PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
80. Kedatangan Tasya


__ADS_3

Kakek dan nenek Halimah pun juga sangat bahagia dengan hadirnya Maryam dalam kehidupan sang cucu. pasalnya sudah sejak beberapa tahun Reza menyendiri, hatinya semakin keras dan semakin arogan.


Beruntung setelah kehadiran Maryam, sedikit demi sedikit merubah sikap Reza yang sebelumya.


***


Beberapa saat kemudian seluruh anggota keluarga telah selesai dengan sarapan mereka.


Maryam bergegas menyusul Reza untuk mengantarkan Reza samai teras rumah megah tersebut.


Maryam segera meraih tangan kekar suaminya dan Mencium punggung tangan Reza dengan takzim.


Terlihat pandangan mata keduanya saling bertautan dengan senyuman indah di wajah tampan Reza .


"Hati-hati di jalan mas" Ucap Maryam . Reza mengangguk dengan senyuman dan lantas mencium puncak kepala Maryam dengan mesra.


"Jangan nakal, aku akan pulang seceatnya" Ucap Reza sembari berbisik tepat di telinga Maryam dengan senyum tengilnya.


"Aku pasti akan sangat merindukan istriku" Ucap Reza kemudian dengan nada memelas.


Maryam hanya mengerutkan dahinya melihat kebucinan Reza.


"Sudah.. Sudah..., Kau akan terlambat mas jika tidak segera berangkat"


"Ohya ?" Tanya Reza kemudian


"Tentu saja" jawab Maryam cepat.


"Biarkan saja, lagi pula tidak akan ada yang berani memarahiku sekalipun aku terlambat setiap hari" Ucap Reza dengan nada congkak, dengan senyum lebar


Maryam hanya mendengus dan tersenyum pasrah dengan tingkah suaminya.


Melihat Reza yang masih enggan untuk beranjak dari hadapannya. Maryam segera meraih kedua bahu suaminya dan memberikan usapan lembut disana.


Maryam mengusap dari pangkal bahu hingga ke lengan bagian atas tangan kekar Reza.


Beberapa kali Reza memberikan usapan lembut di sana.


"Melalui tangan ini lah akan menjadi sebagian perantara dari rezeki Maryam. Semoga Allah mudahkan Suamiku dalam Mencari rezeki yang halal" Ucap Maryam dengan suara lembut dan usapan di lengan Reza berulang kali.


Mendengar ucapan Maryam Reza merasa sangat teduh dan semangatnya meningkat beberapa kali lipat.


"Assalamualaikum " ucap Reza kemudian di iringi senyuman di wajah Taman tersebut.


"Waalaikumsalam mas" Ucap Maryam kemudian.


Beberapa saat mobil mewah Reza telah berlalu dari halaman rumah megah tersebut, dan Maryam kembali masuk ke dalam rumah dengan senyum sumringah.


Kakek dan nenek Halimah yang melihat keceriaan di wajah cucu menantunya ikut bahagia. meski senyum Maryam hanya terlihat dari balik cadar yang dia kenakan.


"Maryam" panggil kakek Amar ketika melewati ruang keluarga.

__ADS_1


"Iya kek" Jawab Maryam sopan dengan senyuman manis


"Duduklah, kakek dan nenek ingin bicara denganmu" Ucap kakek Amar kemudian.


Maryam hanya mengangguk dan menurut instruksi dari sang kakek.


"Kakek butuh sesuatu, Maryam ambilkan " tanya Maryam sopan dengan suara lembut.


Kakek Amar hanya tersenyum


"Maryam.." Ucap nenek Halimah


"Iya nek?" Jawab Maryam singkat


"Nenek bahagia sekali, sejak kedatangan kamu ke rumah ini, kamu membawa warna baru di dalam rumah ini, terutama untuk Reza" ucap nenek Halimah dengan suara lembut


"Kakek dan nenek akan tenang suatu hari nanti jika harus di panggil Tuhan, karena Reza telah bersama dengan seseorang yang tepat" timpal kakek amar


Maryam hanya mendengarkan dan menganggukkan ucapan kakek dan nenek Halimah.


"Kakek dan nenek sangat berharap kalian segera memiliki momongan, untuk melengkapi kebahagiaan rumah tangga kalian" Ucap nenek Haliman dengan usapan lembut di punggung Maryam yang tengah menundukkan kepala tanda hormat.


"Mungkin saja kakek dan nenek tidak akan berumur lama lagi, jadi satu keinginan kakek dan nenek, ingin sekali melihat cicit kami" Ucap nenek Halimah lagi


"Nek!" Ucap Maryam dengan menyentuh lembut tangan nenek Halimah


"Kematian itu pasti nek, Namun Maryam akan selalu berdoa kepada Allah SWT untuk kesehatan dan umur yang panjang bagi kakek dan nenek" Ucap Maryam lembut dengan pandangan ke arah nenek Halimah


"Kakek dan nenek doakan Maryam dan mas Reza ya" Pinta Maryam dengan senyuman di wajah manisnya yang tertutup oleh cadar.


"Tentu saja !" Sergah kakek Amar penuh semangat.


Seketika ucapan kakek Amar mengundang gelak tawa dari ketiganya.


***


Seperti biasa Reza tampak serius dengan beberapa berkas yang telah di siapkan oleh asisten pribadinya.


Terdengar suara keributan dari luar ruang kerja Reza


Reza tampak menajamkan pendengarannya, memastikan suara yang tengah terdengar ramai di telinganya.


Tampak Reza berfikir dengan suara seorang wanita yang berbicara dengan keras pada salah satu asisten pribadinya tersebut.


Brak...!!


"Maaf tuan, Saya sudah coba mencegah nona Tasya untuk masuk, Tapi " Ucap Denis yang merasa tidak enak hati


Reza masih tampak fokus dengan beberapa kertas di hadapannya, Seketika Reza mengangkat dan mengibaskan tangannya, isyarat pada Denis untuk keluar dari ruangannya.


Tidak menunggu aba-aba Denis segera berbalik, keluar dan tidak lupa menutup kembali pintu ruangan bos besarnya tersebut.

__ADS_1


Seorang wanita berpakaian serba minim tampak sedang berdiri tegap di hadapan Reza mengenakan dress berwarna merah dan sepatu hak tinggi nya, bejalan dengan anggun menghampiri tempat dimana Reza tengah fokus dengan pekerjaannya.


Ya wanita tersebut tidak lain dan tak bukan merupakan Tasya, mantan istri Reza yang telah mencampakkannya beberapa tahun yang lalu.


"Stop!!" Ucap Reza tanpa melihat ke arah Tasya.


"Sayang.." Ucap Tasya dengan suara lembut yang mendayu manja, terdengar oleh pasang telinga Reza.


"Apa mau mu !! , Aku rasa kita sudah tidak ada urusan lagi !!" Ucap Reza dengan suara ketus sembari menyandarkan bahunya di sandaran kursi kebesarannya.


"Sayang.. Apa kau tidak merindukanku ?" Tanya Tasya kemudian dengan suara manja dan raut waja memelas.


Reza hanya tersenyum geli melihat tingkah mantan istrinya tersebut.


"Aku sangat merindukanmu" ucap Tasya lagi.


Reza masih tetap acuh, tidak sedikitpun bergeming dengan ucapan Tasya.


Reza menatap tajam dengan tatapan nyalang dari atas sampai bawah.


Melihat ekspresi Reza yang hanya diam dan tidak bergeming dengan rayuannya.


Tasya mencoba mendekat dan dan berjalan semakin dekat kearah Reza yang masih tetap duduk.


"Tetap disana !!" Ucap Reza dengan sedikit berteriak.


Tasya tampak kaget dengan suara Reza yang berteriak kepadanya, pasalnya sebelum ini Reza tidak pernah sekalipun membentak atau berlaku kasar terhadapnya.


"Sayang " Ucap Tasya seketika dengan wajah memerah dan mata berembun.


Reza hanya bergeming, dan berjalan maju kerah Dinding kaca yang tembus dengan bagian luar kantor, yang menampakkan seluruh pemandangan kota dari ruang kerja milik Reza tersebut.


"Katakan apa mau mu dan segera pergi dari tempat ini !!" Ucap Reza dengan suara dingin


"Sayang, Kita sudah tiga tahun tidak bertemu, itu kah sambutan mu padaku ?" Tanya Tasya dengan wajah memelas


Reza hanya terkekeh "Sambutan" Tanya Reza kemudian


"Bahkan aku tidak pernah berencana menyambutnya !" ucap Reza kemudian


"Kau sendiri yang datang ke sini tanpa di undang !" Ucap Reza lagi


"Haruskah aku menyambut mu ?, dan ohya.. Sambutan seperti apa yang seharusnya aku berikan ?" Tukas Reza kemudian dengan suara dingin penuh penekanan.


***


Bersambung


***


Mohon maaf ya agak lama up nya 🙏🙏, InshaAllah setelah ini lancar up nya kak 🥰

__ADS_1


__ADS_2