
Seperti biasa kegiatan siang di Pesantren adalah Mengantri jatah makan, namun tidak dengan Denis yang dilayani oleh keluarga ustadz Hamzah secara langsung, bukan Karena apa-apa.Kembali lagi hal itu di lakukan ustadz Hamzah adalah karena Denis datang sebagai seorang tamu.
Namun khusus untuk siang ini Denis meminta pada ustadz Hamzah untuk tidak mengiriminya makan siang, karena Denis ingin berbaur dengan para santri, untuk ikut mengantri makanan, dan makan siang bersama dengan santri dengan duduk bersila di aula besar pesantren.
Aula multifungsi yang di pergunakan tidak hanya untuk makan, namun juga dipergunakan untuk kelas umum, dan pertemuan kajian seluruh santri.
Pengalaman baru yang sepertinya cukup menarik bagi Denis, dan sayang untuk dia lewatkan, makan bersama, menggunakan tangan, dan duduk bersila di lantai, sangat unik bagi Denis.
Berbicara banyak hal dengan para santri, tak jarang Denis menemukan yang seperti dirinya, seorang anak yatim piatu, yang bahkan disini adalah karena ditampung oleh ustadz Hamzah. Perbedaanya hanyalah pada Denis kecil yang tinggal di panti asuhan dan tidak mengenal siapa orang tuanya.
Setelah kegiatan makan siang, para Santri diberi waktu untuk beristirahat, ada beberapa yang tidur siang ada juga yang izin keluar pesantren untuk membeli beberapa keperluan, ada juga yang hanya duduk dan saling berbincang, menunggu waktu datangnya kelas sore.
Setelah selesai dengan makan siangnya, Denis memilih berjalan-jalan di area pesantren yang belum sempat dia jelajahi.
Sampai di belakang asrama putra nyatanya ada banyak kolam ikan patin dan nila, suasana sangat ramai dengan ada beberapa santri yang berada di sana.
Denis mendekat, untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan para santri dan beberapa ustadz disana.
"Panen Ikan ?" gumam Denis
"Nak Denis " Suara ustadz Hamzah yang melambaikan tangan padanya.
Dengan sedikit berlari Denis menghampiri ustadz Hamzah, dan benar saja Meraka tengah memanen ikan-ikan yang dirasa sudah siap panen.
"Wah, seru sekali pak" Ucap Denis dengan senyum manis diwajahnya.
"Nak Denis mau coba ?" tanya Ustadz Hamzah, dan Denis menjawabnya dengan anggukan kepala.
Denis memang telah sembuh dari luka pasca sunat sebelumnya, hanya butuh waktu empat hari untuk penyembuhan, jadi saat ini sudah merasa biasa dengan kegiatan kasar yang ingin dia lakukan.
Denis pun segera menyingsingkan lengan baju dan celana nya, kemudian mengikuti para santri masuk kedalam kolam ikan yang sudah di kuras airnya, hingga hanya menyisakan air sebatas mata kaki.
Terlihat dari kejauhan Nissa bersama dengan beberapa santriwati membawa termos ice dan beberapa makanan.
"Abi, Nissa Letakkan di sini minumannya" Ucap Nissa dengan suara sedikit berteriak. Ustadz Hamzah pun menjawab dengan anggukan kepala. Karena memang jarak mereka sedikit jauh.
Tanpa sengaja Nissa pun menatap Denis yang berdiri tepat di samping sang Abi. seketika Nissa Mengulas sebuah senyum manis di wajah cantiknya.
"Astaghfirullah, Nissa!" Ucap Nissa sendiri, yang menyesali perbuatannya.
"Awas mas Denis ! " Teriakan seorang santri yang membawa satu krat berisi ikan hasil tangkapan.
Brak.
Brug.
Terlihat Denis dan beberapa santri jatuh berguling di lantai kolam, karena tabrakan beruntun antara Denis dan krat berisi ikan tersebut.
"Maaf mas Denis, saya nggak sengaja!" Ucap salah satu santri tersebut.
Melihat raut wajah takut dari sang santri membuat Denis merasa kasihan "Hey... Tidak masalah, saya juga baik-baik saja" Ucap Denis ramah.
__ADS_1
"Hanya saja sepertinya saya sudah seperti belut" Ucap Denis lagi
Suara gelak tawa para santri yang terdengar nyaring, ketika Denis dengan santainya mencela dirinya sendiri yang terjatuh dalam kolam yang ada sedikit lumpur disana, dan karena hal itu membuat sekujur tubuhnya bahkan sampai ke bagian wajah tampannya penuh dengan lumpur.
Sementara dari jarak yang lumayan jauh Nissa mengamati kegiatan Abi nya, para santri, dan juga Denis yang sedang berselimut lumpur, Terlihat Nissa yang terkekeh kecil melihat Denis yang menurutnya sangat lucu.
"Nissa" Panggil Ummi Zahra yang tidak lain merupakan istri dari ustadz Hamzah dan merupakan ibu kandung dari Nissa dan dua saudaranya.
"Iya Ummi" jawab Nissa dengan sopan
"Ada Ira , Baru saja datang " ucap Ummi Zahra
"Ira ?, Benarkah" jawab Nissa kegirangan.
Sangking senang nya sang sahabat berkunjung, hal itu membuat Nissa sampai melonjak karena rasa bahagia. Segera Nissa berlari ke rumah utama untuk menemui sang sahabat.
"MashaAllah Ira !" Ucap Nissa penuh semangat dan wajah berbinar memeluk sang sahabat, yang dia anggap sudah seperti saudara sendiri.
"Mahira Altafu Nisa" Panggil Nissa Dengan suara kencang , kemudian menghambur seraya memeluk dan mencium sang sahabat.
Ya. Benar saja sahabat dari Nissa merupakan Mahira atau Mahira Altafu Nisa yang merupakan kakak dari Maryam.
Mahira pun membalas pelukan sang sahabat dengan sangat erat, bahkan keduanya sampai melompat-lompat dengan posisi yang masih berpelukan, seperti anak TK yang bahagia karena bertemu dengan teman-temannya.
"MashaAllah Ira, Kamu cantik sekali dengan ---" ucap Nissa menggantung
"Alhamdulillah Nis, Aku banyak belajar dari Maryam, dan salah satunya juga berkat dirimu" Ucap Mahira dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, Semoga Istiqomah Ra, Demi Allah aku sangat bahagia melihat Mahira ku yang sekarang, Kamu sangat Cantik" Puji Nissa pada sosok Mahira.
"Aku langsung minta izin pada Abi untuk menemui mu, setelah Abi bilang kamu sudah pulang dari Kairo" Ucap Mahira dengan antusias
Nissa hanya tersenyum mendengar penuturan dari Mahira
"Lalu. kenapa kau tidak memberiku kabar kalau akan kembali ke Indonesia, kau itu jahat sekali Nis !" Ucap Mahira dengan mengerucutkan bibir
Nissa hanya terkekeh melihat sahabatnya yang merajuk.
"Bukan begitu Ra, sejujurnya aku ingin memberi kejutan kepadamu, aku yang justru ingin menemui mu, eh malah kamu yang datang duluan" Ucap Nissa memberikan penjelasan.
"Tapi kau tenang saja kita akan sering bertemu" ucap Nissa
"Benarkah ?" Sergah Mahira. Nissa menganggukkan kepala.
"Aku sudah menyelesaikan pendidikan ku Ra , dan InshaAllah aku akan di sini untuk mengajar para santri" Ucap Nissa.
"Wah, benarkah" tanya Mahira dengan wajah berbinar. Nissa pun menganggukkan kepala dengan mengulas senyum di wajahnya.
Nissa merupakan teman semasa SD dan SMP Mahira, keduanya berteman sangat akrab hingga saat SMA mereka berpisah karena Nissa pergi untuk mondok sekaligus sekolah formal, dan pada saat lulus SMA pun keduanya harus berpisah lagi lantaran Nissa mendapatkan kesempatan belajar di Kairo Mesir untuk program Beasiswa.
Sudah sangat wajar keduanya saling merindukan, pasalnya setelah menyelesaikan pendidikan strata satu Nissa harus kembali ke Kairo lagi, untuk menyelesaikan program pasca sarjana juga di sana. Sampai pada saat ini Nissa baru saja kembali dari Kairo.
__ADS_1
Selain Cantik dan baik hati, Nissa merupakan sosok yang periang, dan sangat Humbel.
Selain karena memiliki nama yang sama yaitu Nissa atau Nisa pada nama akhir Mahira, mereka memang telah akrab sejak kecil.
"Pokoknya kau harus menginap malam ini" paksa Nissa pada Mahira
"Eh. kok gitu sih" Jawab Mahira seolah akan marah , namun dengan mulut cekikikan.
"Aku sekarang membantu mengelola pabrik Nis, jadi nggak bisa ninggalin gitu aja " Jawab Mahira kemudian, dengan suara lembut.
"Aku tidak mau tahu, pokoknya harus !. Titik !" Paksa Nissa lagi.
Mendengar ucapan sang sahabat yang sudah tidak bisa di bantah membuat Mahira hanya bisa mengalah.
"Oke lah nanti aku Izin dulu sama Abi " ucap Mahira.
Nissa pun tersenyum puas mendengar jawaban sang sahabat.
Keduanya Berbincang didalam kabar, bernostalgia dengan cerita masa kecil dan saling berbagi pengalaman antara keduanya.
"Apa kamu tidak ada rencana untuk menikah Nis ?" Tanya Mahira di sela sela obrolan keduanya.
Nissa terlihat menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Nissa sih nurut Abi aja Ra, lagian juga Nissa sendiri nggak ada calon" Jawab Nissa dengan suara tidak kalah lembut.
Mahira menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Kalau kamu sendiri ?" tanya Nissa balik.
Mahira hanya mengangkat bahunya, menatap lekat sang sahabat yang sudah dia anggap seperti saudara nya sendiri.
"Apa ada laki-laki yang mau menerima ku dan masa lalu ku dengan ikhlas Nis ?" Ucap Mahira dengan wajah tertunduk.
"Kalaupun ada laki-kali yang menerimaku, apakah orang tuanya juga akan menerimaku dan masa laluku ?" Tukas Mahira lagi.
Nissa pun mampu merasakan kesedihan yang dirasakan dan dialami oleh sahabatnya, namun Nissa pun tidak dapat berbuat lebih, hanya mampu mengelus bahu Mahira untuk sekedar memberinya semangat dan menguatkan hatinya.
"Bahkan aku juga kadang merasa sedih Nis dengan pandangan orang terhadap diriku" ucap Mahira
"Aku hanya berusaha menjadi lebih baik, hijrah dari masa laluku, Tapi masih ada juga orang yang menganggap ku jika ini hanyalah kedok" Ucap Mahira dengan mata berembun.
Seketika Nissa memeluk sang sahabat erat, menguatkan hatinya
" Kamu berhak bahagia Ra, Dan kebahagiaan itu terletak dalam Jiwa, Bukan Harga , ataupun apa Orang kata".
Ucap Nissa dengan suara lembut dan Usapan pada bahu Mahira.
"Ra, satu hal lagi yang ingin aku sampaikan pada mu " Ucap Nissa
"Kita hidup di zaman dimana orang lain menilai kita tanpa tahu kita yang sebenarnya, Maka belajarlah Menjadi pemaaf, Berhentilah menjadi pembenci, Dan teruslah belajar memperbaiki diri"
"Jadilah versi terbaik dalam dirimu sendiri, Jangan dengar apa orang kata, karena mereka tidak berarti apa-apa, dan hanya Allah lah yang menjadi Panutan kita"
__ADS_1
"Jangan selalu menyalahkan dirimu sendiri Ra, Jangan membenci dirimu sendiri, Yang terpenting adalah bagaimana dirimu saat ini" Tukas Nissa kemudian.
***