PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
129. Jawaban Denis


__ADS_3

..."La Tahzan Innallaha Ma'ana"...


..."Untuk keburukan yang saat ini menimpamu, dan untuk rasa sakit yang sampai saat ini belum sembuh, Percayalah bahwa semua luka akan kering pada masanya, Selama kau gantungkan harapanmu kepadanya"...


...🍁...


"Ra, kamu kenapa ?" Tanya Nissa lagi yang merasa cemas, pasalnya Mahira sejak dari ruang tamu sebelumnya terlihat lebih murung.


"Nggak Nis, Aku baik-baik saja, Cuma lagi kepikiran orang-orang di kebun sama pabrik aja Nis, Seharian ini kan aku tinggal" Jawab Mahira memberi penjelasan, dan pastinya itu sebuah kebohongan agar tidak membuat sahabatnya itu semakin merasa cemas.


"Ohh, aku pikir kamu kenapa Ra" ucap Nissa dengan senyum di wajahnya.


Dan Mahira membalas senyuman Nissa dengan tersenyum pula padanya.


Meski tidak puas dengan jawaban Mahira namun Nissa mencoba memahami, dan tidak lagi mendesak Mahira untuk bercerita.


Kebiasaan mereka dulu ketika menginap di rumah Nissa ataupun Mahira , mereka akan saling berbincang sebelum tidur, namun kali ini Mahira memilih tidur langsung, karena tidak ingin terlibat pembicaraan serius dengan sang sahabat.


Karena Mahira sangat mengenal Nissa, dia akan coba untuk menggali lagi suasana hati sang sahabat yang terlihat tidak baik-baik saja.


Sementara Nissa yang merasa aneh dengan sang sahabat, hanya menggelengkan kepala dan memilih membiarkan sahabatnya untuk menenangkan diri jika memang nyatanya sedang ada yang mengganjal di pikirannya.


Beberapa saat merebahkan tubuh, Mahira tidak juga kunjung terpejam, entah karena alasan Ucapan ustadz Hamzah yang melamar Denis untuk Nissa atau memang karena ini merupakan tempat baru.


"Nis !" ucap Mahira yang telah duduk di atas tempat tidur


"Iya Ra, kok nggak jadi tidur ?" Tanya Nissa kemudian.


Mahira hanya mengulas senyuman di wajahnya "Aku boleh tanya satu hal Nis ?" tanya Mahira, dan Nissa menganggukkan kepala.


"Em. Kalau Abi Hamzah menjodohkan mu dengan seseorang apa kau akan menerimanya ?" Tanya Mahira


Nissa terlihat mengerutkan dahi dan tampak berfikir sejenak "InshaAllah aku akan menerima nya Ra !" Jawab Nissa jujur.


Deg.


Seketika perasaan Mahira pun kembali bergejolak dengan jawaban spontan yang di ucapkan sahabatnya tersebut.


Entah kenapa seketika hatinya merasa sakit dengan jawaban tersebut, Mahira pun tidak mengetahui sebab dirinya seperti itu, hanya saja kenyataan itu terlalu menyakitkan bagi nya.


"Meski kau belum mengenalnya ?" Tanya Mahira lagi


Nissa mengangguk pasti "Iya Ra, karena aku sangat yakin tidak mungkin Abi akan menjodohkan ku dengan orang yang salah" Tukas Nissa kemudian

__ADS_1


Entah karena Mahira telah menaruh hati pada Denis atau kah karena sebab lain, seketika sudut mata Mahira terasa hangat, buliran embun yang tiba-tiba muncul di sudut matanya, namun cepat-cepat Mahira menyekanya agar sang sahabat tidak melihatnya.


...Kutitipkan Bait-bait do'a kepada embun yang pasrah dikarenakan terbakar oleh mentari pagi, dan karena nya diriku belajar arti keikhlasan dan kesabaran tanpa tepi...


...🍁...


***


Masih dalam satu atap, waktu yang sama, namun tempat yang berbeda. Kembali pada ustadz Hamzah, Kiai Sepuh dan juga Denis yang masih duduk di ruang tamu.


"Maaf sebelumnya pak ustadz dan kiai sepuh, saya merasa sangat terhormat untuk permintaan lni, namun--"


"Namun demi Allah saya merasa tidak pantas untuk Nissa, Nissa berhak mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari pada saya" Ucap Denis dengan menundukkan wajah.


"Bukan maksut saya menolak, Namun saya sungguh tidak dapat menerima Nissa, karena jujur saja saat ini saya telah melamar seseorang untuk diri saya sendiri" tegas Denis pada ustadz Hamzah dan Kiai sepuh.


Seketika ustadz Hamzah dan Kiai sepuh pun saling melemparkan pandangan, dan tersenyum ramah.


"Meski sampai saat ini saya belum mendapatkan jawaban darinya, Namun tidak lantas saya meninggalkan begitu saja ucapan yang pernah saya katakan pada wanita tersebut"


"Seorang wanita yang saat ini berada dalam satu atap dengan nya, Mahira. " batin Denis dalam hati dan kemudian menjeda pembicaraanya.


"Mohon pak ustadz dan kiai sepuh bisa memahami hal ini, dan sekali lagi saya mohon maaf, jika saya terkesan kurang sopan, atau jawaban saya tidak memuaskan."


Ustadz Hamzah tampak menganggukkan kepala, berfikir sejenak dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya.


"Baik nak Denis, Alhamdulillah jika memang begitu, semoga Allah mudahkan segala urusan nak Denis"


"Dan InshaAllah kami dapat mengerti apa pun itu keputusan nak Denis" Tukas Ustadz Hamzah kemudian.


"Saya harap silaturahmi diantara kita pun juga tidak akan terputus hanya karena hal ini" Pinta Ustadz Hamzah.


Denis menjawab dengan anggukan kepala, serta sebuah senyum yang selalu terukir di wajah tampannya.Denis pun tersenyum lega mendengar jawaban ustadz Hamzah yang sangat bijaksana.


Karena Denis sempat berfikir jika ustadz Hamzah akan marah terhadap dirinya. Atas penolakan yang dia lakukan tanpa berfikir sebelumnya.


Meski merasa lega, namun Denis merasa perlu menjelaskan semua ini pada Mahira, Setelah obrolan yang dirasa cukup membuat hati bergejolak, terlebih mengenai Mahira yang jelas mendengar dan mengetahui obrolan yang baru saja Denis dan orang tua Nissa lakukan.


***


Pagi hari.


Pagi-pagi sekali Mahira berencana untuk kembali ke rumahnya. Merapikan tempat tidur yang semalam di gunakan bersama Nissa, dan tidak butuh waktu lama untuk beberes karena Mahira memang tidak membawa apapun saat datang ke rumah ustadz Hamzah.

__ADS_1


"Ra kok pagi banget, sarapan dulu lah" Pinta Nissa


"Makasih Nis, Tapi pagi ini ada investor dari luar kota untuk rencana pembuatan minuman teh kemasan, Jadi aku musti cepet-cepet pulang" Ucap Mahira dengan Mengenakan hijabnya.


Nissa terlihat murung dengan rencana kepergian Mahira yang dirasa sangat dadakan.


"Kamu baik-baik aja kan Ra ?" Tanya Nissa lagi mencoba memastikan, dan Mahira menjawab dengan anggukan pasti pada sang sahabat.


"Ada apa sih Ra , Maaf. Tapi aku merasa kamu sedang tidak baik-baik saja" Ucap Nissa jujur.


Mahira mendekat ke sahabatnya dan memegang pundaknya Mengusap lembut dan mengatakan "InshaAllah aku baik-baik saja Nissa" Jawab Mahira diiringi Senyuman.


Nissa memang seorang gadis yang sangat peka terhadap perasaan, jika dirasa ada yang aneh pada orang terdekatnya dia akan coba untuk menggali permasalahan tersebut.


Dengan tersenyum manis Mahira memberi penjelasan pada sahabatnya "Nis, nggak ada yang perlu kamu pikirkan, semua baik-baik saja, dan InshaAllah aku juga baik" Tukas Mahira kemudian.


Lagi-lagi meski Nissa merasa tidak puas dengan jawaban Mahira, namun Nissa memilih untuk mengganti topik dengan obrolan lain.


***


Mengenai pekerjaan dan janji pertemuan dengan seorang investor di pabrik Mahira memang tidak lah bohong kepada sahabatnya.


Mahira yang memang telah memiliki janji segera memesan taksi online dengan tujuan ke sebuah restoran, sebuah restoran yang di jadikan tempat dimana dirinya dan sang investor untuk melakukan sebuah kesepakatan.


Tidak butuh waktu lama, Lima belas menit perjalanan akhirnya Mahira telah sampai di sebuah restoran yang di tuju.


Mahira yang telah mendapatkan lokasi dimana sang investor menunggu dirinya pun segera mencari meja yang telah di pesan.


"Kak Tama ?" Gumam Mahira ketika telah berada tepat di samping meja yang sebelumnya di pesan.


"Maaf ka, Meja ini sudah di pesan oleh rekan saya" Ucap Mahira dengan menundukkan kepala, karena belum mengetahui jika sebenarnya sang investor yang ingin Mahira temui adalah Tama.


Tama kemudian menunjukan sebuah pesan antara dirinya dengan Mahira mengenai perjanjian pertemuan tersebut. Mahira pun merasa sangat kaget, tidak pernah berfikir jika orang yang akan menjadi investor nya adalah Pratama atau Dokter Tama.


"Jadi ?" ucap Mahira dengan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


"Silahkan duduk Nona Mahira " Ucap Tama dengan senyum sumringah.


Mahira pun menurut dan duduk di tempat yang di sediakan oleh Tama sebelumnya.


Berbeda dengan Mahira yang Masih merasa bingung dengan keadaan yang terasa membingungkan, Tama justru sangat profesional dengan langsung menanyakan perihal kerjasama yang akan dilakukannya dengan Mahira.


"Oh, iya, Maaf kak Tama , Maksut saya Pak Pratama" Ucap Mahira dengan sedikit Canggung

__ADS_1


"Biasa saja Mahira, Panggil saja aku sesuai dengan kenyamanan mu " Pinta Tama dengan mengulas senyum manis di wajahnya.


***


__ADS_2