PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
121. Hijrah


__ADS_3

Hai baru .


Suasana pesantren pagi itu terasa begitu cerah, dengan sinar matahari yang tidak begitu menyengat. Denis merentangkan kedua tangannya tepat di depan pintu kamar, untuk melonggarkan otot-ototnya yang kaku. Hari ini merupakan hari ke dua Denis berada di pesantren ustadz Hamzah.


Melihat beberapa ikan Mas yang berenang kesana kemari di dalam kolam Yang ada di samping kamarnya menambah suasana sejuk pagi itu.


Denis tengah melakukan pemanasan dan olah raga pagi, karena sudah menjadi kebiasaan bagi nya untuk melakukan olahraga sebelum beraktifitas ataupun berangkat kekantor, meski hanya melakukan treadmill beberapa menit. Hal itu Denis lakukan untuk menjaga kebugaran tubuhnya.


Keringat yang terlihat deras keluar dari pori - pori kulit Denis, membuat baju yang dia kenakan basah oleh keringat.


Kamar yang di tempati Denis merupakan kamar tamu yang ada di kediaman Ustadz Hamzah, meski rumah ustadz Hamzah berada di dalam lingkungan pesantren, yang pastinya juga dekat dengan asrama santri, namun ustadz Hamzah memperlakukan Denis seperti tamu yang harus di hormati dan di layani dengan baik. Meski tujuan Denis datang adalah untuk belajar seperti hal nya santri lain.


Beberapa kamar tamu terpisah dari rumah utama ustadz Hamzah yang di kelilingi kolam ikan mas, meski masih dalam satu lingkup kediaman ustadz Hamzah, namun terletak di bagian samping kanan dan belakang rumah utama tersebut.


"Assalamualaikum" Terdengar suara merdu dari arah belakang, Karena Denis berolah raga menghadap sisi tembok, Denis segera membalik tubuhnya.


Terlihat seorang gadis yang mengenakan Jilbab dengan ukuran cukup lebar menghampiri dirinya. "Waalaikumsalam" Ucap Denis kemudian.


Terlihat dari pasang mata Denis gadis tersebut tersenyum malu dengan menundukkan wajahnya "Ada apa ?" Tanya Denis lagi, karena gadis tersebut tidak juga mengatakan maksut dan tujuan menemui dirinya.


"Oh Abi meminta Mas Denis Untuk Sarapan" Ucap gadis tersebut sopan.


Belakangan di ketahui gadis tersebut merupakan anak sulung dari ustadz Hamzah yang bernama Nissa.


"Baik, terima kasih, sebentar lagi aku akan kesana" jawab Denis dengan suara datar.


Setelahnya Nissa pergi dan berlalu dari hadapan Denis. Pemandangan seperti itu memang jarang Nissa lihat, hampir dapat di pastikan belum pernah Nissa melihatnya, dimana seorang laki-laki yang berolah raga dengan kaos yang sangat ketat dan menampakan roti sobek di bagian dadanya, Serta celana pendek yang berukuran diatas lutut, hingga mengekspos bagian paha yang menampakan urat-urat di sana.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Denis pun bergabung bersama para keluarga ustadz Hamzah di meja makan untuk melaksanakan sarapan bersama. Denis duduk pada tempat yang kosong.


Ustadz Hamzah menyambut kedatangan Denis dengan ramah dan sopan, begitu juga dengan anggota keluarga lain, yang juga memperlakukan Denis dengan begitu hangat.


Dalam meja makan tersebut hanya di isi oleh Kiai Sepuh, Nyai Sepuh, Ustadz Hamzah dan Istri dari ustadz Hamzah juga Denis saat itu yang ikut bergabung.


Anak-anak dari ustadz Hamzah tidak ikut bergabung dalam meja makan tersebut, dan hanya membantu menghidangkan makanan dalam meja makan, entah karena alasan apa, Denis sempat berfikir mungkin alasan hal itu karena ada dirinya.


Beberapa saat seluruh keluarga telah selesai dengan piring masing-masing, di meja makan tersebut menyisakan Ustadz Hamzah, kiai sepuh dan Denis.


Ketiganya larut dalam obrolan seputar agama, tidak jarang Denis menanyakan beberapa hal yang tidak dia ketahui pada Ustadz Hamzah dan pada Kiai Sepuh, dan keduanya pun memberi penjelasan dengan bahasa yang mudah di pahami oleh Denis.


Meski banyak kebingungan yang di alami Denis, namu dia tetap semangat dalam belajar tentang Islam.


"Tidak ada yang Sulit Jika Allah yang memudahkan, Tidak ada yang berat jika Allah meringankan, dan tidak ada yang mampu melawan ketika Allah sudah memutuskan"


Ucap ustadz Hamzah untuk memberikan semangat pada Denis yang baru mulai mempelajari Islam


"Amiin" Jawab Denis dengan mengulas sebuah senyum lebar di wajah tampannya.


***


Hari hari demi hari Denis lalui dengan perasaan bahagia meski berada di tempat yang terasa asing namun Denis merasa sikap hangat dan keramah-tamahan yang di tunjukan oleh ustadz Hamzah dan keluarganya membuat Denis betah untuk tinggal.


Seperti biasa kegiatan pagi Denis di awali dengan olah raga pagi, berjalan-jalan di area pesantren, meski tidak bergabung dengan para santri didalam kelas, karena Ustadz Hamzah secara khusus lah yang mengajarkan tentang Islam pada Denis.


Abi Hamzah yang secara khusus mengajarkan tentang Islam, merasa kagum dengan sosok Denis , semakin hari Denis semakin menunjukan kemampuannya dalam mempelajari banyak hal.

__ADS_1


Selain tampan Denis juga sangat cerdas dan cekatan, tidak heran jika hanya dalam waktu lima hari Denis sudah dapat menghafal gerakan sholat dan juga bacaan-bacaan dalam sholat, meski hafalannya masih terbatas pada surat surat pendek.


Disela-sela kegiatan ya dengan ustadz Hamzah, Denis selalu menyempatkan untuk membaca beberapa buku yang di rekomendasikan oleh ustadz Hamzah langsung, mengenai tatacara sholat dan lain sebagainya.


Denis pun tidak pernah ketinggalan dalam sholat jama'ah setiap waktunya, mendengarkan kajian, dan tidak segan bertanya apa bila ada yang tidak dia ketahui.


Selain merasa nyaman pada keluarga ustadz Hamzah, Denis pun juga merasa nyaman dengan lingkungan pesantren, Sopan-santun yang di ajarkan pada para santri membuat Denis merasa kagum, Meski dirinya mualaf dan minum agama, namun Santri-santri di sana tampak sopan , dan selalu menundukkan badan ketika berpapasan dengan Denis, santri-santri di sana memang selalu di ajarkan tentang menghormati dan menghargai orang yang lebih tua.


"Nak Denis " Ucap Ustadz Hamzah dengan menghampiri Denis yang tengah duduk di pinggiran kolam ikan mas


"Eh , Pak ustadz" Ucap Denis dengan menggeser tubuhnya, untuk memberi ruang pada ustadz Hamzah agar dapat duduk bersebelahan.


"Boleh bapak bertanya ?" ucap ustadz Hamzah. Denis menatap ustadz Hamzah sekilas kemudian menganggukkan kepala sopan.


"Apa nak Denis sudah di khitan ?" Tanya Ustadz Hamzah kemudian


Denis tampak memicingkan mata "Khitan ?" Udap Denis mengulangi kalimat ustadz Hamzah sebelumnya. dan ustadz Hamzah menganggukkan kepala.


"Apakah itu sejenis memotong ******** ?" Ucap Denis tampak ragu-ragu


Melihat wajah Denis yang seperti tengah merasa ngilu membuat ustaz Hamzah segera menepuk bahunya " Bukan memotong, Hanya membersihkan kulit luarnya " Ucap ustadz Hamzah memberi penjelasan


"Apakah saya juga harus melakukanya ?" ucap Denis lirih


Dan ustadz Hamzah mengangguk dengan senyuman di wajahnya.


"Apa akan terasa sakit" Tanya denis lagi dengan wajah yang sudah mendelik, membayangkan saja membuat dia merasa ngilu.

__ADS_1


Mungkin bukan hanya rasa takut saja yang tengah berkeliaran bebas di otak Denis, namun juga bagaimana dia bisa membayangkan jika miliknya di sentuh oleh orang lain, sementara dirinya merupakan pria dewasa dan telah matang secara fisik.


***


__ADS_2