PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
131. Pertemuan Denis dengan Mahira dan Tama


__ADS_3

Dengan perasaan yang sudah kacau, kembali Denis mengemudikan Supercar miliknya, memecah suasana lengang pagi itu. Untuk mencari keberadaan Mahira, karena pikiran Denis saat ini di penuhi dengan hal-hal buruk yang mungkin saja akan terjadi.


Meski kembali Denis menepis, jika Mahira tidak mungkin akan bertindak konyol terhadap dirinya sendiri.


Berhenti di sebuah lampu merah, Menatap ke sekitar , Denis seolah melihat sosok yang dia yakini merupakan Mahira, terlihat Mahira tengah duduk disana melalui dinding kaca pembatas restoran tersebut.


"Mahira !" Gumam Denis dalam hati.


Tidak ingin membuang waktu, Denis pun memilih untuk memastikan kecurigaannya , dan nyatanya benar apa yang dia lihat, benar saja yang sebelumnya dia lihat merupakan Mahira.


Sosok yang tengah duduk di balik dinding kaca tersebut adalah Mahira. Mahira yang tengah duduk bersama sosok yang sangat familiar baginya.


"Mas Denis " Ucap Mahira lirih, ketika mendapati Denis berdiri tepat di hadapannya dan juga Tama.


Denis pun hanya menatap lekat sosok Mahira , dan kemudian menatap Tama dengan tatapan penuh tanya.


"Boleh saya bergabung ?" Ucap Denis kemudian.


Mahira pun menoleh ke arah Tama, dan seketika Tama menganggukkan kepala tanda mengiyakan permintaan Denis tersebut.


Denis segera duduk pada sisi tempat duduk lain di antara Tama dan Mahira.


Banyak pertanyaan yang seketika muncul dalam otak Denis, jujur ingin dia tanyakan pada Mahira, namun kembali pada tujuan awalnya Denis hanya ingin memberi penjelasan pada Mahira. Mengenai hubungannya dengan Nissa.


***


Di Tempat lain Namun masih dalam Waktu yang sama.


Reza merasa sangat panik, pasalnya Maryam yang begitu lemas karena mual dan muntah. Bahkan beberapa kali Maryam harus bolak-balik untuk ke kamar mandi hanya untuk menguras isi perut yang memang sudah kosong.


Duduk lemas di bawah wastafel kamar mandi, Reza kembali mengangkat tubuh Maryam untuk yang kesekian kalinya.


"Sayang kita ke rumah sakit saja ya" Pinta Reza dengan perasaan khawatir


Maryam hanya menggelengkan wajah lemah.


"Tapi sayang, Lihat dirimu !" Sergah Reza dengan meninggikan suaranya satu oktaf


"Tenanglah mas, Maryam baik-baik saja" Ucap Maryam lirih. Mendengar hal itu Reza semakin di buat panik.


Tok tok tok


Suara nyaring ketukan dari balik pintu kamar Reza


"Masuk" Jawab Reza singkat.


"Maaf tuan ini Jahe Hangat dengan lemon dan madu, untuk Nyonya Maryam" Ucap Bi Siti dengan menyodorkan minuman tersebut.


Maryam pun menerima cangkir tersebut "Terima kasih Bi" Jawab Maryam dengan mengulas senyum manis di wajah pucat nya.


Setelah memberikan minuman tersebut Bi Siti pamit undur diri dan segera meninggalkan keduanya.


Beberapa kali Maryam Menyesap minuman yang di buat oleh kepala Asisten Rumah tangga tersebut, membuat Maryam merasa lega dan rasa mual yang sebelumnya dia rasakan, berangsur berkurang, merasa lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Reza lagi


"Apa ?" Ucap Maryam yang merasa bingung.


"Kita kerumah sakit sekarang ?" Pinta Reza lagi.


"Mas, Maryam sudah lebih baik, atau begini saja jika sampai siang nanti Maryam masih mual dan muntah, baru nanti kita ke rumah sakit" Jawab Maryam mencoba memberi penawaran pada sang suami yang terlihat sangat panik.


Meski dengan berat hati akhirnya Reza menyetujui permintaan sang istri, dan kemudian menganggukkan kepala.


"Baiklah" Jawab Reza singkat


Maryam yang merupakan calon dokter pun sangat mengetahui, jika mual muntah yang dia rasakan saat ini merupakan sesuatu yang wajar di rasakan pada ibu hamil muda seperti dirinya, terlebih pagi hari seperti ini.


Morning Sicknes Kerap terjadi pada ibu hamil pada trimester pertama, dan akan berangsur berkurang menjelang trimester ke dua, tidak perlu di khawatirkan secara berlebihan, selama ibu hamil masih bisa makan dan minum itu tidak menjadi masalah besar. Selama kondisi mual muntah yang masih dalam batas wajar.


Hal itu kerap terjadi dan di rasakan oleh ibu hamil hanya pada waktu pagi Hari, kemudian akan berlangsung menghilang pada siang harinya, namun tidak jarang ada juga ibu hamil yang merasakan mual dan muntah sepanjang hari.


***


Suasana menjadi canggung sejak kedatangan Denis diantara Mahira dan Tama di meja tersebut.


"Kebetulan sekali kita bertemu di tempat ini Tuan Denis " Sapa Tama dengan ramah, yang seketika memecah kesunyian diantara ketiganya.


"Bukan sebuah kebetulan dokter Tama, karena saya memiliki tujuan khusus" Ucap Denis Dengan suara mantap dan pandangan mata mengarah pada sosok Mahira


Tama pun tampak mengerutkan dahi mendengar pernyataan dari Denis yang baru saja dia katakan.


Tama tampak membulatkan mata menatap pada Mahira dan kemudian menatap Denis bergantian.


"Ohya ?" Tanya Tama singkat dengan wajah penuh tanya.


Denis dan Mahira hanya bergeming.


"Lalu apa kau mau menemui Denis , Mahira ?" Tanya Tama kemudian.


Mahira pun mendongakkan wajahnya, menatap sosok Denis yang duduk di kursi sebelahnya "Saya tidak ada urusan dengan Tuan Denis, Jadi saya rasa kita tidak perlu bertemu " Jawab Mahira dengan wajah menatap Tama.


Mendengar perkataan Mahira yang baru saja dia lontarkan membuat Denis berfikir jika Mahira saat ini sedang sangat marah terhadap dirinya.


"Tapi !" sergah Denis kemudian.


"Sudah tuan Denis, tidak usah memaksakan !" jawab Tama kemudian.


"Ini urusan saya dengan Mahira, jadi anda tidak perlu ikut campur " Jawab Denis dengan tegas.


"Apa anda tidak mendengar jika Mahira tidak merasa ada urusan dengan anda ?" Tukas Tama dengan suara tidak kalah tegas.


Sejenak Denis terdiam dengan keadaan yang dirasa sangat menyudutkan dirinya. Namun Denis pun tidak patah semangat Denis meyakinkan kembali Mahira.


"Ada beberapa hal yang perlu saya jelaskan, saya mohon beri saya waktu" Ucap Denis dengan pandangan lekat terhadap Mahira.


"Saya rasa semua sudah jelas, Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" Ucap Mahira dengan menundukkan wajah.

__ADS_1


"Mahira!" panggil Denis kemudian.


"Tidak ada Tuan, tidak lagi ada urusan diantara kita !" Sergah Mahira masih dengan menundukkan wajah


"Mengenai Nissa ---" Ucapan Denis menggantung


"Stop !" Jawab Mahira menjeda ucapan Denis sebelumnya.


Sejenak suasana menjadi hening, tanpa adanya suara yang keluar dari mulut ketiganya, sementara Tama kembali di buat bingung dengan kedua orang di hadapannya tersebut.


"Aku menolak lamaran ustadz Hamzah, karena aku menunggu jawaban darimu Mahira Altafu Nisa !" Ucap Denis dengan lantang dan suara yang mantap.


Deg.


Seketika dada Mahira bergemuruh, mendengar pernyataan dari Denis yang baru saja dia dengarkan. Menatap nanar sosok di hadapannya, mencari kebenaran dari apa yang baru saja dia katakan, Mahira tampak berkaca-kaca.


Bukan karena bahagia karena akhirnya Denis menolak Nissa , namun lebih pada rasa terkejut dengan hal tersebut, terlebih mengingat kembali sosok sang sahabat dan seketika sudut hatinya menghangat mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Dengan dada yang naik turun Denis kembali mengatakan "Aku menunggu Jawabanmu atas lamaranku Mahira Altafu Nisa" Ucap Denis lantang.


"Lamaran ?" Gumam Tama dalam hati.


Ada rasa kecewa dalam diri Tama, karena lagi dan lagi dia harus kalah start dari orang lain, mengenai perasaan memang Tama sedikit lambat dalam melakukan tindakan.


Terbukti dulu saat kuliah dirinya kalah oleh Reza dalam memperebutkan Tasya, Kembali dia memiliki rasa terhadap Maryam, namun lagi-lagi dia juga harus mengalah terhadap perasaanya mengetahui jika Maryam telah menjadi istri dari sahabatnya sendiri, dan kini dirinya juga harus kembali kalah dari Denis dalam memperebutkan Mahira. Bahkan sebelum dia sempat mengutarakan perasaanya.


Sungguh menyedihkan memnag nasib percintaan Tama, wajah tampan, pangkat, jabatan, pekerjaan tetap, harta berlimpah, nyatanya tidak membuat Tama mudah dalam mencari pasangan, terbukti dari beberapa kali dia harus mengalami penolakan.


Suasana kembali hening ketika Denis mengatakan kenyataan yang sangat menggores hati Tama yang masih begitu shock dengan kenyataan yang baru saja dia lihat dan dengar.


"Dokter Tama , apa anda masih ingin berada di sini?" Ucap Denis


"Anda mengusir saya ?" Tanya Tama dengan suara ketus


"Mas Denis !" Sergah Mahira yang menyadari Denis begitu lancang.


"Saya rasa hati anda tidak akan baik-baik saja jika anda tetap disini " Ucap Denis lagi dengan suara lantang dan tatapan tegas pada Tama.


Suasana hati yang kembali kacau dan berantakan membuat Tama akhirnya beranjak dan pergi meninggalkan keduanya yang masih duduk di sana.


"Ka !" Cegah Mahira yang merasa tidak enak hati dengan ucapan Denis terhadap Tama.


Tama hanya mengibaskan tangan, dan mengulas sebuah senyum manis di wajahnya, meski hati yang terasa porak poranda.


***


Jangan lupa Like dan Komentar ya buat Author.


Kadang juga mikir, yang baca banyak, tapi kok like sama komen nya sedikit ya 🤭.


Oke tapi tidak papa, Author cukup bahagia ketika bisa menyuguhkan sebuah cerita yang mungkin bisa membawa pembaca terhibur dengan tulisan Author.


🙏🙏🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2