PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)

PESONA MARYAM (Maryam Albatul Rahmah)
133. Operasi


__ADS_3

Ruang operasi


Perasaan yang telah kacau, membuat Tama tidak dapat Berfikir secara jernih. Merutuki keteledoran yang dia lakukan. Hingga membahayakan nyawa orang lain.


Rasa bersalah yang seketika menghantui hati Tama, berfikir tentang bagaimana kondisinya, apakah dia akan selamat atau tidak. Bayang-bayang hal buruk yang selalu menghantui.


Perasaan gelisah yang dia rasakan membuat hatinya merasa tidak tenang, Beberapa kali berjalan mondar mandir, duduk dan berdiri, untuk mencari ketenangan hati, namun nihil nyatanya Tama tetap saja panik, jika menyangkut nyawa seseorang.


"Tama !" panggil Reza dari kejauhan.


Reza bersama Maryam Dateng ke rumah sakit setelah Tama menghubungi, dan mengatakan jika dirinya dalam masalah.


"Bagaimana kondisi anak itu !" Ucap Reza ketika tepat berada di depan Tama.


Bukan tanpa alasan Tama meminta Reza datang, hal itu dia lakukan karena orang tua Tama sedang berada di luar negeri. Tidak ada pilihan lain selain menghubungi sahabatnya tersebut.


"Aku tidak tahu Za, Dokter sedang menanganinya" ucap Tama dengan menundukkan wajah.


"Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja" Ucap Reza dengan menepuk bahu sahabatnya.


Sejenak suasana menjadi hening, dengan pikiran masing-masing. Reza sangat paham bagaimana perasaan sahabatnya saat ini.


"Maaf dokter Tama , Apa keluarga anak tersebut sudah di hubungi ?" ucap Maryam memecah kesunyian diantara mereka.


Mendengar pertanyaan Maryam , Tama pun mendongakkan kepala, menatap Maryam dan kemudian menatap Reza.


Tama menggelengkan kepala dengan tatapan nanar, "Aku tidak sempat mencari identitasnya, dan aku pun juga tidak tahu siapa dia" Tukas Tama dengan suara lirih.


Mendengar hal itu Reza dan Maryam pun hanya saling pandang, dengan perasaan cemas.


"Za aku harus bagaimana ?" ucap Tama


"Bagaimana jika anak itu tidak ---" Ucap Tama menggantung ketika Maryam menyela pembicaraan diantara keduanya.


"Dokter Tama , Istighfar, tenangkan diri anda, InshaAllah semua akan baik-baik saja" Ucap Maryam dengan suara lembut.


"Sesungguhnya prasangka Allah bersama prasangka para hambanya, Jadi berbaik sangka lah , InshaAllah Allah akan memberikan yang terbaik untuk nya saat ini, kita berdoa saja" Ucap Maryam lagi.


Mendengar penuturan dari Maryam, Tama merasa sedikit lega, hatinya terasa lebih tenang dari sebelumnya.


"Sekarang lebih baik dokter Tama Sholat dulu, Saya dan mas Reza akan menjaganya di sini" Pinta Maryam dengan suara lembut.


Tama pun menganggukkan kepala, kemudian bangkit, dan dengan langkah gontai menuju masjid yang ada di rumah sakit tersebut.


Reza dan Maryam hanya memandang punggung Tama yang berjalan dengan langkah sempoyongan, dan menghilang di balik lorong panjang tersebut.

__ADS_1


"Bagaiman mas ?" Tanya Maryam pada Reza , setelah kepergian Tama dari tempat tersebut.


"Entahlah sayang" Ucap Reza dengan suara lirih.


"Setidaknya Orang tuanya harus tahu mas, meski mungkin akan sangat sedih" Ucap Maryam


"Melihat kondisi dokter Tama yang masih kalut, sepertinya Kita perlu melakukan sesuatu Mas" Pinta Maryam pada Reza.


Dan Reza pun menganggukkan kepala, menyetujui ucapan sang istri.


"Aku akan meminta Orang-orang Ku untuk mencari informasi mengenai anak tersebut" Ucap Reza


Karena tidak mungkin bagi Reza meminta bantuan pada Denis, karena cuti yang diajukan oleh Denis masih menyisakan satu hari lagi.


"Sayang sebaiknya kau pulang" Ucap Reza yang juga merasa cemas dengan kondisi Maryam yang terlihat pucat.


Maryam pun menganggukkan kepala, sejujurnya memang dirinya merasa sedikit mual mencium aroma rumah sakit, namun berusaha dia tahan karena tidak mungkin baginya jika harus memuntahkan isi perutnya di tempat tersebut.


"Setelah Tama selesai, aku akan mengantarmu " Ucap Reza dengan meraih sebelah tangan Maryam


"Tidak perlu mas, Mas Reza temani Dokter Tama saja, Maryam bisa pulang dengan pak Roni" Menolak tawaran Reza.


Meski dengan berat hati akhirnya Reza menyetujui permintaan sang istri, dan kemudian menghubungi sopir pribadinya tersebut untuk menjemput sang istri.


Beberapa saat menunggu akhirnya pak Roni datang dan menghampiri Nyonya mudanya di depan ruang operasi.


"Mas sampaikan salam dan permintaan maaf Maryam untuk dokter Tama" Ucap Maryam setelah mencium punggung tangan Reza dengan takzim.


Reza pun menjawab dengan anggukan kepala, kemudian mencium lembut kening sang istri.


***


Dua jam menunggu akhirnya Lampu ruang operasi telah adam, menandakan jika operasi telah selesai dilakukan. Perasaan berdebar kembali merajai hati Tama.


Reza pun tetap menemani Tama dengan setia, menunggu dokter keluar dadi ruang operasi. pintu ruang operasi terbuka, disusul seorang dokter yang berjalan keluar.


"Bagaimana dok Keadaanya" Ucap Tama ketika melihat seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.


"Dokter Tama ?" Tanya dokter tersebut.


Tama hanya bergeming dan menanti jawaban dari Dokter Anton, dokter yang menangani operasi tersebut, juga merupakan rekan kerja dari dokter Tama.


"Syukurlah pasien sudah melewati masa kritisnya, pasien mengalami patah tulang di bagian kaki, dan untuk sementara pasien masih dalam pemantauan, setelah sadar pasien bisa di pindah ke ruang perawatan." ucap dokter Anton dengan menepuk bahu Tama


"Baik, terima kasih dok" Jawab Tama singkat

__ADS_1


"Apa dia saudara dokter Tama ?" tanya dokter Anton kemudian, merasa heran bagaimana Tama sangat mengkhawatirkan anak tersebut.


Tama pun menggeleng lemah dengan wajah menunduk, meski dokter mengatakan kondisi anak tersebut baik, namun dia masih belum tenang jika belum melihatnya sadar.


"Dok !" Panggil salah seorang yang menghampiri dokter Anton dan juga Tama di depan ruang operasi.


Dokter Anton pun menoleh.


"Ini baju yang dikenakan pasien sebelumnya, namun kami tidak menemukan identitas apapun" Ucap perawat laki-laki tersebut.


Dokter Anton pun menerima nya dan kemudian menyerahkan pada Tama yang berdiri mematung di hadapannya.


Setelah kepergian dokter Anton, Tama kembali dalam pikiran kalutnya.


"Za, Bagaimana ini, Anak tersebut tidak memiliki identitas apapun" Ucap Tama panik.


Mungkin karena sangat panik, hingga Tama tidak dapat Berfikir dengan baik.


"Kau tenang saja, aku sudah meminta orang-orang ku untuk mencari tahu tentang anak tersebut"


Benar saja tidak menunggu lama sebuah dering telepon terdengar pada pasang telinga Reza dan Tama.


Reza yang menyadari handphone miliknya berbunyi, segera mengambil dari sakunya, kemudian mengangkat telepon tersebut.


Reza tampak menganggukkan kepala, mengerti dengan apa yang di sampaikan lawan bicaranya yang berada di ujung telepon.


Setelah cukup lama berbincang, akhirnya Reza mengakhiri panggilan tersebut.


"Tama!" Panggil Reza


Tama pun mendongakkan wajahnya. Menatap lekat pada sosok Reza yang duduk di sampingnya.


"Aku sudah mendapatkan informasi tentang anak tersebut, Orang-orang ku pun sudah mengabarkan pada keluarganya" Ucap Reza


"Sebentar lagi keluarga dari anak tersebut akan datang" Tukas Reza.


Tama terlihat menarik nafas dalam dan menghembuskan kasar. Meski merasa takut namun Tama juga merasa lega karena telah menemukan keluarga dari orang yang telah dia buat celaka.


Tama pun sudah siap dengan segala resiko yang harus dia hadapi, kalaupun keluarganya akan menuntut Tama, Tama pun sudah siap.


***


Mohon maaf ya Kakak kakak Reader


Baru sempat Up lagi

__ADS_1


Sehat dan bahagia selalu untuk Reader kesayangan Author.


__ADS_2