PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
113. Tanda Hati Sedang Terluka


__ADS_3

Beberapa saat menempuh perjalanan akhirnya keduanya telah tiba di sebuah panti asuhan yang di tuju.


Panti asuhan yang di pilih Reza untuk membagikan beberapa barang dan uang sebagai wujud syukur dari kehamilan Maryam.


Ini bukan kali pertama Mahira datang ke tempat ini, sejak dirinya hijrah Mahira lebih sering mengisi waktu luangnya untuk kegiatan positif seperti berkunjung ke panti, selain membantu kesibukan Abi Hanif di pabrik.


Terlebih panti asuhan ini juga tempat dimana dulunya Maryam sering berkunjung sebelum dirinya menikah dengan Reza.


"Kak Ira" ucap salah seorang anak yang berlari menghampiri Mahira


"Assalamualaikum Sayang" Sapa Mahira dengan suara lembut.


"Kakak lama tidak berkunjung, kita semua kangen kakak, Apa kak Maryam ikut " Ucap anak yang lain.


"Maafkan kakak , ada beberapa pekerjaan kemari , Jadi kakak baru sempat berkunjung" Ucap Mahira , dan Denis hanya memperhatikan dengan kagum interaksi antara Mahira dengan beberapa anak panti tersebut.


"Kak Maryam sedang hamil, jadi kak Maryam belum bisa berkunjung" Ucap Mahira dengan suara lembut.


Mendengar jawaban Mahira, beberapa anak tampak sedih dan kecewa, Pasalnya mereka sangat merindukan Maryam, dan berharap Maryam datang.


"Jangan bersedih , Meskipun kak Maryam belum bisa berkunjung, kak Ira janji kakak akan menggantikan kak Maryam untuk datang dan bermain bersama kalian" Ucap Mahira kemudian.


"Horee !" Sorak soray semua anak yang berada di sana.


Dan Denis masih berdiri dengan rasa kagum terhadap sosok yang ada di hadapannya saat ini.


"Ohya , ibuk ada ?" tanya Mahira


"Ada kak, di dalam, kak Ira sudah di tunggu" Ucap salah seorang anak.


Setelah mendapatkan informasi dan sedikit berbincang dengan anak panti Mahira dan Denis bergegas menemui ibu Panti untuk menyampaikan maksut dan tujuan keduanya datang


Selain untuk bersilaturahmi juga untuk menyampaikan amanah berupa uang, dan barang kepada pengurus panti dan juga anak-anak panti.


Kedatangan keduanya disambut baik dan hangat oleh para pengurus panti.


Setelah cukup beramah tamah dengan para pengurus panti , tiba saatnya bagi Denis dan Mahira untuk membagikan mainan yang telah di siapkan sebelumnya.


Sementara itu beberapa juru masak di panti membantu Denis untuk menurunkan sembako, dan barang-barang lainya.


Canda tawa dan suasana riang gembira yang di tunjukan oleh para anak panti ditengah kekurangan dan keterbatasan mereka, namun Mahira sadar jika sebuah kebahagiaan itu sejatinya milik semua orang, tidak terlepas siapa pun itu dan bagaimana dirinya, terlebih di masa lalu. Semua orang berhak untuk bahagia.


Sejenak Mahira termenung di tengah suasana ramai anak panti yang mengajaknya untuk bercanda dan membagi rasa.


"Kak Ira " Ucap salah seorang anak yang seketika membuyarkan lamunan Mahira


"Ah iya, ada apa ?" ucap Mahira lembut

__ADS_1


"Itu teman Kakak siapa ?, dari tadi liatin kakak terus, pacar kak Ira ya ?" celetuk salah seorang anak lainya


Mahira hanya mengulas sebuah senyuman manis dari balik cadar yang dia kenakan "Bukan, itu teman kakak" Jawab Mahira dengan suara lembut.


"Ganteng lho kak, cocok sama kak Ira" Ucap lainya


Mahira hanya membulatkan kedua bola matanya dan seketika menggelitik perut kecil salah seorang anak yang baru saja menggodanya dengan kata cocok.


Seketika gelak tawa diantara mereka pecah, dan Mahira pun merasa lega ketika dapat membagi suka dan citanya dengan anak-anak kurang beruntung tersebut.


Obrolan diantara mereka cukup menyita perhatian Denis yang tengah duduk bersama ibu pengurus panti, tak jarang Denis mengulas senyum manis melihat Mahira yang begitu bahagia


"Aku ingin sekali melihat kebahagiaan itu setiap saat" Batin Denis dengan tatapan intens pada Mahira


"Apa boleh aku menjaga senyuman itu" Batin Denis lagi


Kesedihan yang di rasakan oleh Mahira begitu tergambar jelas, hingga Denis pun dapat merasakan hal itu.


Melihat Mahira dalam kondisi seperti ini, membuat Denis semakin ingin untuk melindungi Mahira, hingga Mahira lupa bagaimana caranya untuk terluka.


Tanpa disadari oleh keduanya hari semakin siang, karena terlalu asyik dengan permainan dan canda tawa antara Mahira dan anak panti, membuat mereka lupa waktu.


"Kak Denis maaf, Mahira lupa, Ternyata sudah siang" Ucap Mahira dengan menggigit bibir bagian bawah merasa tidak enak hati.


Denis hanya terkekeh mendengar permintaan maaf dari Mahira ,"Tidak masalah , Lagi pula aku senang" Jawab Denis


"Sering-sering kesini ya ka" Ucap salah seorang anak panti asuhan.


"InshaAllah Kakak akan sering mengunjungi kalian" ucap Mahira kemudian


Mahira dan Denis segera menuju mobil dan berlalu meninggalkan panti asuhan tersebut. Dengan lambaian tangan tanda perpisahan, namun ini hanyalah sementara, karena Mahira akan selalu mengunjungi mereka.


Tanpa di sadari sudut mata Mahira mulai memanas dan terlihat genangan air di sana.


Denis yang tanpa sengaja melihat Mahira menyeka air mata yang hampir jatuh "Gunakan ini" Ucap Denis dengan menyodorkan sebuah sapu tangannya, yang di ambil dari saku kemejanya.


"Terima kasih" Jawab Mahira dengan meraih sapu tangan tersebut.


"Apa kau sedih meninggalkan mereka" Tanya Denis kemudian


"Tentu saja , Aku banyak belajar dari mereka kak " Ucap Mahira. Dan Denis tersenyum melihat hal itu.


"Aku tahu itu" Ucap Denis kemudian


Mahira tampak menautkan kedua alisnya, mendengar ucapan Denis.


"Apa yang membuatmu sakit lepaskan, mengapa harus terus menggenggam kaca jika tanganmu akan selalu terluka. Apapun masalahnya bicarakan, Jika tidak mampu untuk bertahan segera ambil keputusan" Tutur Denis dengan pandangan fokus pada kemudi.

__ADS_1


Mendengar penuturan yang baru saja disampaikan oleh Denis membuat Mahira Menundukkan wajahnya. Hatinya begitu sesak, entah karena sebab apa.


"Apa kak Denis sedang berusaha menghiburku ?" ucap Mahira kemudian dengan mengulas sebuah senyuman


Sejenak keduanya tertawa bersama dalam suasana yang mulai mencair.


"Lalu bagaimana ?" Tanya Denis


"Apanya ?" Jawab Mahira dengan menautkan kedua alisnya merasa bingung.


"Pernyataan yang ku buat tadi malam" Ucap Denis lirih namun masih sangat jelas terdengar di telinga Mahira


Sejenak Mahira membulatkan kedua bola matanya, menyadari arah pembicaraan Denis. Bukan memberi jawaban Mahira justru semakin menundukkan pandangan , merasa bingung dengan apa yang akan dia katakan


"Beberapa hal muncul tanpa bisa di ingat awal mulanya, seperti awal ketertarikan ku, dimana hari hanya berisi wajahmu dalam ingatanku" Ucap Denis lagi


Mendengar hal itu wajah Mahira semakin bersemu merah, andai saja sedang tidak mengenakan cadar sudah pasti Mahira akan merasa sangat malu.


Melihat reaksi dari Mahira Denis menyadari satu hal


...Senyumnya Belum tentu Bahagia , Diamnya sudah pasti Kecewa, dan Air matanya Tanda hati sedang terluka....


...🍁...


"Ka, Maaf Mahira tidak bisa memberi jawaban" Ucap Mahira singkat.


Denis tampak berfikir dengan ucapan Mahira , sejenak mencerna kalimat tersebut, apakah Mahira sungguh tidak dapat memberikan jawaban, atau karena Mahira yang memang tidak menyukainya.


"Lebih baik ka Denis fokus mencari yang lebih baik dari Mahira" ucap Mahira kemudian, karena hanya itu yang dapat dia katakan.


"Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan, Karena mereka bersinar pada waktunya yang tepat" Ucap Denis kemudian


"Mahira, tidak bisakah kita belajar untuk saling menerima" Pinta Denis dengan suara lirih dan pandangan fokus kedepan.


Mahira terdiam dengan sejuta rasa, dan pikiran yang telah melayang entah kemana


***


Bersambung


***


Duh Puitis Banget sih babang Denis ini.


Assalamualaikum Para Reader yang Author sayangi, Terima kasih sudah bersabar menanti masa-masa Ongoing Novel ini.


Semoga Selalu sehat dan bahagia selalu 🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2