Ustadz Hamzah ketika berdiri tepat dihadapan Reza dan Tama


"Lho nak Reza !" ucap ustadz Hamzah lagi.


"Waalaikumsalam Pak ustadz, Iya saya pak" Jawab Reza dengan mengulurkan tangan kemudian menjabat tangan Ustadz Hamzah dan Kiai sepuh yang juga datang.


"Bagaiman Kondisi nya nak Reza ?" Tanya Kiai sepuh yang merasa khawatir.


"Jadi anak itu keluarga Ustadz Hamzah dan Kiai sepuh?" Tanya Reza kemudian, dan Tama pun hanya diam dan menundukkan wajahnya.


"Bukan nak Reza, anak tersebut santri kami, keluarganya berada di Jawa timur namun saat ini orang tua nya sedang merantau ke luar negeri.

__ADS_1


Deg.


Tama semakin merasa bersalah mendengar penuturan Ustadz Hamzah.


"Maafkan saya pak ustadz, Saya khilaf" Ucap Tama memberanikan diri menyela pembicaraan Reza dan ustadz Hamzah


Ustadz Hamzah tampak mengerutkan dahi, dan sejenak berfikir. Meski merasa bingung dengan kata khilaf yang di ucapkan Tama, namun seketika ustadz Hamzah menyadari jika Tama lah yang telah menabrak santrinya.


"Saya Tama pak ustadz, saya juga yang telah menabrak santri bapak" Ucap Tama lagi memberi penjelasan.


Ustadz Hamzah menampakkan ekspresi wajah yang tenang dan teduh setelah mendengar pengakuan Tama. setelahnya menghela nafas panjang. Dan menganggukkan kepala.


"InshaAllah saya akan tanggung jawab Pak ustadz" Sergah Tama lagi.


Ustadz Hamzah pun tampak tersenyum ramah pada Tama, "Terima kasih nak Tama" Ucapnya kemudian.


Diantara mereka, sedari tadi berdiri seorang gadis yang tidak lain merupakan Nissa , anak perempuan ustadz Hamzah. Nissa yang ikut datang ke rumah sakit karena merasa khawatir terhadap kondisi santri di pesantren.


Menunggu beberapa saat akhirnya pintu ruangan terbuka, disusul tiga orang perawat yang mendorong brankar dimana santri ustadz Hamzah terbaring disana.


Melihat kondisi anak yang dia tabrak, Tama merasa bersalah, pasalnya selain patah tulang, anak tersebut juga mengalami luka luar di beberapa tempat seperti wajah dan tangan nya.


Masih dalam kondisi pengaruh obat bius jadi santri tersebut masih tetap memejamkan mata.


"Za Kau pulang saja, Aku akan menunggu anak itu" Ucap Tama


"Kau yakin ?" tanya Reza memastikan. Tama pun menjawab dengan anggukan kepala.


Baiklah kalau begitu aku akan pulang, besok pagi aku akan kesini lagi. Tama pun tersenyum pada sahabatnya, dan kemudian menganggukkan kepala lagi.


Setelah benar benar memastikan sahabatnya tidak masalah untuk di tinggal dan juga santri tersebut dalam kondisi baik, Reza memilih untuk pulang, kemudian berpamitan pada Ustadz Hamzah dan Kiai sepuh.


Suasana ruangan VIP terasa hening, terlebih setelah kepergian Reza, Tama merasa sangat canggung berada di tengah-tengah orang yang baru dia kenal.


"Maaf pak ustadz lalu bagaimana dengan orang tua anak ini ?" Tanya Tama memberanikan diri membuka pembicaraan


Ustadz Hamzah pun tersenyum ramah, "Nak Tama Tidak perlu khawatir, Keluarga sudah kami hubungi, dan karena tidak bisa pulang, merekapun memasrahkan anak tersebut pada kami" Ucapnya kemudian.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan ustadz Hamzah berbicara panjang lebar, ustadz Hamzah jelas mengetahui wajah kepanikan dan penuh rasa bersalah pada Tama.


Mendengar penuturan ustadz Hamzah, Tama pun sedikit merasa lega.


"Saya akan bertanggung jawab terhadap anak itu , sekalipun keluarganya mungkin akan menuntut saya" Ucap Tama dengan wajah tertunduk.


Mendengar penuturan dari Tama, ustadz Hamzah pun mendekat, dan menepuk bahu kekar Tama "Tidak perlu khawatir nak Tama, Semua sudah di atur Allah, InshaAllah semua bisa di selesaikan baik-baik" Ucap Ustadz Hamzah memberi penjelasan.


"Terima kasih pak ustad" ucap Tama dengan meraih tangan ustadz Hamzah, kemudian menciumnya. Ustadz Hamzah membalas dengan senyuman ramah.


Suasana kembali hening, dan terasa sunyi. Semua orang hanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Abi " Ucap Nissa dengan suara lirih mendekat pada Ustadz Hamzah


Ustad Hamzah Mengangkat dagunya, isyarat menjawab panggilan Nissa.


"Sebaiknya Abi dan Kakek Pulang, Nissa akan berjaga disini " Ucap Nissa.


Ustadz Hamzah Tampak berfikir "Abi akan disini"


"Tapi malam ini Abi ada kajian Akbar " ucap Nisa


Hampir saja Ustadz Hamzah lupa dengan jadwalnya mengisi di sebuah kajian tahunan.


"Nissa yang akan berjaga disini Abi, Abi pulang saja dengan kakek, Nissa akan selalu mengabarkan kondisi Ali " ucap Nisa meyakinkan.


Ali merupakan Anak yang saat ini terbujur dengan beberapa luka di tubuhnya.


"Tapi Nak" ustadz Hamzah tampak ragu meninggalkan putrinya. Kemudian pandangannya mengarah pada Kiai sepuh. Dan Kiai sepuh pun menjawab dengan anggukan kepala.


"Saya juga akan disini pak ustadz, Saya akan bertanggungjawab pada Ali" Ucap Tama sopan.


Ustadz Hamzah tidak ada pilihan lain selain menyetujui saran dari Nissa, pasalnya dia juga tidak mungkin mencari pengganti untuk mengisi kajian, dalam waktu yang hanya beberapa jam saja.


"Baiklah, Kalau begitu " Ucap ustad Hamzah


"Nak Tama , Saya Titip Ali " Tukas Ustadz Hamzah lagi. Dan Tama menjawab dengan anggukan kepala.

__ADS_1


Ustadz Hamzah pun memberi wejangan kepada putrinya,karena dia hanya sendirian berada di tempat itu, Bukan tidak percaya, namun sebagai orang tua sudah sepatutnya ustadz Hamzah mengingatkan,terlebih saat ini Nissa bersama orang yang tidak dia kenal.


Setelah berpamitan, Nissa mengantar Ustadz Hamzah dan Kiai sepuh sampai ke parkiran, sementara Tama tetap di ruangan menunggu Ali siuman.


__ADS_2