
Setelah menyelesaikan Ucapannya pada Denis, Mahira memilih untuk segera berlalu. Tidak ingin terlibat dalam obrolan yang lebih jauh.
"Tapi kau lupa Bagaimana Tuhan Menciptakan Pelangi setelah badai !" Ucap Denis lantang
Ucapan yang seketika menghentikan langkah Mahira.
" Demi Tuhan Aku mencintaimu Mahira !" Tukas Denis kemudian.
Mahira terkejut dengan pengakuan denis, seketika hanya mampu menunduk dengan pikiran yang entah bagaimana. Embun dari Sudut mata yang sebelumnya sekuat tenaga Mahira tahan, seketika luruh dengan sendirinya.
"Aku pernah memilih, pilihan yang di dasarkan oleh rasa cinta, Namun pada akhirnya aku juga yang harus kecewa, Dan Menyisakan luka yang begitu nelangsa " jawab Mahira lirih dengan suara bergetar.
"Jangan pernah Berusaha memeluk sesuatu, Yang sudah kamu perkirakan tidak akan pernah sanggup untuk kamu peluk"
Seketika suasana menjadi hening ditengah glegar petir yang menyambar.
"Semua orang punya masa lalu, aku pun juga memiliki masa lalu, Tidak bisakah kita bersama untuk sebuah masa depan ?" Ucap Denis.
"Terkadang keinginan hati tidak selalu harus di turuti. Ada saat dimana harus menggunakan logika agar hari tidak semakin terluka" ucap Mahira dengan sesenggukan.
"Aku sungguh mencintaimu Mahira !" Tukas Denis
"Dan asal kau tahu Mahira, Mencintai bukan tentang memberikan yang terbaik dalam kelebihan, Tapi memberikan yang terbaik dalam kekurangan.
Tangisan yang semakin pecah membuat tubuh Mahira bergetar dengan hebat menahan segala rasa yang menyesakan dada. Tidak ingin merasa kan sesak lebih dalam, Mahira memilih segera berlalu dari hadapan Denis. menyisakan Denis yang masih berdiri mematung dengan perasaan yang tidak dapat di artikan.
"Maafkan aku Mahira" gumam Denis lirih. dengan memandangi kepergian Mahira yang menghilang di balik pintu.
Di sebuah kamar, Mahira menumpahkan segala rasa yang menyesakan dada, bersimpuh dan memohon kepada sang maha Kuasa untuk menguatkan hati dan menenangkan jiwa.
__ADS_1
"Sungguh hati ini sangat sakit, Lara dan duka yang teramat menyesakan dada, setiap mengingat segala khilaf" Gumam Mahira dengan suara lirih
Sepanjang malam, Mahira habiskan dengan Bermunajat Memohon petunjuk pada sang kuasa.
Mahira tidak ingin berfikir lebih jauh yang nantinya mungkin saja akan semakin menambah duka larangannya, terlebih terdapat benteng besar yang siap membatasi antara dirinya dan Denis, hingga untuk membayangkan saja Mahira sudah merasa takut.
***
Ditempat lain , namun masih dalam satu atap , Denis yang berada di sudut kamar lain merasa resah dan gelisah.
Bukan menanti sebuah jawaban, namun lebih tentang apakah tindakan yang baru saja di lakukan, merupakan sebuah kebaikan.
Berfikir apakah pernyataan cinta yang baru saja dia utarakan tidak seharusnya dia ucapkan. Seketika Pikirannya melayang entah kemana.
Bukan tentang takut di tolak, lebih pada Denis takut akan Ucapannya yang akan menyakiti seseorang yang tengah dia kagumi saat ini.
Mengingat kembali masa lalu Mahira, Bukan Denis tidak tahu dengan masa lalu Mahira, justru mungkin Denis lah orang yang paling mengetahui bagaimana tabiat Mahira di masa Lalau dibandingkan dengan Reza.
Pagi hari
Denis dan Mahira tampak telah bersiap untuk ke Panti asuhan, panti dimana menjadi tujuan keduanya untuk mendistribusikan beberapa barang yang ingin Reza bagi.
Hari ini Abi Hanif dan Ummi Maya tidak ada yang ikut karena mendadak ada sebuah masalah di pabrik, yang mengharuskan Abi dan Ummi untuk ke pabrik pagi itu juga.
Denis memilih menggunakan sebuah mobil jenis Double Cabin milik Abi Hanif yang di gunakan untuk operasional pabrik, Lagi hari pak darman telah datang untuk mengantarkan mobil tersebut, yang akan digunakan untuk mengangkut semua barang yang sebelumnya di muat dalam mobil Abi Hanif dan mobil Denis sendiri.
Setelah semua barang berada di dalam satu mobil, Denis bergegas mengajak Mahira untuk segera berangkat ke panti asuhan.
Menurut informasi, di panti akan ada acara penyambutan untuk keduanya, jadi Denis tidak ingin terlambat untuk datang.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tapak keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing, entah apa yang ada dalam pikiran Denis maupun Mahira.
Mahira yang terlihat hanya bengong membuang pandangan ke sisi samping kaca mobil. Terlihat sesekali Denis yang mencuri pandang melalui sudut matanya. Denis yang mengagumi Mahira dalam diam.
Denis merupakan sosok laki-laki yang bertanggung jawab, taat pada agama, dibuktikan dia yang selalu rutin melaksanakan sembahyang, dan kegiatan rohani lainya di Gereja.
Tidak banyak yang mengetahui sebenarnya sosok Denis, kebanyakan orang mengenal Denis yang merupakan tangan kanan dari CEO kenamaan Reza Abizar El Shirazy yang begitu di puji dan sangat di takuti.
Selama bersama Reza, Denis pun selalu menyisihkan pendapatannya untuk kegiatan amal, selain untuk berinvestasi dan menabung demi untuk masa depan, mengingat sosok Denis yang sudah tidak memiliki orang tua dan saudara.
Beberapa aset seperti rumah, apartemen, mobil, dan tabungan telah Denis siapkan untuk kehidupannya di masa mendatang.
Denis juga bukan seseorang yang mudah mengumbar cinta, terlihat dari selama bersama Reza, tidak sekalipun terlihat Denis menggandeng seorang wanita.
Bukan tipe pemilih, namun Denis merasa belum menemukan sosok yang pas untuk dirinya.
Berawal dari rasa kasihan, ketika dirinya menyelidiki sosok Mahira yang dulunya akan menjadi calon mantan istri dari bos besarnya, berubah menjadi rasa cinta yang terus berkembang dalam dada.
Denis sangat tahu bagaimana sang mantan pacar sebelumnya yang selalu menyiksa Mahira tatkala dia mengalami keguguran. Bahkan tega membuang Mahira yang tengah di landa duka cita.
Saat itu Denis hanya mampu memberi laporan pada Reza tanpa berani membantu Mahira, Sebelum akhirnya Reza betul-betul menemukan tambatan hatinya yaitu Maryam.
"Rumit sekali rasanya" batin Denis dalam hati
Hari Minggu, Susana puncak memang sangat ramai, bahkan Denis pun harus lebih bersabar dalam berkendara.
***
Bersambung
__ADS_1
***